
Keesokan harinya aku dibangunkan Farha, dia sudah mengambilkan jatah makan sahurku. Akupun bergegas mandi dan sesampainya di kamar Farha belum juga menyentuh makan sahurnya.
"Kok belom dimakan?" Tanyaku.
"Nungguin Mbak." kata Farha.
"Lain kali kalo mau makan maka duluan aja ya. Yuk, makan." kataku setelah menggantung handuk di atas lemari.
Akhirnya kami menghabiskan makan sahur yang lauknya nyaris sederhana. Hari ini bihun dan kerupuk. Sedih sebetulnya tiap ingat dulu aku selalu disuguhi berbagai makanan mewah, sedangkan di sini selalu alakadarnya. Untung masakannya enak jadi apa yang dimasak bisa ditutupi sama rasanya.
"Waktu imsak kurang 20menit maning." suara pengumuman ini selalu ada setiap subuh.
Dari mulai waktu imsak kurang 30menit, 20menit, 10menit, dan 5 menit lagi.
Kami mengambil mukena kami masing-masing lalu saling berebut untuk mengaca. Untung ukuran kacanya besar jadi satu kaca bisa memuat 5orang sekaligus. Aku menggunakan bedak tipis lalu lipsice dan memakai atasan mukenaku yang warnanya amat kontras dengan milik santri yang lain.
Kami semua salat di Aula Pondok Komplek Fatimah. Dengan Abah sebagai imam. Aku baru tau. Aku kira Abah ke masjid setiap subuh tapi beliau ternyata bertugas menjadi imam di sini sambil mengontrol santri putri bukan hanya santri putra. Jadi, beliau sangat adil.
Kami semua menunggu Abah datang. Mataku masih lengket. Aku memejamkan mataku karena tak kuasa lagi menahan kantuk. Tapi Farha yang meski sedang berkomat-kamit dengan kitab kecil ditangannya selalu membangunkanku, melarangku tidur. Bahkan menyuruhku membaca Al-Qur'an. Tentu saja aku menolaknya.
Aku mengantuk lagi, tapi buru-buru Farha menyerahkan buku doa sehari-hari dengan bahasa Indonesia yang ntah didapatnya dari mana. Aku menatapnya malas. Dan beruntung Abah segera datang.
"Ya Tuhan.. kita ngaji lagi?" tanya refleks pada Farha. Awalnya aku tidak tau kalau Abah datang untuk mengimami, yang aku tahu beliau akan memberikan materi pengajian.
Mendengar suaraku, santri-santri menoleh padaku.
"Husss, Allah, Mbak." kata Farha.
"Iya, maksudnya itu." kataku tanpa memperdulikan tatapan orang lain.
Dari subuh sampai jam 11malam kegiatan mengaji sampai 4x dengan waktu ngaji panjang-panjang + sholat jama'ah + sholat tarawih. Pantas hampir semua santri di sini mahir baca dan hafalan kitab dan Al-Qur'an.
Melihat Farha membenarkan semua tingkahku membuat aku terlihat selalu salah. Sepertinya semua yang aku lakukan selalu salah. Dikit-dikit dikatakannya dosa, dikit-dikit dikatakannya salah, dikit-dikit dikatakannya jangan, dan dikit-dikit dikatakannya kalau Allah tak suka.
Kami mulai mengaji subuh di kelas yang sama seperti sebelumnya, dengan ustadz yang sama pula. Dengan suasana kantuk juga. Dan kegiatan ngafsahin yang suka membuatku tidur pulas. Karena jujur mungkin karena efek bahasa yang tidak bisa kumengerti membuat kepalaku pusing dan mengantuk meski sering di colek Farha.
__ADS_1
Saat memejamkan mata, tiba-tiba Farha mengangkat tangan, dan mengatakan sesuatu pada Ustaz yang mengajar. Mau tak mau aku membuka mata. Setelah selesai berbicara dengan Ustaz, tiba-tiba Ustaz mencampur materi dengan penjelasan bahasa Indonesia. Dari sini aku tahu, Farha meminta Ustaz untuk mengajar menggunakan selingan bahasa Indonesia agar aku mengerti dan tidak mengantuk.
"Kamu nyuruh Ustadnya buat ngomong pakai bahasa Indonesia?" tanyaku pada Farha.
"Iya, Mbak. Hehe." kata Farha.
