
Aku membuka mata. Aku melihat langit-langit. Ternyata aku berada di kamar pondok. Aku mengedarkan pandanganku, aku melihat hampir semua penghuni kamarku mengelilingiku.
Jam berapa sekarang? -batinku.
“Minum dulu, Dik” suara Kak Ulfa. Aku menoleh. Dia membawa teh hangat.
"Jam berapa sekarang?" tanyaku.
"Jam 12 malam, Mbak." jawab Farha.
Aku mencoba bangun namun bahuku sakit sekali.
“Ah! ” ringisku sambil memengang bahu.
“Luka di bahu Mbak baru saja aku perban dan aku obati, Mbak. Jadi, Mbak, tiduran aja ya.” kata Farha. Dia memengang kain kompresan.
"Iya, Mbak. Badan Mbak juga panas." kata Arum menimpali.
Aku tetap mencoba duduk. Melihat usahaku duduk, Arum cepat membantuku hingga aku duduk sambil bersandar. Kak Ulfa mendekatiku, menyodorkan teh manis hangat. Akupun mengambilnya. Karena aku memang haus.
"Aw!" teriakku.
Hampir saja teh itu jatuh kalau Kak Ulfa tak sigap mengambil. Dia menyodorkan dan memegangi teh tersebut, akupun menyesapnya.
“Kok gue ada di sini?” tanyaku.
Aku merasakan dahiku basah. Sepertinya air kompresan yang di bawa Farha itu adalah air bekas kompresan untuk aku.
“Tadi Gus Faiz yang bawa Mbak pas Mbak pingsan.” kata Nafiz.
"Gus Faiz?" kataku.
Aku mengangkat tanganku. Dan bebar saja, tanganku masih terbalut robekan sarungnya. Ternyata apa yang terjadi bukanlah mimpi. Gus Faiz benar-benar mengobatiku tadi.
"Kenapa, Mbak?" tanya Farha.
Aku menggeleng.
“Maafin aku ya, Mbak.” kata Nafiz, lalu menunduk. Sepertinya dia meminta maaf karena ikut menuduhku.
__ADS_1
"Iya nggakpapa." kataku. Sebetulnya aku tak memusingkan itu. Lagi pula terlepas dari kejadian yang di kompor-kompori Linda itu, selama di sini dia dan anak-anak di sini sangatlah baik padaku.
Berawal dari Nafiz yang meminta maaf karena telah menuduhku sebagai maling, teman-temanku yang lainpun mengikuti jejak Nafiz. Kini terjadilah aksi maaf-maafan ala teman sekamar.
"Udah, gak usah minta maaf lagi. Gue udah maafin semuanya." kataku. "Udah ya, kepala gue sakit." lanjutku.
Aku ingin mereka cepat tidur.
Merekapun berhenti.
Orang terakhir yang meminta maaf padaku adalah Supri. Dia mendekatiku, menyodorkan uang yang kuberikan padanya, dia terlihat benar-benar ingin mengembalikan uangku. Wajahnya terlihat sekali merasa bersalah. Sebetulnya dia tidak menuduhku. Dia hanya kebingungan karena uang bayarannya hilang. Bagaimanapun, kejadian saling tuduh ini bermula dari hilangnya uangnya, jadi mungkin itu yang membuatnya merasa bersalah.
"Ini, Mbak. Anu, apa jeh? Aku anu jeh minta maaf." katanya. Dengan susah payah. Dia adalah salah satu santri yang hampir tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali. Meski mengerti apa yang dikatakan olehku,tapi untuk membalas, dia hanya bisa mengucapkan satu dua kata saja.
“Nggak usah dikembaliin. Buat lo. Pake aja.” kataku.
Supri mulai gelagapan bingung menjawab pertanyaanku. Aku taksir dia ingin mengucapkan banyak kata-kata namun kebingungan mengucapkannya. Dia memilih berbicara pada Farha. Meminta bantuan untuk menerjemahkan kata-katanya.
"Kata Supri. Dia ndak enak, Mbak. Apalagi jumlahnya besar. Lebih baik Mbak tabung uangnya. Nanti Supri bisa minta uang ke Bapaknya lagi." kata Farha.
"Gak usah. Jangan ngerepotin orang tua lo. Udah pake aja uang itu." kataku, menatap Supri.
Aku mengangguk.
