Penjara Suci

Penjara Suci
PS2 69 - Ternoda


__ADS_3

“Dia adalah anakmu, dia tentu harus menanggung apa yang dilakukan ibunya.” kata Kak Ulfa.


“Tidak, Kak! Jangan!” seruku.


Tiba-tiba Kak Dimas masuk dengan tampang sombongnya. Aku benar-benar muak melihat wajah Kak Dimas pun juga dnegan Kakakku.


“Apa kamu menganggapku adikmu, Kak?” tanyaku pada Kak Ulfa.


“Tidak.” kata Kak Ulfa.


“Tidakkan sedikitpun kamu menganggapku sebagai adik?” tanyaku lagi.


“Tidak pernah sedikitpun aku menganggapmu adikku.” kata Kak Ulfa.


“Kau benar-benar jahat.” kataku.


“Ikuti permainan Dimas, aku akan melepaskan anakmu.” kata Kak Ulfa.


“Pergilah, biarkan aku bersenang-senang.” kata Kak Dimas.


“Kau selalu tidak sabaran.” kata Kak Ulfa, terkekeh kecil.


“Tentu saja aku sudah lama menantikan momen-momen ini. Kamu mengizinkanku mencicipi tubuh adikmu bukan, Istriku?” tanya Kak Dimas kepada Kak Ulfa.


Aku menggeleng. Aku mulai ketakutan. Aku benar-benar takut.


“Cicipilah sepuasmu.” kata Kak Ulfa.


“Kau benar-benar kejam!” seruku.


“Aku keluar dulu. Nikmatilah.” kata Kak Ulfa.


Haidar masih menangis dan meronta-ronta ingin bersamaku. Aku benar-benar menangis melihat anakku jatuh ke pelukan iblis yang merupakan kakakku sendiri. Aku kira orang jahat hanya ada dalam cerita fiksi. Nyatanya dalam kehidupan nyatapun ada. Ternyata, ketika manusia sudah gelap mata, manusia itu akan lebih mudah menjadi lebih iblis dari iblis.


Aku jadi teringat salah satu cerpen karya Triyanto Triwikromo yang berjudul Seperti Gerimis yang Meruncing Merah. Cerpen tersebut merefleksikan bagaimana perilaku manusia bisa lebih setan dari setan, lebih iblis dari iblis.


“Keluarlah semuanya!” seru Kak Dimas.


“Kak! Aku mohon tolong aku!” seruku meraung pada Kak Ulfa. “Jangan sakiti anakku. Cukup sakiti aku jangan anakku!” kataku.


Kak Ulfa hanya tersenyum sini dan keluar dengan Haidar yang masih menangis di gendongan Kak Ulfa. Haidar sebetulnya sudah memukul-mukul Kak Ulfa namun sekuat apapun anakku melawan Kak Ulfa, tentu tenaga Kak Ulfa akan jauh lebih besar dan Kak Ulfa sepat mencubit Haidar membuat Haidar lemas dan kesakitan.


Semua orang seram yang ada di ruangan kosong ini keluar menyisakan Kak Dimas.


Dan di sinilah aku. Di sebuah ruangan kosong. Hanya ada bangku yang aku duduki. Aku mencari jendela dan tidak ada jendela di ruangan ini. hanya ada pintu tempat Kak Ulfa ke luar. Aku benar-benar merasa ketakutan dan buntu.


Ya Allah, tolong aku.. –batinku.


Kak Dimas mendekat. Aku mundur hingga aku terjatuh bersama bangku ke belakang. Sakit sekali. Namun, perasaan ini lebih sakit melihat anakku menangis.

__ADS_1


Mas Faiz, tolong aku.. – batinku.


“Untuk apa kamu menghindariku?” tanya Kak Dimas.


Kak Dimas menghampiriku lalu mendudukanku kembali. Dia mendekatkan wajanya ke wajahku. Aku tidak sudi melihat wajahnya. Akupun menolehkan wajahku ke arah lain.


“Lihat aku!” seru Kak Dimas.


“Aku tidak mau.” kataku kekeh.


Kak Dimas memegangi dahuku dan mengarahkanku untuk menatapku. Aku tidak mau, namun dia memaksaku.


“Mau menatapku atau anakmu tidak akan bisa lagi bertemu denganmu.” kata Kak Dimas.


Akupun langsung menatap Kak Dimas. Aku tentu tidak mau jika sampai terjadi apa-apa pada anakku. Sekuat apapun aku, aku tentu akan luluh bila itu menyangkut anak dan suamiku. Dan kali ini dia menggunakan anakku untuk mengancamku.


“Nah, seperti itu! Tatap aku, Sayang!” seru Kak Dimas.


Air mataku menangis deras.


