Penjara Suci

Penjara Suci
PS 14 - Mata Pisau


__ADS_3

Mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk mengakhiri segalanya. Mengapa rasanya mudah sekali. Kalau aku tahu bunuh diri semudah ini. Sudah dari kemarin aku menginjakkan kaki ke dapur ini. Lagi pula aku sering ke sini disuruh sama Umi. Tak apalah, yang penting kali ini aku memiliki kesempatan.


Aku mengambil pisau itu, lalu mengamatinya. Aku pun mengecek apakah pisau itu tajam atau tidak dengan memotong sayuran yang ada di bawah pisau.


CRESS!


Tajam!


Rasanya aku ingin bersorak kepada dunia. Tapi ntah di bagian mana aku merasa apa yang aku lakukan kali ini adalah suatu kesalahan. Apakah kau tahu apa itu salah? Salah adalah ketika kau takut orang lain mengetahui apa yang sedang kau lakukan. Tapi aku harap kesalahan kali ini adalah kesalahan terindah yang pernah aku lakukan. Anggap saja begitu.


Aku mendekatkan pisau itu ke bagian pergelangan dalam tanganku tempat denyut nadi berada.


Aku mulai menyayat tanganku sendiri dengan pisau itu.


TES TES TESS!


Darah mulai berjatuhan. Aku hanya bisa menggigit bibir agar tidak teriak. Aku tidak mau semua orang mengacaukan rencanaku. Sungguh benar-benar aku tidak mau! Biarkan aku tenang! Walaupun nyatanya aku tidak setenang yang kau fikirkan.


Darah mulai mengotori lantai. Aku tidak menghentikan aksiku yang baru menyayat sedikit, belum dalam, belum sampai denyut nadiku. Rasanya begitu perih tapi aku menyemangati diriku sendiri, bahwa rasa sakit yang aku rasakan kali ini tidak sebanding rasa sakitku di rumah.


"Astagfirullah al-‘azim!" tiba-tiba ada tangan yang mengangkat ke atas mata pisau yang kugunakan untuk melancarkan aksiku. Tepat di mata pisau bagian bawah bukan dipegangan pisau atau dari atas pisau.


"Istighfar, Nin! Apa yang kamu lakukan?!" Bentak Gus Faiz padaku. Aku menegadah, dia Gus Faiz.


Dia bodoh! Aku juga bodoh karena air mataku tanpa kompromi turun begitu saja bahkan semakin deras, ini kali pertama aku menangis dihadapan seseorang. Dan sialnya orang itu dia, Gus Faiz.


Dia bodoh! Dia melukai tangannya sendiri. Air mataku kian menderas. Dia tidak memegang tanganku. Aku tau dia menghindari kontak fisik denganku. Tapi dengan menggenggam pisau tajam yang sedang aku gunakan untuk melancarkan aksi bunuh diri, itu kelewatan. Lelaki seperti apa sebetulnya dia?


"Kenapa yang lo tarik malah pisaunya?!" Cicitku.

__ADS_1


"Saya hanya ingin menjaga kesucianmu, apapun yang terjadi." katanya serak. Dia melemparkan pisau yang kini terbalut darah ke tempat sampah.


Aku terkejut. Air mataku semakin deras.


Siapa laki-laki yang ada di hadapanku ini, Tuhan? -batinku


Kepalaku pusing.


Pandanganku mulai kabur.


Dann..


Gelap!


***


Lagi-lagi aku pingsan. Lagi-lagi aku berada di ruangan ini. Ruangan yang mungkin akan menjadi saksi bisu perubahan perasaanku. Aku sudah sadar. Namun, tak ada seorangpun yang ada di sini.


Aku tahu seumur hidup memang kebanyakan mengalami kegagalan tapi ntah mengapa rasanya masih saja sakit. Tidak cukupkah selama ini? Tak bolehkan aku hidup tenang? Kenapa, Tuhan? Sebenarnya apa yang telah Engkau rencanakan?


Air mataku jatuh lagi. Tapi aku buru-buru menghapusnya setelah mendengar derap langkah seseorang mendekat. Aku memejamkan mataku agar terlihat masih pingsan.


