Penjara Suci

Penjara Suci
PS 29 - Pemilik Suara Merdu


__ADS_3

Kami semua diarahkan pengurus untuk duduk di sebelah kanan arah kiblat karena sebelah kiri untuk santri putra. Masjid ini berukuran sangat besar, terdiri dari dua lantai yang biasa digunakan masing-masing lantainya untuk santri putra dan santri putri. Satu lantai saja masih bisa memuat bila digabung namun karena kami (santri putra da putri) harus dipisah jadilah kami berbeda lantai. Jadi, meski jarak santri putra dan putri jauh namun kami tidak kesempitan saat duduk.


Kini, aku dan Farha diperintahkan untuk duduk paling pinggir di samping pembatas antara putri dan putra. Padahal awalnya aku mengajak Farha duduk di pojok, di samping tembok agar bisa tidur saat mengantuk. Arum tak bisa menemani kita karena dia pengurus, jadi harus menjalankan kewajibannya, menertibkan santriwati.


"Yah, dapat di sini." kata Farha.


"Biarin dah." kataku.


Jadwal mengaji pada pagi hari ini adalah jam 7.00-10.00 WIB, dengan dua pemateri yang memberikan materi, satu Abah dan satu lagi ntah siapa yang jelas bapak-bapak namun tidak lebih tua dari Abah.


Kali ini situasi sangat gaduh, hingga pengurus turun tangan. Sesekali santri putra melemparkan potongan kecil yang ntah isinya apa. Dan aku lihat santri putri pun demikian. Namun, situasi ini tak lama karena pengurus dengan cekatan dapat menghadapinya hanya dengan keliling membawa buku.


"Itu apa si yang dilempar-lempar, Far?" tanyaku penasaran.


"Surat, Mbak. Tapi anu, tergantung si, Mbak. Biasanya kata-kata iku, anu, gombal, atau kadang permen, atau kadang bungkus permen yang ada kata-katanya, ya seperti itu kurang lebih, Mbak. Surat kaleng tanpa tujuan pasti." kata Farha.


"SubhanAllah! " kataku mencoba mengalimkan diri dengan kata-kata islami.


"Mbak, maaf, kalau SubhanAllah itu diucapkan saat mendengar atau melihat hal buruk. Jadi, kalau mendengar atau melihat hal baik itu 'MasyaAllah'." kata Farha.


Duh, gue salah ngomong lagi. - batinku.


Aku hanya memberikan isyarat oke dengan tanganku. Mulai malas menanggapi.


Setelah tertib, mereka langsung melakukan aktivitas yang lebih bermanfaat. Kami mengisi waktu sambil menunggu Abah datang. Sebab setiap habis memimpin pengajian di kuliah subuh, Abah selalu pulang terlebih dahulu.


Farha dan santri-santri yang lain mulai membuka kitabnya dan mengafalkan isinya lagi. Meski banyak yang yang memanfaatkan waktu dengan membaca kitab, namun masih ada yang masih saling melirik lawan jenis. Karena merasa aji mumpung.


Lihatlah, beberapa santriwati masih mencuri pandang. Namun, lagi-lagi aku tekankan mereka tidak sama seperti aku atau kawananku, tidak terang-terangan hanya mengamati dari jauh dan saat ada santri putra yang menengok ke arah mereka, mereka semua akan pura-pura berkutat dengan nadhoman mereka.


"Berisik banget ya, Far? " kataku ketika suasana kembali gaduh.

__ADS_1


Kepalaku pusing mendengar semua orang berbicara. Aku memijit pelipis. Sepertinya kali ini ancaman pengurus tidak ada artinya, buktinya suasana makin gaduh. Aku memijit pelipis.


"Mbak, kenapa?" tanya Farha.


"Gakpapa. Cuma pusing." kataku. "Mending kamu maju Far, buat santri biar diam. " kataku.


"Yah, aku ndak berani, Mbak." kata Farha.


Aku tak menanggapi lagi.


Tepat ketika aku diam, ada suara seseorang. Ntah di mana sosoknya namun kita bisa dengar dengan jelas melalui mikrofon atau pengeras suara. Seakan mengerti kepusinganku mendengar suara bising, sosok itu berhasil membuat kegaduhan berhenti.


Aku rasa aku tak pernah merasa pusing saat menonton konser, mungkin karena saat menonton konser aku datang dengan suka cita, bukan duka cita. Aku anggap aku masih berduka cita melalui kepusingan ini.


Sosok ini laki-laki, suaranya sangat merdu berselawat, begitu tulus, dan menentramkan hati. Jujur aku ingin sekali menuliskan lirik selawatnya namun karena sebelumnya aku tak pernah mendengarkan selawat, maka aku tak bisa menulis apapun.


