
Aku dan Gus Faiz pun langsung bergegas mengejar Farha dan Aaron. Namun, Farha terlihat lari kencang sekali, sepertinya dia menangis.
“Aaron!” teriak Gus Faiz.
“Eh, sorry, Is, Nin. Saya tidak bisa menemui kalian untuk saat ini. Semoga kita bisa bertemu lain kali.” kata Aaron.
Aaron langsung berlari mengejar Farha. Aku hendak mengejar mereka namun tanganku dicekal Gus Faiz. Aku menoleh ke arahnya meminta penjelasan.
“Sepertinya untuk kali ini kita tidak bisa mengganggunya, An.” kata Gus Faiz.
“Ada apa ya, Mas? Aku khawatir sekali dengan Farha.” kataku.
“Doakan saja semoga tidak terjadi apa-apa.” kata Gus Faiz.
Aku mengangguk pasrah. Aku benar-benar sedih untuk saat ini. Aku telah menunggu momen-momen bertemu dengan Farha, namun sekalinya bertemu aku justru tidak bisa leluasa menyapanya. Semoga tidak terjadi apa-apa padanya.
“Kamu mau naik ke atas tugu Monas?” tanya Gus Faiz.
“Bolehkah?” tanyaku.
“Tentu saja. Ayo?” tanya Gus Faiz. Dia mengulurkan tangannya.
Aku menggigit bibir, lalu menengok ke kanan dan ke kiri mengamati keadaan sekitar. Tempat kami sepi. Akupun meraih tangan Gus Faiz dengan malu-malu. Sekarang kami persis seperti ABG yang sedang kasmaran.
Gus Faiz membawaku ke tempat kereta wisata monas, di sana kami antri sebentar lalu saat kereta datang, kami berduapun naik. Kereta ini memang disediakan untuk mengangkut penumpang dari lapangan IRTI (Ikatan Restoran dan Taman Indonesia) sampai ke mulut terowongan masuk area tugu monas. Kereta ini gratis, jadi kita tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli tiket.
Kamipun masuk ke lantai dasar, di sini kami disuguhan koleksi diorama yang penuh dengan cerita-cerita hebat.
“Kamu pernah ke sini, An?” tanya Gus Faiz.
“Belum pernah, Mas. Hehehe.” kataku, malu sendiri.
Fakta bahwa aku yang sejak lahir di Jakarta belum pernah masuk ke tugu monas ini benar-benar memalukan. Namun, itulah kenyataannya.
Aku dan Gus Faiz berkeliling dari satu diorama ke diorama yang lain. Bagus sekali. Aku begitu menikmati jalan-jalanku ini, meski hanya sesederhana datang ke monas, tapi aku tidak sendiri, aku bersama suamiku. Rasanya sungguh lain.
“Aku baru tahu, Mas, di dalam monas banyak diorama.” kataku.
“Diorama?” tanya Gus Faiz.
“Iya, Mas. Benda miniatur tiga dimensi untuk menggambarkan suatu pemadangan atau adegan ini, namanya diorama.” kataku.
Gus Faiz tersenyum. “Jujur saya belum pernah mendengar kata diorama, An.” katanya.
“Mungkin karena aku dulu pernah berkawan akrab dengan KBBI, Mas. Jadi, kebetulan aku tahu.” kataku sambil tersenyum, sambil teringat masa-masa aku sering menulis.
“Berkawanlah lagi.” kata Gus Faiz.
“Sepertinya aku sudah lupa cara berkawan dengannya, Mas.” kataku.
“Kamu hanya perlu mendekati dan mengulurkan tangan.” kata Gus Faiz.
“Apa ini artinya, kamu mengizinkanku untuk menulis lagi, Mas?” tanyaku.
Gus Faizpun mengangguk.
Aku yang begitu senang langsung memeluk Gus Faiz. Aku benar-benar bahagia. Seketika aku tersadar kalau kami berada di keramaian. Aku buru-buru melepaskan diri.
“Maafkan aku, Mas.” kataku.
Aku melirik ke sekeliling, mata semua orang tertuju padaku dengan pandangan yang berbeda-beda. Duh, malu sekali.
__ADS_1
“Untuk apa?” tanya Gus Faiz.
“Kita jadi bahan perhatian mata semua orang.” kataku berbisik.
Gus Faiz mengamati sekeliling. Lalu tersenyum padaku. “Biarkan saja. Lagi pula kita sudah halal.” katanya.
Aku menggigit bibir menahan senyum.
“An..” kata Gus Faiz.
Matanya tertuju pada bibirku. Aku tahu maksud dari tatapannya. Dia tidak memperbolehkan aku menggigiti bibirku. Akupun tersenyum, melepaskan gigitan di bibir.
“Aku mau pulang.” kataku.
“Lho, kenapa? Kamu malu?” tanya Gus Faiz.
Aku menggeleng.
“Kamu, dapat ide cerita dan ingin segera menulis?” tanya Gus Faiz.
