
Rasanya aku ingin berteriak. Ada rasa yang begitu dahsyat dalam hati ini. Rasa yang tak kuamini, tak kuingini, dan tak ingin kutemui. Meski tak benar-benar mengerti dari mana sumber dari kebahagiaan ini, aku tahu laki-laki itu ikut andil.
Aku berjalan menuju 'kamarku' dengan langkah mantap dan sesekali aku melirik punggung Gus Faiz yang sudah sangat jauh ditelan hitamnya malam. Aku tersenyum sinis mengingat kejadian aneh yang baru saja terjadi antara aku dan anak Abah Kyai yang sudah kuanggap musuh dari awal insiden sendal.
Masih tak juga kumengerti, mengapa ia mau melakukan hal konyol yang kubuat itu. Perjanjian yang dilandasi keinginan melepaskan justru kini mengikat. Otakku masih bertanya-tanya mengapa ia mau memenuhi syarat itu. Aku memang tak pernah mempermasalahkan dengan siapa aku berpelukan. Namun bagaimana dengan dia, apa ini kali pertamanya? Melakukan sebuah dosa demi menyelamatkan hidup seseorang yang berada di atas jurang kehampaan?
Aku tidak bisa menjelaskan. Bukan niatku untuk menjeratnya menjadi nakal. Yang tadi kulakukan hanyalah cara untuk menjauhkan dirinya dariku, namun siapa sangka dia justru melakukan hal sebaliknya. Kalau saja Farha dan teman-temannya tahu pasti mereka iri, memanggilku, menyidangku, dan mengintrogasiku tanpa kata lelah. Aneh.
Aku hendak membuka pintu kamar namun kuurungkan saat mendengar suara Farha sedang menghafal ntah apa, aku tidak terlalu mengerti tapi sepertinya dia sedang menghafalkan sebuah kitab kecil yang sering dibawanya ke mana-mana. Apa namanya? Aku tidak tahu. Aku mencoba membuka pintu, namun ternyata terkunci dari dalam.
"Far, eh As-salamu 'alaikum." kataku. Janji tetaplah janji, pokoknya senakal-nakalnya aku, aku akan penuhi walau ini adalah janji paling berat yang pernah kupenuhi.
Suara Farha di sana terhenti "Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh." lalu pintu kamar terbuka. Mata kami bertemu, kali ini aku melihat mata Farha sembab dan merah seperti habis menangis.
"Mbak? MasyaAllah, Mbak dari mana saja? Kami semua dari tadi panik cari Mbak. Keluarga Mbak juga menangis mengkhawatirkan Mbak." kata Farha. Mengusap air matanya lalu memelukku dengan erat lalu melepaskannya.
__ADS_1
"Gu- emm tadi nyasar, iya udah kok udah ketemu." kataku asal. Tak apalah bohong sedikit. Berubah menjadi baik juga ada prosesnya, tidak instan. Aku memikirkan kalimat Farha. Rasanya tidak benar keluargaku panik dan mengkhawatirkan. Mungkin ini siasat saja, siasat untuk mengambil simpati Abah Kyai dan keluarganya.
Menangis karena kehilangan seorang anak adalah sebuah rahasia umum, siapa saja bisa melakukannya. Untuk menjadi manusia normal memang harus itu yang dilakukan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Aku paham betul soal itu. Mungkin merekapun sedang mencari simpati. Ntah untuk apa. Sepertinya untuk menjodohkan Kak Ulfa dan Gus Faiz di masa depan. Memang sudah seharusnya aku tidak terlibat apapun dengan Gus Faiz. Baiklah, mulai besok ia akan kumasukkan dalam daftar hitam.
"Alhamdulillah.. iya Mbak, saya sampai tidak tega melihatnya." katanya. "Ayo, Mbak, masuk! Di luar dingin." kata Farha, sambil menarikku masuk.
