
Aku benar-benar tak bisa berkomentar lagi. Rasanya masalahku tak selasai-selesai.
Belum juga selesai masalah yang lama kini aku sudah dihadapkan lagi dengan masalah baru yang tak kalah rumitnya.
Pemikiran mereka benar-benar dangkal. Mereka percaya jika orang terakhir di dalam ruangan adalah orang yang harus bertanggung jawab bila ada uang yang hilang. Ditambah lagi hasil kompor-komporan pengurus yang cukup berpengaruh seperti Linda. Benar-benar pemikiran yang kolot.
Aku jadi penasaran akan berapa jumlah uang tersebut hingga mereka seenak jidatnya mengganggu acara tidurku, menarik-narikku bangun, dituduh, pemiliknya nangis begitu pilunya, dan semua orang hadir memojokkanku.
“Emang uang yang ilang jumlahnya berapa?” tanyaku.
“400rb, Mbak, itu uang buat bayaran pondoknya Supri selama 4bulan." kata Tika, yang juga berada di samping Supri. Supri hanya bisa mengangguk sambil menangis.
Pantas saja Supri menangis. Bagi mereka uang 400rb benar-benar uang yang besar. Sudah ku jelaskan bukan bahwa sebagian besar santri di sini golongan menengah ke bawah?
“Iya, Mbak, kembalikan uang Supri, Mbak, kasian dia.” kata Moza.
“Iya, Mbak. Kembalikan, Mbak.” kata yang lainnya. Menyetujui pihak yang mencurigaiku.
Ruangan kini menjadi ricuh semuanya menyuruhku mengembalikan uang yang tidak aku ambil kepada Supri yang masih menangis sesengukan. Aku pun mulai jera menghadapi mereka semuanya. Dengan emosi yang tak kunjung reda aku mengambil dompetku di lemari lalu menyerahkan uang 400rb kepada Supri.
Aku berharap setelah memberikan uang itu pada Supri, mereka semua bisa berhenti mengusikku. Rasanya sangat menyebalkan dituduh-tuduh seperti ini. Benar-benar menyebalkan.
“Tuhkan, bener dia yang ngambil!” kata salah satu diantara mereka. Aku tak tahu namanya.
Kini kepalaku semakin pusing alih-alih meredakan situasi tegang ini, ternyata setelah memberikan uang kepada Supri, aku malah semakin dicecar oleh mereka karena mereka semakin yakin kalau aku adalah pelaku pencurian uang Supri. Alasan ini dikarenakan santri yang lain tidak akan punya uang sebanyak itu.
“Ada apa ini?” tanya Kak Ulfa. Bagai pahlawan kesiangan. Dia menghampiriku dan menatap tajam ke arah para santri.
Ratu drama datang lagi. -batinku. Aku memutar bola mata malas.
“Adik Mbak sudah mencuri uang Supri.” kata Nafiz, dia yang sedari diam kini angkat bicara.
“Tidak mungkin.” kata Kak Ulfa. Dia membelaku. Ini kali pertama dia membelaku dihadapan orang lain, hatiku tercubit. Sedikit, sedikit saja.
“Oh, jadi Mbak ini kakaknya Nindy?” tanya Linda. Tampangnya jelas-jelas tak suka melihat kami berdua.
__ADS_1
“Iya! Dia adikku dan aku yakin dia tidak akan berbuat hal hina seperti itu” kata ka Ulfa.
“Baiklah, aku akan kasih satu pertanyaan. Kalau jawabanmu iya itu berarti adikmu memanglah seorang pencuri, tapi kalau kau mengatakan tidak aku dan santri-santri di sini aka meminta maaf kepada Nindy.” kata Linda.
“Cepat tanyakan!" kata Kak Ulfa. Apa dia benar-benar tulus membelaku? Apakah aku masih berada di alam mimpi? Tapi kenapa dunia ini terlihat sangat nyata?
"Tapi Mbak harus jujur." kata Linda lagi.
"Aku janji akan jujur." kata Kak Ulfa mantap.
Kini aku mulai berharap banyak.
“Apa orang tua mbak ngasih uang kepada Mbak Nindy 400rb lebih secara tunai?” tanya Linda.
Kakakku hanya diam. Bingung harus mengucap apa-apa. Dia tentunya masih ingat kalau uang, barang-barang dan kartu ATM sudah kukembalikan ke Jakarta. Aku mencoba meyakinkan dirinya kalau aku benar-benar tidak melakukan kesalahan seperti itu.
“Itu uang gue.” kataku.
Kak Ulfa hanya diam, air matanya menetes. Aku tahu hanya sampai sini dia membelaku. Dia pasti tidak mempercayai kalau aku benar-benar tidak melakukannya. Linda tersenyum licik ditempatnya. Dia kembali mencecarku. Tapi kini tatapan Linda beralih kepada Farha.
Gayanya tadi hanya pencitraan. Aku benar-benar muak.
"Tuh kan. Kakaknya aja nangis berarti Mbak Nindy ndak diberikan uang oleh orang tuanya." seru Linda, senang.