Aku menggeleng lagi.
“Lalu?” tanyanya.
“Lihat, Mas. Penuh sekali. Aku tidak suka keramaian semacam itu.” kataku.
Gus Faiz melirik keramaian itu. Lalu mengangguk. Pengunjung kali ini benar-benar ramai. Padahal tadi di luar saat kami di taman, bisa kugolongkan sepi. Ternyata mereka semua masuk ke sini.
Tidak apalah meski kita tidak jadi ke lantai atas untuk melihat atas monas, mungkin bila kami dikaruniai umur yang panjang kita bisa ke sini lagi.
Gus Faiz dan akupun kembali mencari kereta wisata tadi untuk kembali ke tempat semula. Setelah mengatre, tak lama kemudian keretapun datang dan kamipun segera naik. Sesampainya di lapangan IRTI, kamipun turun.
“Aku ingin sekali naik bus tingkat, tapi kepalaku pusing dan perutku sakit, Mas.” kataku.
Gus Faiz berjongkok di depanku. “Naiklah.” kata Gus Faiz.
“Tidak, Mas. Aku masih bisa jalan.” kataku.
“Naiklah, tidak apa-apa.” kata Gus Faiz.
“Kalau digendong nanti perutku tambah sakit, Mas.” kataku.
Tidak kusangka Gus Faiz mendekatiku lalu mengangkatku dengan tangannya. Aku merasa dejavu.
“Sepertinya ini karena kamu belum makan, An. Maafkan saya, An. Saya lupa kalau kamu punya penyakit mag, kita makan dulu saja ya.” kata Gus Faiz.
Aku mengangguk. Aku melingkarkan tanganku di lehernya. Aku mengamati wajahnya. Gus Faiz benar-benar baik padaku. Dia begitu mengkhawatirkan aku, aku jadi terharu melihat bagaimana dia peka dan perhatian padaku.
Kami memasuki sebuah tempat makan yang ada di Kawasan Pasar Monas. Seorang pelayan menghampiri kami dan menyodorkan menu makanan yang beragam.
“Kamu mau makan apa?” tanya Gus Faiz.
“Mau ayam goreng.” kataku.
Gus Faiz terkekeh, “Seperti Upin dan Ipin saja.”
“Kamu?” tanyaku.
“Saya juga sama.” katanya.
Akupun tertawa mendengar kata-katanya.
__ADS_1
Meski terkekeh, Gus Faiz tetap menuliskan menu makanan kami di sebuah kertas.
“Minumnya?” tanya Gus Faiz.
“Hm, teh manis hangat.” Kataku.
Gus Faiz mengangguk lalu kembali mencatat.
“Kamu mau sesuatu yang lain?” tanya Gus Faiz.
Aku menggeleng. Setelah mencatat dia memberikan catatan dan daftar menu kepada pelayan.
“Terima kasih.” kata Gus Faiz.
Pelayan itu salah tingkah. Aku mengedarkan pandanganku ke arah lain. Dia pasti terpesona pada Gus Faiz.
“An?” panggil Gus Faiz.
“Iya, Mas?” tanyaku.
“Perutmu masih sakit?” tanya Gus Faiz.
Aku mengangguk.
“Sepulang dari sini kita ke dokter ya?” kata Gus Faiz.
“Tidak perlu, Mas. Biasanya setelah makan sakitku hilang.” kataku.
“Baiklah, tapi kalau nanti masih sakit, kita ke Dokter ya?” kata Gus Faiz.
Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Pelayan itu meletakkan makanan kami di meja. “Terima kasih.” kataku dan Gus Faiz.
“Terima kasih kembali, selamat menikmati.” kata pelayan itu, lalu pergi.
Aku memperhatikan Gus Faiz, Pelayan itu cukup cantik namun Gus Faiz terlihat sangat tidak peduli. Dalam hati aku sangat lega. Ternyata ada untungnya juga punya suami sedingin dia. Dia terlihat begitu dingin, dan hanya hangat padaku. Benar-benar suami idaman. Aku mengamati wajahnya, aku menggigit bibir, aku ingin sekali tersenyum.
“An, jangan gigiti bibirmu.” kata Gus Faiz.
“Maaf.” kataku.
“Apa ada yang salah dengan wajah saya, An?” tanya Gus Faiz.
“Ada.” kataku.
“Apa?” tanyanya.
“Kamu terlalu tampan.” kataku, kelepasan berbicara.
Aduh! – rutukku dalam hati.
Gus Faiz menaikkan alis. “Bisa diulangi?” tanyanya.
Sepertinya Gus Faiz tidak mendengar suaraku. Aku menghembuskan nafas lega. "Tidak mas." kataku memasang wajah tanpa dosa untuk menutupi rasa maluku.
“Apa saya setampan itu?” tanya Gus Faiz.
Deg!
“Maaasss..” rengekku.
Dia tertawa. Jantungku kembali berdegup dengan kencang.
__ADS_1