Dan di sinilah aku, di dalam kamar yang terdiri dari 25 santri yang sedang tidur 2 baris sejajar seperti ikan teri yang sedang dijemur dengan bagian kepala santri baris pertama dan kedua saling bertemu. Aku mengamati hampir semua rambut santri sambil berdiri, lalu mendesah. Banyak anak kutu. Persetan dengan itu, aku yakin asalkan setiap hari aku keramas, aku takkan tertular. Semoga.
"Tidur duluan ya." kataku, lalu merebahkan diri di tempat tidur 'terempuk' yang berada di dekat pintu masuk milikku. Kulihat Farha menyudahi hafalannya dan ikut berbaring di sampingku. Aku tidak begitu memperdulikannya. Yang aku butuhkan hanyalah tidur. Akupun tidur dengan memakai pakaian kotor.
***
TOK-TOK-TOK!
Aku beranjak lalu membukakan pintu. Ternyata Arum. Dia adalah santri yang pernah kuseret ke kamar mandi karena insiden dia menyiramku. Dia begitu terkejut melihatku. Ini adalah kali pertama aku bangun pagi, mungkin ini adalah akar dari keterkejutannya.
__ADS_1
"MasyaAllah, Mbak Nindy, sudah bangun?" Tanya Arum, senyumnya begitu lebar. Jujur aku bingung, sepertinya baru kemarin aku memperlakukannya dengan buruk namun di mata itu sepertinya tak ada dendam sedikitpun. Benar-benar aneh.
Aku hendak pergi meninggalkannya tapi otak warasku berkata kalau aku harus memenuhi janjiku pada Gus Faiz sialan itu. Jadi, aku membalas Arum, meski hanya lewat senyum. Aku tidak mau berbicara sekarang karena takut kata-kata yang keluar dari mulutku merusak rencanaku untuk berubah. Dan jujur aku masih belum bisa menggunakan bahasa aku-kamu dan bahasa sopan lainnya.
"Yaudah, Mbak, tolong bangunin yang lain ya, aku mau keliling dulu bangunin anak kamar lain. Heheh. As-salamu 'alaikum." kata Arum dengan senyum yang seakan tidak akan luntur dari bibir manisnya.
"Waalaikumsalam wa, wa rahmatullahi wa barakatuh." aku menjawab lengkap seperti yang biasa dilakukan Farha saat ada seseorang yang mengucapkan salam padanya.
Aku mengangkat bahu lalu berjalan ke arah Farha. Mengguncang tubuhnya pelan "Bangun, Far!" kataku seraya menepuk-nepuk lengan tangannya.
Farha menggeliat lalu mulai membuka matanya, saat matanya melihatku dia langsung mengucak matanya seakan memastikan orang yang ada dihadapannya adalah seorang Anindya Athaya Zahran.
"Mbak Nindy?" tanya Farha dengan tak percaya. Aku hanya mengangkat sebelah alis, lalu Farha melirik jam di dinding.
Farha tersenyum. Lalu menarikku "Ayo, Mbak, bangunin yang lain!" kata Farha dengan senyum yang lebih gembira dibanding Arum tadi. Farha membangunkan Nafis yang ada di sampingnya. Aku memperhatikan cara dia mebangunkan anak-anak kamar lalu mempraktikkannya.
__ADS_1
"Ayo mandi, Mbak." kata Farha. Kata-katanya begitu memekakkan telinga. Ingin rasanya aku mengumpat keras mengatakan ini masih jam 3 pagi, tidak ada yang mandi jam segini, bahkan orang gila saja tidak mau. Saat aku hendak mengucapkan kata-kata, janji sialan itu kembali terngiang. Aku menelan ludah. “Ayo, Mbak, takut ramai.” katanya langsung mengapit lenganku. Siap-siap masuk angin.
Setelah mengambil peralatan mandi kami berdua turun. Ini salah satu sesuatu yang paling aku benci di pondok pesantren ini. Pondok Darul ini memiliki 4 lantai ditambah 1 lantai lagi paling atas yang dijadikan tempat jemuran. Dan yang lebih menyiksa adalah aku berada di kamar yang ada dilantai 4 paling pojok jauh dengan tangga. Dan tidak ada lift ataupun eskalator disini. Hanya ada tangga.