Penjara Suci

Penjara Suci
PS 68 - Lamaran


__ADS_3

Mendengar Gus Faiz memanggil namaku, aku berhenti. Dalam hati aku memikirkan mengapa dia menghentikan langkahku. Aku ingin berbalik dan menghampirinya namun bolehkah kulakukan hal demikian?


Maksudku, aku jelas mengerti apa yang terjadi pada diriku, dengan degup jantung yang perpacu kencang, perut berdesir, hati berdebar, dan perasaan selalu ingin memandang wajahnya. Jika terus berada di sampingnya, aku benar-benar tidak bisa menahan diri.


Saat aku masih berkutat dengan lamunan-lamunanku, Gus Faiz sudah berada di depanku. Tidak dekat memang karena di antara kami masih ada jarak. Satu meter kalau aku tidak salah. Aku menundukkan kepalaku takut mata kami bertemu. Aku benar-benar merindukan mata itu. Mata coklat yang begitu meneduhkan.


"Bukankah tadi kamu sedang meminta maaf pada saya?" tany Gus Faiz.


Aku mengangguk. "Apa maafku belum cukup?" tanyaku.


"Kamu tidak minta dimaafkan?" tanyanya.


Ada apa sebetulnya? Aku benar-benar tak mengerti arah pembicaraaanya. Sepertinya dia ingin memintaku untuk meminta maaf lebih banyak. Namun, aku harus memastikan kalau aku punya analisa yang benar.


"Bukannya tadi aku udah meminta maaf?" tanyaku.


"Tapi kamu pergi sebelum saya menjawab." jawabnya.


Apa yang dikatakan Gus Faiz cukup masuk akal. Aku memang meminta maaf padanya tadi. Namun, aku langsung pergi begitu saja tanpa mendengar apa dia bisa memaafkan semua kesalahanku padanya atau tidak.


"M-maaf." kataku. Merutuki kebodohanku.


"Apakah kamu mau saya maafkan?" tanya Gus Faiz.


Aku mengangguk.


"Setujui saja permintaan saya. Saya akan memaafkan kamu." kata Gus Faiz.


"Pamrih." kataku


Dia terkekeh mendengar kata-kataku. Tertawanya renyah sekali. Dari mana Si Balok Es ini belajar cara tertawa serenyah ini? Ah, sudah 4tahun berlalu, aku harusnya mengerti dia sudah semakin banyak bertemu orang. Pengaruh lingkungan juga mungkin yang membuatnya seperti ini. Namun, ini sangat bagus. Aku menyukainya. Maksudku, ah, sudahlah.


"Jadi, aku belum dimaafin?" tanyaku.


Tak ada jawaban. Aku meliriknya. Dia tersenyum. Aku buru-buru menunduk lagi. Aku benar-benar takut kalau aku sampai memandangnya. Hatiku ini mengatakan kalau aku mulai dibutakan nafsu. Aku takut melihat sesuatu yang membuat-Nya marah.


"Boleh saya tanya sesuatu?" tanyanya.


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Bila suatu hari ada seorang laki-laki datang menyatakan perasaannya kepadamu, maukah kamu menjawabnya?" tanya Gus Faiz.


"Aku rasa aku gak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan itu." kataku.


Gus Faiz tersenyum lagi.


"Menurutmu, bila saya ingin melamar seorang gadis, haruskah saya mengungkapkan perasaan dan memintanya menjawab perasaan saya sebelum melamarnya?" tanya Gus Faiz.


Aku mendesah kecewa. Ternyata rumor yang sempat beredar itu benar. Kalau dilihat dari pertanyaannya sepertinya Gus Faiz memang sudah berniat untuk melamar seorang gadis. Aku tidak berani berharap kalau dia akan melamarku. Karena sudah 4tahun berlalu, dan aku yakin dengan kesempurnaan yang dimilikinya dia sudah bertemu banyak wanita salihah di luaran sana.


Apalagi menilik apa yang pernah terjadi di masa laluku. Rasanya hanya sekadar memikirkan Gus Faiz tersenyum padaku saja aku merasa tidak pantas. Masa laluku begitu kelam. Meski dia baik padaku aku tahu semua itu hanyalah karena mendapatkan amanah dari Ilham.


Untuk pernyataan cintanya dulu. Sepertinya itu memang benar-benar murni untuk mencegahku untuk pergi. Hal ini aku sadari setelah dia pergi. Meski ponsel kami tertukar, dia tidak pernah menghubungiku sama sekali. Padahal ponselnya pasti menggunakan nomornya, bukankah pemilik nomor harusnya hafal nomornya sendiri?


