
Keesokkan harinya aku, Mas Faiz, dan Haidar kembali ke rumah. Besok adalah hari ulang tahun Haidar, aku ingin sekali membelikan makanan untuk anak-anak panti asuhan di dekat kompleks rumahku. Aku belum mengatakan ini kapada Mas Faiz. Nantilah, aku akan mengatakannya.
“Bi Darsih!” seruku memeluk Bi Darsih.
Bi Darsih terkekeh. “Ada apa ini, Bu?” tanya beliau.
“Aku merindukan Bibi.” kataku sambil terkekeh.
“Perasaan Ibu pergi baru tiga hari.” kata Bi Darsih.
“Tetap saja aku merindukan Bibi.” kataku.
“Duduk dulu, Bu, Pak. Biar Bibi buatkan minum.” kata Bi Darsih.
“Tidak usah, Bi. Kami sudah minum, nanti kalau mau, kami ambil sendiri.” kataku.
“Iya, Bi.” kata Mas Faiz membenarkan kata-kataku.
“Kami ke kamar dulu ya, Bi. Ayo, Mas.” kataku.
Mas Faizpun berjalan masih membawa Haidar yang masih tertidur pulas di dalam gendongan Mas Faiz. Kamipun pergi ke kamar. Mas Faiz menidurkan Haidar di atas kasur. Aku tersenyum. Setiap Mas Faiz sedang tidak bekerja, Haidar selalu bersamanya. Dia sangat senang berada di gendongan Papanya.
“Mas?” panggilku.
“Iya, An?” sahut suamiku.
“Besok Haidar ulang tahun, bolehkah kita membelikan makanan untuk anak-anak panti asuhan yang dekat dengan kompleks rumah kita?” tanyaku.
“Tentu saja boleh, Sayang.” kata Mas Faiz.
“Bagaimana kalau kateringnya kita pesan pada Arum?” tanyaku.
“Boleh.” kata Mas Faiz.
Mas Faiz mengambil dompetnya dari saku belakang celananya lalu mengambil sebuah kartu ATM lalu memberikannya kepadaku. “Ambil dan pakailah.” katanya.
“Uang di akukan masih ada, Mas.” kataku.
“Tidak apa-apa, kamu simpan saja. Pakai saja ini.” kata Mas Faiz.
Akupun mengambil kartu tersebut. “Ter-.. eh, Aku sayang Mas.” kataku. Aku tidak boleh mengucapkan terima kasih pada Mas Faiz.
“Mas juga sayang sama kamu.” kata Mas Faiz.
Akupun menelepon Arum untuk mengatakan niatku ini. Arum menyetujui. Lalu aku memberitahu teman-temanku untuk membantu melancarkan acara besok.
***
Keesokkan harinya sesuai rencana kami pun pergi ke panti asuhan dekat kompleks, aku juga sudah menghubungi pihak panti sebelum datang. Di sana, kamipun di sambut baik. Di panti juga kami berdoa bersama lalu mulai membagikan makanan dan sedikit uang jajan kepada mereka. Kamipun makan bersama. Setelah makan bersama, aku memberikan Haidar untuk bermain dan berinteraksi dengan anak-anak lain.
Haidar sangat senang bermain dengan penghuni panti asuhan yang sangat baik. Meski Haidar masih berada di gendonganku karena masih malu melihat orang baru namun mereka satu persatu tetap mencoba mengajak Haidari bermain dengan mendekati Haidar secara bergantian. Tingkah mereka sangatlah menggemaskan.
“Selamat ulang tahun, Haidar.” kata seorang anak perempuan berusia 8 tahun sambil mengusap tangan haidar.
“Terima kasih, Kakak.” kataku.
“Acih..” kata Haidar.
Aku tersenyum. Pada anak perempuan itu.
“Siapa namamu, Nak?” tanyaku.
“Amel.” jawabnya.
Belum sempat aku mengucapkan sesuatu, Linda datang, dan kini duduk di sampingku. Amel belum pergi. Haidar minta turun, akupun menurunkannya, dan membiarkan anakku duduk di atas karpet dan bermain bersama Amel dan teman-temannya.
“Mbak..” panggil Linda.
__ADS_1
“Iya?” tanyaku.
“Kita beruntung ya.” kata Linda. Tatapannya menerawang jauh ke depan.
“Iya kita sangat beruntung. Maka dari itu kita harus bersyukur.” kataku.
“Iya, Mbak. Aku betul-betul tidak tega, melihat mereka yang diusianya harus sudah pisah dengan orang tua mereka. Hidup bersusah-susah.” kata Linda.
“Iya, Lin. Aku pun merasakan hal yang sama. Semoga saja, kelak bila dewasa mereka bisa menjadi orang sukses.” kataku.
Tak lama kemudian Farha datang. Kini dia bergabung dengan kami.
“Mbak Nindy sudah tahu, Mbak Far?” tanya Linda.
“Tahu soal apa?” tanyaku penasaran.
“Belum hehehe.” kata Farha.
“Berlum tahu apa?” tanyaku semakin penasaran.
“Aku hamil, Mbak.” Kata Farha.
“Benarkah?” tanyaku.
Farha dan Linda mengangguk.
“MasyaAllah, alhamdulillah! Selamat Farha!” seruku lalu memeluk Farha.
"Terima kasih, Mbak." kata Farha malu-malu.
“Sudah berapa minggu?” tanyaku.
