
Selesai mandi, Gus Faiz keluar. Aku terus beristighfar dalam hati. Jantungku terus berdegup dengan kencang. Dia mendekat, rasanya aku tak kuasa melihat dia mendekat. Aku harus pergi. Tidak, maksudku aku harus mandi.
Sungguh, ini kali pertamanya aku melihat seseorang laki-laki dewasa bertelanjang dada. Apalagi dalam satu kamar yang sama denganku. Ntah mengapa tiba-tiba aku dihinggapi rasa ketakutan.
“A-Aku harus mandi.” kataku, ketakutan.
Aku langsung berlari ke kamar mandi hingga tak sengaja kakiku menabrak tembok saat mau masuk ke kamar mandi.
“Awww..” ringisku sambil mengangkat kakiku. Memastikan kalau kakiku baik-baik saja.
“Hati-hati, An. Coba saya lihat.” kata Gus Faiz.
Gus Faiz meniup-niup kakiku. Seketika tubuhku lemas. Aku jatuh terduduk begitu saja di hadapannya. Namun, beruntung, Gus Faiz cepat menangkapku sebelum pantatku mencium lantai.
Gus Faiz panik. “Kamu kenapa, An?” tanyanya.
Wajah itu terlihat sangat mengkhawatirkanku. Aku merasa bersalah. Aku menggeleng, “A-aku hanya lemas.”
“Kakimu?” tanyanya.
“Tidak sakit, hanya lemas melihatmu seperti itu.” kataku jujur.
Gus Faiz terkekeh. Di luar dugaan dia ke lemari bajuku mengambilkan handuk, dan membopongku ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi dia memberikan handuk yang tadi dia ambil kepadaku, lalu keluar. Dia menutup pintu kamar mandi dari luar.
Bagaimana ini? Aku sangat memalukan dan menyedihkan. –batinku.
Selesai mandi aku tidak buru-buru keluar. Ntah mengapa aku benar-benar merasa ketakutan. Aku takut, takut sekali. Lagi pula aku hanya memakai handuk. Aku tidak mau keluar.
Aku menyenderkan kepalaku di samping kaca kamar mandi. Membenturkan kepalaku pelan. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Jika tidak salah sudah lebih dari satu jam aku di dalam kamar mandi. Tubuhku mulai menggigil kedinginan. Aku benar-benar takut dan malu untuk keluar kamar mandi.
“Sampai kapan kamu di dalam kamar mandi, An?” tanya Gus Faiz dari luar.
“S-sebentar lagi.” kataku setengah berteriak agar terdengar dari luar.
Kali ini, aku merasa memang benar-benar harus keluar saat ini juga.
Setelah keluar, aku melihat Gus Faiz sudah memakai baju tidur yang sudah aku siapkan. Dia menatapku dengan tatapan yang tak bisa aku artikan. Aku buru-buru mengambil pakaian tidur berwarna senada dengannya lalu masuk ke kamar mandi, setelah memakai baju lengkap aku keluar lagi.
Aku tak berani menatap matanya. Aku kembali takut.
“Apa saya begitu menakutkan?” tanya Gus Faiz.
Aku menggeleng lemah. Lalu, menghampirinya.
“Maaf.” kataku.
“Tidak apa-apa. Saya akan tidur terlebih dahulu.” kata Gus Faiz. Dia membelakangiku.
Aku jadi merasa bersalah. Aku telah membohonginya. Namun bila kukatakan padanya kalau aku takut, aku takut menyakiti hatinya. Aku tidak mau dia tersinggung tapi tidak aku sangka, berbohong pun membuatnya begini.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku pun berbaring di sampingnya. Kutatap langit-langit yang masih terang. Sepertinya aku punya ide untuk memancing Gus Faiz berbicara.
“Boleh aku matikan lampunya?” tanyaku.
“Silakan.” kata Gus Faiz.
Aku buru-buru mematikan lampu. Lalu kembali berbaring lagi di sampingnya, aku melirik Gus Faiz yang masih membelakangiku. Akupun mengubah posisiku menghadap punggungnya.
Mengingat dia yang ikut mengurus ini itu, membuatku kasihan padanya. Dia pasti lelah. Meski dia tidak mengungkapkannya secara langsung, namun raut lelah di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
Melihat punggungnya, aku semakin merasa bersalah. Aku telah mengecewakannya. Aku memang takut padanya tadi, ntahlah, aku merasa begitu bodoh karena rasa takut itu. Padahal Gus Faiz tidak menakutkan, dia begitu ramah dan perhatian. Tak ada alasan bagiku untuk takut padanya.
