
Mengingat Marsya yang sedang kelaparan, akupun mendekati Mas Faiz.
“Mas..” panggilku.
“Iya, An?” tanya Mas Faiz.
“Marsya laper, maukah kau mengantarku membeli roti untuknya?” tanyaku.
“Biar saya yang belikan, Bu.” kata Revan.
“Tidak, Van. Temanilah istri dan anakmu di dalam. Biar saya dan islstri saya yang membeli.” kata Mas Faiz.
“Baik, Pak. Terima kasih.” kata Revan.
Revan merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang dan memberikannya padaku.
“Eh, Tidak perlu, Van.” kataku.
“Iya, kamu simpan saja uangnya untuk keperluan yang lain.” kata Mas Faiz menolak uang itu. “Kami pergi dulu.” kata Mas Faiz.
...***...
Tiga hari kemudian Marsya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Mas Faiz memintaku menemaninya ke pusat perbelanjaan untuk membeli mainan untuk Marsya. Kamipun masuk ke sebuah toko mainan. Di sana kami menemui banyak mainan.
“Apa yang harus kita belikan untuknya, An?” tanya Mas Faiz.
“Kita lihat-lihat saja dulu, Mas.” kataku.
Kamipun menyisir toko. Tiba-tiba aku melihat sebuah kereta Thomas, mainan khas anak laki-laki. Lucu sekali. Tak sadar aku tersenyum. Kini aku membayangkan di rumahku dipenuhi banyak mainan ana laki-laki. Aku sangat ingin memiliki seorang putra.
“Kau yakin Marsya akan menyukainya?” tanya Mas Faiz bingung.
“Ah, tidak, Mas. Ini bukan untuk Marsya.” kataku.
“Lalu untuk?” tanya Mas Faiz.
“Tidak untuk siapa-siapa. Aku hanya sedang melihatnya saja.” kataku.
Mas Faizpun mengangguk. “An, bagaimana kita belikan tempat mandi bola saja?” tanya Mas Faiz.
Dengan binar matanya. Mas Faiz menghampiri mainan yang disebutkannya. Aku mengangguk. Sepertinya pilihan Mas Faiz sangatlah tepat. Mainan itu terbuat dari plastik dan aman untuk bermain.
Aku menghampiri bak plastik bulat tester dari bak mandi bola yang masih dalam kotak plastik. Bak plastik ini memerlukan pemompa untuk menggembungkannya. Aku menyentuh bagian bawahnya, sangat empuk. Cocok sekali untuk Marsya.
“Iya, Mas. Bagus sekali.” kataku.
“Warna apa ya, An, yang bagus?” tanya Mas Faiz.
“Pink saja lucu.” kataku.
“Untuk bolanya mau bola warna apa?” tanya Mas Faiz.
“Warna warni saja kali ya, Mas?” tanyaku.
__ADS_1
“Baiklah, terserah kamu saja.” kata Mas Faiz.
Aku mengambil satu karung jaring merah lubang-lubang berisi bola berwarna-warni.
“Dua saja ya, kalau satu takut kurang banyak..” kata Mas Faiz.
Mas Faiz mengambil satu jaring lagi. Sepertinya Mas Faiz benar-benar menayayngi Marsya. Aku tersenyum padanya. Kamipun ke kasir untuk membayarnya.
Tiba-tiba ponselku berbunyi, sebuah nomor tak di kenal tertulis di sana. Akupun mengangkat.
“Halo, Assalamualaikum?” aku menjawab telepon.
“Waalaikumsalam, Mbak Nindy, ini aku Linda.” Ata seseorang di sebrang sana.
“Linda? MasyaAllah, Lin. Akhirnya kamu meneleponku juga. Kau berada di mana?” tanyaku.
“Aku di Jakarta, Mbak. Aku sangat merindukan, Mbak.” kata Linda.
“Aku juga merindukanmu, Lin.” Kataku.
“Bagaimana kalau besok kita ketemu saja, Mbak?” tanya Linda.
“Aku izin suamiku dulu ya, nanti aku kabari.” Kataku.
“Suami?” tanya Linda terkejut.
Aku mengangguk secara tak sadar. “Iya, suami. Nanti kalau kita bertemu aku akan menjelaskan.” katanya.
“Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh.” aku balas menjawab salamnya.
Mas Faiz menatapku. Akupun tersenyum, aku benar-beanr bahagia dihubungi Linda. Aku sangat merindukan Linda. Benar-benar merindukan sahabatku itu.
“Telepon dari siapa?” tanya Mas Faiz.
“Dari Linda, Mas.” kataku. “Dia berkata bahwa dia ada di Jakarta, dia mengajakku bertemu besok.” Aku memberi penjelasan.
Mas Faiz mengangguk sambil tersenyum padaku.
Setelah petugas kasir memberikan bungkusan mainan itu pada Mas Faiz, kamipun pergi menuju tempat parkir. Aku membantunya membawa satu karung jaring bola. Selama perjalanan aku sangatlah senang. Bagaimana tidak. Telepon dari Linda sangatlah mengejutkan. Aku benar-benar menantikan pertemuan kita.
