
Aku dan Gus Faiz sudah berpakaian lengkap. Sudah berpamitan pula pada Mama dan Papa. Setelah itu, kami pun langsung keluar rumah. Gus Faiz membuka pintu mobil untukku. Mobil ini milik Papa. Mau tak mau akupun masuk dalam mobil.
"Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi, An?" tanya Gus Faiz.
Aku menoleh. Jujur aku bingung harus berkata apa. Namun, setelah kupacu dengan cepat, akupun memutuskan.
"Aku ingin ke Monas." kataku pada Gus Faiz.
Mengingat Monas, aku kembali mengingat Farha, ntah bagaimana kabarnya sekarang. Aku sangat merindukannya. Selain Farha, akupun sangat merindukan Linda dan Arum. Linda tidak lagi kembali ke Jakarta, sepertinya rumah yang dulu di tempatinya telah di jual. Sedangkan, Arum aku pun tidak tahu bagaimana kabarnya. Aaron, aku tidak berani meminta nomor Aaron pada suamiku.
Di hari pernikahanku kemarin, mereka tidak datang. Sebetulnya ini bukan salah mereka, hanya saja aku yang tidak tahu bagaimana menghubungi mereka. Aku hanya memberikan kartu namaku pada mereka, bodohnya aku hanya bisa menunggu tanpa bisa melakukan apapun.
Aku sudah mencari di media sosial namun tidak menemukan mereka, sepertinya Linda dan Arum tidak menggunakan itu.
"Ke Monas?" tanya Gus Faiz.
Aku mengangguk.
"Baiklah." kata Gus Faiz.
Sepertinya dia sudah hafal jalanan Jakarta, ini terlihat dari Gue Faiz yang tidak menggunakan GPS untuk sampai di Monas. Diapun terus melajukan mobilnya. Kami sama-sama diam.
Melihat situasi yang sangat canggung ini, Gus Faiz menyalakan radio mobil. Tiba-tiba terdengar penyiar radio yang berniat menyiarkan sebuah lagu romantis. Penyiar lagi itu menyebutkan kalau dia ingin memutar lagu milik penyanyi Adera berjudul Muara. Aku tidak pernah mendengarnya namun dari judulnya saja aku tahu, lagu itu akan romantis.
...Kau adalah puisi hati...
...Di kala rindu tak bertepi...
...Kuingin kau ada...
...Saat 'ku membuka mata...
...Hingga 'ku menutupnya kembali~...
Ntah mengapa aku refleks menengok ke arah Gus Faiz. Gus Faiz melirikku.
"Ada apa?" tanya Gus Faiz.
Aku menggeleng, "Tidak apa-apa, Mas.." katanya.
...Kau sirnakan kabut kelabu...
...Di sabana pencarianku...
...Bagai embun pagi...
...Kau lepaskan dahaga kemarau hati...
Jantungku tiba-tiba berdegup dengan kencang. Lagu ini benar-benar begitu menyatakan perasaanku. Jelas sekali dengan bahasa yang indah.
Gawat bila lagu ini diteruskan pipiku pasti akan merah. Aku berniat mengganti channel radio.
__ADS_1
Tiba-tiba aku mendengar Gus Faiz bernyanyi. Aku menghentikan pergerakan tanganku, lalu menarik kembali. Aku melirik Gus Faiz.
...Kaulah lukisan pagi...
...Yang kugambar untuk senjaku...
...Kaulah selaksa bunga...
...Yang warnai musim semiku...
...Di kala hati ini gundah...
...Kau membuatnya menjadi cerah...
Gus Faiz seperti sengaja bernanyi lagu ini. Aku pun mulai bertanya-tanya apakah lagu yang dinyanyikannya ditujukan padaku. Maksudku, di mobil ini hanya ada kami berdua. Jadi, ntah di bagian mana dalam hatiku aku merasa kalau lagu itu ditujukan padaku. Tapi bisa saja Gus Faiz hanya kebetulan tahu lagunya dan menyanyi. Aku pun mengalihkan pandanganku ke jendela, menyembunyikan perasaan bahagiaku.
...Kaulah matahariku...
...Dan kaulah samudra...
...Tempat hatiku bermuara....
Tempat hatiku bermuara. Hatiku benar-benar berdesir. Rasanya aku benar-benar ingin tersenyum mendengar suara merdu itu, terlebih memikirkan lagu itu dia tujukan padaku. Aku perlahan menoleh. Dia menatapku. Jantungku, benar-benar berdeguk dengan cepat. Udara kini memanas.
...Kau jawaban dari doaku...
...Yang akhiri penantianku...
...Kau hadirkan harapan di dalam hati…...
Aku menggigit bibir bawahku melihat sorot mata Gus Faiz yang tertuju padaku, matanya seakan mengatakan kalau lagu itu benar-benar di tujukan darinya padaku.
"Jangan digigit." kata Gus Faiz.
Tangannya menjulur hendak menyentuh daguku. Aku refleks menghindar hingga tangan Gus Faiz terdiam di udara.
Nindy, bodoh. -rutukku dalam hati.
