
“Mbak Nindy, sepulang ngaji ikut aku.” kata salah seorang pengurus bernama Atin. Aku hanya menggumam.
Hingga di sinilah aku berada, di ruang sidang. Kini aku berada di depan 10 orang yang tak kuketahui namanya selain Linda, Arum dan Atin. Rupanya ini benar-benar sidang.
Linda dengan gaya soknya mulai membuka acara ini. Dan tak lama kemudian Umi datang ditemani beberapa santri. Beliau menatapku iba. Kalau begini aku harus bisa membela diri. Ntah kenapa aku tidak mau mengecewakan Umi. Jadi akan kubuang jauh-jauh mulut diamku.
Saat aku meragukan Umi kemarin, aku merasa sangat bersalah. Membuat Umi sedihpun juga membuat aku jauh tambah bersalah. Kali ini aku akan buktikan pada Umi kalau aku tidak salah.
“Mbak, mohon katakan dengan jujur, apa benar Mbak mencuri uang Supri?” lama-lama aku bisa gila. Mereka semua menggunakan bahasa Indonesia yang benar-benar baku.
Awalan yang kutaksir buruk, sebab masih awal namun sudah terdengar menyudutkanku. Baiklah, akan kuikuti permainan mereka.
“Sudah saya katakan berkali-kali. Saya tidak pernah melakukan hal sehina itu. Saya tidak semiskin itu untuk mengambil sesuatu yang bukan milik saya!” kataku. Lihat, kini bahasaku mulai menyamai meraka.
“Kami tidak bermaksud mengatakan Mbak orang miskin. Tapi Kakak Mbak sendiri yang bilang kalau keluarga Mbak tidak memberikan uang sepersenpun kepada Mbak sejak pertama kali Mbak ada di pondok pesantren ini.” kini giliran santri berkerudung Hitam. Mereka semua duduk sejajar dihadapanku menggunakan jas berwarna Hijau. Kini benar-bener aku merasakan berada ditempat sidang pengadilan. Menyedihkan.
“Memang benar sejak saya di buang kepesantren ini..” kata-kataku terhenti saat tak sengaja mataku bertemu dengan mata Umi. Aku tidak boleh kasar, ada Umi. Aku tak mau Umi sedih. Aku menghembuskan nafas lalu melanjutkan. “Maksud saya. Memang benar sejak saya dimasukkan ke pesantren ini saya tidak memegang uang pemberian orang tua saya seperakpun. Karena saya menolak saat Mama hendak memberikan uang. Tapi saya masih punya uang simpanan milik saya sendiri.” kataku.
“Tapi saya mendapat informasi dari Farha bahwa Mbak di hari pertama membelanjakan uang Mbak sendiri dalam jumlah besar untuk membeli pakaian, mukena dan sebagainya. Farha ikut menemani Mbak membeli barang-barang itukan di Toko Bu Nur?” tanya salah satu dari mereka ntah siapa. Linda tersenyum licik ke arahku. Aku hanya bisa mendengus sebal.
“Iya! Gue emang belanja pakaian sama Farha sampe duit gue hampir tipis. Tapi kan gue punya kartu ATM, gue bisa ambil duit gue lagi.” kataku. Akhirnya tidak tahan menggunakan bahasa baku.
Aku tak berani melirik Umi. Aku tahu Umi kini pasti sangat kecewa kepadaku. Namun, aku benar-benar tidak tahan dituduh mencuri.
“Apa Farha mengantarkan Mbak ke ATM?” tanyanya lagi.
“Heh! Emang gue kalo mau kemana-mana harus sama Farha?” tanyaku lagi.
Tak bisa menjawab dia hanya diam. Lalu santri lain bertanya. Dari awal sidang ini ada Arum yang terus senyum kearahku menyemangatiku lewat tatapannya yang menandakan dia percaya kalau aku tidak bersalah. Dan setiap melihat mata itu. Aku jadi merasa bersalah dan teringat kembali betapa kejamnya aku dulu yang menyiramnya dengan air dingin di kolam hingga dia menangis memilukan. Fakta lainnya adalah meski kami cukup dekat, aku belum mengatakan maaf kepadanya sama sekali.
“Saat kejadian itu terjadi hanya Mbak yang ada di sana. Aini pengurus yang sedang piket berjaga juga tidak melihat seorang santripun ke dalam kamar, Mbak. Yang ada hanya, Mbak. Sekarang mana mungkin uang bisa berjalan sendiri. Dan Mbak yang tidak memegang uang bisa memberikan Uang 400ribu kepada Supri dengan dompet yang kembali kosong memangnya masuk akal?” tanya Linda.
__ADS_1
Aku memutar bola mata kesal. Lagi pula mengapa ada kebetulan macam itu. Benar-benar tak adil. Aku memilih diam saja. Aku tahu apapun yang aku katakan akan sia-sia. Hanya buang-buang tenaga.
