Penjara Suci

Penjara Suci
PS 48 - Balok


__ADS_3

“Mbak Awasss!” teriak Arum dan Farha bersamaan. Mereka berada di samping kanan jalan. Berteriak histeris.


Mendengar suara mereka, aku langsung mendorong Kak Ulfa ke arah mereka, Arum dan Farha. Satu-satunya hal pertama yang kupikirkan adalah menyelamatkan Kak Ulfa dari apapun bahaya yang ada di belakangku.


Setelah mendorong Kak Ulfa, aku buru-buru menghindar namun sayang langkahku kurang gesit.


"Mbakkkk!" teriak Arum dan Farha.


DUG!


Aw! -teriakku dalam hati.


Sebuah kayu mendarat di bahu kananku dengan keras. Sakit sekali. Aku menggigit bibir. Lalu berbalik, menatap Linda dan mengambil balok kayu yang ada di tangannya dengan tangan kananku juga. Lalu menjatuhkannya dengan sekuat tenaga. Hingga telapak tanganku berdarah.


Balok itu berbentuk persegi panjang dengan keruncingan yang cukup tajam ditiap sudut-sudutnya. Sudut-sudut inilah yang membuat tanganku berdarah.


Linda mundur selangkah. Aku menatapnya tajam, penuh kebencian. Aku benar-benar membencinya, sampai rasanya aku ingin membunuhnya saat ini juga.


Kurasakan perih mulai menjalar dari bahu kananku ke sebagian tubuh. Aku berani bertaruh kalau bahuku pasti sudah dipenuhi memar bahkan luka. Ditambah telapak tanganku mulai terasa nyeri. Rasanya sakit sekali. Tapi aku tak boleh terlihat kesakitan.


Sial, sakit sekali! Pokoknya gue gak boleh keliatan takut atau kesakitan. -batinku.


Aku mendekatinya, masih dengan wajah penuh kebencian. Dia mundur selangkah. Ada rasa takut di matanya.


Linda buru-buru mengambil balok tadi. Kini dia mengacungkan balok itu padaku. Aku tak takut sedikitpun. Justru aku ingin menantang seberapa jauh keberaniannya.


Aku mendekatinya. Aku yakin dia tak berani memukulku dengan balok itu lagi. Hal ini bisa ku tahu dari gerak-geriknya yang meski ditangannya ada sebuah balok namun dia tetap memilih mundur.


“Kenapa mundur? Hah?" teriakku.


Linda mundur lagi. Balok masih teracung padaku.


"Bukannya lo tadi udah dengan gagahnya mukul gue?” kataku sambil mendekati balok itu.


Linda mundur lagi. Matanya melirik bahu kananku.


“Nindy, sudah!” teriakan Kak Ulfa tidak menggentarkanku.


Kak Ulfa dan Arum menarikku untuk kembali.


“Kamu memang pantas dipukul, dasar wanita penggoda. Wanita murahan.” kata Linda. Nada suaranya bergetar.


Aku tidak terima. Saat aku melangkah ingin menamparnya, Kak Ulfa dan Arum langsung menarikku sekuat tenaga. Karena kondisiku memang sedikit melemah, mereka menang.


"Mbak Linda, aku mohon sudah Mbak turunkan baloknya." kata Farha.


"Ndak bisa. Wanita seperti dia harus diberi pelajaran." kata Linda.


"Mbak, istighfar, Mbak. Istighfar!" seru Arum. Dia mencoba mendekati Linda. Farha menyusul.

__ADS_1


"Jangan mendekat!" teriak Linda.


Melihat Arum dan Farha mendekat, Linda langsung mengacung-acungkan balok itu hingga mereka kembali mundur.


Linda tak bisa dijinakkan dengan cara baik-baik. Aku harus bertindak.


“Lepasin gue dulu. Percaya sama gue.” bisikku pada Kak Ulfa.


"Tap-tapi.." kata Kak Ulfa, mengendurkan tangannya.


Merasa ada kesempatan akupun langsung melepaskan diri dari Kak Ulfa.


"Jangan mendekat! Dasar wanita penggoda!" teriak Linda.


Aku tak gentar. Aku mendekatinya. Sambil tertawa. Dia benar-benar tak tahu diri.


“Bukannya kita sama? Gue penggoda Gus Faiz dan elo penebar fitnah dijodohin sama Gus Faiz. O iya, bukan cuma fitnah itu, lo juga fitnah gue nyuri duit 400rb. Haha. Hebat juga lo masih punya muka ngatain gue.” kataku.


Aku terus maju. Dan dia terus mundur. “Gimana kalo gue ngajak lo ke neraka aja?” kataku. Sambil menaikkkan alis antara meringis dan menakutinya.


“Aku bukan tukang fitnah!” teriak Linda.


“Gue juga bukan penggoda." kataku, memutar bola mata, lalu tersenyum. "Eh kita sama lagi.” kataku, sambil terkekeh.


Kini posisi Linda tidak bisa dianggap beruntung. Dia ketakutan.Tubuhnya kini sudah mencapai tembok.


