Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 22 - Katidaksengajaan yang Menyebalkan


__ADS_3

Sebelum pergi ke Lombok. Aku meminta Mas Faiz untuk berpamitan pada Mama dan Papa. Karena aku rasa bila berpamitan hanya melalui telepon saja tidak sopan jadi aku mengajak Mas Faiz pergi ke rumah Mama. Kami juga tidak lupa menelepon Umi dan Abah untuk memberitahu.


“Mas?” panggilku pada suamiku yang kini sedang asyik mengemudi.


“Iya, An?” tanya Mas Faiz, Mas Faiz melirikku lalu kembali fokus ke jalanan.


“Apa Mama akan mengizinkanku?” tanyaku.


“Sepertinya beliau akan mengizinkan. Memang kenapa?” tanya Mas Faiz.


“Tidak apa-apa juga sih.” kataku.


Pertanyaan ini hanya pertanyaan konyolku yang hanya bertujuan agar ada percakapan di antara kita. Mas Faiz meski dia sudah hangat kepadaku, namun keiritan berbicaranya masih sering kambuh, hingga membuatku tidak tahan.


Mas Faiz hanya terkekeh. Aku jadi bingung harus bertanya apa lagi agar diantara kami ada percakapan.


“Oiya, dari kantor siapa saja yang ikut, Mas?” tanyaku.


“Mas belum menentukan.” kata Mas Faiz.


“Seharusnya ada berapa orang, Mas?” tanyaku.


“Satu orang sudah cukup untuk membantuku menyiapkan pemberkasan, An.” kata Mas Faiz.


“Mengapa kamu tidak memilih sekretarismu saja?” tanyaku.


“Sekretarisku wanita, aku sedikit khawatir membiarkan dia sendiri.” kata Mas Faiz.


“Memang tidak ada yang laki-laki, Mas?” tanyaku.


“Ada..” jawab Mas Faiz.


“Mengapa tidak kamu langsung ajak saja dia?” tanyaku.


“Aku tidak mau membuatmu merasa tidak nyaman.” kata Mas Faiz.


“Lho, memang kenapa, Mas?” tanyaku.


“Dia Revan.” kata Mas Faiz datar.


Aku mengamati perubahan mimik wajah suamiku. Ntahlah, seperti ada sesuatu yang janggal di sana. Sepertinya, Mas Faiz cemburu. Apalagi sejak kejadian Revan datang ke rumah kami dan Kak Ulfa yang memberitahukan bahwa Revan adalah mantan kekasihku saat masih sekolah dulu.


“Mas, aku dan Revan tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kalau kamu tidak memilihnya karena cemburu atau tidak enak padaku. Aku sungguh tidak apa-apa, Mas. Aku tidak mau menghalangi pekerjaanmu.” kataku.

__ADS_1


“Mas tahu kamu tidak lagi menyukai dia, hanya saja Mas takut kalau dia masih memiliki perasaan padamu.” kata Mas Faiz.


“Mas, dia sudah punya Mia dan Marsya, aku yakin dia tidak akan pernah menyukaiku lagi. Lagi pula kejadian itu sudah lama sekali.” kataku.


“Kalau aku memilih Revan, apa kamu tidak apa-apa?” tanya Mas Faiz.


“Tentu saja.” kataku seraya tersenyum.


Mas Faizpun balas tersenyum padaku. Tak lama kemudian kami sampai di rumah Mama. Mama yang melihatku datang langsung memelukku dan menyambut kami berdua dengan hangat.


“Mama rindu sekali padamu, Nak.” kata Mama.


“Mama, aku juga merindukan Mama.” kataku.


“Padahal belum genap sebulan ya, Nak?” kata Mama sambil terkikik geli dengan ucapannya sendiri.


“Ayo, Nak Faiz masuk!” kata Papa.


Kami semuapun masuk dan duduk di ruang tamu.


“Mama buatkan minum dulu ya.” kata Mama.


“Tidak usah, Ma. Biar aku saja.” kataku.


Akupun berpamitan dan langsung pergi ke dapur. Aku mengamati rumahku sambil berjalan, aku benar-benar merindukan rumah ini. Saat aku masuk ke dapur aku melihat seorang berambut hitam panjang berantakan mengenakan pakaian putih.


“Astaghfirullah al azim!” seruku terkejut.


Seseorang itu menoleh. Ternyata Kak Ulfa. Dia seperti baru selesai mandi, terlihat dari dia yang hanya memakai kimono putih.


“Eh, Kak Ulfa.” kataku salah tingkah.


