
Mendengar teriakan Abah, aku sangat takut. Benar-benar takut hingga aku tak berani mengucapkan satu katapun untuk menjelaskan semuanya. Mulutku seakan terkunci, begitu juga Gus Faiz. Aku berani bertaruh diapun merasakan hal yang sama. Kami hanya diam. Ada banyak perasaan yang aku rasakan saat ini seperti malu, takut, juga gemetar.
Baru kali ini aku merasakan perasaan seperti ini. Perasaan malu dan bersalah di saat yang bersamaan. Namun, karena merasa diam tak selamanya emas, aku memilih untuk memberanikan diri mendongak dan menjawab pertanyaan Abah. Aku tahu Abah sangatlah marah, namun semua harus diluruskan meski tak benar-benar lurus.
“N-nindy yang salah, Abah.” kataku.
Aku tidak berbohong. Ini semua memang benar-benar salahku. Akulah sumber kesalahan ini. Diawali dengan aku yang tidak puasa, cemburu, hingga melakukan tindakan impulsif. Aku tak mau Gus Faiz menanggung semua kesalahanku. Sama seperti Farha dulu. Aku tidak mau seseorang menanggung kesalahanku. Lagipula, jika aku tidak memeluknya ini semua tidak akan terjadi.
“Faiz yang salah, Abah." kata Gus Faiz.
Aku buru-buru menoleh ke arahnya. Dia benar-benar bodoh. Atas dasar apa hingga dia mengatakan kalau dia yang bersalah? Aku mencoba mengancamnya lewat tatapan mataku. Namun, dia hanya melirik sekilas tak menghiraukan ancamanku.
Beberapa saat kemudian, hujan tiba-tiba berhenti. Benar-benar memuakkan. Seakan sengaja mempermainkan dan menertawakanku. Setelah berhenti tanpa aba-aba, tanpa isyarat, dan tanpa alasan. Matahari kembali menyorot kami. Seakan kami adalah sebuah panggung sandiwara.
"Nindy yang memeluk Gus Faiz, Bah." kataku. Mempertahankan agar Gus Faiz tidak menerima hukuman.
"Betul itu, Faiz?" tanya Abah kepada Gus Faiz.
"Faiz tak mencoba melepaskan pelukannya, Abah." kata Gus Faiz, mantap.
Bodoh. Benar-benar bodoh. Gus Faiz mengatakan hal mustahil. Dia lelaki baik-baik. Semua yang dikatakannya salah. Aku memutar otak lagi untuk memberikan penjelasan kepada Abah agar hanya akulah yang diberi hukuman.
“Kalian berdua ikut Abah ke Masjid!” kata Abah. Pergi mendahului kami.
Kami mengekor beliau dari belakang.
***
Disinilah kami. Terjebak diantara ribuan santri perempuan di kananku dan santri laki-laki di sebelah kiri Gus Faiz. Kami berdua sedang menjalani hukuman kami. Kami berdua dipajang di lapangan depan masjid tanpa alas kaki. Keadaan lapangan yang bukan lagi rumput membuat lantai lapangan ini sangat panas terbakar terik matahari.
Aku terus-terusan melirik Gus Faiz berharap mata kami bertemu. Ada yang ingin kusampaikan. Gus Faiz akhirnya melirikku, lalu tersenyum sambil mengangguk tak ketara. Itu tandanya dia baik-baik saja. Aku membalas dengan anggukan tak ketara pula.
__ADS_1
Kini, aku memandangi kakiku yang tak beralaskan apapun. Lapangan ini kini jauh lebih panas, ditambah tanpa alas kaki. Betul-betul panas. Hingga aku rasa aku takkan kuat menahannya. Kakiku sudah sangat merah. Aku terus mencoba berjinjit menghalau panas namun tak membantu banyak. Rasanya aku ingin sekali lari. Kemanapun sekarang juga.
Satu jam kemudian Abah datang dari arah berlawanan dengan kami. Beliau tak sendiri. Beliau bersama beberapa santri kesayangannya. Santri-santri itu membawa ember berisi air hitam. Makin mendekat aku makin mencium bau yang tak sedap. Ternyata air itu sangat kotor dan bau. Santri-santri yang berada di sini langsung menutup hidung mereka untuk menghindari bau tak sedap dari ember tersebut.
Meski bau. Mereka tak pergi. Sepertinya mereka sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi dengan kami. Apa lagi Gus Faiz yang notabene anak Abah yang akan diberi hukuman. Ini membuat rasa penasaran mereka makin tinggi. Dari kejadian ini aku sadar ternyata begini rasanya menjadi tontonan. Mungkin lain kali bila aku berada di posisi mereka aku akan lebih memilih tak melihat. Karena satu pasang mata membuatku begitu terintimidasi.
Sesampainya dihadapan kami, Abah mengucapkan sesuatu kepada Gus Faiz dengan bahasa Arab fasih. Dan Gs Faizpun menjawabnya dengan bahasa yang sama. Semua santri terdiam, sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Abah. Gus Faiz mengangguk. Lalu Abah menatapku, seakan meminta persetujuan yang aku sendiri tidak tau apa arti dari semua ini. Aku melirik Gus Faiz mencari pertolongan. Aku tak mengerti apa yang dikatakan Abah. Lalu aku melihat Gus Faiz memberiku isyarat padaku tuk mengangguk. Aku pun mengangguk. Pasrah.
Abah membaca doa, setiap santri menengadahkan tangannya begitu juga dengan lelaki di sampingku. Karena mulai bisa membaca suasana akhirnya aku mengikuti jejak mereka. Ku angkat tanganku. setelah selesai. Abah segera mengguyur Gus Faiz dengan air kotor itu.