“Gini saja, Mbak. Mbak kasih lihat aja kartu ATM, Mbak, dan kita bisa lihat saldo Mbak sebagai barang bukti kalau Mbak tidak bersalah. Kalau saldo Mbak banyak ya berarti uang yang di berikan ke Supri memang uang Mbak. Kalau memang uang Mbak banyak kan Mbak ndak mungkin mencuri.” kata Arum. Matanya berbinar-binar. Dia berharap sekali pada idenya ini. Tapi lagi-lagi aku membuatnya kecewa.
Penjelasan Arum sangat masuk akal. Aku tahu dalam sini dia tak bisa terang-terangan membelaku.
Mendengar penjelasan itu, aku kembali lesu.
“Nah, itu dia. ATM-nya hilang.” kataku, benar-benar lesu.
Semesta benar-benar jahat padaku saat ini. Lihat saja, hampir semua kebetulan sedang memojokkanku.
“ATM hilang. Kenapa ada ya kebetulan seperti ini. rasanya terlalu..” kata Linda sengaja menggantungkan kalimatnya. “Eh, Astagfirullah.” katanya dengan nada yang terdengar centil di telingaku.
Kata-kata Linda benar-benar membuatku naik pitam. Aku tidak terima dipermalukan seperti ini.
“Dasar tukang Fitnah. Baru tau gue kalo orang licik bisa nyebut nama Tuhan juga. Munafik." kataku.
"Mbak!" seru Linda. Dia terlihat sangat marah. Tak mau disebut munafik namun mau memfitnahku pencuri. Miris sekali.
"Kalau mencuri ya ngaku saja, Mbak. Dasar pencuri. Sudah mencuri tak mau mengaku pula. Memalukan." kata Linda.
Suasana semakin panas. Andai tak ada Umi di sini, aku pasti sudah menampar Linda.
"Segitu dendamnya ya lo sama gue? Cuma karena gue pernah gak sengaja numpuk temen lo, beberin keburukan lo yang suka ngaku-ngaku calon istri Gus Faiz, dan gak sengaja bikin lo cemburu liat gue sama Gus Faiz yang benar-benar gak ada hubungan apa-apa. Segala kesalahan gue lo cari-cari. Sampe ada insiden ini juga gue yang lo fitnah." kataku.
"Saya memang tidak suka sama Mbak. Tapi saya tidak memfitnah siapapun." kata Linda.
"Apa namanya mengklaim bahwa seseorang maling tanpa ada bukti konkret?" kataku.
"Lho, memang tujuan kami menyidang Mbak ya itu. Mencari bukti." kata Linda lagi.
__ADS_1
"Sidang belum berakhir tapi lo udah bilang gue maling. Apa namanya kalau bukan fitnah?" kataku.
"Lagian yang di kamar cuma ada Mbak." kata Linda.
"Di kamar memang cuma ada gue. Tapi lo bilang sendiri tadi masih ada Aini di pondok. Kenapa Aini gak lo fitnah juga? Kenapa cuma gue?" kataku benar-benar kesal.
Linda hendak mengucapkan sesuatu namun langsung di tahan oleh salah satu pengurus.
"Dari lo gue belajar, Lin. Ternyata paradigma tentang santri yang selalu baik dan benar seperti malaikat itu salah. Santri juga manusia biasa yang bisa berbuat salah. Walau unggul dalam hal beragama tapi nggak semua santri bisa praktekin apa yang mereka pelajari. Contohnya elo. Elo tau memfitnah orang itu salah tapi tetap lo lakuin cuma karena lo gak suka sama gue.” kataku menghembuskan nafas.
Aku benar-benar lelah.
“Sekarang gini aja, kalo kalian emang gak percaya sama gue yaudah. Toh nyatanya gue udah jujur. Allah itu nggak pernah tidur kalo kalian mau tau.” lanjutku. Lalu melangkah berniat keluar begitu saja. Aku merasa ruangan mulai tak ada oksigen dan aku harus segera keluar untuk menghirup udara bebas.
“Tunggu, Mbak, kita belum selesai.” kata salah satu dari mereka.
“Apa gunanya diadain sidang malam-malam kayak gini, kalo misalnya lo semua yang katanya mau dengerin kejujuran gue, malah menutup kuping buat dengerin cerita jujur gue. Buat apa lagi gue di sini kalo cuma dipojokkin biar ngakuin perbuatan yang nggak pernah gue lakuin.” kataku. Lalu mulai melangkahkan lagi.
“Tapi, Mbak..” kata seseorang lagi.
“Gue ikut aja apa hasil sidang kali ini.” kataku.
Aku menghampiri Umi. "Maafkan Nindy, Umi. Tapi demi Allah, Nindy berkata jujur. Nindy tidak pernah mencuri uang itu." kataku.
"Nindy, bisa buktikan sama Umi?" tanya Umi lembut.
Aku mengangguk mantap.
"Umi, percaya sama kamu." kata Umi.
Beliau mengusap kepalaku, lalu menepuk punggungku. Aku tahu beliau benar-benar mempercayaiku namun aku masih sangat takut untuk terlalu berharap.
__ADS_1
Aku mencium tangan Umi. Lalu pergi.
Saat seseorang hendak mencegahku pergi. Suara Umi terdengar. “Biarkan Nindy pergi.” kata Umi.