Aku merasa seseorang itu menatapku ntah bagaimana ekspresinya.


Tak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya. Tapi ntah mengapa aku merasakan seseorang itu sedang diam menatapku dengan tatapan sendu. Aku tahu aku menyedihkan, tapi aku benci tatapan itu. Aku masih pura-pura tidur. Akting bukanlah hal yang sulit bagiku. Karena jujur, di Jakarta dulu aku beberapa kali main film tanpa sepengetahuan orang rumah.


Aku merasakan satu tangan menyentuh tangan kananku yang tertutup dengan selimut dengan ragu-ragu. Aku ingin menangis! Lalu ia menyelipkan jari-jarinya di jari-jariku, tak benar benar menyentuh karena ada selimut di antara jemari kami. Dari atas selimut ia menggenggam tanganku erat. Seakan dia takut kehilanganku.


Siapapun kamu yang kini sedang menggenggam tanganku dari bilik selimut, kau sukses membuat tanganku terasa mungil, kau sukses! Kau sukses membuatku mengeluarkan air mata sekarang!

__ADS_1


Air mataku turun begitu saja meski mataku masih tertutup.


Air mataku semakin deras saat aku merasakan tanganku dikecup agak lama dari balik selimut. Aku merasakan selimutku menghangat. Sepertinya ia menangis di atas tanganku.


Apa dia menangis? -batinku.


Rasanya aku ingin membuka mata namun tidak bisa. Aku ingin melihat siapa dia tapi aku tidak bisa. Aku rasa memang sebaiknya tetap begini. Aku takut. Aku takut mendapati seseorang yang tidak aku harapkan jika aku membuka mata sekarang.


Air mataku makin deras. Genggaman tangan itu sudah raib. Mimpikah aku barusan? Aku kecewa kehilangan genggaman itu. Tidak, dia tak boleh pergi meninggalkan aku, apapun yang terjadi. Akupun cepat membuka mataku. Mencoba mencari keberadaan seseorang yang ingin kutemui tadi.


Dan..


Saat kumembuka mata, aku melihat Umi.


Orang itu adalah Umi. Rasanya ada sedikit rasa kecewa mendapati kenyataan kalau Umilah yang tadi menggenggam tanganku. Memangnya siapa yang aku harapkan?


Umi tersenyum ke arahku. Matanya merah dan itu semakin meyakinkanku bahwa kehangatan selimutku berasal dari air mata beliau yang sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri. Beliau menggenggam tanganku. Tapi kenapa rasanya berbeda? Ah mungkin hanya perasaanku saja.


"U-mi?" kataku dengan suara seadanya. Beliau tergugu, air matanya jatuh lagi. Apakah aku boleh senang? Baru kali ini ada seseorang menitikkan air matanya hanya untuk aku. Umi begitu mudah menyentuh hatiku, Umi begitu menyayangiku, Umi begitu mengkhawatirkanku, dan Umi menangis karena aku.


TAPI MENGAPA HARUS UMI? BUKAN MAMA? – teriakku dalam hati.


"Kenapa kamu melakukan itu, Sayang? Umi tidak mau kehilangan anak perempuan Umi yang paling Umi sayangi." ujar Umi. Matanya menunjukkan sorot ketulusan dan kejujuran. Nada suara Umi bergetar.


Aku merasa sangat bersalah. Hanya karena aku yang baru dikenal beliau beberapa hari, dengan kelakuanku yang tidak bisa dibilang baik, sopan atau sebagainya, beliau menitikkan air mata. Aku takut ini kali pertama Umi menangis untuk seorang santri abal-abal sepertiku. Karena aku tahu, Umi selalu ceria diusianya yang tidak lagi tergolong muda.


"Nindy gak kuat, Umi." kataku lirih.


Kali ini, air mataku bisa kukendalikan. Jadi, aku bisa menahannya. Lagi-lagi aku merasa aneh dengan tubuhku. Mengapa saat aku pura-pura tidur tadi, aku tidak bisa mengendalikan air mataku? Sepertinya karena tadi aku benar-benar terhanyut.

__ADS_1


Lagi-lagi usahaku bertemu jalan buntu. Benar-benar tak ada yang memihakku untuk pergi.


__ADS_2