
Malam ini Aaron membawaku ke Taman Lampion atau Taman Pelangi. Salah satu tempat wisata di Jogja yang paling ingin kukunjungi. Dulu, aku pernah mengutarakan keinginanku ini kepada Ilham. Aku tidak tau apakah Aaron pernah diberitahu Ilham soal ini.
Saat aku sedang berjalan menyusuri taman ini. Aku melihat sepasang suami istri yang datang bersama dua orang putrinya. Mereka terlihat sangat bahagia bersama. Sang kakak menggandeng sang adik menuju kolam ikan untuk melihat ikan bersama. Setelah sampai di tepian kolam ikan, sang adik menunjuk seorang penjual makanan ikan, mengetahui apa yang diinginkan sang adik, sang kakak pun langsung meminta uang kepada orang tuanya dan membeli makanan ikan. Akhirnya mereka memberi makan ikan di kolam bersama-sama.
"Nin?" panggil Aaron.
"Kenapa?" tanyaku. Mataku masih mengekori keluarga bahagia itu. Aku melihat sepasang suami istri itu tersenyum melihat tingkah laku anak-anaknya.
Dalam hati aku sangat iri. Bahkan hatiku mulai berandai-andai.
"Apa lo bahagia pergi sama gue?" tanya Aaron.
Aku menengok ke arah Aaron. "Kenapa lo nanya begitu?" tanyaku.
"Gakpapa, gue cuma pengen tau aja." kata Aaron.
Aku tak punya jawaban atas pertanyaan Aaron. Aku benar-benar tak tahu apa yang aku rasakan. Melihat keluarga itu, jujur dalam hati aku merindukan keluargaku. Namun setiap teringat Mama, Papa dan Kak Ulfa, hatiku terus berdenyut sakit.
Lagi-lagi aku merasa tak boleh mengecewakan Aaron. Aku pun membalas pertanyaan Aaron lewat senyuman.
"Lo kangen keluarga lo ya?" tanya Aaron.
"Enggak. Enggak sama sekali, Ron. Kata keluarga kayaknya udah jadi tabu di hidup gue." kataku.
Aaron menyuruhku untuk duduk di bangku taman. Di samping lampion besar berbentuk buaya. Diapun duduk di sampingku.
"Jujur sama gue, Nin." kata Aaron. "Jangan bohongi gue cuma karena gue adik Bang Ilham." lanjut Aaron.
Aku mulai menimang-nimbang bagaimana seharusnya aku bersikap. Jika aku berbohong, Aaron pasti akan sedih setelah tahu kalau aku berbohong. Namun jika aku mengatakan terus terang aku tak ingin menambah beban hidupnya dan aku takut ada bagian yang membuatnya sakit.
"Gue nggak mau di samping lo sebagai bayang-bayang Bang Ilham, Nin. Lo tau kan gimana jadi bayang-bayang orang lain? Jadi, gue mohon jujur sama gue. Cobalah lo liat gue sebagai Aaron bukan sebagai adik Bang Ilham. Bisa?" tanya Aaron.
Aku tahu bagaimana rasanya menjadi bayang-bayang orang lain. Aku pasti membuat Aaron sangat tidak nyaman. Aku harus meminta maaf padanya. Walau bagaimanapun sepertinya dia benar, dia benar karena sejak kutau kenyataan bahwa dia adik Ilham, aku terus memandangnya sebagai Adik Ilham, tak pernah sekalipun aku menganggapnya seorang Aaron.
"Maafin gue, Ron." kataku.
__ADS_1
"Gakpapa. Asal mulai sekarang lo mau jujur sama gue." kata Aaron.
Aku mengedarkan pandanganku ke depan. Lalu tiba-tiba aku menemukan seseorang yang sangat mirip dengan Gus Faiz. Akupun berdiri. Hendak lari. Aku menarik tangan Ilham. Namun, dia justru menyuruhku untuk kembali duduk.
"G-Gus Faiz!" seruku.
"Di mana?" tanya Aaron.
Aku menunjuk seseorang yang ada beberapa meter dariku. Seseorang yang menggunakan kemeja berwarna abu-abu. Aaron mendesah kecewa. Matanya menyorotkan kesedihan.
"Lo perhatiin baik-baik. Kalau cowok yang pake kemeja abu-abu yang lo sebut Gus Faiz, dia bukan Gus Faiz!" kata Aaron.
Akupun mengusap wajahku. Menutup mataku lalu membukanya kembali. Dan benar kata Aaron. Dia bukanlah Gus Faiz. Ada apa denganku sebetulnya?
