Penjara Suci

Penjara Suci
PS 58 - Ketenangan Sesaat


__ADS_3

"Ayo, Nin. Ikut gue!" kata Ilham.


Aku memandangi Ilham. Dia mengajakku pergi ntah ke mana.


Melihatku ragu, Ilham menghampiriku. "Bukannya selama ini, lo pengen ikut gue?" tanya Ilham.


Aku tidak mengerti arah ucapannya namun aku membenarkan ucapan Ilham meski ntah dari mana datang sebuah keraguan.


"An!" teriak seseorang.


Aku menoleh. Dia adalah seorang anak laki-laki seusia Ilham.


"Kamu pergi saja sendiri, Ham. Anin sama gue." kata laki-laki itu.


Ilham mengangguk. Aku diam saja tak tahu harus berbuat apa. Aku memandangi wajah Ilham yang tersenyum padaku.


"Jaga dia baik-baik, Is." kata Ilham.


Laki-laki ini mengangguk.


Ilham pun pergi, ntah mengapa aku tak berniat mengejarnya. Tangan laki-laki ini masih di tanganku. Menggenggamku seakan aku tidak boleh kemana-mana apalagi harus mengikuti Ilham.


"Ayo, kita pulang, An." katanya.


Aku menurut. Aku mulai mengekori laki-laki ini.


***


Aku mendengar suara seseorang sedang mengaji. Aku tak tahu apa yang sedang dibaca oleh orang itu. Namun, rasanya begitu menentramkan hati.


"Ma, tangan Nindy bergerak!" suara Kak Ulfa.


Aku membuka mata. Hal pertama yang kujumpai adalah langit-langit sebuah ruangan berwarna putih bersih.


"Alhamdulillah, Nindy. Kamu sudah sadar, Nak?" Mama mendekatiku.


Aku mencoba melepas alat bantu oksigen yang terpasang padaku.


"Jangan di lepas, Nak." kata Mama lagi.


Aku menurut. Aku biarkan alat itu terpasang meski tak nyaman. Tubuhku rasanya lemas. Tanganku tak bertenaga.


Mama memelukku. Air matanya menderas. Beliau mencium kepalaku.


"Aww!" ringisku. Karena tak sengaja Mama memegang bagian kepalaku yang sakit.


Aku bisa merasakan perban melingkar di kepalaku. Sepertinya sesuatu telah terjadi, namun aku tidak bisa mengingat apapun.


"Maafkan Mama, Nak. Mama tidak sengaja." kata Mama.


Aku mengangguk. Mengerti. Mana mungkin Mama sengaja menyakitiku.


Aku mencoba duduk. Mama dan Kak Ulfa membantuku. Akupun mengedarkan pandanganku. Tadi saat aku belum membuka mata aku mendengar seseorang sedang mengaji. Aku mengedarkan pandanganku mencari seseorang yang mengaji. Namun aku tidak menemukan siapapun. Hanya ada Mama dan Kak Ulfa. Akupun tak melihat ada Al-Quran di ruangan ini. Aneh sekali.


"Masih sakit, Nak?" tanya Mama.


Aku kembali mengangguk.

__ADS_1


"M-mama?" panggilku.


Mama mendekat. Aku melepas alat bantu oksigenku.


"Aku, ada di mana?" tanyaku.


Di luar dugaan, Mama menangis. Aku mengusap air mata beliau.


"Kamu di rumah sakit, Nak." kata Mama.


"Apa yang telah terjadi padaku, Ma?" tanyaku. "Dan dimana Papa?" tanyaku. Aku menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Papa.


Mama menangis lagi. Aku betul-betul tak mengerti mengapa Mama terus menangis. Aku mencoba menenangkan beliau dengan memeluk beliau.


"Sudah, Mama. Jangan menangis, Nindy kan sudah bangun." kataku.


Aku kembali menyeka air mata beliau. Aku menatap Kak Ulfa, "Apa yang terjadi, Kak?" tanyaku pada Kak Ulfa.


Di luar dugaanku. Kak Ulfapun menangis lalu memelukku. Aku benar-benar tak mengerti. Apakah keadaanku begitu parah hingga melihatku siuman begitu mengharukan?


Belum sempat Kak Ulfa dan Mama menjawab pertanyaanku. Terdengar suara pintu kamar rumah sakit di buka. Kamipun menyudahi acara berpelukan kami.


Seorang dokter dan perawat memasuki ruangan. Dokter mulai memeriksa keadaanku.


"Siapa namamu?" tanya Dokter yang kutaksir sebaya dengan Papa.


"Nindy, Dokter." kataku.


"Mereka?" tanya dokter.


Dokter tersenyum padaku.


"Dokter, apa yang terjadi padaku, Dokter?" tanyaku pada dokter.


"Kamu tidak ingat?" tanya dokter.


Aku hanya bisa menggeleng lemah. Dokter itu tersenyum lagi. "Kamu kecelakaan." kata dokter.