Aku mengusap lengannya, dia berbalik. Aku menatap mata teduhnya, “Maafkan aku.” kataku. Aku benar-benar merasa bersalah hingga sebutir air mataku jatuh.
“Jangan menangis. Tidak apa-apa sungguh.” kata Gus Faiz. Dia mengusap air mataku.
“Kamu benar, aku takut.” kataku.
“Saya tahu, sudah ya, saya mohon jangan menangis. Saya tidak akan berbuat apapun tanpa seizinmu. Jadi, saya mohon jangan takut lagi.” kata Gus Faiz.
Aku mengangguk. “Boleh aku memelukmu?” tanyaku.
__ADS_1
Gus Faiz mengangguk, aku pun menggeser tubuhku untuk memeluknya. Dia balas memelukku. Nyaman sekali.
“Mas?” panggilku.
Pikiranku terbang pada kalimat Gus Faiz yang menyatakan kalau dia sengaja menukar ponselku dengan ponselnya. Gus Faiz memang memberitahuku dan meminta maaf soal itu, namun dia belum mengatakan alasan melakukannya.
“Iya?” jawabnya.
“Mengapa kamu menukar ponsel kita?” tanya Gus Faiz.
“Saya memiliki 3 alasan.” kata Gus Faiz.
“Apa itu?” kataku.
“Bila saya katakan, saya takut kamu marah.” kata Gus Faiz.
“Aku tidak akan marah padamu, G-Mas.” kataku, hampir mamanggilnya Gus.
“Baiklah, janji tidak akan marah?" kata Gus Faiz.
Aku mengangguk mantap. Melihatku Gus Faiz tersenyum.
"Alasan pertama saya adalah saya ingin punya alasan untuk bertemu kamu lagi.” kata Gus Faiz.
Mau tak mau aku tersenyum mendengar kalimatnya. Bagaimana aku bisa marah bila alasan pertamanya saja sudah semanis ini. “Ada-ada saja.” kataku, sambil tersenyum malu-malu.
Gus Faiz terkekeh. “Saya benar-benar tidak mau kehilangan kamu. Dan saya merasa harus punya alasan untuk bertemu denganmu lagi. Jadi, saya menukar ponsel itu.” katanya.
“Padahal saat bertemu pun, kamu tidak memberikan ponsel itu secara langsung padaku, ponselnya kamu titipkan pada Kak Ulfa.” kataku, sebal.
“Jangan cemburu seperti itu, An. Sungguh, saya benar-benar lupa saat itu. Kau tahu, An? Berdekatan denganmu sering membuat saya melupakan banyak hal.” kata Gus Faiz sambil terkekeh.
“Gombal.” kataku. Aku merasakan pipiku panas.
Gus Faiz terkekeh lagi.
“Tidak, An. Aku mengatakan hal yang sebenarnya.” kata Gus Faiz.
“Saya sudah punya alasan baru.” kata Gus Faiz.
“Alasan baru?” tanyaku.
“Iya, melamarmu.” kata Gus Faiz.
Aku menggigit bibir menyembunyikan senyumanku. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa laki-laki sedingin Gus Faiz ternyata memiliki hati yang hangat.
“Jangan digigit.” kata Gus Faiz. “Tersenyum saja, kamu jauh lebih cantik saat tersenyum.” Lanjutnya.
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Dia mengatakan kalau aku cantik. Aku benar-benar malu. Dia meraih tanganku.
“Boleh saya lanjutkan?” tanyanya seraya tersenyum.
Aku menggangguk.
“Alasan kedua, saya ingin mengenalmu.” katanya.
“Bukankah kamu sudah mengenalku dengan baik?” tanyaku.
“Saya hanya mengenalmu lewat cerita Ilham. Saya ingin lebih mengenalmu, bukan hanya sekadar lewat cerita Ilham.” kata Gus Faiz. Ntah mengapa aku seperti menangkap aura kecemburuan yang di sembunyikan di sana.
“Bukankah kau bisa menanyakan langsung padaku?” tanyaku.
“Kita tak punya banyak waktu saat itu.” kata Gus Faiz.
Aku mengangguk, yang di katakan Gus Faiz sangatlah masuk akal.
“Mengapa tidak pernah menghubungiku?” tanyaku.
Dia menatapku, sambil berpikir. Dia seperti menimbang-nimbang sesuatu.
“Saya tidak berani.” katanya sambil nyengir kuda.
__ADS_1
Aku tertawa. Pantas saja dia tidak pernah menghubungiku. Sesempurna apapun Gus Faiz, dia tetaplah manusia bukan?
“Boleh aku tahu bagaimana caramu mengenalku lewat ponsel itu?” tanyaku.
