
Keesokkan harinya, aku merasakan sesuatu yang berat di atas perutku. Aku pun terkejut dan terbangun. Ada sebuah tangan, aku hendak menyingkirkan tangan itu namun tiba-tiba aku tersadar kalau itu adalah tangan Gus Faiz, suamiku. Aku menghembuskan nafas lega.
Aku melirik jam dinding. Waktu menujukkan pukul 04.00 WIB. Lalu, aku menoleh, kudapati wajah tentram suamiku ada di sana. Aku menyentuh wajahnya. Ini benar-benar nyata. Aku mengusap pipinya, wajah Gus Faiz tentram sekali. Sepertinya tidurnya sangat nyenyak.
Ya Allah, terima kasih telah menjadikan dia suamiku.–batinku.
Mengingat sebentar lagi subuh, aku merasa harus membangunkan suamiku, tapi aku tidak tahu cara membangunkannya.
“Mas?” tanyaku.
Gus Faiz belum bangun. Akupun mencolek-colek pipinya. Namun, dia tak kunjung bangun. Aku menepuk-nepuk lengannya. Raut wajah Gus Faiz berubah sebentar tapi dia masih terlelap.
Akupun mencolek perutnya.
Gus Faizpun membuka mata.
“Astaghfirullah al azim!” serunya terkejut.
Saking terkejut karena mendapati dirinya sedang memelukku dari samping, dia pun mundur dengan cepat.
BRUG!
Gus Faiz terjatuh. Aku berlari menghampirinya.
“Mas, tidak apa-apa?” tanyaku khawatir.
Aku membantunya berdiri, dia memegangi pinggangnya. Dia terus menatapku seperti berpikir.
Alih-alih menjawab pertanyaanku. Dia justru terkekeh. “Maafkan saya, saya lupa telah beristri.” katanya.
Aku tersenyum, lalu mengangguk. “Apa masih sakit?” tanyaku.
“Tidak, An. Saya, sudah baik-baik saja. Saya mandi dulu ya.” kata Gus Faiz.
Dia mendekat aku refleks mundur. Dia terkekeh, dia mengusap kepalaku, lalu masuk ke kamar mandi. Aku memegangi dadaku. Debaran ini benar-benar nyata dan menyebalkan. Akupun mengambil nafas banyak-banyak sambil mengipasi wajahku dengan tangan.
Aku membereskan tempat tidur, lalu menyiapkan sajadah, baju koko, sarung, dan peci di atas ranjang. Aku juga menyiapkan baju untuk diriku sendiri. Setelah Gus Faiz keluar kamar mandi akupun berniat masuk ke kamar mandi.
“An!” panggil Gus Faiz.
Aku menoleh.
“Kalau kamu keluar dan tidak mendapati saya, berarti saya sudah ke Masjid ya.” kata Gus Faiz.
Aku mengangguk.
***
Setelah selesai salat, aku pun menuju dapur. Aku ingin membantu Mama memasak. Sesampainya di dapur aku melihat Mama dan Kak Ulfa. Aku memeluk Mama dari belakang.
__ADS_1
“Sudah?” tanya Mama menggodaku.
“Sudah apa?” tanyaku.
Mama terkekeh. Kak Ulfa hanya tersenyum miring.
“Ada yang bisa aku bantu, Ma, Kak?” kataku.
Aku memang tidak bisa memasak, namun aku mau membantu orang lain memasak. Berbeda denganku, Kak Ulfa sangat pintar memasak. Dari cerita Kak Ulfa, dia memang sudah menjadi chef di salah satu hotel ternama. Jadi, untuk urusan masak memasak dan tata-menata makanan dia sudah sangat handal.
Tidak lama Umipun bergabung dengan kami. Beliau tersenyum padaku, senyuman itu tidak pernah berubah. Masih ramah dan meneduhkan. Aku ingin memiliki senyum seperti Umi.
“Umi, hehe.” kataku.
Belum sempat Umi menjawab sapaanku, Kak Ulfa buru-buru meminta bantuan.
“Kamu kan tidak bisa masak, jadi kamu potong-potong ini saja untuk dibuat capcay, Nindy.” kata Kak Ulfa.
Ntah dari mana datangnya perasaan itu, aku merasa kalimat Kak Ulfa terasa mengganjal di telingaku. Tapi aku buru-buru menepis prasangka ini. Aku tidak boleh berprasangka buruk. Kak Ulfa mengatakan kebenaran kalau aku tidak bisa memasak, dan mungkin dia memang sedang membutuhkanku untuk memotong-motong wortel.
Aku mengangguk. Jujur aku malu pada Umi. Akupun mengambil wortel lalu memotongnya sebisaku.
“Duh, Nindy. Jangan besar-besar potongnya.” kata Kak Ulfa.
“Oh, maaf, Kak.” kataku.
“Biar Umi bantu, Nak.” kata Umi.
Umi menghampiriku. Mama dan Kak Ulfa berkutat dengan kompor.