Aku pun hafal dengan jelas nomor ponselku. Hanya saja setelah kepergian Gus Faiz dulu aku tidak punya keberanian untuk menghubunginya. Ditambah saat aku masih menunggu kakiku sembuh aku sempat membaca salah satu novel karangan penulis favoritku, Tere Liye. Saat itu aku membaca novel beliau yang berjudul 'Hujan'. Sejak saat itu aku mulai mengagumi sosok Esok dan aku mulai berkeinginan mencontoh pribadi Lail.


"Menurutku, kamu cukup tanyakan kesediaannya untuk dilamar. Kalau dia setuju, katakan padanya kalau kamu mau datang ke orang tuanya untuk melamar." kataku.


"Apa itu romantis?" tanya Gus Faiz.


"Menurut aku, gak ada yang lebih romantis dari acara-acara romantis setelah halal." kataku.


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanyaku.


"Tanyalah sebanyak yang kamu mau." katanya.


"Kamu mau melamar?" tanyaku.


Dia terkekeh, mengangguk, lalu tersenyum. Kenapa hari ini dia begitu murah senyum? Apakah ini efek dari keinginannya untuk menikah? Dia bukan lagi Gus Faiz yang begitu dingin. Aku senang mendapati Gus Faiz yang mulai cair, namun mengingat alasan dia seperti ini karena gadis lain, akupun kembali sedih.


"Apa aku kenal?" tanyaku.


"Tentu saja. Kamu sangat mengenalnya." katanya lagi.


Aku mulai menerka-nerka siapa gadis yang akan dipinang Gus Faiz. Dia mengatakan padaku kalau aku sangat mengenal calon santriwati Abah yang ingin dipinangnya. Apa mungkin Linda? Arum? Farha? Atau siapa?


"Kamu tidak tanya siapa namanya?" tanya Gus Faiz.


Aku tersenyum menyembunyikan kesedihanku. Aku menggeleng. Rasanya aku tidak perlu tahu. Karena pasti seseorang di sekelilingku. Tanpa menanyakan pada Gus Faiz, rasanya aku akan tahu sendiri siapa gadis itu.

__ADS_1


Aku menggeleng.


"Kamu tahu?" tanyanya.


Aku mengangguk.


"Sungguh?" tanyanya.


Aku mengangguk.


"Apa kamu senang?"


Aku mengangguk. Sambil tersenyum agar dia bisa melihat raut bahagia dari wajahku.


"Kamu menerimanya?" tanya Gus Faiz.


Aku mengangguk antusias. Dia sepertinya tersenyum padaku. Ntahlah. Aku tidak boleh terlihat tidak menyukai acara lamarannya kali ini.


"Baiklah, aku akan datang ke rumahmu seminggu lagi." kata Gus Faiz.


Aku menoleh. Tidak bisa menahan rasa penasaranku. Kali ini aku benar-benar menatap mata Gus Faiz. Mata seseorang yang diam-diam selalu aku rindukan. Aku mencari kesungguhan di sana. Dan aku melihat tidak ada sedikitpun keraguan. Keinginannya benar-benar mantap.


Ternyata bukan Linda, Arum, ataupun Farha. Melainkan Kak Ulfa. Aku mendesah. Aku harusnya sadar sejak awal. Kak Ulfa dan Gus Faiz memang benar-benar saling mencintai.


Mungkin dulu saat Kak Ulfa mengatakan kalau dia punya seseorang yg disukainya dan dalam surat Aaron menyatakan makna tersirat kalau laki-laki itu adalah sepupunya adalah tidak benar. Mungkin hanya untuk membahagiakanku saja. Atau kalaupun tidak ada kebohongan di dalamnya, cinta itu mungkin hanya cinta monyet yang bisa kandas sewaktu-waktu.


"Kenapa? Kamu keberatan?" tanya Gus Faiz.


Aku menggeleng. "Semakin cepat semakin bagus, Gus." kataku, mantap.


Tak lama kemudian Kak Ulfa datang dari ke jauhan. Wajahnya begitu serseri-seri menatapku.


"As-salamu 'alaikum." salamnya.


"Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh." aku dan Gus Faiz menjawab.


"Gus Faiz." Kak Ulfa tersenyum menyapa Gus Faiz.


Gus Faiz mengangguk dan balas tersenyum.

__ADS_1


Pemandangan ini manis sekali. Dadaku kini merasa sesak. Tapi aku tidak boleh menangis ataupun terlihat sedih. Akupun tersenyum ceria ke arah Kak Ulfa.


__ADS_2