
“Bagaimana Kakak mengenal Pak Anggara?” tanyaku pada Kak Ulfa.
“Dia adalah sepupu Aaron.” kata Kak Ulfa.
Dimas melirikku. Tatapannya terus mengamati wajahku. Benar-benar terasa sangat tidak nyaman untukku.
“Panggil saya Dimas saja, seperti Faiz.” kata Dimas.
“Baik.” kataku tersenyum. “Apa benar kalau kamu adalah sepupu Aaron?” tanyaku.
Dimas mengangguk. “Kamu mengenal Aaron?” tanyanya.
Aku belum sempat mengatakan sesuatu, Mas Faiz langsung memotong pembicaraan kami, “Iya, kami mengenalnya. Aaron dan Ilham adalah sahabat kami.” kata Gus Faiz.
"Linda juga." kataku menimpali.
“Oh, ya? Mengapa kalian tidak datang di acara pernikahan Aaron?” tanya Dimas penuh selidik.
“Menikah? Maksudmu Aaron sudah menikah?” tanya Mas Faiz.
Pertanyaan Mas Faiz sejalan dengan pertanyaan yang sangat ingin aku lontarkan. Aku kembali ke kejadian saat bertemu Aaron dan Farha beberapa hari lalu saat aku dan Mas Faiz pergi ke Monas.
“Iya. Aaron menikahi seorang perempuan, teman adiknya kalau tidak salah.” jawab Dimas.
“Apa.. namanya Farha?” tanyaku.
Kak Ulfa tertawa. Di mataku jenis tawa Kak Ulfa adalah tertawa sinis, “Kamu mengaku sahabatnya namun kamu tidak tahu kebenaran itu? Sepertinya persahabatan kalian sempurna sekali.” katanya penuh ironi (sindir halus).
“Istriku tidak pernah berkontakan dengan Farha, jadi wajar saja kalau Istriku tidak tahu.” kata Mas Faiz.
Mendengar kata Istriku, hatiku menghangat. Sangat hangat.
“Zaman sudah canggih, Gus. Harusnya mudah melacak keberadaan dan mencari nomor ponselnya. Itu hanya alasan saja.” kata Kak Ulfa.
Mas Faiz hendak menjawab namun aku menahan tangannya di bawah meja memberikan isyarat agar suamiku tidak menjawab perkataan Kak Ulfa lagi.
“Apa kamu datang ke pernikahannya, Kak?” tanyaku.
“Tentu saja. Aku datang karena aku memang diundang ke pernikahan itu.” kata Kak Ulfa.
Aku terdiam mendengar kata-kata Kak Ulfa. Bukankah dulu aku sering menceritakan kalau aku sedang mencari keberadaan Farha padanya? Namun kenapa Kak Ulfa tidak mau memberitahukanku kalau dia masih bisa berkontakkan dengan Farha meski hanya lewat ponsel?
__ADS_1
Kini benakku dihinggapi banyak hal. Tentang Aaron dan Farha. Aku kembali teringat Farha yang berpakaian modis yang sangat berbeda seperti saat di pondok, Farha yang marah mendorong Aaron, dan Aaron yang mengatakan kalau dia harus pergi menyusul Farha. Ternyata mereka adalah suami istri. Pantas saja Aaron berani menyentuh tangan Farha.
Diam-diam aku memikirkan perasaan Arum. Aku tahu bagaimana perasaan Arum pada Aaron, namun, mungkin Farha memang jodoh Aaron bukan Arum. Aku berdoa agar pernikahan mereka langgeng sampai akhir hayat. Dan mereka menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
“Kau sangat pandai mencari seorang istri, Is.” kata Dimas.
Mas Faiz melirik Dimas, mencari tahu arti kata-kata Dimas. Aku mendongak karena merasa sedang dibicarakan.
“Istri kau sangat cantik, saya tebak dia adalah seorang istri yang salihah.” kata Dimas.