“Coba ikuti cara Umi ya, Nak. Wortel ini dipotong sesuai kebutuhan. Karena mau dipakai untuk buat capcay, lebih baik seperti ini potongnya, dipotong serong tipis.” kata Umi.
Aku memperhatikan bagaimana cara Umi memotong wortel. “Baik, Umi. Terima kasih, ya.” kataku.
Akupun mencoba mengiris wortel sesuai instruksi Umi. Akhirnya walau tidak sesempurna potongan wortel Umi, aku bisa menghabiskan wortel. Setelah selesai, Umi trsenyum padaku. Jujur aku sangat malu pada Umi. Aku benar-benar tidak bisa memasak dengan baik. Bahkan hanya untuk memotong wortelpun aku tidak tahu triknya.
Setelah selesai masak, akupun membantu menata makanan di meja makan.
“Ini sebelah situ saja, Nin.” kata Kak Ulfa.
“Baik, Kak.” kataku mengikuti instruksi Kak Ulfa.
“Itu sendoknya langsung ditaro di samping piring aja.” kata Kak Ulfa.
Aku kagum pada Kak Ulfa. Sepertinya dia mengerti segalanya tentang tata menata makanan. Dari masak hingga menata, dia sangatlah terlihat professional. Diam-diam aku membandingkan diriku dengan Kak Ulfa.
“Itu salah. Masa seperti itu saja tidak tahu sih. Seharusnya, sendok di sebelah kanan dan garpu di sebelah kiri.” kata Kak Ulfa.
“Baik, Kak.” kataku. Aku mengganti posisi garpu dengan sendok sesuai dengan instruksi Kak Ulfa.
__ADS_1
“Wah, Ulfa hebat sekali ya. Apa ini semua yang masak kamu, Ulfa?” tanya Tante Dinar.
Tante Dinar adalah ibu dari Zahra. Anak kecil yang dulu pernah kuceritakan. Anak kecil cantik yang menggemaskan. Zahra tidak ikut karena sedang melaksanakan ujian di sekolahnya.
“Iya, tante, hehehe.” kata Kak Ulfa, malu-malu.
“Boleh tante coba?” tanya Tante Dinar.
“Silakan, Tante. Ini..” kata Kak Ulfa sambil mengulurkan piring kecil kepada Tante Dinar.
Aku hanya memperhatikan, sambil merapikan meja makan.
“Wah, enak banget. Kenapa tidak kamu saja yang menikah dengan Faiz? Sepertinya kamu jauh lebih dewasa. Hahaha.” kata Tante Dinar.
Mendengar kata-kata Tante Dinar membuat hatiku sedikit berdenyut. Aku beristigfar dalam hati. Aku tahu Tante Dinar hanya bercanda dan mungkin beliau memang sedang tidak melihatku. Aku diam saja. Tak mau memperpanjang masalah.
“Tapi Faiz hanya mencintai Anin, Tante.” suara Gus Faiz.
Aku buru-buru mencari keberadaannya. Saat mata kita bertemu. Dia tersenyum padaku. Aku balas tersenyum padanya.
“Duh, pengantin baru, serius sekali. Tante hanya bercanda saja, iya kan Ulfa?” kata Tante Dinar.
Aku sedikit kecewa karena Tante Dinar tidak mencoba menjelaskan apapun padaku. Tapi kalau dipikir-pikir sepertinya akulah yang salah karena terlalu terbawa perasaan.
“Duduk, Mas.” kataku. Aku hendak pergi, namun tiba-tiba tanganku dicekal dengan lembut.
“Duduklah.” kata Gus Faiz.
Akupun menurut dan duduk di samping suamiku. Makan malam pun di mulai. Gus Faiz hendak mengambil nasi namun aku buru-buru mencegahnya.
“Biar aku saja.” kataku.
Gus Faiz tersenyum padaku, aku balas tersenyum padanya malu-malu.
“Duh, pengantin baru..” Mama menggoda kami. Sontak mukaku memerah. Aku melirik Gus Faiz. Gus Faiz hanya terkekeh dengan wajah yang juga merah.
Semua orang pun tertawa. Menertawai kami. Kami menjadi bahan godaan di meja makan. Meski begitu, situasi jadi cair sekali. Aku benar-benar bahagia.
Aku mencuri-curi pandang pada Gus Faiz. Setiap kali ketahuan aku langsung mengedarkan pandanganku ke arah lain. Aku tak bisa menjelaskan bagaimana ekspresi Gus Faiz karena aku tak berani menatapnya.
Aku selesai makan. Akupun mengambil air putih untuk minum dengan tangan kananku.
Tiba-tiba ada yang menggenggam tangan kiriku.
“UHUK!” kataku tersedak. Untung tidak keluar airnya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Gus Faiz. “Maafkan saya.” katanya.
Aaku tersenyum, “Tidak apa-apa.” kataku.
__ADS_1