
Baru saja aku keluar dari Ndalem Abah, Farha beserta teman-teman yang lain sudah menghampiriku. Mereka semua teman satu ‘kamarku’ yang tak pernah aku tahu namanya satu persatu, aku hanya mengenal muka mereka karena beberapa kali bertemu.
“Mbak, ke kamar yuk ambil kitab! Kemarin kitab Mbak sudah dibagikan tapi aku lupa bilang.” kata Farha. Aku hendak membantah Farha namun aku merasa diawasi, jadi jadilah aku hanya mengikuti alurnya.
“Oh, yaudah ayo.” kataku, langsung menarik tangan Farha.
***
Setelah mengambil kitab. Semua santri turun lagi karena pengumuman dengan menggunakan bahasa Arab telah diumumkan oleh pengurus yang bertugas. Kami semua keluar dari pondok dan berbondong-bondong memadati jalan menuju Masjid. Sesampainya di samping Masjid, mereka berhenti. Ada yang berdiri, jongkok, dan ada juga yang duduk di tepian pot besar yang ada di tepi jalan.
“Kok gak langsung ke Masjid?” tanyaku penasaran.
“Iya, Mbak, kuliah subuhnya belum selesai.” kata Farha.
Aku hanya ber-oh saja, karena malas mendengar penjelasan panjang Farha.
Tak lama kemudian Farha berdiri dan mengajakku utuk berdiri juga. Ternyata bukan hanya kami yang melakukannya, tapi santri lainpun melakukan hal yang sama. Sebetulnya dari tadi banyak sekali yang mengajakku ngobrol dengan wajah berbinar-binar, ntahlah aku tidak tahu mengapa mereka begitu senang saat aku menjawab pertanyaan mereka dengan singkat menggunakan bahasa Indonesia. Eh, tunggu, kita berkomunikasi mengunakan penerjemah, Farha. Kalau tidak ada dia mungkin aku hanya diam saja karena bingung menjawab apa. That’s not good!
“Udah selawatan, Mbak, tandanya kuliah subuhnya sudah selesai.” kata Farha. Aku menurut saja.
Kami semua berdiri. Dan tanpa diberi aba-aba kami terbelah menjadi 2, kami semua minggir di samping kanan dan kiri jalan. Seketika aku terpana, kalau saja aku membawa kamera kesayanganku pasti momen ini akan kuabadikan dan kuposting di instagram, blog, dan semua media sosial yang aku punya.
Dari arah masjid datanglah berbondong-bondong warga desa. Usia mereka kebanyakan sudah bisa dianggap ‘berumur’ karena di sana kebanyakan bapak-bapak, ibu-ibu, nenek-nenek dan kakek-kakek. Banyak nenek yang membawa cucunya, dan banyak juga ibu-ibu yang membawa anaknya yang amsih kecil. Mereka menyalami santriwati yang ditemuinya satu-satu. Sementara bapak-bapak dan kakek-kakek terus berjalan tanpa adegan bersalaman, aku tidak tau alasannya, yang aku tau hanya mereka lewat begitu saja.
Kini kulihat ada seorang nenek yang membawa cucunya mulai menghampiri kami. Dalam hati aku kasian melihat semua nenek dan kakek yang mengikuti acara kuliah subuh ini dengan membawa cucu. Ingin rasanya kutanya ke mana anak mereka hingga mereka harus membawa cucunya ke Masjid. Kalau boleh kusimpulkan, sepertinya mereka pula yang membesarkan cucu mereka tersebut di rumah. Tapi dari semua itu, aku salut kepada nenek-nenek dan kakek-kakek yang walau sudah tua tetap dengan semangat empat lima menghadiri acara kuliah subuh yang diadakan oleh Abah Kyai. Ayah Gus Faiz.
