Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 16 - Begitu Sempit


__ADS_3

Dadaku sakit sekali. Mataku juga mulai panas. Namun, aku tidak boleh menangis. “Mas, aku cuci piring dulu ya.” kataku.


Aku mengambil pun membawa piring kotor kami ke westafel yang ada di dapur. Aku menyalakan keran air, kali ini, aku benar-benar menggigit bibir, aku tidak mau suamiku mendengar isakanku.


Saat aku baru ingin meraih sponge untuk mencuci piring. Aku merasakan seseorang memelukku dari belakang. Di rumah ini hanya kami berdua, jadi kupatikan seseorang yang memelukku adalah Mas Faiz.


“Insyaallah saya akan mencari cara agar hal seperti ini tidak terjadi lagi, kamu sabar sebentar ya.” katanya.


Mas Faiz meletakkan kepalanya di bahu kananku. Mendengar kata-katanya, aku buru-buru membalik badan dan memeluk suamiku.


“Kalau tidak salah, saya pernah membaca salah satu novelmu tentang seorang gadis yang sangat menyukai puisi. Apakah kamu termasuk?” tanyanya.


Aku melepaskan pelukanku. “Kamu membacanya, Mas?” tanyaku.


“Tentu saja.” kata Mas Faiz. Dia menghapus air mata dipipiku. “Mau kubacakan satu puisi untukmu?” tanya Mas Faiz.


Aku mengangguk. Mas Faiz meraih tanganku. Mataku mengekori tangannya. Lalu beralih pada wajahnya.


“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan isyarat yang tak sempat disampaikan, awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. –Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono.” Mas Faiz membacakan sebuah puisi yang dihafalnya untukku.


“Kau tahu, Mas? Makna dari puisi itu?” tanyaku.


“Itu adalah puisi cinta yang indah bukan? Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, maknanya aku ingin mencintaimu dengan tulus.” kata Mas Faiz.


“Jangan lupakan ‘dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu’, Mas. Kayu, api, dan abu. Bukankah ini melambangkan kasih tak sampai?” tanyaku.


Mas Faiz terkekeh.


“Bagaimana dengan ini?


Bersandar pada tari warna pelangi


Kau depanku bertudung sutra senja


Di hitam matamu kembang mawar dan melati


Harum rambutmu mengalun bergelut senda


Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba


Meriak muka air kolam jiwa


Dan dalam dadaku memerdu lagu


Menarik menari seluruh aku


Hidup dari hidupku, pintu terbuka

__ADS_1


Selama matamu bagiku menengadah


Selama kau darah mengalir dari luka


Antara kita mati datang tidak membelah. – Sajak Putih karya Chairil Anwar.” Mas Faiz kembali membacakan puisi yang dihafalnya.


Aku tersenyum malu-malu. Siapa yang tak tahu makna arti Sajak Putih yang begitu romantis yang menggambarkan perasaan cinta sang penyair kepada kekasihnya itu? Dalam puisi itu juga tersirat ketulusan, kejujuran dan keikhlasan. Rasanya aku meleleh bagai lilin.


“Bagaimana?” tanyanya.


Aku tersenyum, “Romantis.” kataku.


“Sepertinya novelmu itu sangat membantu banyak, An.” kata Mas Faiz sambil terkekeh.


“Ternyata benar ya, Mas?” tanyaku.


“Benar apanya?” tanya Mas Faiz.


“Sedikit banyak, tulisan itu merupakan tuangan perasaan penulisnya.” kataku, merujuk pada tulisanku sendiri.


Mas Faiz mengangguk.


“Bagaimana perasaanmu saat ini?” tanya Mas Faiz.


Aku jelas tahu, Mas Faiz tadi hanya ingin menghiburku. Ntah mengapa dia selalu bisa memenangkan hatiku, aku yang begitu sedih sangat mudah dibawanya ke keadaan yang kembali bahagia. Dia benar-benar sangat perhatian dan tahu cara membuatku nyaman.


“Aku semakin mencintaimu, Mas.” kataku, tak sadar.


“Ikut..” kataku.


Mas Faiz terkekeh. Kamipun mencuci piring berdua.


***


Beberapa hari kemudian. Aku sudah terbiasa memasak dan mengurus rumah. Meski begitu Mas Faiz selalu membantuku. Kami sekarang sedang menonton TV. Tiba-tiba ponsel Mas Faiz berdering. Diapun mengangkatnya. Aku mengecilkan volume TV sampai nada terkecil.