Gus Faiz menarik tangannya kembali. Wajahnya terlihat kecewa namun dia tak mengatakan apa-apa. Aku jadi merasa bersalah. Aku merutuki gerakan refleksku yang belum bisa aku kendalikan.
Tak lama kemudian saat kami hendak sampai di Monas, Azan Zuhur berkumandang.
"Kita salat dulu ya." kata Gus Faiz.
"Baik, Mas." kataku.
Gus Faiz membawaku ke Masjid Istiqlal. Setelah kami selesai, kami pun keluar. Kami pun berjalan beriringan. Gus Faiz diam saja, aku hanya bisa sesekali meliriknya. Aku benar-benar merasa bersalah. Aku memikirkan kemungkinan dia marah padaku.
Kamipun sampai di persimpangan tempat laki-laki dan perempuan.
"Mas?" panggilku, saat dia berbalik hendak pergi.
__ADS_1
Dia menoleh padaku.
Sikapnya ini mengingatkan aku pada Gus Faiz yang dulu. Gus Faiz yang dingin, tampan, dan sangat irit berbicara.
"K-kamu marah padaku?" tanyaku.
Dia tersenyum, "Tidak." katanya.
Akupun bingung harus berkata apa lagi. Gus Faiz yang seakan tahu apa yang aku pikirkan langsung menyuruhku masuk, "Kamu masuklah." katanya.
Aku mengangguk. Kamipun berpisah. Aku pergi ke tempat wudu, ini kali pertama aku menginjakkan kaki di Masjid Istiqlal walau sejak kecil tinggal di Jakarta. Setelah wudu, akupun salat menggunakan mukenaku sendiri.
Setelah salat aku menyenderkan tubuhku ke tembok Masjid. Lalu mengeluarkan bedak, lipstik dan kaca kecil.
Tiba-tiba ada dua orang perempuan duduk di sampingku, aku tersenyum pada mereka, merekapun balas tersenyum padaku. Lalu kami mulai sibuk pada aktivitas masing-masing.
"Kamu tahu tidak, Bela, kalau suaminya Tia main perempuan?" tanya seorang perempuan kepada temannya yang bernama Bela.
Aku tidak memperdulikan cerita mereka. Ternyata mereka sedang menggibahkan temannya yang lain. Aku melanjutkan memakai bedak dan lipstik secukupnya. Aku sangat menyayangkan aktivitas gibah mereka. Sudah gibah, di Masjid pula.
"Lho, bukannya suaminya itu baik ya? Aku lihat suaminya terlihat sangat mencintai Tia, Sumi." kata Bela pada Sumi.
Aku memasukkan bedak, lipstik, dan kaca kecil ke dalam tas. Mukenaku sudah kulipat dan masukkan juga.
"Nah, itu dia. Sebetulnya tidak sepenuhnya salah suaminya sih. Karena Tia memang tidak mau disentuh-sentuh sama suaminya. Jadi, suaminya cari pelampiasan." kata Sumi.
Aku refleks menoleh, penasaran dengan apa yang terjadi.
"Ada apa ya, Mbak?" tanya Bela padaku. Sepertinya aku begitu ketara menguping pembicaraan mereka.
"Maaf, Mbak. Saya tidak bermaksud menguping, saya juga tidak membenarkan aktivitas gibah, hanya saja bolehkah saya tanya sesuatu?" tanyaku pada Sumi.
"Boleh, tanya apa, Mbak?" tanya Sumi
"Apakah laki-laki yang meski memiliki rasa cinta pada istrinya tetap bisa berpaling ke lain hati?" tanyaku.
"Tentu saja, Mbak. Apa lagi bila istrinya tidak mau memberikan apa yang suami mau. Wah, bisa-bisa rumah tangganya tidak bertahan lama. Pasti suami akan cari kenyamanan di luar rumah." kata Sumi.
Aku mencermati kalimat Sumi. Mendengar kata-kata Sumi membuat aku jadi takut.
"Namun, apabila kami maksudku para istri belum siap dan membutuhkan waktu, apakah hal ini juga akan terjadi?" tanyaku.
"Ayolah, Mbak. Laki-laki itu tidak seperti kita yang pandai menahan. Mungkin ada yang bisa bertahan di situasi seperti itu, namun untuk saat ini sepertinya sangat mustahil. Satu banding seribu." kata Sumi.
"Apa lagi kalau suaminya tampan, Mbak. Wah, kalau aku jadi istrinya harus lebih ekstra agar tidak tergoda perempuan lain." kata Bela.
Aku memikirkan kata-kata Sumi dan Bela. Kata-kata mereka benar-benar menohok sampai ke dalam hati. Hatiku jadi makin kalut. Aku takut Gus Faiz akan berbuat seperti itu. Tapi aku harus percaya pada suamiku. Namun, mengingat aku yang selalu menghindarinya, dan sikap diamnya tadi membuat hatiku semakin kalut.
Belum sempat aku menjawab, ponselku berdering.
Layar ponselku menampilkan nama Mas Faiz. Aku lekas mengangkat telepon.
__ADS_1