Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 54 - Kembali Bersama


__ADS_3

Setelah kue kering buatan Arum jadi, aku memasukkan kue itu ke dalam toples dan meletakkannya di atas meja ruang tengah. Kemudian aku dan Arum menunggu kedatangan Linda dan Farha di depan rumah. Tak perlu menunggu lama, mobil Aaron datang. Dari dalam mobil muncullah Linda, Farha, dan Aaron.


"Aruuum!" seru Linda dan Farha. Mereka langsung berlari ke arah Arum dan memeluk Arum.


"MasyaAllah, Arum, aku rindu padamu." kata Farha.


"Iya, Far. Aku juga rindu padamu." kata Arum.


"Aku juga kangen.." kata Linda.


"Iya, Mbak. Aku juga kangen sama Mbak." kata Arum.


Farha terlihat tersadar sesuatu. Dia menoleh pada Aaron yang kini berdiri memperhatikan mereka bertiga. Farhapun menghampiri Aaron.


"Far, aku ke kantor dulu. Nanti kalau mau pulang telepon aku." kata Aaron sambil tersenyum.


"Baik, Mas." kata Farha malu-malu. Lalu dia mencium tangan Aaron.


Aku tersenyum. Sepertinya Aaron benar-benar berubah dan menepati janjinya untuk mencoba mencintai Farha dengan sepenuh hati.


"Lho, kamu tidak masuk dulu, Ron?" tanyaku.


"Suamimu ada?" tanya Aaron.


"Mas Faiz belum pulang." kataku jujur.


"Aku langsung ke kantor saja. Lagi pula aku tidak mau mengganggu acara reuni kalian." kata Aaron.


Tiba-tiba mata Aaron tertuju pada Arum yang kini ada di sampingku. Arum langsung menunduk. Seketika aku merasa tidak enak padanya. Aku seperti merasakan apa yang dia rasakan.


"Apa kabar, Arum?" tanya Aaron pada Arum.


"B-baik." jawab Arum.


Aaron tersenyum singkat. "Lin, Abang pergi dulu ya. Nin, Far, Rum, duluan. Assalamualaikum." pamit Arum.


"Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh." jawab aku, Linda, Farha dan Arum.


Setelah mobil Aaron melesat pergi, kami berempat pun masuk ke dalam. Arum kembali ceria seperti sedia kala. Linda dan Farha tidak menyadari raut wajah Arum saat bertemu Aaron tadi.


"Far, Lin. Arum buat kue kering enak, lho." kataku.


"Aku dan Mbak Nindy bukan aku saja." kata Arum.


"Wah, mana?" tanya Linda.


"Aku mau coba." kata Farha.


Aku mengajak Linda dan Farha ke ruang tengah yang ada TV-nya, Arum mengekor dibelakang sambil tertawa.


"Duduk-duduk!" kataku pada semuanya.


Merekapun duduk. Aku mengambil kue kering yang sebelumnya aku masukkan ke dalam toples, membuka tutupnya, dan menyodorkannya ke arah Linda dan Farha. Mereka mengambilnya lalu mulai memakannya.


"MasyaAllah, enak sekali." kata Farha.

__ADS_1


"Iya betul kata Farha. Eh, maksudku Mbak Farha." kata Linda.


"Aku juga bilang apa, Rum. Kuemu enak sekali." kataku pada Arum.


Kami pun mulai asyik mengobrol mengenai kue kering buatan Arum. Arum memberikan resep kue keringnya kepada kami. Aku yang meski sudah membantu Arum membuat kuenya tetap mendengarkan penjelasan Arum dengan semangat. Hingga akhirnya percakapan tentang kue berakhir, kami membelokkan pembicaraan.


"Arum, mengapa kamu bisa ada di rumah Mbak Nindy?" tanya Farha.


"Aku sedang mencari pekerjaan lalu ibuku meneleponku untuk datang. Ternyata ibuku asisten rumah tangga Mbak Nindy." kata Arum.


Aku bangga pada Arum. Walaupun ibunya seorang asisten rumah tangga, dia tidak terlihat malu saat menceritakannya. Aku sangat bangga padanya karena di luar sana banyak anak yang malu bila berada di keadaan Arum.


"Ya Allah, dunia kenapa bisa sesempit ini ya, Rum?" kata Farha.


"Iya, Mbak." kata Arum.


"Lalu kamu kerja apa?" tanya Linda.


"Tidak tahu." kata Arum polos.


