Penjara Suci

Penjara Suci
PS 55 - Tempat Sembunyi


__ADS_3

Demi Allah saya tidak bohong. Saya benar-benar mencintaimu dengan sepenuh hati saya. Saya tidak ingin kamu pergi jauh dari saya. Saya mohon, An. Kembalilah pada saya. Hanya kamu gadis yang saya cintai selain Umi. Saya mohon! Kembalilah pada saya! Saya mohon! - suara Gus Faiz.


Sejak naik kereta api hingga sampai tujuan. Kepalaku terus dipenuhi dengan suara Gus Faiz. Hati kecilku berkata kalau Gus Faiz memang benar-benar mencintaiku, hal ini bisa dibuktikan dengan kata-kata 'Demi Allah' yang diucapkannya, hatiku menghangat bila memikirkan ini. Namun, tetap saja aku harus pergi. Aku benar-benar terlalu takut atas semua kata-katanya. Aku terlalu takut untuk berharap dia benar-benar mencintaiku. Aku benar-benar takut pernyataan cintanya hanyalah upaya untuk mencegahku pergi. Aku bahkan teringat perjanjian kita yang tidak dia tepati.


Lagi pula jika benar dia mencintaiku. Biarkanlah kepergianku menjadi saksi kalau aku juga begitu mencintainya. Dengan aku pergi: dia takkan berani mengecewakan orang tuanya, dia takkan mendapatkan pendamping rusak sepertiku, dia takkan menderita karena berada di sampingku, dia takkan merasa menyesal karena telah mencintaiku, dia akan hidup baik-baik saja, dan bahagia dengan wanita sempurna yang dicintainya.


"Ini, gue bawain baju." kata Aaron.


Aku yang sedang duduk menyandar di tembok menoleh ke arahnya. Aku mengambil kantong plastik yang disodorkan Aaron. Sudah kukatakan kalau Aaron anak yang baik.


Aku membuka kantong plastik yang di sodorkannya. Di sana aku temukan satu set gamis lengkap dengan pakaian dalam.


"Lo?" kataku. Mataku memicing curiga.


"Eh, sumpah gue cuma ngira-ngira doang ukuran-ukurannya." kata Aaron, panik.


Wajah Aaron sangat lucu tapi aku tak benar-benar ingin tertawa saat ini. Namun aku harus mencoba melihatnya sebagai lelucon. Akupun tertawa.


"Padahal yang mau gue tanyain kenapa lo beliin gue gamis." kataku.


"Eh, gue kira itunya. Haha. Gue gak tau harus beliin lo apa, jadi gue beliin itu aja." kata Aaron.


"Emang lo gak malu ya beli ginian?" tanyaku sambil mengangkat plastik.


"Ya malu gak malu." kata Aaron.


Aku hanya bisa tersenyum. Andai laki-laki yang ada di hadapanku adalah Gus Faiz. Aku pasti sangat bahagia. Mengingat nama Gus Faiz, aku kembali bertanya-tanya mengenai pernyataan cintanya.


Aku kembali teringat bagaimana raut wajah frustasinya saat melihatku pergi dengan Aaron. Jika dia memang benar-benar mencintaiku, hati Gus Faiz pasti sangat hancur.


Namun, biarlah. Justru bila aku memang benar-benar menyakiti hatinya, dia pasti akan berpikir ulang untuk mencariku. Sepertinya dia sudah membenciku sekarang.


"Nin?" suara Aaron. Dia melambaikan tangan ke arahku.


"Eh, kenapa, Ron?" tanyaku.


"Pacar gue mikirin apa sih?" katanya.


Aku hanya bisa menggeleng. Meski aku tak mencintainya, namun aku harus menghargai Aaron. Terlebih Aaron adalah adik Ilham. Aku harus baik padanya.


"Mandi dulu gih!" kata Aaron. Kini wajahnya terlihat murung ntah mengapa.


Akupun menuruti perintahnya. Aku sudah berjanji untuk menjadi penurut atas apapun yang dipinta Aaron.


Setelah mandi aku mencoba membuka balutan sarung di tanganku. Seketika aku teringat wajah Gus Faiz lagi. Wajah Gus Faiz yang sedang tersenyum, sedang marah, sedang menangis, dan sedang frustasi. Wajahnya benar-benar memenuhi otakku hingga rasanya kepalaku mau pecah. Aku meremas rambutku berharap bisa menghilangkan wajah Gus Faiz dari kepalaku.


"Nindy! Apa yang lagi lo lakuin!" teriak Aaron.


Air mataku menetes. Aku tak boleh merepotkan Aaron. Aku tak mau dia tahu kalau aku frustasi karena kepalaku terus-terus mengingat Gus Faiz, Gus Faiz, dan Gus Faiz .

__ADS_1


Aku menggeleng.


"Lo kenapa?" tanyanya.


Aku menggeleng lagi.


Kali ini Aaron tak bertanya lagi. Diapun membantuku membuka balutan sarung di tanganku. Lalu membersihkan dan menggantinya dengan menggunakan perban yang asli. Ternyata selain dia membelikanku pakaian, diapun membelikan perban dan obat merah.