Kak Dimas mendekatiku, pandangan matanya menuju ke arah bibirku. Dia terus mendekat. Aku sudah menghindar namun dia terus bisa mendekat, saat bibirnya tepat 5 cm di depanku, aku refleks meludahinya.


Dia menjauhiku. Dia mengusap bekas ludahku di bibirnya dengan kasar.


“Kau berani padaku?” seru Kak Dimas menggeram kesal.


“Aku hanya membutuhkan tubuhmu.” kata Kak Dimas. Aku bergidik ngeri.


Air mataku kini semakin deras. Aku tidak mau sungguh aku tidak mau bedebah ini menjamah tubuhku. Aku tidak mau.


“Sampai matipun aku tidak akan mengizinkanmu menyentuhku.” kataku.


“Aku tidak memerlukan izinmu!” seru Kak Dimas.


“Jangan mendekat!” teriakku. Masih dengan isak tangisku.


Kak Dimas langsung menerjangku dan ******* bibirku dengan membabi buta. Kini aku sangat sedih. Aku mulai merasakan suaraku hilang. Aku menangis dalam diamku.


Ya Allah tolong aku.. –batinku.


Suaraku kini hilang. Rasa sakit di hatiku kini mulai mendominasi. Lebih sakit dari kejadian 4 tahun lalu. Kak Dimas tidak memberiku ampun.


Bajuku dikoyaknya dengan mudah.


Mas Faiz, tolong aku. –teriakku dalam hati.


“Kau sudah menyerah, Sayang? Baguslah menurutlah padaku. Maka kita akan bahagia.” kata Kak Dimas.


Kali ini tubuhku tidak bisa memberontak dan merespon semuanya. Suaraku tidak mau keluar dan air mataku terus menderas. Aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Aku hanya bisa mengamati bagaimana Kak Dimas menyentuh bagian atas tubuhku seperti binatang.

__ADS_1


Allah.. -batinku.


BRUG!


Pintu di buka. Pertolongan Allah datang. Aku melihat Mas Faiz mendekat dan menendang Kak Dimas.


“Apa yang kau lakukan pada istriku!” serunya.


Mas Faiz menghujani Kak Dimas dengan pukulan-pukulan hingga darah mengucur dari wajah Kak Dimas. Lalu setelah puas menghajar Kak Dimas. Suamiku berlari ke arahku. Air matanya mengalir deras. Aku diam saja, aku hanya bisa mengamati bagaimana suamiku membuka tali yang mengikat kaki dan tanganku lalu melepaskan bajunya dan memakaikannya kepadaku.


“Istighfar, An! Mas mohon bersuaralah!” kata Mas Faiz.


Aku tidak bisa mengatakan apapun, Mas. Sungguh. –batinku.


Mas Faiz mengguncang tubuhku sambil menangis. Aku tetap diam. Hanya air mata yang kian menderas. Aku tidak bisa menggerakan tubuh ataupun mulutku untuk mengatakan sesuatu. Aku benar-benar merasa ketakutan.


Lalu dua orang polisi masuk dan membawa tubuh Kak Dimas.


“An.. Aku mohon..” kata Mas Faiz.


Aku mulai kepalaku benar-benar berat dan akupun menutup mataku. Semuanya gelap. Aku benar-benar mengetahui apa itu arti gelap.


***


Aku membuka mataku. Kini aku berada di ruangan mirip rumah sakit. Sepertinya aku memang sedang berada di rumah sakit. Kepalaku berat. Aku memaksakan diri untuk duduk agar bisa aku lihat keadaan sekitar tidak melulu atap rumah sakit.


“An, kamu bangun, Sayang?” seseorang menghampiriku.


Tiba-tiba wajah itu berubah menjadi seseorang yang telah melecehkanku. Aku tidak mengenali sosok di hadapanku. Aku hanya melihat dia sebagai seseorang yang telah melecehkanku.


“Pergi!” seruku sambil mengambil bantal dan melemparkan bantal itu kepadanya.


“An, ini aku. Suamimu..” kata seseorang itu.


“Tidak! Aku belum memiliki suami. Kau hanya laki-laki biadab!” seruku. Aku melempar gelas ke arahnya.


PYARRR!


Gelas itu jatuh di lantai.


Aku memeluk lututku sendiri dan menjambak rambutku yang kini tertutup kerudung. Aku merasa ketakutan. Aku takut orang itu akan kembali melecehkanku. Aku benar-beanr takut. Bayangan bagaimana tubuhku dijamah membabi buta membuatku sangat takut.


Air mataku kembali mengalir.


“An, ini Mas. Ku mohon, ini Mas Faizmu, maafkan mas..” serunya.


Aku melemparkan apapun yang ada di dekatku kepadanya.


“Pergi! Kau bukanlah suamiku. Kau hanya iblis!” seruku meraung-raung sambil menutup telingaku dan menggeleng.

__ADS_1


__ADS_2