Aku yang familiar dengan suara ini langsung menengok ke kiri. Ke barisan santri putra. Ternyata bukan hanya aku yang penasaran. Hal ini terbukti dari hampir semua santriwati berlomba-lomba memanjangkan leher untuk melihat pemilik suara itu.


"Far, emang kamu gak tau siapa yang selawatan?" tanyaku.


Kali ini Farha terlihat sangat penasaran dengan santri putra ini. Aku baru kali ini melihat dia seperti ini.


“Tumben Far ngeliatin santri putra sampe begitunya.” kataku. Melihat Farha yang tak hanya memanjangkan leher namun menumpukan kedua kakinya agar lebih tinggi.


“Aku penasaran suara siapa, Mbak.” katanya.


"Beneran kamu gak tau ini suara siapa?” tanyaku lagi.


“Ndak, Mbak, makanya aku penasaran Mbak, biasanya kalo yang selawatan itu pasti Kak Rizal atau Kak Minan atau Ka Fajar ya gitu-gitu deh.” katanya lagi. Dia tidak mengubah posisinya.


“Tapi kayaknya suaranya familier di telinga aku, Far." kataku. Aku tidak bohong. Jujur aku memang mulai tau siapa pemilik suara emas ini.

__ADS_1


Semua orang kini menatapku. Sepertinya penasaran dengan apa yang aku katakan.


“Suara siapa, Mbak?” tanya Farha, penasaran.


Di pondok pesantren ini aku hanya mengenal satu santri putra. Dan karena beberapa kali bertemu, berbincang, dan di hukum bersama, aku tahu. Aku sangat tahu.


“Gus Faiz.” kataku.


Seketika semua santri benar-benar menatapku dengan penasaran wajah mereka dimasing-masing. Begitu juga dengan Farha, matanya tak kedip melihatku. Ternyata efek menyebut nama Gus Faiz masih sangat dahsyat padahal beberapa hari lalu mereka semua menangis-nangis meratapi kelakuan Gus Faiz yang mereka anggap sangatlah tidak normal dan tidak bermoral untuk seorang santri plus anak Kyai.


Padahal sejak awal sudah aku jelaskan bahwa akulah yang lebih dulu memeluknya. Hanya memeluk saja hukumannya begini, bagaimana lebih? Padahal bagiku dan teman-temanku di Jakarta. Pelukan adalah hal yang wajar. Jika hukum ini berlalu di Jakarta pasti aku sudah bebal. Karena Gua Faiz bukanlah satu-satunya yang pernah kupeluk.


“Itu suara Gus Faiz, Mbak?” tanya Arum di depanku. Aku mengangguk. Semua mata santri berbinar-binar melihat anggukanku.


"MasyaAllah!" Mereka histeris.


“Stttt! Jangan berisik!” kata Linda. Kini, dia bagian menjaga areaku.


“Memangnya benar, Mbak?” tanya Farha padaku. Mengabaikan kata-kata Linda. Ternyata kata-kata Linda masih tidak berarti banyak, buktinya mereka masih serius memandangku.


“Tanya aja tuh sama orang yang ngaku-ngaku calon istrinya Gus Faiz,” kataku, sengaja sambil menunjuk Linda.


Kini semuanya benar-benar menoleh pada Linda. Setelah mendapat informasi ini, santriwati mulai mengerubungi Linda. Hingga kakiku terinjak seseorang yang aku tidak tahu siapa itu.


"Sialan keinjek." kataku, refleks.


Aku menoleh ke arah Linda. Mensyukurinya dalam hati. Anggap saja itu hukuman bagi orang yang suka berbohong.


Kulihat Linda memucat. Semua mata tertuju padanya. Sepertinya sifat isengku datang lagi. Tapi tidak apalah sesekali memberi pelajaran untuk seorang pembohong seperti Linda, siapa tahu itu berpahala. Aku harus menanyakannya pada Farha nanti jika otak Farha sudah kembali pulih.


Meski menggunakan bahasa Jawa, aku tahu dari gerak-geriknya kalau dia mengelak. Hal ini terlihat dari dia yang terus mengibas-ibas tangannya ke kanan dan ke kiri, menyangkal apapun.

__ADS_1


“Bohong, Mbak, bohong.” katanya lagi.


“Jahahahaha pembohong bilang bohong." kataku. Dan itu cukup menjadi tontonan santri, bukan hanya santri perempuan saja melainkan santri cowok juga menyaksikan Linda yang terus berkelit dengan tuduhan-tuduhan para santri penggemar fanatiknya Gus Faiz. Fanatiknya hanya di belakang tidak berani menunjukkannya dari depan.


__ADS_2