Aku mengamati wajahnya. Aaron pasti kecewa bila tahu kalau aku masih memikirkan Gus Faiz. Lihatlah, dia terlihat tulus membantuku.


"Nah, udah. Lo makan dulu ya." kata Aaron. Kali ini dia menyodorkan nasi bungkus padaku. "Gue gak tau apa makanan kesukaan lo. Jadi gue beliin nasi padang aja pake ayam goreng." kata Aaron lagi.


Aku harus menerima kebaikannya, meski perutku tak terasa lapar sama sekali. Akupun membukanya.


"Buat lo?" tanyaku.


"Ada, nanti gue makannya magrib." kata Aaron.


"Lo puasa?" tanyaku.


Dia hanya mengangkat bahu.


"Gue gak jadi makan deh. Nanti aja bareng lo." kataku.


"Eh, jangan! Lo lagi sakit. Jadi, lo harus makan." kata Aaron.


Aku membuka bungkus nasi padang itu, lalu mulai memakannya menggunakan sendok. Perih masih terasa namun aku tak boleh manja. Aaron membawakan minum.


Jujur semakin dia baik padaku. Semakin aku merasa bersalah padanya. Karena aku tak bisa membalas perasaannya.


"Sini gue potong-potongin ayamnya." kata Aaron saat melihatku kesulitan memotong ayam.


"Eh, gak usah, Ron." kataku.


Aaron tak mendengarkan kata-kataku dia lalu memotong-motong ayam goreng itu kecil-kecil. Aku mengamati wajahnya. Lama-lama wajah itu berubah menjadi Gus Faiz. Aku buru-buru menggelengkan kepalaku.


"Kenapa?" tanya Aaron.


Aku hanya menggeleng. "Makasih." kataku.


"Untuk?" tanyanya.


"Semuanya." jawabnya.


Dia mengangguk, "Asal lo bahagia, Nin." kata Aaron.


Aku mengangguk.


"Nanti malem mau pergi sama gue?" tanya Aaron.

__ADS_1


"Kemana?" tanyaku.


"Kemana ya? Taman lampion, mau?" tanyanya.


Aku mengangguk. "Mau." kataku.


"Yaudah, sekarang lo abisin dulu nasinya." kata Aaron.


Akupun menurut lalu menghabiskan makananku. Aaron memperhatikanku. Bukan, memperhatikan, lebih ke arah mengawasi.Dia membantuku minum, untuk mengakhiri aktivitas makanku.


"Maafin Linda ya, Nin." kata Aaron.


Aku mengangguk.


"Dia udah jahat banget sama lo." kata Aaron.


"Iya, Ron. Nggakpapa. Dia sebenernya cuma cemburu sama gue. Gue juga udah jahat sama dia, kalo aja gue tau kalo dia adiknya Ilham, gue gak bakal begitu." kataku.


"Dia udah mukul lo pake balok tapi lo masih bilang dia gak jahat?" tanya Aaron.


Aku menatapnya. Aku tak pernah menceritakan kejadian itu padanya. Aku mulai berpikir dari mana dia bisa tahu kalau Linda yang memukulku menggunakan balok.


"Lo tau dari mana?" tanyaku.


"Gue sekarang tau kenapa Bang Ilham bisa sayang banget sama cewek bar-bar kayak lo." kata Aaron lagi. "Ternyata meski bar-bar, hati lo lembut kayak bidadari." lanjutnya.


Aku mengabaikan pujiannya. "Lo belom jawab pertanyaan gue." desakku.


"Gue ada di sana pas lo nyuruh temen-temen lo buat gak nyebarin kelakuan adek gue." kata Aaron.


Aku menunggu dia melanjutnya.


"Saat itu, gue gak bisa langsung nyamperin lo karena ada Gus Faiz. Jadi, gue nunggu lo sama Gus Faiz pergi baru gue samperin Linda." katanya.


"Temen-temen gue tau lo nyamperin Linda?" tanyaku.


"Tau. Mereka gue suruh pergi duluan. Gue jelasin kalo gue abangnya Linda. Dan mereka percaya." katanya.


Aku teringat Linda pada saat aku ingin menghampiri Aaron ke kompleks laki-laki, kejadian aku bertemu Gus Faiz, mengatai Linda setan karena datang di saat aku dan Gus Faiz sedang berduaan, dan dia membawaku pergi.


Aku kira dia memang suka memata-matai Gue Faiz. Ternyata aku salah. Sepertinya dia di kompleks putra untuk menemui kakaknya.


"Adek gue nangis karena ngerasa bersalah sama lo. Dia benar-benar menyesal udah mukul lo pakai balok itu. Dia ceritain semuanya ke Gue. Jadi, gue tau apapun yang dia lakuin ke elo." kata Aaron. "Gue atas nama dia minta maaf ya sama lo. Gue tau si kalau kelakuan dia mungkin bakalan sulit lo maafin tapi gue sebagai kakak cuma mau sampaiin maaf dari dia." kata Aaron.


"Iya nggakpapa, Ron. Gue tau kok sebenernya dia anak baik. Dia pasti bangga deh punya kakak sebaik elo." kataku.


Aaron hanya tersenyum menanggapiku.


"Lo terlalu baik buat disakitin, Nin." katanya.

__ADS_1


__ADS_2