
Aku terus memeluk dan menepuk bahu suamiku. Dia benar-benar terlihat kacau. Aku jadi kasihan padanya. Jika aku berada diposisinya aku pasti akan mengalami hal serupa. Ilham dan Akbar adalah sahabat Mas Faiz.
Akupun begitu merasakan kehilangan Ilham. Karena untuk Akbar aku belum pernah bertemu dengannya, Ilham dulu sempat ingin mengatur pertemuanku dengan Akbar dan Mas Faiz namun belum sempat hal itu terjadi Allah sudah memanggilnya.
“Mas, setiap trauma itu harus di hadapi. Semakin kita menghindar, semakin kita mengulur kesembuhan trauma kita.” kataku masih dalam keadaan mengusap punggungnya.
Mas Faiz hanya terdiam. Aku memperhatikan nafasnya, aku bersyukur nafasnya kini terlihat normal.
“Dulu, saat aku SD, aku ikut menemani seorang teman pergi ke toko peralatan sekolah untuk membeli sesuatu. Karena keesokan harinya dia harus mengumpulkan tugas yang membutuhkan peralatan itu, saat itu, dia membawa motor ia diperbolehkan mengendarai motor meski masih SD. Lalu dia mengajakku. Akupun mau. Tapi, tiba-tiba saat harus berbelok, kami jatuh hingga lutut dan kakiku lecet. Sejak saat itu aku trauma naik motor apalagi saat belokan. Aku akan teriak dan kepalaku terasa pusing.” aku mengambil jeda sebentar. Mas Faiz masih diam.
Akupun melanjutkan, “Saat SMP, Ilham yang mengetahui hal ini langsung memintaku untuk ikut bersamanya naik motor. Aku tidak mau, karena kejadian itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Namun, Ilham berkata kalau aku harus mampu mengatasi traumaku, dia berkata untuk menghilangkan sebuah trauma, kita harus berdamai dengan masa lalu, harus mau mencoba apa yang kita takuti, kita harus mencoba sampai akhirnya kita tidak akan merasa takut lagi. Dan Ilham benar, setelah perjalanan bersamanya, aku tidak takut lagi naik motor.” kataku.
Mas Faiz melepaskan tanganku dan mendongak, dia mencari kebenaran di mataku. Aku mengangguk mantap. Aku mengulurkan tanganku. Aku benar-benar tidak mau membuat suamiku terus-terusan seperti ini. Aku yakin, Mas Faiz pasti bisa melewati ini semua. Aku hanya perlu membantunya sedikit.
“Mau mencobanya bersamaku?” tanyaku.
Aku menyodorkan telapak tangan kananku sambil tersenyum menguatkan. Mas Faizpun mengangguk dan menyambut tanganku. Aku menggenggamnya erat.
Kamipun berdiri. Lalu melangkah bersama. Mas Faiz melangkah dengan ragu-ragu namun aku terus menyakinkannya hingga kamipun masuk dan sampai di depan ruangan rawat Marsya.
“Mia!” panggilku.
Mia pun menoleh, lalu menghampiriku dan memelukku erat. Air matanya berlinangan.
“Anakku, anakku, Indiii..” katanya menangis tersedu-sedu.
“Bagaimana keadaan Marsya?” tanyaku.
“Masih belum siuman.” kata Mia.
“Dia sakit apa?” tanyaku.
“Kata dokter demam berdarah.” katanya.
Aku membawa suamiku dan Mia duduk di depan ruangan.
“Boleh kami menemuinya?” tanya Mas Faiz.
Kali ini Mas Faiz terlihat jauh lebih baik. Sepertinya dia benar-benar sudah bisa mengendalikan rasa traumanya. Aku bersyukur dalam hati melihat perubahan suamiku.
“Boleh, mari aku antar.” kata Mia.
Miapun membawaku masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruang inap, Marsya terlihat sangat memprihatinkan, Marsya kini dipenuhi dengan peralatan rumah sakit. Aku melirik suamiku, aku buru-buru memegangi tangan suamiku dan menggenggamnya erat.
Kini aku dan Mas Faiz berada di samping Marsya. Tiba-tiba air mataku menetes. Aku melepaskan tangan Mas Faiz lalu menyeka air mataku. Lalu aku menggenggam jemari mungil Marsya.
“Marsya, ini Mama Ndy.. bangun ya sayang.. Mama Ndy kangen sama Marsya.” kataku.
“Indy, Faiz, aku tinggal dulu sebentar ya.” kata Mia.
Aku mengangguk, lalu Miapun pergi. Aku tidak melihat Revan. Sepertinya Revan sedang mengurus administrasi Marsya.
“Iya, Sayang. Papa Is juga kangen Marsya.” kata Mas Faiz.
Setelah Mia dan Revan kembali, aku dan Mas Faizpun pergi mencari mushala untuk melaksanakan salat. Selesai salat aku berdoa untuk kesembuhan Marsya lalu membaca Alquran.
__ADS_1
***
Pukul 02.00 WIB.
Aku merasakan sesuatu yang bergerak-gerak, akupun membuka mata. Ternyata aku tidur terduduk di samping Marsya.
“Mama Ndy..” panggil Marsya lirih.
“MasyaAllah, Nak. Marsya sudah bangun?” tanyaku. Aku mencium pipi Marsya.
Aku buru-buru memencet bel memanggil dokter.
Aku buru-buru membangunkan Mia. “Mia, bangun, Marsya sudah siuman.” kataku.
Miapun terbangun. Dia buru-buru menghampiri Marsya.
“Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Mia. Air matanya mengalir.
“Terima kasih, ya Allah.” kataku. Air mataku juga mengalir sama seperti Mia.
Tak lama kemudian dokter datang kami di persilakan untuk keluar selama pemerikasaan. Kamipun berada di luar, Mas Faiz memeluk bahuku.
Mas Faiz dan Revan terjaga di meja tunggu di depan kamar. Aku memperhatikan Mia dan Revan. Revan terlihat tidak mau menenangkan istrinya. Bahkan Mia dan Revan berjauhan. Aku benar-beanr tidak mengerti. Sepertinya mereka memiliki sebuah masalah.
Tak lama berselang, dokter keluar ruangan.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya Revan.
“Ini adalah sebuah keajaiban, Alhamdulillah sepertinya Allah memberikan mukjizat pada anak bapak. Dia sudah bisa melewati masa kritisnya dan siuman. Kita lihat perkembangan beberapa hari ke depan kalau semakin baik maka bisa pulang.” kata Dokter tersenyum.
“Alhamdulillah, terima kasih, Dok.” kata Mia.
“Mari temui dia.” kata Mas Faiz sambil tersenyum.
Kamipun masuk ke dalam ruangan.
“Marsya, anak Papa..” kata Revan.
Dia berlari menghampiri Marsya dan mencium dahi Marsya. Marsya yang melihat Revan langsung tersenyum.
“Papa. Apa Papa sudah tidak marah lagi pada Mama?” tanya Marsya.
Aku terkejut mendengar pertanyaan Marsya. Sepertinya ini adalah alasan Revan memilih pergi ke Lombok alih-alih menemani anaknya yang sakit di rumah.
Revan membeku di tempat.
“Tidak, Sayang. Iyakan Van?” kata Mas Faiz. Karena melihat Revan diam saja.
“Papa, Is!” seru Marsya. Dia merentangkan tangannya meminta di peluk. Mas Faiz terkekeh lalu memeluk Marsya.
Revan melirikku, aku buru-buru mengalihkan pandangan ku ke arah lain, Lalu dia melirik Mia, Mia diam saja. Aku menyayangkan tindakan mereka. Seharusnya sebesar apapun masalahnya mereka tidak boleh menunjukkannya di depan anaknya, apalagi anak seusia Marsya.
“Kamu merindukan Papa Is, Sayang?” tanya Mas Faiz.
“Iya, Alca lindu Papa Is.” kata Marsya menggemaskan.
__ADS_1
“Bagaimana dengan Papa?” tanya Revan, sambil pura-pura cemberut.
Marsya tertawa. Tawanya benar-benar menular.
“Alca juga lindu Papa.” kata Marsya.
“Coba cium Papa, Sayang.” kata Revan.
Marsyapun menurut. Dia mencium Revan. Revan terlihat sangat menyayangi Marsya. Marsya menoleh ke Mas Faiz lagi.
“Cepat sembuh ya, Sayang. Papa Is janji kalau Marsya keluar rumah sakit nanti Papa Is belikan mainan.” kata Mas Faiz.
“Horeee!” seru Marsya.
Setengah jam kemudian, Revan panit untuk ke toilet. Setelah Revan pergi tak lama kemudian Mas Faiz pun keluar ruangan juga. Ntah kemana.
“Mama?” panggil Marsya.
“Iya, Sayang?” tanya Mia.
“Alca lapel.” jawab Marsya.
“Mau makan apa, Sayang?” tanya Mia.
“Loti.” katanya.
“Biar aku aja yang beli.” kataku.
“Terima kasih sekali ya, Ndy.” kata Mia.
Aku mengangguk. Lalu pergi mencari Mas Faiz. Aku melihat Mas Faiz dan Revan sedang mengobrol.
“Awalnya saya merasa kamu belum bisa melupakan istri saya dan masih mencintainya. Tapi setelah melihat bagaimana kamu menyayangi Marsya, saya sadar, kamu bukan tidak bisa melupakan istri saya karena masih mencintainya, tapi kamu hanya masih merasa bersalah padanya.” suara Mas Faiz sayup-sayup bisa ku dengar.
Akupun menghentikan langkahku.
“Maafkan saya, Pak.” kata Revan.
“Saya mengapresiasi keberanian kamu untuk mengatakan semua ini pada saya. Tapi lihatlah, jangan mengobankan istri dan anakmu hanya demi masa lalu. Sekali lagi kamu bukan mencintai istri saya, kamu hanya sedang menghukum diri kamu sendiri karena tidak bisa memaafkan masa lalu. Kau sudah meminta maaf padanya?” tanya Mas Faiz.
“Sudah, Pak. Saya sudah meminta maaf pada Bu Nindy atas masa lalu.” kata Revan.
“Dia memaafkanmu, kan?” tanya Mas Faiz.
Revan mengangguk.
“Kembalilah pada istri dan anakmu. Mereka sangat membutuhkan kamu. Selesaikan masalah dengan istrimu baik-baik. Jangan sampai ketika kau sedang bertengkar anakmu melihatnya, kasihan, apa lagi dia masih kecil.” kata Mas Faiz.
“Terima kasih, Pak. Terima kasih atas segalanya, termasuk biaya perawatan anak saya.” kata Revan.
Mas Faiz mengangguk.
Revan mengusap wajahnya, matanya merah.
...***...
__ADS_1
...Cerita tentang Akbar dan Ilham ada di ceritaku yang berjudul BEYOND BLASSED yaa. Jangan lupa vote, like, dan komen di bawah ini ya. ❤️...
...***...