“Iya, istriku sangatlah cantik dan salihah. Saya sangat beruntung memiliki istri sepertinya.” Kata Mas Faiz bangga.
Aku tersenyum tipis mendengar pujian Dimas dan Mas Faiz. Tiba-tiba aku melirik Kak Ulfa ntah karena apa. Lalu kulihat raut wajah Kak Ulfa, raut wajahnya berubah. Dia terlihat mendengus. Aku jadi tidak enak hati. Aku berpikir apa kata-kata Dimas atau Mas Faiz telah menyinggungnya.
“Kau memang pandai betul memikat hati wanita, Is. Sama seperti di pondok dulu.” kata Dimas. Sambil memotong daging dengan pisau.
Mas Faiz menghentikan pergerakkan tangannya di atas piring, dan menatap Dimas dengan tajam. Aku menyimak perbincangan Dimas dan Mas Faiz. Jujur aku sedih tiap mendengar banyak yang menyukai suamiku.
“Saya jadi ingin tahu, apa kau masih bisa terus tidur nyenyak tiap kali mematahkan hati-hati mereka yang menyukaimu?” tanya Dimas sambil terkekeh.
"Saya juga jadi penasaran, apa kau masih sama seperti kau di masa lalu." kata Mas Faiz,
Rahang Mas Faiz mengeras. Dia terlihat marah. Aku mengusap tangannya di atas meja. Dimas menatap tanganku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan.
“Sepertinya tujuanmu menemui saya, hanya untuk memanas-manasi hubungan saya dengan istri, dengan cara mengorek masa lalu.” tanya Mas Faiz.
“Tentu saja tidak. Saya hanya ingin mengajakmu bernostalgia. Lagi pula kau sudah memiliki seorang gadis cantik di sampingmu, bukan? Ah? Mengapa saya mengatakan istrimu adalah seorang gadis? Ntahlah, kalau saya lihat dia masih terlihat seperti seorang gadis, auranya terlihat jelas, tebakanku betul bukan?” tanya Dimas sambil terkekeh.
Mendengar kata-kata Dimas aku jadi sangat sedih dan malu. Apa aku begitu terbaca di matanya. Aku benar-benar malu mendengar candaan seperti itu. Selain aku malu, aku juga tidak mau melihat suamiku malu. Ini pasti karena aku selalu meminta suamiku untuk menunggu. Seketika aku menyesali dan merutukki tindakanku itu.
“Dimas!” seru Mas Faiz.
“Ayolah, saya hanya bercanda. Tapi kalau dilihat dari bagaimana caramu menanggapi candaanku, sepertinya benar. Sayang sekali padahal istrimu cantik. Kalau saya memiliki istri seperti dia saya bahkan tidak akan membiarkan dia lolos barang sehari. Hahaha tidak saya sangka kau masih suka mempermainkan perempuan, Is.” kata Dimas.
“Atas dasar apa kamu berani mengatakan kalau suami saya seorang yang suka mempermainkan perempuan?” tanyaku.
Lama-lama emosiku muncul mendengar kata-kata Dimas. Aku benar-benar tidak suka mendengar orang lain menjelek-jelekkan suamiku. Aku sangat percaya pada suamiku. Suamiku tidak mungkin melakukan hal yang diatakan Dimas. Tidak mungkin.
Namun jauh di dalam sana ada sebuah perasaan sedih. Jika kupikir ulang, saat di Pondok Abah dulu, Mas Faiz memang idaman semua santri. Tapi, apakah benar di balik sikap dinginnya, Mas Faiz adalah seseorang yang suka mempermainkan wanita? Ah, tidak-tidak. Aku harus menghilangkan pikiranku ini.
“Tanya pada suamimu. Kamu sangat beruntung dinikahinya, Nin. Kau tahu, Faiz pernah memeluk seorang anak kyai yang sangat mencintainya. Dia memberikan pelukan itu, namun ketika dimintai pertanggungjawaban dia justru pulang ke rumah orangtuanya. Namanya Aisha, dia pernah masuk rumah sakit jiwa karena itu.” kata Dimas.