"Biar?" tanyaku.
"Biar Mbak ndak ngantuk lagi." katanya.
Aku memutar bola mata, sedang Farha terkikik. ini sama saja dia mengerjaiku dengan cara halus.
...***...
Saat metahari mulai memasuki peraduan. Itu mengakhiri kelas ngaji ini. Kalau boleh aku melakukan sesuatu. Hal pertama yang ingin aku lakukan hanyalah teriak bahagia karena pelajaran telah usai. Walaupun di depan sana Ngaji Pasaran sudah menunggu kami setidaknya ada jeda waktu untuk memulihkan otakku.
Kami berlarian menuju kamar masing-masing karena kita harus menukar kitab. Diam-diam aku mengamati santriwati yang ada. Ada yang saling bercanda acuh tak acuh, ada yang saling berbisik saat aku lewat, ada yang hanya berjalan sendiri, ada yang memasang wajah berbinar-binar, dan ada yang memasang wajah sedih seperti orang yang terlilit hutang. Semuanya sangat bervariasi. Tapi kami semua bertujuan sama yaitu menukar kitab dikamarnya masing-masing.
"Far, liat." kataku pada Farha.
"Lihat apa, Mbak?" tanya Farha.
"Iya kenapa, Mbak?" tanya Farha.
"Dia cariin kamu." kataku.
"Oh, emang iya, Mbak?" tanya Farha dengan tampang polos.
Aku mengangguk.
Farha pun melangkah hendak menghampiri santri tersebut. Namun, tiba-tiba Arum datang mengacaukan keisenganku.
"Bohong, Mbak. Mbak Nindy, isengin Mbak." kata Arum.
"Mbak Nindy!" teriak Farha, geram.
__ADS_1
Aku buru-buru lari ke dalam pondok. Mereka mengejarku. Tiba-tiba pahaku sakit.
"Mbak, kenapa?" tanya Farha.
"Aduh, paha gue sakit." kataku.
"Ah, paling bohongan." kataku Arum.
"Enggak, inimah beneran." kataku.
"Waduh, ayo Mbak aku bantu." kata Arum.
Kami menepi sejenak.
"Mbak, abis jatoh?" tanya Farha.
"Enggak. Gak tau nih kenapa bisa sakit." kataku.
"Aku tau Mbak, badan Mbak sakit." kata Arum.
"Kenapa?" tanyaku.
"Mbak belum terbiasa tidur di tikar, belum biasa juga naik turun tangga jadi badan Mbak sakit. Aku dulu juga begitu, Mbak. Banyak efeknya itu anu biru-biru di badan." kata Arum.
Penjelasannya cukup masuk akal. Arum memutuskan mengambil kitab punyaku dan Farha. Sedangkan Farha menemaniku istirahat. Setelah Arum kembali, kita melanjutkan pergi ke Masjid.
Seperti hari-hari sebelumnya kami para santri berdiri di tepi-tepi jalan menunggu kuliah subuh untuk warga selesai yang ditandai sholawat yang dipandu oleh Abah. Setelah selesai dengan sesi salam-salaman dengan memastikan tidak ada lagi, warga dalam Masjid, kamipun masuk. Lagi, lagi dan lagi semua santri berlari. Sedangkan aku mengajak Farha agar tidak ikut berlari dengan alasan kakiku sakit. Itu tidak sepenuhnya bohong, kakiku memang sakit. Dan terjadilah kami tertinggal jauh di belakang.
Saat memasuki masjid, Farha dan Arum menunduk karena di sebrang kami banyak santri putra yang sedang memasuki arena masjid lantai dasar. Sedangkan kami harus naik ke lantai dua. Di antara mereka banyak yang berbisik-bisik sambil menujuk-nunjuk ke arah kami eh, bukan, maksudku aku bukan kami. Tapi banyak pula yang berjalan menunduk mengacuhkan keberadaanku.
Sepetinya sejak insiden hukuman itu aku menjadi terkenal dikalangan santri baik santri putri maupun putra.
Setibanya aku dan Farha di depan tangga. Dari atas santri-santri berlarian turun.
“Lho? Ada apa?” tanyaku pada Farha.
__ADS_1
Diapun bertanya pada temannya.
“Kita pindah ke bawah, Mbak." kata Farha. Dia terlihat lesu.