Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 13 – Rumah Baru


__ADS_3

Singkat cerita kamipun sampai di rumah baru. Mama dan Papa tidak terlalu menghalangi keinginanku untuk pindah ke rumah Mas Faiz. Kak Ulfapun demikian. Meski terlihat sedih aku tidak bisa mengartikan kesedihan itu untukku atau untuk Mas Faiz. Benar-benar menyebalkan rasanya mengingat hatiku sakit memikirkan Kak Ulfa yang ternyata menyukai Mas Faiz.


“I-ini rumah kita, Mas?” tanyaku.


Awalnya aku berpikir kalau rumah yang akan aku tempati hanya sebuah rumah kecil dan sederhana bergaya minimalis. Namun nyatanya tidak. Suamiku sepertinya benar-benar mempersiapkan semuanya dengan matang.


Rumah kami adalah rumah yang besarnya sama seperti rumah mama, rumah bertingkat. Namun sedikit lebih besar. Rumah ini didominasi warna krem. Teduh sekali. Krem adalah warna kesukaanku.


“Apa kamu tidak suka, An? Kalau tidak suka, nanti saya..”


“Tidak, Mas. Aku sangat suka.” kataku.


Mas Faiz tersenyum, “Ayo, Masuk.” katanya.


Mas Faiz membuka gerbang. Dari dalam gerbang aku langsung bisa melihat sebuah mobil Honda Civic Type R berwarna putih sedang terparkir di garasi. Aku memang tidak tahu persis harga mobil itu namun jika ku perhatikan, mobil itu jenis mobil mewah. Dan di samping mobil, ada motor honda pcx.


“Ayo, An.” kata Mas Faiz.


Akupun mengekori Mas Faiz. Aku ke sini menggunakan taxi online jadi Mama, Papa, maupun Kak Ulfa tidak ada yang ikut. Jujur aku menolak saat Papa hendak mengantarkanku pindah. Karena Papa terlihat sangat lelah.


Kami masuk ke dalam salah satu kamar yang berada di lantai dua, kamar ini besar, rapih, dan bersih. Lalu akupun membuka koper tanpa mengeluarkan isinya, lalu berjalan menuju lemari.


Dan betapa terkejutnya aku saat melihat lemari itu dipenuhi pakaian wanita. Akupun berbalik. Mencari penjelasan dari Mas Faiz. Mas Faiz terlihat salah tingkah. Dia menggaruk tengkuknya yang aku jamin tidak gatal.


“Ini?” tanyaku. Meminta penjelasan padanya.


“Sejujurnya saya telah lama memimpikan membawamu ke rumah ini, jadi saya menyiapkan baju-baju itu untuk kamu.” kata Mas Faiz.


Aku hendak menggigit bibirku, namun aku teringat nasihat mama. Aku tidak boleh seperti itu. Lagi pula bibirku sedang sakit.


“Masss..” kataku.


Mas Faiz menghampiriku. Tidak, maksudku menghampiri lemari di belakangku.


“Saya tidak tahu apakah semua ukurannya pas, karena saya hanya bisa mengira-ngira.” katanya.


Mas Faiz mengambil satu gamis dari dalam lemari lalu memberikan gamis itu untukku, dia menyuruhku untuk mengira-ngira muat atau tidaknya baju itu dari luar bajuku. Ternyata pas sekali.


“Masss..” kataku lagi.


“Iya?” tanyanya.


“Kenapa Mas baik sekali padaku?” tanyaku.


“Karena saya mencintaimu.” kata Mas Faiz.


“Masss..” kataku. Aku tak mampu menyembunyikan senyumanku.


“Iya?” tanyanya.


“Kenapa kamu bisa seromantis ini?” tanyaku.

__ADS_1


“Karena saya ingin selalu melihatmu bahagia.” Jawabnya.


Aku terkekeh.


Aku dan Mas Faiz memasukkan pakaian-pakaian kami ke dalam lemari. Setelah selesai, kamipun berbaring di atas tempat tidur.


“Jadi, pakaian itu kamu beli sebelum kita menikah, Mas?” tanyaku.


Mas Faiz mengangguk.


“Sebelum kamu melamarku?” tanyaku.


Mas Faiz mengangguk lagi.


Aku terkekeh, “Mas percaya diri sekali kalau aku akan menerima lamaran itu.” kataku.


Mas Faiz pun tertawa. “Saya sudah menantimu bertahun-tahun, rasanya kamu tidak akan tega menolak saya.”


“Siapa bilang?” kataku.


“Hati saya.” Katanya.


“Apa kamu tidak takut kalau aku akan menolakmu?” tanyaku.


Mas Faiz meraih tanganku.