__ADS_1
Aku menoleh ke arah suamiku. Aku benar-benar sakit mendangar Mas Faiz pernah memeluk wanita lain. Ternyata aku bukanlah orang pertama yang jatuh pada pelukannya. Aisha. Aku sangat ingat siapa Aisha. Aisha adalah seorang perempuan cantik yang pernah kami temui di Masjid Istiqlal.
Pikiranku mulai berkecamuk tidak karuan.
“Tidak mungkin. Saya tidak percaya kalau suamiku pernah memeluk seorang perempuan yang bukan mahramnya.” kataku. Aku menyakinkan diriku.
“Kamu bisa bertanya secara langsung pada suamimu.” katanya.
Aku melirik Mas Faiz, dia hanya diam sambil mengemerletukkan gigi karena menahan amarah. Aku sangat paham arti diamnya, dia membenarkan ucapan Dimas. Satu air mataku turun.
“Mas, aku pamit ke kamar.” kataku langsung berlari meninggalkan meja makan dan langsung menuju kamar.
Mas Faiz tidak mengejarku. Aku benar-benar kecewa. Aku pun terus berlari dengan air mata di pipi.
“Nindy!” seru seseorang di depan kamarku.
Aku menoleh. Aku mendapati Kak Ulfa mengejarku. Akupun berhenti. Aku menatap wajah Kak Ulfa. Kak Ulfa terlihat sumringah. Darahku kini seakan mendidih. Bagaimana mungkin di saat adiknya sedih, kakakku bisa begitu sumringah seperti itu.
“Ternyata Gus Faiz tidak sebaik yang kita kira ya, Dik.” kata Kak Ulfa sambil terkikik.
Aku benar-benar membenci kekehannya itu. Aku masih diam mendengar apa yang akan kakakku katakan padaku.
“Untung aku tidak jadi menikah dengan Gus Faiz. Ternyata di balik sikap alimnya, dia suka mempermainkan perempuan. Apa kamu menyesal sekarang telah menikah dengannya?” tanya Kak Ulfa.
Otakku mulai berpikir kalau semua ini bukanlah sebuah kebetulan belaka jika kulihat bagaimana reaksi Kak Ulfa yang seperti ini. Dia terlihat kaget sepertiku padahal aku tahu jelas kalau Kak Ulfa juga menyukai suamiku. Sikapnya benar-benar mencurigakan.
Aku menatap Kak Ulfa tajam. Lalu maju selangkah. Aku benar-benar tidak tahan terhadap sikapnya.
“Apa pertemuan Dimas dengan kami adalah sebuah kebetulan?” tanyaku tajam.
“Hahaha tentu saja.” kata Kak Ulfa.
“Aku tanya sekali lagi. Apa ini adalah sebuah kebetulan?” tanyaku pada Kak Ulfa.
Kini mataku gelap menatapnya. Kak Ulfa terlihat ketakutan melihatku.
“Iya, memang ini semua adalah rencanaku. Kenapa?” cicit Kak Ulfa.
PLAKKK!
Satu tamparanku melayang ke pipinya begitu saja. Kak Ulfa memegangi pipinya lalu menatapku tajam penuh kebencian. “Kamu berani padaku?” tanyanya. “Saya adalah kakakmu, kurang ajar sekali kamu!” seru Kak Ulfa.
__ADS_1
“Apa karena aku hanyalah seorang adik maka aku harus membenarkan segala ucapan dan perbuatanmu, Kak? Semoga tamparanku bisa membuatmu sadar dan bisa introspeksi diri. Itu hanya tamparan kecil, cobalah rasakan bagaimana kamu terus menamparku secara batin sejak pernikahanku, Kak.” kataku. Lalu berbalik dan hendak masuk kamar.