“Kamu membolehkan saya mengakses ponselmu kan?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Tentu saja, aku mengizinkanmu mengakses apapun yang kamu mau lewat ponsel itu.” kataku.
“Nah, karena sudah mendapat izin, Saya berani mengakses ponselmu. Saya membuka aplikasi menulis yang ada di dalam ponselmu, lalu membaca semua tulisanmu. Dari sana saya merasa bisa berkenalan langsung denganmu lewat cerita-cerita yang kamu tulis. Saya juga merasa kamu selalu ada di dekat saya setiap saya melihat fotomu di wallpaper.” kata Gus Faiz.
“Kamu tidak membuka galeri fotoku?” tanyaku.
“Saya pernah tidak sengaja membukanya, ada foto laki-laki. Saya tidak suka, rasanya saya ingin menghapusnya, hanya saja saya merasa tidak berhak. Sejak saat itu, saya tidak pernah berniat membukanya.” kata Gus Faiz.
Akupun turun dari ranjang, mengambil ponselku. Jujur aku tidak tahu siapa laki-laki yang dimaksud Gus Faiz. Aku membawa ponsel itu dan kembali ke ranjang. Kali ini aku memilih duduk, Gus Faizpun ikut duduk.
Aku menyodorkan ponsel itu pada Gus Faiz.
“Kamu boleh menghapus apapun yang kamu tidak suka. Aku tidak keberatan sama sekali, Mas.” kataku.
“Benarkah?” tanya Gus Faiz. Dia meraih ponselku. Namun, tidak membukanya.
Aku mengangguk. Aku tidak mau membuat Gus Faiz salah paham pada siapapun. Aku mau hidup terbuka dengannya. Lagi pula dia suamiku.
“Jelaskan alasan ketiga dulu.” kataku.
Gus Faiz terkekeh. Lalu mengangguk. “Alasan ketiga saya adalah ingin tahu siapa saja yang menjadi sainganku.”
Aku tertawa mendengar alasan ketiga Gus Faiz. Saingan.
“Bagaimana caranya?” tanyaku.
“Saya membuka akun media sosialmu. Saya tidak membuka pesanmu, An, sungguh. Saya hanya membaca setiap komentar di bawah foto-foto yang pernah kamu unggah.” katanya.
“Dan kamu menemukannya?” tanyaku.
Dia menggeleng. “Saya hanya mendapat kekesalan.” katanya.
“Lho, kenapa?” tanyaku.
“Hampir semua yang mengomentari fotomu adalah laki-laki.” kata Gus Faiz.
“Kamu, cemburu?” tanyaku. Aku tak bisa menyembunyikan senyumanku.
“Saya tidak tahu, yang jelas saya merasa kesal.” katanya.
Aku tertawa melihat Gus Faiz yang menggemaskan.
“Sini deh aku hapus semua fotoku.” kataku.
Gus Faiz memberikan ponsel itu padaku. Aku meraih ponselku lalu membuka akun instagramku. Aku melihat foto-foto yang pernah aku unggah. Namun, aku tidak menemukan satupun fotoku di sana.
Aku menoleh pada Gus Faiz. Gus Faiz menggaruk tengkuknya yang aku jamin tidak gatal. “Maafkan saya, An. Saya benar-benar tidak tahan melihat semua laki-laki mengatakan kalau kamu cantik. S-saya..” kata Gus Faiz.
Aku terkekeh.
“Eh, tapi saya tidak benar-benar menghapusnya, hanya.. hanya mengarsipkan saja.” kata Gus Faiz.
Aku tertawa melihat Gus Faiz yang terlihat salah tingkah.
“Maafkan saya yang sudah lancang, An.” kata Gus Faiz.
“Tidak apa-apa, Mas. Aku justru bersyukur. Aku tak sempat mengurus media sosialku. Aku bahkan lupa menghapus semua foto-fotoku. Terima kasih untuk itu.” kataku, sambil tersenyum tulus pada Gus Faiz.
“Kamu tidak marah pada semua yang saya lakukan?” tanya Gus Faiz. Matanya seperti ingin mencari kebenaran di dalam mataku.
“Tidak, Mas. Justru aku bersyukur. Terima kasih.” kataku.
Gus Faiz mengangguk. “Oiya, meski saya memakai ponselmu, percayalah, saya tidak pernah membuka semua pesan milikmu, An.” kata Gus Faiz.
“Buka saja kalau memang penasaran.” kataku. Lalu menyodorkan ponselku. Gus Faiz mengambil ponsel itu lalu meletakkan ponseku di meja samping tempat tidur.
__ADS_1
“Sudah malam, mari kita tidur.” kata Gus Faiz.