
Jujur, aku sangat bingung. Pikiranku mulai dipenuhi dengan pertanyaan apakah Farha benar-benar ikut terlibat dengan ini semua, juga benar ingin mengetahui sejauh mana Farha terlibat. Namun benakku berkata bahwa aku tak mau memastikannya karena takut akan kebenaran yang akan kuperoleh tidak sesuai dengan harapan.
Jika benar Farha terlibat. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku benar-benar terlalu pengecut untuk tahu kebenaran itu, karena bagiku satu kebenaran akan mengantarkanku ke kebenaran-kebenaran yang lain.
Pada saat seperti ini aku teringat Ilham. Aku kembali teringat pertemuan terakhirku dengannya.
***
"Kenapa, Lo?" tanya Ilham suatu ketika. Dulu setiap aku punya masalah di rumah, aku selalu menghubunginya untuk datang ke sebuah cafe langganan kami.
"Biasa. Makin gak betah gue di rumah." aduku padanya. Di banding mengadu pada Revan, aku masih jauh lebih suka mengadu pada Ilham.
"Udah lo sabar aja. Mungkin mereka begitu karena sayang kali sama lo. Mungkin mereka bingung cara mengutarakan perasaan mereka." katanya. Ini adalah kata-kata yang sama tiap aku mengadu padanya. Padahal jawabannya selalu sama, namun aku selalu tegar mendengar kata-kata ini. Kata-kata inilah selalu membuat aku bertahan di rumah.
"Gak asik lo ah. Gitu mulu sarannya." kataku.
Dia hanya terkekeh.
"Lagian, kalo bentuk kasih sayang itu dicaci maki, dibandingin, disakiti, sama gak dianggap. Gue gak mau ah ada yang sayang sama gue." kataku.
"Hus, kalo ngomong. Nanti beneran gak ada yang sayang aja lo." katanya.
"Kan ada elo." kataku.
"Ngerepotin." katanya sambil tertawa.
"Eh, kenapa si saran lo gak pernah ganti-ganti? Itu mulu perasaan." tanyaku
"Gue tau lo cukup kuat buat bertahan, Nin." katanya.
"Lo gak kasian apa sama gue?" kataku sambil mengerucutkan bibir.
"Enggak. Hahaha." Katanya sambil tertawa. Aku tahu dia bercanda.
Aku melemparnya dengan tisu bekas. Dia dengan cepat menghindar.
"Gue cuma punya lo, Ham." kataku.
"Masih ada Dia." katanya sambil menunjuk ke atas.
"Gak asik." kataku.
"Gue tau banget gimana perasaan lo. Gue tau lo udah usahain semuanya biar keadaan kembali normal. Jujur, gue juga gak pernah membenarkan tindakan orangtua lo. Cuma, kalau gue malah ngomporin lo, lo pasti bakalan pergi. Nanti gue yang repot." katanya sambil terkekeh.
"Ih, nyebelin banget." kataku.
"Ini ngomong-ngomong, Si Revan tau lo ketemu gue?" tanya Ilham.
"Hahahaha enggak." kataku tertawa. "Biarin aja dah, ribet kalo sama dia."
__ADS_1
"Gue suruh putusin juga." kata Ilham.
"Dia gitu-gitu sayang sama gue ege, Ham." kataku.
"Kata siapa? Liat aja ntar belangnya juga keliatan." kata Ilham.
"Jangan gitu dong. Pacar gue tuh." kataku membela Revan.
"Nih, pake." katanya. Menyodorkan kotak berwarna perak.
"Lo lagi ngelamar gue?" kataku sambil tertawa.
"Iya, gue lagi ngelamar lo. Buat teman gue." katanya.
"Sue. Kenapa enggak buat lo aja si. Nantikan kita jadi aku-kamuan. Ih, kiyut." kataku.
"Lo mau jawaban jujur apa bohong?" tanyanya.
"Bohong dong." kataku.
Kita tertawa lagi. Dia tak menjawab akupun tak berniat menagih jawaban. Aku membuka kotak itu. Ternyata gelang perak. "Waw!" kataku.
"Sini gue pakein." katanya. Lalu memakaikan gelang itu di pergelangan tangan kananku.
"Ih, lucu. Makasih yak." kataku.
"Bukan dari gue." katanya lagi. "Dari temen gue."
Dia hanya mengangguk mantap.
"Gue penasaran, Ham. Baru kali ini lo begini. Biasanya gue pacaran sama siapa aja lo selalu nyuruh gue putus. Kenapa sekarang malah mau kenalin gue ke temen lo?" tanyaku.
"Kitakan gak tau umur." katanya asal-asalan.
"Hus. Gak suka ya gue kalo candaan lo kayak gitu." kataku.
"Lha, kan bener. Atau gue nikah sama artis kan gak ada yang tahu." katanya, bercanda.
"Oh, gitu. Udah niat ninggalin gue." kataku, kesal. "Pokoknya nih ya, Ham. Gue cuma mau sama lo. Deket sama lo. Gue gak butuh orang lain, Ham. Asal ada lo, gue cukup."