Aku mengamati cara bersalaman Farha, lalu mengikutinya. Dan tibalah nenek itu menyalamiku, beliau tersenyum dengan mata tuanya yang berkaca-kaca. Aku balas tersenyum, dan kau tau apa yang dilakukan beliau selanjutnya? Beliau mencium pipi kanan dan kiriku lalu memelukku dengan erat. Aku melirik Farha. Dia tersenyum tulus padaku.
Nenek itu memberi pesan kepadaku dengan bahasa Jawa kentalnya. Aku hanya bisa tersenyum lalu mengangguk walaupun tidak tahu maksud dari ucapannya. Nenek itupun menepuk punggungku sambil tertawa lalu beliau berlalu begitu saja bersama cucunya. Sepertinya yang diucapkan nenek tersebut merupakan doa akan hal-hal baik.
__ADS_1
Setelah jalanan sudah kosong. Santri-santri langsung berlarian menuju Masjid. Farha menarik tanganku untuk berlari juga.
“Hey, ngapain lari sih?” teriakku pada Farha.
“Biar dapat barisan paling depan, Mbak.” kata Farha lagi.
Kami semua naik ke lantai-2. Dan saat sampai di lantai-2 ternyata barisan paling depan sudah terisi semuanya. Farha mendesah kecewa. Aku hanya bisa melongo. Aku jadi teringat saat di sekolah dulu. Di sana, kami berbondong-bondong berlari ke kelas untuk mendapatkan bangku paling belakang. Sangat bertolak belakang dengan di sini. Saat suasana semakin gaduh, terdengar suara teriakan seseorang dengan menggunakan bahasa Jawa, mungkin menyuruh santri-santri yang berebutan tempat duduk itu diam. Ntahlah itu hanya hipotesisku saja.
“Yah, Mbak, maaf kita ndak bisa duduk di depan.” kata Farha.
“Lha, emang kenapa kalo di belakang?” tanyaku.
“Padahal tadi aku niatnya mau ajak Mbak duduk di depan biar bisa liat putra.” kata Farha sambil berbisik di telingaku.
“Putra? Siapa dia?” tanyaku.
“Santri putra maksudnya, Mbak.” katanya lagi.
Farha mulai bercerita. Ternyata di lantai-1 itu untuk santri putra, sedangkan kami para santri putri berada di lantai 2. Aku bukan santri jadi aku bukan bagian dari kata kami. Menurut cerita Farha, alasan mengapa para santri saling berebutan duduk di barisan paling depan adalah karena dari depan bisa melihat santri putra, juga bisa melihat Abah yang berdiri di atas mimbar dengan gagahnya.
“Ana Gus Faiz, ana Gus Faiz!” teriak seseorang. Aku refleks menengok mencari sumber suara.
Suasana makin gaduh. Pada saat itu mataku bertemu dengan Linda, 'Si Pengurus Menyebalkan'. Matanya sangat sinis menatapku. Aku hanya bisa memberinya tatapan malas dengan memutar bola mata, lalu kembali terfokus pada kitab yang kubawa.
Selain tak menghiraukan Linda. Aku juga tak berminat untuk menghiraukan santri yang berlomba-lomba ke depan agar bisa melihat wajah Gus Faiz, centil. Sampai akhirnya aku mulai menatap sekeliling ketika semua santri tiba-tiba diam, ternyata karena melihat kegaduhan pengurus berkeliling membawa catatan yang ntah apa isinya. Mungkin itu semacam buku poin pelanggaran.
Aku melihat Farha sedang menulis sesuatu di kitabnya dengan menggunakan bahasa Arab. Farha yang menyadari kalau aku memperhatikannya langsung menengok lalu tersenyum ke arahku. Sepertinya dia sedang menulis nama di kitab itu.
“Sini, Mbak, aku tulisin.” kata Farha. Aku memberikan bukuku padanya. Dan dia mulai menulis menggunakan bahasa Arab. Mungkin itu namaku. Aku hanya bisa menebak.
__ADS_1
“Itu bacanya apa?” tanyaku.
“Ini itu, anu, namanya Mbak, Anindya Athaya Zahran.” kata Farha. Betulkan?