"Arum akan bekerja di perusahaan Mas Faiz. Tapi kami belum tahu apa pekerjaan persis Arum." kataku membantu Arum menjawab.


"Berarti kamu tinggal di sini terus, Rum?" tanya Farha.


"Iya, Arum akan tinggal di sini." kataku.


"Asik, kita jadi bisa sering ke sini ya, Mbak Far?" tanya Linda.


"Oh jadi seperti itu? Kalau hanya ada aku, kalian tidak akan sering main ke sini?" kataku pura-pura kesal.


"Iya, memang." kata Linda mencibir.


Mereka bertiga tertawa. Aku merasa ada yang kurang di antara kami. Minum! Aku lupa membuatkan minum untuk kami. Linda dan Farha pasti sangat kehausan.


"Sebentar ya, aku buatkan minum dulu. Aku sampai lupa." kataku sambil terkekeh.


Belum sempat aku berdiri tiba-tiba Bi Darsih datang bersama 4 minuman untuk kami.


"Terima kasih." kata kami berempat.


"Teman-teman, kenalkan ini Biyungku. Biyung mereka teman-teman Santi. Ini Mbak Farha dan yang ini Arum." kataku.


Farha dan Linda langsung mencium tangan Bu Darsih secara bergantian.


"Aku Linda, Tan.." kata Linda.


"Panggil Bibi saja ya?" kata Bi Darsih.


"Baik, Bibi." kata Linda.


"Aku, Farha, Bibi." kata Faha.


"Bibi Bi Darsih. MasyaAllah, teman-temen kamu baik-baik semua, Nduk." kata Bi Darsih.


"Iya, Biyung. Alhamdulillah." kata Arum.

__ADS_1


"Yasudah, Bibi ke belakang dulu ya?" kata Bi Darsih.


Kami semua mengangguk. Bi Darsih lalu pergi dari kami, sepertinya ke dapur.


"Kalian sudah makan belum?" tanyaku.


"Sudah, Mbak. Tadi sebelum ke sini kami makan dulu." kata Farha.


Tak lama kemudian azan asar berkumandang. Kami pun langsung melaksanakan salat berjamaah lalu kembali lagi ke ruang tengah.


"Assalamualaikum.." suara Mas Faiz.


Aku melirik jam, waktu baru menunjukkan pukul 16.00 WIB. Aku langsung berdiri dan menghampiri Mas Faiz.


"Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh." aku membalas salam. "Mas, sudah pulang?" tanyaku, aku langsung mencium tangan suamiku.


"Ada tamu?" tanya Mas Faiz.


"Ada Farha, Linda, dan Arum, Mas. Ternyata anak Bi Darsih itu Arum, Mas." kataku.


Mas Faiz tersenyum.


"Ayo, Mas kita temui teman-teman aku." kataku.


Mas Faiz mengangguk. Aku dan Mas Faiz langsung menghampiri teman-temanku. Teman-temanku menunduk melihat kami datang. Aku tersenyum sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


Semenit dua menit kami diam. Mas Faiz menoleh ke arahku. Aku mengangkat bahu. Suasana kini tegang.


"Selamat datang." kata Mas Faiz.


Linda, Farha, dan Arum menunduk. "Iya."


Mas Faiz melirikku lagi. Aku jadi bingung melihat teman-temanku yang kini diam saja.


"Jadi, kamu Arum?" tanya Mas Faiz pada Arum.


"Iya, Gus. Eh, maksud saya Pak, saya Arum." kata Arum.


"Bagaimana kabar Aaron, Om, dan Tante?" tanya Mas Faiz pada Farha dan Linda.


"Alhamdulillah baik, Gus." jawab Linda dan Farha berbarengan.


Mas Faiz mengangguk. "Baiklah, lanjutkan saja." kata Mas Faiz lagi.


Mereka bertiga mengangguk.


"An, Mas ke atas ya?" kata Mas Faiz.


"Iya, Mas." kataku.


Mas Faizpun mengangguk. Dia mengusap pipiku sebentar lalu berlalu meninggalkan kami. Pipiku kembali merasa panas. Mas Faiz mengusap pipiku di depan teman-temanku.


Lalu setelah Mas Faiz tidak lagi terlihat teman-temanku langsung menggodaku.


"Cie, cieee.." seru Arum.

__ADS_1


Yang lain tertawa aku hanya bisa tersenyum menanggapi mereka semua.


Kamipun melanjutkan acara reuni kami. Aku benar-benar senang hari ini.


__ADS_2