Aku terkesiap. Ini di luar prediksiku. Aku tidak rela Gus Faiz mendapat hukuman. Aku tak rela Gus Faiz diguyur air comberan. Aku tak rela Gus Faiz mengakui kesalahan yang tidak diperbuatnya. Aku berniat untuk lari namun tiba-tiba tanganku dipegangi dua orang. Di kanan dan di kiri
“Abah! Gus Faiz tidak salah Abah, yang salah Nindy Abah!” teriakku. Airmataku mulai menderas.
Aku terus meronta-ronta, minta di lepaskan. Sungguh aku tak kuasa melihat Gus Faiz. Meski meronta sekuat tenaga, tenaga dua santriwati ini sangat kuat. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Ternyata Linda dan satu temannya yang tak kutahu namanya. "Lepaaas!"
Tanganku terus dicengkeram dengan keras, "Lepasin gueee!" teriakku yang tak diindahkan siapapun. Aku terus menangis hingga meraung minta dilepaskan.
"Ini nggak benar, Abah! Nindy mohon." kataku lagi serak. Seakan suaraku menemui titik terlemahnya.
“Abah, Nindy mohon abah! Gus Faiz gak salaaahh!” teriakku histeris.
Air mataku benar-benar deras. Tapi Abah tetap tidak memperdulikan aku. Beliau terus menyiram putranya sampai air di ember itu tak tersisa.
Kini giliranku. Itu terbukti dengan Abah yang berjalan menghampiriku. Namun, sesampainya Abah di depanku, Gus Faiz berseru menggunakan bahasa Arab dengan fasihnya. Sial beribu sial. Aku tak mengerti apapun. Ntah bahasa Jawa ataupun Arab, tak ada yang bisa ku pahami. Andai aku mengerti apa yang dikatakan Gus Faiz dan Abah. Pasti keadaannya akan berbeda.
Aku terus mengamati perbincangan mereka. Mereka mengakhiri dengan Abah yang kini mendekati Gus Faiz bersama air kotor jatahku.
Jangan-jangan...- Batinku.
Aku menggeleng. Tidak boleh. Tidak boleh.
__ADS_1
Abah pasti menyiramkan air itu ke Gus Faiz. Ini tidak benar. Tidak boleh.
Tak lama kemudian Abah mengguyur Gus Faiz dengan air kotor jatahku itu. Aku tak tahan melihatnya. Aku melihat Abah akan mengguyur Gus Fair dengan satu gayung terakhir.
"Lepas!" teriakku. Kali ini Linda dan temannya lengah. Jadi, aku langsung berlari ke arah Gus Faiz.
Aku langsung berlari memeluknya. Keadaan dia yang duduk membuat aku bisa memeluk kepalanya dan kujadikan tubuhku tameng agar air kotor itu tak lagi mengenai dirinya.
"Mbak, Nindy!" seru Linda dan temannya yang berusaha memegangku.
BYURRRR!
Air kotor itupun mendarat di tubuhku. Selang beberapa detik akupun kembali di seret Linda dan temannya. Kini tangan merekapun terkena air kotor.
Aku menangis. Air kotor ini sangat bau dan sukses membuatku mual-mual. Apa yang aku alami tak seekstrim Gus Faiz. Lihatlah dia, bagaimana dia bisa berbuat bodoh seperti itu. Ternyata percakapan mereka tadi tentang Gus Faiz yang ingin meringankan hukumanku. Dasar bodoh. Benar-benar bodoh. Aku berani bertaruh dia pun akan mendapatkan hukuman lain untuk itu.
Setelah air kotoran habis. Abah menasihati kami habis-habisan dan memperingatkan semua santri untuk tidak mengikuti jejak kami berdua, lalu setelah itu Abah pun pergi meninggalkan kami berdua di tengah lapangan yang semakin panas ini.
Di ujung sana ada Farha. Matanya sangat merah. Air matanya tak kunjung berhenti. Sekhawatir itukah kau Farha? Padahal dia bukan saudaraku, bukan kakakku, apalagi ibuku. Di belakang Farha ada seorang santri yang tak asing untukku, sepertinya aku mengenalnya walau aku belum melihat wajahnya yang tertunduk. Pasti dia salah-satu fans Gus Faiz yang meratapi idolanya yang sedang dihukum di hadapan semua santri. Karena aku terlalu lelah, aku tidak peduli. Aku kembali menunduk.
“Are you okay?” tanya Gus Faiz. Dengan mata lurus ke depan.
Aku benar-benar tak berani meliriknya. Aku terus menunduk hingga pandanganku hanya tertuju pada kakiku yang kembali merasakan panas. Cuaca yang makin terik, membuat air kotoran mulai mengering.
“So-sorry.” kataku lirih. Kukesampingkan rasa gengsiku tuk meminta maaf kepada Gus Faiz.
Satu jam berlalu dengan keadaan kami yang masih sama, bedanya kini kepala Gus Faiz botak karena 30 menit yang lalu Abah sendiri yang membotaki kepala putranya itu tanpa ampun. Aku dan Gus Faiz dijauhkan, aku di pojok sebelah kiri dan Gus Faiz sebelah kanan. Santri yang lain sudah dipersilahkan kembali ke pondoknya masing-masing. Sementara aku dan gue Faiz diawasi oleh anak kesayangan Abah.
Aku tidak kuasa lagi menahan badanku yang benar-benar lebih bau dibandingkan telur busuk. Aku bahkan sudah beberapa kali muntah karena mencium bajuku sendiri. Perjanjian hukuman ini adalah sampai diantara kali ada yang pingsan. Dan aku mulai tau siapa yang akan pingsan duluan.
Dannn...
__ADS_1
BRUGG!
Aku.