Sesampainya di parkiran kita masuk ke dalam mobil. Tak menunggu lama, Mas Faiz mulai melajukan mobilnya.
“Kau terlihat senang sekali, An.” kata Mas Faiz.
“Bagaimana aku tidak senang, Mas. Linda menghubungiku.” kataku sambil nyengir kuda. “Aku benar-benar merindukannya.” Kataku.
“Mas senang melihatmu bahagia seperti ini.” kata Mas Faiz.
Aku menoleh pada Mas Faiz yang kini sedang berkutat dengan tuas kemudi. Aku ingin sekali meminta izinnya untuk bertemu dengan Linda, namun aku tidak tega membiarkan Mas Faiz di rumah sendiri bila aku pergi.
“Ada apa, An?” tanya Mas Faiz.
“Mas, apakah aku boleh bertemu dengan Linda?” tanyaku pada Mas Faiz.
__ADS_1
“Boleh. Mau bertemu kapan?” tanya Mas Faiz.
“Besok, Mas.” kataku.
“Tapi Mas antar ya.” katanya.
Aku mengangguk. “Tapi, nanti Mas sendiri di rumah.” kataku.
“Tidak apa-apa. Mas juga besok ada keperluan di kantor.” kata Mas Faiz.
Kamipun pergi ke rumah Mia, untuk memberikan mainan itu pada Marsya. Sampai rumah Marsya, aku dan Mas Faizpun memberikan mainan itu padanya. Marsya terlihat sangat senang, aku dan Mas Faiz bersyukur karena mainan yang kami pilihkan sangat disukai Marsya, dan kata Mia, Marsya juga belum memiliki bak-bakan mandi bola.
...***...
Mas Faiz mengantarkanku ke sebuah café yang telah aku janjikan dengan Linda. Mas Faiz mengantarkanku ke dalam. Aku benar-benar merasa sangat bahagia akan bertemu dengan sahabatku.
“Mbak Nindy!” seru seseorang.
Aku mencari sumber suara. Dan kulihat Linda berjalan menghampiriku. Dia memelukku, kami pun berpelukan penuh haru.
“MasyaAllah kita akhirnya bisa bertemu lagi.” kataku.
“Iya, Mbak. Aku kangen sekali dengan, Mbak.” kata Linda.
“Aku juga.” kataku.
Linda memelukku lagi singkat. Lalu tak lama kemudian dia mengalihkan pandangannya pada Mas Faiz, Linda pun terkejut melihat Mas Faiz berada di sampingku.
“Lho? Kok ada Gus Faiz?” tanya Linda, terang-terangan menyampaikan keterkejutannya.
Aku tersenyum. “Suamiku.” Kataku.
“Kalian,.” kata Linda tak percaya.
Akupun mengangguk. Linda pun tertawa. “Alhamdulillah ya Allah, aku benar-benar bahagia.” kata Linda sambil menyeka air mata di sudut matanya.
“Aaron apa kabar?” tanya Mas Faiz.
Linda pun tiba-tiba gugup. Dia terlihat bingung sekali menjawab pertanyaan Mas Faiz. “Bang Aaron, alhamdulillah baik, Gus.” kata Linda.
Mas Faiz mengangguk singkat. “Mas pergi dulu ya, An. Nanti kalau sudah mau pulang hubungi Mas saja, biar Mas jemput.” kata Mas Faiz.
“Baik, Mas. Hati-hati di jalan ya.” kataku.
Aku meraih tangan suamiku lalu menciumnya tanda perpisahan. Mas Faiz mengusap kepalaku. Setelah aku melepaskan tangannya, dia mengangguk singkat pada Linda. Lalu pergi meninggalkan kami. Setelah suamiku tidak lagi terlihat, Linda buru-buru menarikku ke sebuah meja tempatnya duduk tadi.
“Mbak, jadi suami Mbak Nindy itu, Gus Faiz?” tanyanya, dengan sorot berbinar.
“Iya, Lin. Alhamdulillah. Maaf ya tidak bisa memberitahumu karena jujur aku tidak tahu harus menghubungimu bagaimana karena aku tidak punya nomor telponmu.” kataku.
“Iya, Mbak, tidak apa-apa. Aku senang sekali, Mbak, mendengar kabar ini. Aku benar-benar tidak menyangka kalau sahabatku bisa memiliki suami idaman yang sudah dicintai begitu lama.” kata Linda. Matanya benar-benar menyiratkan kabahagiaan.
Saat di pondok dulu, Linda juga mencintai Mas Faiz. Namun lihatlah, dia sangat berbeda dengan Kak Ulfa. Mengetahui kabar pernikahan ini, dia terlihat sangat bahagia. Aku benar-benar tidak melihat kebencian atau ke irian dalam matanya. Aku benar-benar bersyukur memiliki teman sepertinya.
__ADS_1