“Umur empat minggu, Mbak.” kata Linda.
Arum yang melihat aku bergitu senang langsung mendekat.
“Ada apa, Mbak? Mbak terlihat senang.” kata Arum.
“Farha hamil.” kataku.
“Alhamdulillah.” seru Arum. Dia memeluk Farha, “Selamat ya, Mbak.”
"Iya, Rum. Terima kasih ya?" kata Farha.
Hari ini Mia tidak bisa datang karena sedang berkunjung ke rumah ibunya bersama Marsya. Namun, aku tetap senang hari ini, karena mendengar kabar mengejutkan bahwa Farha sedang hamil.
Setelah acara selesai kamipun kembali pulang.
“Sepertinya anak kita lelah ya, Mas?” tanyaku pada suamiku yang sedang mengendarai mobilnya.
Arum, Linda, Rizki, Aaron, dan Farha memilih pulang saat aku menawarkan mereka untuk mampir dahulu ke rumahku.
“Iya, Sayang.” katanya, sambil tangan kirinya mengusap kepala Haidar, karena tangan kanannya ada atas stir mobil. Haidar masih pulas dipelukanku.
“Lho, ada mobil Papa, Mas.” kataku saat mobil kami sudah masuk ke garasi.
Mas Faiz keluar dan membukakan pintu untukku. Akupun keluar dengan Haidar yang masih berada dalam gendongan. Kamipun masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum.” salamku dengan Mas Faiz.
“Waalaikumsalam.” jawab semuanya.
“Kejutan!” seru Kak Ulfa.
“Lho, bukannya kakak pergi bulan madu kemarin?” tanyaku.
“Kami mengundurnya jadi besok. Hari ini aku dan Mas Dimas ingin merayakan ulang tahun Haidar dulu.” kata Kak Ulfa.
__ADS_1
“Iya, Nak. Betul sini duduk.” kata Mama.
Akupun tersenyum senang sambil menoleh ke arah Mas Faiz. Aku dan Mas Faiz menghampiri Mama dan Papa lalu mencium tangan Mama dan Papa bergantian.
Haidar terbangun.
“Nek!” seru Haidar pada Mama.
Mama langsung mengambil Haidar yang ada dalam gendonganku, lalu menciumi Haidar dengan sayang.
“Haidar, Bude bawakan kue.” kata Kak Ulfa.
Haidar menoleh, dan melirik sebentar lalu kembali menoleh ke arah Mama. Aku mengusap leher dengan heran. Haidar seperti tidak pernah mau merespon dengan baik bila Kak Ulfa mengajaknya mengobrol atau memberikan sesuatu kepadanya.
“Nak, lihat kuenya dulu yuk, Bude sudah belikan kue bagus dan enak untuk Haidar, Sayang.” kataku.
Haidarpun menurut. Dia berbalik dan melihat kue tersebut. Di atas kue ulang tahun itu ada sebuah lilin berbentuk angka 1.
“Nah, kita nyalakan dulu ya, lilinnya.” kata Kak Ulfa.
“Eh, tidak perlu dinyalakan, Kak. Seperti ini saja.” kataku.
“Sudah tidak apa-apa, ini aman kok.” kata Kak Ulfa.
Kak Ulfa menyalakan api lalu menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Haidar.
“Ayo, Haidar, tiup lilinnyaaa..” kata Kak Ulfa
Haidar menggeleng. Aku menghampiri Haidar. Aku benar-benar tidak enak pada Kak Ulfa. Haidar terlihat tidak tertarik dengan acara yang dibuatkan Kak Ulfa. Mungkin karena tidak ada anak kecil jadi dia sedikit malas. Merasa tidak ada teman sebaya yang bisa diajak bermain.
Aku memegang tangan Haidar dan menepuk tangan kami di dekat lilin agar apinya padam. Lilinpun padam.
“Horeee..” kataku.
Haidarpun tertawa melihatku.
“Ayo, berterima kasih pada Bude, Nak.” kataku.
“Acih.” kata Haidar.
Semua orang tertawa karena mendengar suara Haidar yang menggemaskan.
“Ini kado dari Bude.” kata Kak Ulfa.
Haidar mengambilnya. “Acih.” katanya.
“Ini dari Ayah.” kata Kak Dimas. Memberikan kotak hadiah.
Haidar menerimanya. “Acih.”
“Ayah?” tanya Mas Faiz.
“Saya tidak mau dipanggil Pakde.” kata Kak Dimas.
“Hahaha, bagus juga Ayah.” kata Papa.
“Kau tidak keberatan bukan?” tanya Kak Dimas.
Mas Faiz hendak mengatakan keberatan, aku buru-buru menatapnya sambil mengangguk agar Mas Faiz menyetujui permintaan Kak Dimas.
“Tidak.” jawab Mas Faiz.
“Ini dari Kakek dan Nenek.” kata Mama.
“Acih.” kata Haidar lagi.
Akupun membantu Haidar membuka tiga kotak hadiah. Yang pertama dari Kak Ulfa. Kotak hadiah itu berisi lego. Kotak kedua dari Kak Haidar berisi mobil-mobilan, dan kotak ketiga dari Mama dan Papa berisi 3 stel pakaian untuk Haidar.
__ADS_1
Arum, Linda, dan Farha juga memberikan anakku hadiah, tapi hadiah itu masih ada di mobil. Aku lupa membawanya turun. Nantilah akan aku buka dan ambil bila malam tiba.