"S-sorry. Gue salah liat ternyata." kataku.
Aaron tersenyum penuh arti.
"Sampai mana tadi lo nanya?" kataku.
"Keluarga lo." kata Aaron.
"Apa ini ada hubungannya sama lo yang gak dateng ke Rumah Sakit?" tanya Aaron.
Aku mengangguk. "Saat itu, gue mau pergi ke rumah sakit. Cuma gue dikunciin di kamar sama bokap nyokap biar gue nggak pergi kemanapun. Gue udah jelasin kalau gue mau ke rumah sakit karena sahabat gue kecelakaan dan kritis. Tapi mereka malah bilang kalau gue bohong. Katanya gue cuma ngarang cerita biar bisa main sama teman-teman gue yang gak bener. Mereka selalu nganggep gue anak yang gak bisa dipercaya. Dan Kak Ulfa yang gue mintain tolong buat ngomong ke Mama dan Papa juga gak mau ikut campur. Kak Ulfa biarin gue dikurung selama seharian di kamar gue, sendirian. Kamar gue gak punya jendela, jadi gue gak bisa pergi lewat jendela." kataku.
Aku kembali terisak mengingat kejadian itu. Aaron menepuk bahuku. Mencoba menenangkan aku.
"Jujur gue sempet benci sama lo dulu karena lo nggak dateng ke Rumah Sakit. Tapi setiap liat wajah lo, rasa benci gue selalu lenyap gitu aja." kata Aaron.
Aku menoleh ke arahnya. "Setau gue adik Ilham yang masuk pesantren cuma adik perempuannya. Kenapa lo juga ada di situ?" tanyaku.
"Gue masuk pesantren setelah Bang Ilham meninggal. Orang tua gue minta gue buat jagain Adik gue dulu selama Adik gue masih di pesantren." kata Aaron.
"Maafin gue ya, Ron. Gara-gara gue lo kecewain orang tua lo karena ngajak gue kabur dan gak lagi bisa jagain adik lo." kataku.
__ADS_1
"Lo nggak salah apapun. Ini adalah keputusan gue. Jadi, gue harap lo gak nyalahin diri lo sendiri." kata Aaron.
"Apa lo tau, Ron? Kalau gue pernah minta sama Ilham buat dibawa ke Taman Lampion ini?" tanyaku.
"Gue tau. Hampir semua tentang lo gue tau, Nin. Selain karena Bang Ilham Abang gue, dia selalu gue desek buat ceritain semua tentang lo. Jujur gue udah suka sama lo dari pertama kali lo ke rumah gue." kata Aaron.
"Bukannya kita cuma pernah ketemu sekali?" tanyaku.
"Iya lo emang ketemu sama gue sekali. Tapi gue selalu nyariin lo berkali-kali. Menyedihkan banget ya, gue? Haha." katanya tertawa getir.
Aku mengalihkan topik tentang perasaannya dengan mengajaknya berkeliling lagi.
"Gus Faiz!" seruku melihat laki-laki yang sedang berjalan ke arahku.
Aku mengarahkan wajahku pada Aaron. Dia menggeleng. Menandakan kalau orang yang kulihat bukanlah Gus Faiz.
"Kenapa, Ron?" tanyaku.
"Apanya?" Aaron menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lagi. Benar-benar menyebalkan.
"Kenapa wajah dia gak pernah hilang dari kepala gue?" kataku jujur sejujur-jujurnya.
"Karena hati lo mengharapkan dia dateng nyamperin lo." kata Aaron.
Pernyataan Aaron ini benar-benar menusukku. Bukan jawaban seperti ini yang ingin aku dengar.
"Ron, jangan ngomong gitu. Lagian sekarang gue pacar lo kan?" kataku.
"Mulai hari ini lo gue bebasin dari status pacaran kita." katanya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Semakin lama jalan sama lo, semakin gue tau kalau hati lo nggak mungkin gue miliki. Meski setahun, sebulan, sehari, sejam, bahkan sedetik. Ntah untuk sekarang ataupun yang akan datang. Hati lo cuma milik satu orang, Gus Faiz." kata Aaron.
"Aaron, jangan bercanda!" seruku.
__ADS_1
"Coba tanya sama hati lo, siapa yang bercanda sebenernya." katanya.
"Gue akuin, Ron. Kalau gue belum bisa move on dari Gus Faiz. Tapi bukannya lo sendiri yang bilang kalau lo bisa ngajarin gue pelan-pelan buat cinta dan sayang sama lo? Jangan begini, Ron. Gue mohon." kataku pada Aaron.