Rasanya mulutnya benar-benar ingin kurobek.
“Ndak Mbak, ndak mungkin. Mbak Nindy ndak mungkin ngambil sesuatu yang bukan miliknya. Walau aku ndak tau persis kejadiannya tapi hati aku bilang kalau Mbak Nindy ndak akan melakukan hal itu.” kata Farha.
“Dengerin aku, tadi kamu bersama supri kan? Dan kamu juga liat kan kalau Mbak Nindy di kamar ini sendirian?” kata Linda. Farha terdiam. Dia terlihat menahan menangis. Aku menatap Farha iba. Di sini yang jadi korban fitnah aku, tapi kenapa Farha ikut dipojokkan?
"Sudah, Mbak-Mbak sudah. Meski aku yakin Mbak Nindy bukan pencuri, dia kan sudah mengembalikan uang 400rb milik Supri. Seharusnya tidak diperpanjang lagi." kata Arum. Berani sekali anak kecil ini.
"Lha, kita itu bukan memperpanjang. Hanya anu apa itu namanya. Klarifikasi, mencari kejelasan." kata Linda.
"Terserah lo dah mau ngomong apa. Gue udah kasih 400rb walau gue gak curi uang Supri. Sekarang bawa dah tuh temen-temen lo keluar. Berisik." kata Linda.
__ADS_1
"Iya bener, Mbak. Bubar-bubar!" kata Arum dan Farha.
“Ayo, Mbak-Mbak kita bubar!” kata Linda.
Akhirnya Si Medusa ini keluar juga. Dalam hati aku berterima kasih pada Arum dan Farha yang terus membelaku. Tidak seperti kakakku yang hanya menjadi pahlawan kesiangan yang tak benar-benar berniat menjadi pahlawan. Memuakkan.
Semua santripun kembali ke kamarnya masing-masing. Aku lelah. Ingin rasanya aku bunuh diri saja. Benar-benar ingin. Atau jika tidak aku benar-benar ingin kabur bersama Aaron secepatnya.
Aku benar-benar heran, mengapa masalah selalu datang bertubi-tubi. Rasanya apapun yang pernah aku rasakan tidak cukup untuk menyiksaku.
Besok apa lagi, Tuhan? -batinku lelah.
“Mbak, mohon jawab aku, Mbak. Mbak ndak ambil uang itu kan?” tanya Farha. Arum juga menunggu jawabanku.
“Ya enggak lah, untuk apa gue ngambil uangnya Si Supri? Gue emang nakal tapi kalau ngambil sesuatu yang bukan milik gue. Gue masih punya otak.” kataku.
Mereka berdua mendengarkanku. Terpancar kelegaan dari raut keduanya.
“Sekarang terserah elo aja, gue gak maksain elo buat percaya” kataku.
“Kenapa Mbak pasrah begitu saja kembaliin uang Supri, Mbak. Harusnya ndak usah, Mbak.” kini giliran Arum yang tidak terima.
“Lo liat sendirikan tadi, teman-teman elo lebih dengar apa kata si Linda dari pada gue, terus buat apa lagi gue ngebela diri?” kataku.
Aku memijit pelipisku. Aku tak kuat lagi berada di sini. Aku ingin bebas. Dari semuanya.
“Gue keluar dulu, jangan pada ikutin gue.” kataku.
Aku sudah siap melihat desas-desus santri yang menganggapku pencuri. Hatiku panas. Terlebih saat Kak Ulfa malah mempercayai Linda orang baru saja dikenalnya dari pada aku adiknya sendiri. Ternyata Kak Ulfa masih yang dulu. Yang masih sama dengan Kak Ulfa sebelum-sebelumnya. Kata maaf yang keluar dari bibirnya beserta ucapan kalau dia tidak akan mengulanginya lagi ternyata hanya cerita fiktif belaka.
Dan lihatlah. Benar saja. Para santri menatapku dengan tatapan yang amat sangat menjengkelkan untuk mataku. Aku bisa saja memukul mereka setiap kali aku lewat tapi aku masih punya hati nurani walau hanya sedikit. Lagi pula aku ingin memperkeruh masalah.
Aku merogoh kantong bajuku. Lalu, aku mendapati ada potongan-potongan kertas. Aku buru-buru teringat Aaron. Hanya dia yang bisa membantuku keluar dari sini. Meski Aaron sudah menyuruhku menunggu. Namun, rasanya aku tak bisa menunggu lagi. Aku harus bertemu Aaron.
Akupun bergegas menuju kompleks santri putra. Aku memang tak tahu dimana persisinya tempat itu. Namun aku tidak bodoh. Aku bisa mengikuti arah santri putra datang saat ke Masjid. Pasti kompleks mereka berasal dari sana. Aku sadar ini tindakan nekat. Terlebih pasti kompleks santri putra pun memiliki banyak gedung yang disebut kompleks seperti halnya santri putri.
__ADS_1
Meski tak tahu di kompleks mana atau di kamar apa, aku harus tetap ke sana. Coba saja.