“Waalaikumsalam, iya, Saya di rumah. Antarkan saja berkas yang perlu saya tandatangani ke rumah saya karena saya belum bisa ke kantor. Waalaikumsalam.” kata Mas Faiz.


Aku menatap Mas Faiz, sepertinya itu adalah urusan kantor. Dia pasti masih tidak mau meninggalkan aku sendirian di rumah ini. Jadi, dia memilih di rumah saja tanpa pergi ke kantor.


“Apakah kamu harus kembali ke kantor, Mas?” tanyaku.


“Tidak, An. Tapi ada salah satu stafku yang akan datang, kamu tidak keberatan kan?” tanya Mas Faiz.


“Tentu tidak, Mas. Aku ke atas dulu untuk berganti pakaian.” kataku.


Saat aku hendak berdiri, ponsel Mas Faiz berdering. Mas Faiz mengambil ponselnya, melihat nama yang tertera di layar ponselnya lalu kembali meletakkan ponsel itu tanpa mau mengangkatnya.


“Siapa, Mas?” tanyaku.

__ADS_1


“Kak Ulfa.” katanya.


“Jawab saja, Mas. Takut penting.” kataku.


Mas Faizpun menjawab panggilan itu lalu membesarkan volume suara agar aku bisa mendengar. Sebetulnya aku sangat sedih, Kak Ulfa tentu tahu kalau aku juga memiliki ponsel, namun mengapa dia lebih memilih menelepon Mas Faiz dari pada meneleponku?


“Halo, Assalamualaikum.” Kak Ulfa mengawali penggilan.


“Waalaikumsalam.” Mas Faiz menjawab.


“Gus Faiz, aku mau ke rumah, karena di suruh mama bawakan makanan.” kata Kak Ulfa.


Mas Faiz melirikku. Aku berpikir sebentar. Bagaimana juga Kak Ulfa adalah kakakku. Aku tidak bisa menghindarinya sepanjang hari. Jadi aku mengangguk. Apalagi Kak Ulfa mengatakan kalau dia disuruh Mama. Mungkin Mama mengkhawatirkanku jadi beliau menyuruh Kak Ulfa ke rumah.


“Baiklah.” jawab Mas Faiz.


“Aku minta share lokasi ya.” kata Kak Ulfa.


“Baik.” jawab Mas Faiz.


“Sampai jumpa di rumah ya, wassalamualaikum.” salam Kak Ulfa.


“Waalaikumsalam.” Aku dan Mas Faiz menjawab. Mas Faizpun memutuskan sambungan telepon.


“Kamu tidak apa-apa, An?” tanya Mas Faiz.


“Tidak apa-apa, Mas. Lagi pula Kak Ulfa adalah kakakku, aku tidak bisa menghindarinya terus menerus.” kataku.


“Baiklah, kalau begitu.” kata Mas Faiz.


Akupun pergi ke kamar untuk mengganti pakaian. Lalu turun lagi ke bawah. Tak lama kemudian aku mendengar Mas Faiz sedang berbincang dengan seseorang. Akupun menghampirinya.


“Ini istri saya.” kata Mas Faiz.


Aku terkejut benar-benar terkejut. Meski sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengannya, aku sangat mengenal pria yang di hadapanku ini. Mas Faiz mengamati tubuhku yang kaku. Di sebarang sana pria itu pun tampak sangat terkejut.


“Nindy?” pria ini seakan memastikan penglihatannya.


“Lho, Revan, kamu mengenal istri saya?” tanya Mas Faiz.


Aku membeku, bagaimana cara menjelaskan hubungan antara aku dan Revan. Namun, aku memutar otak, aku tidak mungkin mengatakan kalau Revan adalah mantan pacarku dulu. Kini, dia adalah suami Mia. Aku bisa mengatakan demikian.


“Dia suami Mia, Mas. Papanya Marsya.” kataku.


Raut wajah Mas Faizpun berubah. Sepertinya dia menyadari siapa Revan. Atu mungkin tidak, aku benar-benar tidak bisa menebaknya.


“Duduk, Van.” kata Mas Faiz.


“Biar aku ambilkan minum dulu, Mas.” kataku.

__ADS_1


Akupun segera ke dapur membuatkan minuman untuk suamiku dan Revan. Kata Mia Revan selalu sibuk bekerja, tidak pernah ada waktu di rumah bahkan hanya sekadar bermain dengan Marsya, anak kandungnya. Ternyata Revan adalah salah satu staf suamiku.


__ADS_2