"Ah, pantas badanku sakit semua." kataku. "Kenapa aku tidak ingat apapun, Dok?" tanyaku.


"Kepalamu mengalami benturan, mungkin beberapa memorimu hilang akibat benturan itu." kata Dokter.


Aku memandang dokter dengan wajah cemas.


"Nanti perlahan kamu juga bisa mengingat kembali. Jadi, tidak usah cemas ya. Biasanya amnesia seperti ini sifatnya sementara." kata Dokter lagi.


Aku mengangguk mengerti.


Setelah Mama mengucapkan terima kasih pada dokter, dokter itupun pergi. Kini tinggallah kami bertiga lagi.


"Kamu mau minum?" tanya Kak Ulfa.


Aku mengangguk. Kak Ulfa pun mengambilkan aku minum. Aku sayang menyayanginya. Dia begitu perhatian padaku.


Waktupun terus berlalu. Mama mengatakan kalau Papa sedang sibuk jadi tidak bisa menjengukku. Aku memakluminya memang seperti itulah Papa. Selalu sibuk. Lagi pula beliau adalah tulang punggung keluarga kami jadi kalau beliau sibuk karena pekerjaannya aku bisa memahaminya, meski sedikit kesal tetap ada karena aku begitu rindu padanya. Rasanya begitu aneh, aku seakan sudah tidak bertemu dengan Papa selama bertahun-tahun.


"Mama, aku mau pulang." kataku lagi.

__ADS_1


"Tapi kamu baru siuman tadi pagi. Jadi, kamu belum boleh pulang. Kaki sama tangan kamu juga masih sakit kan?" tanya Mama.


Aku memandang kakiku yang digips. Sepertinya aku patah tulang. Aku tak mau menanyakan ini lagi pada Mama. Aku tak mau membuat Mama sedih.


"Iya si, Ma." kataku.


Akupun menurut. Aku tidak lagi meminta pulang. Tak lama kemudian makananku siangku datang.


Mama menyuapiku makan. Makanan rumah sakit ini benar-benar tak membuatku selera makan, namun aku tidak mau melihat Mama sedih, jadi aku berusaha menghabiskan suapan-suapan dari tangan Mama.


"Mama nggak makan?" tanyaku.


"Mama, puasa sayang." kata Mama.


"Puasa?" tanyaku.


Aku benar-benar tidak mengingat kalau sekarang adalah bulan Ramadan. "Maafin Nindy, Mama. Nindy nggak tau." kataku.


"Nggakpapa, Sayang. O iya, besok itu lebaran lho." kata Mama.


"Mama nggak bohong kan?" tanyaku.


Beliau tersenyum dan menggeleng.


"Baju baru, Nindy? Udah beli?" tanyaku.


Mama tertawa melihatku. Namun, meski tertawa mata Mama terus berkaca-kaca. "Belum, Sayang. Maafin Mama ya. Kita belum sempat beli baju lebaran." kata Mama.


"Nggakpapa, Ma. Kita pesan aja online. Tunggu, hape Nindy mana ya, Ma?" tanyaku pada Mama.


"Hapemu hilang, Nak." kata Mama.


"Ini pakai hape Kakak aja." kata Kak Ulfa.


Aku memicingkan mata ke Kak Ulfa. Dia salah tingkah. "Kakak juga mau ya beli baju baru?" tanyaku lalu menggodanya.


Kak Ulfa tertawa lalu mengangguk.


"Ma, boleh ya kita beli baju baru?" tanyaku pada Mama.


Mama langsung mengangguk. "Beli semua yang kamu mau. Mama belikan." kata Mama.


"Yeay! Terima kasih, Mama." kataku lalu mencium pipi Mama.


Kali ini pun Mama kembali menangis. Namun, seakan tak mau terlihat olehku, beliaupun menghapus air matanya sendiri. Aku memilih pura-pura tak melihat air mata Mama.


Lalu aku dan Kak Ulfa pun mulai berselancar mencari beberapa baju untuk lebaran. Setelah selesai membeli baju yang bisa diantar cepat. Akupun kembali bingung ingin melakukan apa.


"Kak Ulfa? Aku mau jalan-jalan." kataku.


Kak Ulfa dengan cepat mencari Mama dan mencari kursi roda. Akupun naik kursi itu dibantu Mama dan Kak Ulfa. Karena kakiku patah jadi aku tak bisa berjalan.


Kamipun berkeliling. Aku menyapa beberapa pasien anak kecil di rumah sakit. Aku sangat suka melihat anak kecil. Ntah mengapa. Dengan melihat mereka aku bisa belajar banyak. Namun, sayangnya rata-rata anak-anak kecil di rumah sakit ini tak ada yang bergembira. Wajahnya murung bahkan sering terlihat menahan rasa sakit. Kasihan sekali.


"Kasian ya, Kak. Masih kecil udah kenal rumah sakit." kataku pada Kak Ulfa.


"Iya, Kakak, juga kasian liatnya." katanya.

__ADS_1


__ADS_2