Setelah membuang balok itu, akupun berbalik meninggalkannya.


“Aku ndak takut.” kalimat itu membuatku membalik badanku. Kulihat balok itu sudah kembali di tangannya.


Dia kembali ingin memukulku dengan balok. Kecepatannya gesit sekali. Aku merasa tak mampu menghindar, jadi aku hanya mencoba belindungi kepalaku dengan tangan.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Aku tak merasakan apa-apa.


"Cukup!" suara Gus Faiz.


Aku membuka mata. Tangan Gus Faiz berada di balok itu, tepat di sisi yang runcing. Kulihat nasib telapak tangannya sama dengan telapak tangan kanan dan kiriku. Telapak tangannya mulai bersimbah darah. Aku buru-buru mengambil balok itu sekuat tenaga dan kubuang sejauh mungkin dengan kedua tangan.


"Lo tuh ya." kataku. Kini aku hendak menyerang Linda.


Namun, belum sempat aku mendorongnya, seseorang menahanku dengan memegang kedua bahuku. Aku meringis. Tangan itu begitu dingin hingga aku baru menyadari kalau mukena yang kupakai robek hingga tangan itu langsung bertemu dengan kulitku. Dan siapapun itu, dia berhasil membuat Linda menjatuhkan diri ketakutan.


“Aww..” ringisku.

__ADS_1


“Cukup, An.” katanya. Ternyata Gus Faiz lagi.


Menyadari aku kesakitan dia melepaskan tangannya dari bahuku lalu mencekal tanganku yang terbungkus mukena. Aku melepaskan tangan Gus Faiz dengan kasar. Lalu menghampiri Linda.


“Linda! Liat, pangeran lo dateng.” kataku. Berjongkok di depan Linda. Dia menunduk ketakutan. Aku mendongakkan kepalanya agar bisa melihat Gus Faiz dengan jelas.


"Tolong pegang Anin." seru Gus Faiz, ntah pada siapa.


Kak Ulfa dan Farha berada di tangan kanan dan kiriku. Mereka menarikku kembali. Kali ini aku tidak meronta. Aku hanya perlu mengeluarkan unek-unek yang ada di benakku saja. Jujur, aku tidak menyukai pertengkaran fisik. Aku lebih menyukai pertengkaran mulut yang akan membuat lawanku mati hingga ke hatinya.


“Gue tau alesan lo ngelakuin ini semua karena dia kan? Tapi emang dengan lo mukul gue, fitnah gue, ngancem gue dia bakal luluh sama lo? Enggak kan? Dasar wanita bodoh! Kalo elo emang cinta sama dia ya elo usaha sehat buat dapetin dia bukan ngelakuin hal bodoh kayak gitu. Lo santri tapi pikiran lo lebih dangkal dari preman pasar yang nggak pernah sekolah. Lebih sampah. Lebih nggak guna.” kataku.


Linda kini menangis sesengukkan. Tidak berani membantah perkataanku.


Aku hendak mengucapkan sesuatu lagi namun tiba-tiba aku teringat Aaron. Sial, gara-gara Linda aku sempat melupakan Aaron.


"Lepasin gue." kataku.


Kak Ulfa dan Farha tidak melepaskanku. "Gue gak akan ngelakuin apa-apa lagi." kataku. Lalu meloloskan diri.


"Gue pergi dulu." kataku melangkah pergi.


Aku tak mau menoleh ke Gus Faiz, aku benar-benar tidak mau melihat dia. Jadi, kali ini aku tak tahu bagaimana ekspresinya.


"Tunggu, Mbak. Aku ikut!" teriak Farha.


"Jangan ada yang ikutin gue. Gue mohon." kataku.


“Tapi, luka kamu harus diobati, Dik.” Kak Ulfa mencegatku.


"Gue nggakpapa. Kalian urus aja dia. Obati semua luka-lukanya. Dan gue mohon, jangan sampai anak-anak lain tau apa yang terjadi." kataku melangkah lagi.


"Tapi.." Kak Ulfa mengejarku.


"Lagian di antara kalian gak akan ada yang bisa obatin luka gue. Jadi gue mohon. Untuk sekarang jangan ikutin gue, gue perlu waktu buat cari dokter sendiri." kataku.


"Tapi Mbak ndak tahu daerah sini." kata Farha.


"Percaya sama gue. Gue tau persis kemana gue harus pergi." kataku.


"Mbakkk.." kata Arum.


"Kalian tunggu gue di kamar aja. Gue mohon. Gue pasti kembali." kataku. Berbalik dan pergi.


Aku merutuki kata-kataku. Sepertinya aku kembali menebar janji. Namun tak ada waktu untuk meluruskan. Aku harus pergi.


Kini aku tak mendengar langkah seseorang lagi. Sepertinya mereka menurut. Aku menoleh sesekali, tak ada yang mengikutiku. Aku sedikit lega. Aku harus cepat ke Gang Sempit itu.


Aaron. Gue dateng. -batinku.

__ADS_1


__ADS_2