Alih-alih menjawab sapaanku, Kak Ulfa justru berjalan meninggalkanku. Aku terus memandangi punggungnya hingga punggung itu keluar dapur. Sepertinya Kak Ulfa masih marah padaku. Hal ini terlihat dari bagaimana dia tidak mau menjawab sapaanku dan langsung pergi begitu saja.


Mas Faiz tidak terlalu suka kopi jadi aku tidak mau membuatkan kopi. Jadi, aku memutuskan untuk membuat es teh manis saja. Kurasa cocok untuk cuaca panas seperti ini. Aku membuat satu kopi untuk Papa dan es teh manis untuk Aku, Mas Faiz, dan Mama. Papa tidak bisa minum es, karena merasa ngilu di gigi. Lalu aku membawanya ke ruang tamu.


“Di minum dulu, Mas, Pa, Ma.” kataku.


Mas Faizpun mengambil es teh manisnya dan meminumnya sedikit. Papa pun demikian. Aku duduk di samping Mas Faiz.


“Jadi, kalian akan berbulan madu, Nak?” tanya Papa, lebih kepadaku yang baru saja datang.


“Iya, Pa.” kataku sambil tersenyum mengangguk.

__ADS_1


“Baguslah, Papa benar-benar tidak sabar ingin dipanggil kakek.” kata Papa sambil terkekeh.


Aku merasakan pipiku panas. Aku melirik Mas Faiz, meski dia terlihan santai namun aku bisa melihat kalau telinganya memerah. Sepertinya dia juga malu sepertiku.


“Mama juga pengen cepat gendong cucu.” kata Mama.


Kami tertawa.


“Sebetulnya selain berbulan madu, Saya ada sedikit kerjaan juga di sana, Pa.” kata Mas Faiz.


“Memang lokasinya di mana? Dan pekerjaan apa?” tanya Papa.


“Kita mau ke Lombok. Ada sebuah kerja sama antara perusahaan dengan penghasil kain tenun terbesar yang harus saya temui langsung di sana.” kata Mas Faiz.


“Pasti proyek besar ya? Sampai kamu sendiri yang harus turun tangan sendiri?” tanya Papa.


Mas Faiz tersenyum dan mengangguk.


“Lho, kalian mau ke Lombok? Aku juga mau ke Lombok, kita bareng saja.” suara Kak Ulfa.


Seketika seperti ada aliran petir di rumah mendengar kalimat Kak Ulfa. Aku buru-buru mencari keberadaan Kak Ulfa. Kami semua menoleh padanya. Kak Ulfa langsung duduk, bergabung dengan kami. Kak Ulfa sudah berganti pakaian.


Tiba-tiba Kak Ulfa mengambil es teh manis milik Mas Faiz dan meminumnya cepat.


“Eh, Kak, itu milik Mas Faiz.” kataku.


“Yah, sudah ku minum.” kata Kak Ulfa dengan wajah tanpa dosanya. “Maaf ya aku tidak sengaja.” kata Kak Ulfa.


Aku sangat merasa dongkol. Bagaimana tidak, Kak Ulfa meminum es teh manis Mas Faiz begitu saja, dan mengapa dia tidak mengambil minumku saja yang jelas-jelas masih utuh? Aku benar-benar merasa sedih sekali. Apa lagi di gelas itu ada bekas bibir suamiku, dia tepat meminum di area itu. Aku benar-benar sangat marah, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa karena Kak Ulfa mengatakan kalau ini hanyalah ketidaksengajaan. Semoga kejadian ini memang hanya sebuah ketidaksengajaan bukan karena faktor lain.


Aku buru-buru menoleh pada Mas Faiz. “Mas, Mas minum punya aku saja ya. Biar punya mas buat aku.” kataku.


“Iya tidak apa-apa.” kata Mas Faiz.


“Kamu bagaimana sih, Ulfa. Main minum saja.” kata Mama.


“Maaf ya, Ma, Pa. Aku benar-benar tidak sengaja. Maaf ya, Gus Faiz, dan Nindy.” kata Kak Ulfa.


Aku dan Mas Faiz hanya mengangguk menangapi. Lagi pula ini hanya ketidaksengajaan. Aku maupun Mas Faiz tidak mau mebesar-besarkannya.


“Lain kali jangan seperti itu, tidak sopan namanya.” kata Papa.


“Iya, Pa. Lain kali aku tidak akan seperti itu lagi.” kata Kak Ulfa.

__ADS_1


__ADS_2