"Duilah, gue berasa lagi ditembak cewek barbar. Hahahaha." katanya lagi.
"Sialan. Lagian kalo nanti lo nikah sama artis gue mau tinggal di rumah lo." kataku.
"Yang ada baru sehari nikah udah cerai gue sama bini gue." katanya.
"Ya biarin. Pokoknya gue maunya sama lo doang titik." kataku.
"Manja banget temen gue heran." katanya.
__ADS_1
"Biarin." kataku. "Eh, ceritain temen lo dong. Ganteng-ganteng gak?" kataku.
"Ganteng-gantenglah. Liat aja gue." katanya.
"Hueeek." Aku pura-pura mual. Dia tertawa.
"Sebenernya temen gue ada dua. Mereka sama-sama baik. Tapi emang gayanya aja yang bertolak belakang. Nanti kapan-kapan gue kenalin dah." katanya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ilham mengangkat telepon. Wajahnya kini berbeda.
"Gue harus pergi." katanya.
"Kemana?" tanyanya.
Tiba-tiba dia mencium kepalaku. "Selama gue pergi, jaga diri lo baik-baik." katanya.
Ini kali pertamanya dia begini. Aku jadi gusar. Benar-benar seperti orang yang ingin berpamitan.
***
Ini adalah kali pertama aku menangis semenjak kepergian Ilham sahabatku. Pemilik gelang perak yang masih bertengger manis di tangan kananku, sumber kekuatanku dan kelemahanku.
Kenapa kau pergi begitu saja Ilham? Kenapa semua orang bilang kalau kamu sudah meninggal? Itu tidak benar kan? Datanglah padaku Ilham, aku mohon jemput aku di sini. -batinku.
Andai saja aku tidak terlambat saat itu, andai saja Mama tidak mengurungku di kamar saat aku ingin menemui Ilham, andai saja Kak Ulfa membelaku saat aku meminta izin untuk pergi, andai saja Papaku mau mendengarkan ucapanku, dan mau mempercayai putri bungsunya yang juga putrinya ini. Ini semua tidak akan terjadi.
Aku tidak akan dibuang ke pesantren ini, tidak akan bertemu dangan manusia jahat seperti Gus Faiz, tidak akan jatuh cinta padanya, tidak akan mempermalukan diriku sendiri, dan tak akan dibohongi habis-habisan.
Kini, kepalaku hanya bisa berputar-putar seputar pemikiran ini. Kebohongan yang paling menyakitkan bagi seumur hidupku.
Kalau dipikir-pikir sepertinya aku benar-benar gadis yang bodoh. Gadis yang benar-benar bodoh. Rasanya aku tak lagi punya muka karena aku begitu malu mengakuinya bahwa aku turut andil dalam menyakiti diri sendiri. Andilku adalah mempercayai semua orang yang kuanggap baik.
Bila saja aku tak terpengaruh siapapun, bahkan Gus Faiz, pasti aku sudah bahagia. Tak ada yang menggoyahkan niat aksi bunuh diriku dari lantai jemuran, tak ada yang mengambil pisauku saat menyayat pergelangan tangan, tak ada yang menghalangiku untuk pergi dari pesantren dan tak akan ada rasa perih karena kebohongan.
Sejak tadi aku tahu Kak Ulfa di sini. Aku bertekad tak akan memercayai siapapun selain, Aaron. Tampang Aaron meski tampan bergaya memang urakan, tapi natural. Tidak munafik. Ternyata santri misterius yang sering mengikutiku adalah Kak Ulfa. Itu artinya dia tahu bagaimana perubahanku dan bagaimana reaksi aku dalam perangkapnya. Jika Kak Ulfa mengetahui semuanya, aku jamin Mama dan Papa pun pasti mengetahui juga. Aku mengguyur tubuhku lagi.
Bodoh! - teriakku.
Isakanku semakin menjadi-jadi.
“Mbak Nindy, buka pintunya Mbak, Mbak bisa sakit kalau terus-terusan di dalam.” kata Farha.
Ilham, katamu aku akan menemukan seseorang yang akan menjadi tempatku menyandar selain dirimu, orang yang selalu bisa di percaya dan sangat menyayangiku melebihi rasa sayangmu. Tapi mana buktinya? Saat aku mulai mempercayai seseorang yang ciri-cirinya sama seperti yang kau deskripsikan dalam candamu dulu, dia malah berkhianat. Dia tidak bisa menjaga perasaanku, tidak bisa dipercayai, tidak bisa memenuhi keinginanku, tidak mengerti aku, dan yang jelas tidak memiliki rasa yang kau agung-agungkan itu. -batinku.
“Mbak Nindy, buka pintunya!" kata Farha.
Aku merasa udara semakin dingin. Tubuhku menggigil. Dan darah segar mulai keluar dari hidungku. Aku mulai menyumbatnya agar tidak keluar semakin banyak. Kepalaku mulai pusing.
“Mbak, aku mohon, buka pintunya!" kata Farha di luar.
__ADS_1
Aku tak mau keluar. Aku memeluk tubuhku yang semakin kedinginan. Hingga hilanglah kesadaranku.