Dari sekian banyak nama teman-temanku di kamar, namanya terbilang cukup unik. Bagiku Supri adalah nama untuk laki-laki. Sedangkan dia perempuan. Meski nama panjangnya Supriyatin namun panggilan Supri terlalu lucu bagiku. Mendengar kata Supri saja rasanya aku teringat salah satu nama pelawak di televisi. Namanya sama, hingga rasanya aku ingin mengatakan 'masak air biar mateng' tiap kali mendengar nama Supri.
“Dik, Kakak mau tanya. Kamu punya uang sebanyak itu dari mana?” tanya Kak Ulfa.
“Kalo dijelasin juga lo nggak bakal percaya, Kak.” kataku, menyindirnya.
“Udah ya, gue mohon gue mau tidur.” kataku. Aku mulai merebahkan tubuhku.
Aku memejamkan mataku. Pura-pura tidur. Aku tahu sebentar lagi aktivitas bercanda atau menghafal nazaman mereka akan segera berakhir. Aksiku harus berhasil kali ini. Aku ingin pergi dari sini.
Suara anak-anak kamar tidak lagi terdengar. Aku membuka mataku dan benar saja mereka sudah larut dalam buaian mimpi. Kak Ulfa tidur di sebelahku, tangan kanannya melingkar di perutku. Aku memindahkannya dengan hati-hati. Aku harus menahan nafas saat tubuhnya menggeliat.
“Selamat tinggal, Kak. Semoga Kakak bahagia.” kataku, lalu mencium kening Kak Ulfa sekilas.
Aku menyiapkan perlengkapanku ala kadarnya karena takut salah satu diantara mereka akan bangun. Tanganku benar-benar perih saat aku memasukkan barang-barang ke tas ranselku. Aku hanya membawa barang-barang yang aku anggap penting.
__ADS_1
"Aww!" ringisku. Aku buru-buru membekap mulutku dengan punggung tangan.
Tak ada yang boleh bangun. Aku mempercepat langkah dengan meminimalisir suara yang kutimbulkan. Setelah kurasa cukup, aku menggendong tas ransel di bahu kiri. Karena bahu kananku cedera.
Setelah kugendong tasku dengan satu bahu. Akupun bergegas keluar kamar. Aku membuka pintu kamar dengan hati-hati. Lalu menutupnya dengan tak kalah hati-hati. Kali ini tak kuhiraukan sakit di bahu dan telapak tanganku.
Aku menengok ke kanan dan ke kiri. Takut ada seorang santri yang masih bangun. Setelah kurasa aman. Aku kembali melangkah. Aku menggelengkan kepalaku saat sakit kepala mulai terasa.
Sampai lantai dasar, aku buru-buru mendekati pintu yang dikunci menggunakan gagang sapu seperti biasanya. Lalu aku dengan cekatan membuka pintu tersebut dengan begitu hati-hati karena suara yang ditimbulkan oleh pintu besi ini begitu nyaring.
Aku lolos. Akupun menutup pintu tersebut dengan hati-hati pula. Lalu aku mulai berlari menjauhi kompleks pondokku. Tujuanku adalah Aaron. Aku terus berlari mengabaikan rasa nyeri dibahuku yang makin menjadi-jadi.
Sesampainya diujung kompleks, aku mendapati Aaron sudah menungguku.
"Aaron!" panggilku.
Dia menoleh. Lalu buru-buru menghampiriku. Dia mengambil tas ranselku dan dia menggendongnya di belakang.
“Ayo!” kataku. Dia memandangi wajahku, entah ekspresi apa yang ditampilkannya, aku tak punya waktu untuk itu. “Ayo, keburu ketauan!” kataku.
Aaron mengangguk.
"Ayo, lewat sini!" kata Aaron. Dia menyuruhku jalan terlebih dahulu. Tak ada waktu untuk berdebat, akupun lekas berjalan. Bahuku benar-benar sakit.
“Lo nggak papa?” tanya Aaron. Raut wajahnya cemas. Dia menyejajarkan diri denganku.
“Keliatan banget ya?” tanyaku.
“Iyalah, muka lo pucet." kata Aaron.
Aaron tiba-tiba memindahkan tasku ke depan. Jadi, dia menggendong tasku dari depan. Lalu dia berjongkok. "Naik ke punggung gue!" kata Aaron.
Aku yang merasa masih bisa berjalan. Menolak tawarannya.
“Gue masih bisa jalan.” kataku. Berjalan mendahuluinya.
Dia buru-buru mengejarku. Menahan tangan kananku. "Aww!" ringisku kesakitan.
Menyadari dia menyakitiku dia buru-buru melepaskan tangannya. "Maaf." katanya. Aku mengangguk.
__ADS_1