“Melihat di acara perpisahan itu kamu tetap memakai gelang ini, membuat saya yakin, kalau kamu akan menerima lamaran saya.” kata Mas Faiz. Dia mengusap punggung tanganku dengan jempolnya.


“Aduh!” seruku.


Tiba-tiba perutku sakit sekali.


“Kamu kenapa, An?” tanya Mas Faiz, wajahnya penuh dengan ke khawatiran.


“Perutku sakit sekali, Mas.” kataku.


“Ayo, kita ke dokter.” kata Mas Faiz.


Aku merasakan sesuatu mengalir. “Sebantar, Mas. Aku harus ke kamar mandi.” kataku.


Akupun buru-buru lari ke kamar mandi. Untunglah kamar ini dilengkapi kamar mandi. Jadi aku tidak perlu berlari jauh-jauh.


Ternyata aku datang bulan. Masa haidku datang. Aku benar-benar bingung sekarang. Ternyata rasa sakitku berasal dari sini, bukan karena lambungku yang bermasalah. Aku sering sakali mengalami sakit perut setiap bulan. Ceroboh sekali aku tidak memikiran ini, dan aku tidak punya stok ‘roti jepang’ a.k.a pembalut.


“An, kamu baik-baik saja?” tanya Mas Faiz.


Akupun buru-buru keluar kamar mandi. “E, Mas, apakah mini market di sini jauh?” tanyaku.


“Kamu butuh sesuatu? Biar saya saja yang membelinya.” kata Mas Faiz.


“T-tapi..” aku memutar otak, mencari cara untuk mengatakan pada Mas Faiz dengan cara yang sopan.

__ADS_1


“Katakanlah.” kata Mas Faiz.


Perutku kembali nyeri. Menyadari aku yang tak kuat berdiri, Mas Faiz memapahku untuk duduk di bangku di depan meja hias.


“A-aku datang bulan, Mas.” kataku.


“Maaf?” tanya Mas Faiz yang tak mengerti arah ucapanku.


Aku menghirup udara, mengatur nafas. “A-aku butuh pembalut.” kataku, akhirnya.


Mas Faiz membeku sebentar, lalu menyadari apa yang aku katakana, aku mencuri-curi pandang ke arahnya. “Biar saya yang beli, e, apakah ada merek khusus atau..” Mas Faiz bingung.


Aku mengambil ponsel lalu berselancar mencari merek pembalut yang biasa aku pakai. Aku memberikan ponselku pada Mas Faiz. Mas Faiz mengambilnya. Lalu mengangguk.


“Kamu tunggu sebentar ya.” kata Mas Faiz.


Akupun tak bisa melepaskan pandanganku dari punggung Mas Faiz. Aku jadi tidak enak pada suamiku. Maksudku, membeli ‘roti jepang’ adalah sesuatu yang sangat intim, sifatnya pribadi, dan tabu bagi laki-laki.


Memikirkan Mas Faiz yang akan di pandang aneh orlah orang-orang di mini market membuat aku merasa bersalah. Aku benar-benar selalu merepotkannya. Mengapa aku tidak menyetok persediaan seperti itu? Aku benar-benar menyesal.


Tak lama kemudian, Mas Faiz kembali ke kamar ini. Dia membawa plastik berisi pesanan ‘berharga’ku. Aku cepat-cepat mengambilnya dan masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai akupun keluar. Namun, di kamar ini, aku tidak menemukan Mas Faiz. Aku pun turun, mencari keberadaannya.


“Mas?” panggilku.


“Saya di dapur, An.” seru Mas Faiz.


Akupun menghampirinya. Aku melihat suamiku sedang membuatkan dua porsi mi dadak (sebutan mi instan berdasarkan KBBI).


“Biar aku bantu, Mas.” kataku.


“Kamu duduk saja ya, perut kamu masih sakit kan?” kata Mas Faiz.


Akupun mengalah, karena semakin lama berdiri, rasa sakit di bawah perutku makin menjadi-jadi. Aku mengambil ponselku, lalu memotret suamiku dari belakang. Dia benar-benar suamiku yang tampan dan perhatian. Aku menuju meja makan.


“Ini dia.” kata Mas Faiz.


Wajah Mas Faiz berseri-seri. Seperti telah membuat sebuah karya yang besar. Aku terkekeh melihat tingkahnya.


“Terima kasih, Mas.” kataku.


“Saya hanya bisa membuatkan ini untukmu, An.” kata Mas Faiz.


“Tidak apa-apa, Mas. Aku coba ya.” kataku.


Mas Faiz mengangguk, dan menatapku. Akupun mencoba mi dadak buatannya. Enak sekali.


“Enak sekali, Mas.” kataku.


Mas Faiz hanya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2