“Terus ini apa?” tanyaku. Aku menunjuk huruf Arab yang ditulis samaan berturu-turut.
“Oh ini, hehe ini tulisannya biking, biking, biking biar kitabnya ndak dimakan rayap, Mbak.” kata Farha sambil tertawa. Ntah apa keterkaitan antara kata itu dengan rayap, aku tidak tahu. Ntah dia bercanda atau bagaimana aku juga tidak tahu dan tidak peduli.
“Sttttt..... Abah rawuh!” kata seseorang di barisan depan. Kali ini aku sudah mengerti apa arti kata ‘rawuh’ yang artinya datang.
Suara kini benar-benar senyap. Tak ada satu katapun yang keluar dari bibir santri-santri. Abah membuka acara, lalu dilanjutkan dengan menyuruh kita membuka kitab yang kita bawa halaman ke-4 karena halaman sebelumnya adalah cover, sambutan, dll. Aku bersyukur Abah menggunakan campuran bahasa Indonesia jadi aku bisa sedikit mengerti.
Farha mengarahkanku untuk membuka halaman yang tadi disebutkan Abah. Lalu dia kembali berkutat dengan kitabnya siap untuk menulis ntah apa.
“Nanti apa yang Mbak dengar tulis saja ya.” kata Farha. Aku hanya mengangguk seperti kelinci penurut. Tanda mengiakan agar lebih cepat mengakhiri pembicaraan.
Kali ini aku tak lagi terkejut mendapati Huruf Arab Gundul tanpa harakat. Juga tak bingung lagi dengan aktivitas yang disebut ‘ngafsahin’.
Kalau boleh jujur kepalaku sangat berat. Di satu sisi aku tidak bisa berbahasa Jawa di sisi lain aku juga tidak bisa bahasa Arab. Hidup di area ini memang sangat menyiksa, namun kalau boleh jujur dibanding hidupku sebelumnya, hidupku terasa sedikit lebih baik. Dan aku berharap untuk kedepannya aku bisa merasa lebih baik lagi. Aku meletakkan kitabku di atas lantai. Tapi buru-buru diambil Farha.
“Mbak, kitab kan isinya Ilmu, jadi sebaiknya jangan di letakkan di lantai. Jadi, kita tuh, itu, anu, harus menghormati ilmu, hehehe.” kata Farha. Lalu menyerahkan kitab itu lagi padaku.
Aku menurut lalu mengambilnya. Aku ngantuk sekali, jadi aku tak mau berdebat. Setelah mengambilnya, kuletakkan kitab di antara pelukanku dengan lutut. Mataku tinggal beberapa watt saja. Dan aku sangat butuh tidur.
“Mbak bangun, nanti kalau pengurus tahu dilaporkan ke Abah.” kata Farha lagi.
Tuhaaan! Aturan apa lagi sih ini? -teriakku dalam hati.
Baik, aku memang sedang berusaha menjadi lebih baik. Tapi kalau di dalam hati mengumpat sah-sah saja kan? Seperti yang ku katakan pada Gus Faiz, semua butuh proses. Jadi, aku menganggap menahan umpatan yang ada dalam hati merupakan salah satu proses untuk menjadi lebih baik.
__ADS_1
Saat aku mulai benar-benar merutuk dalam hati, lagi-lagi aku teringat pesan Gus Faiz. Agar menahan amarah dan melampiaskannya hanya padanya, tidak boleh kepada orang lain. Namun, tak ada Gus Faiz sekarang namun amarahku makin memuncak sekarang. Karena itu, aku memutuskan mengambil buku tulis dan mulai menjadikan buku tulis itu sebagai buku harian kali ini dan sepertinya akan menjadi buku harian yang akan melukiskan kejadian-kejadian yang aku alami secara detail di pon-pes ini. Sungguh menulis harian jauh lebih menarik dibandingkan menuliskan semua yang Abah ucapkan dengan cepat dan dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Jangankan bahasa, hurufnya yang manapun aku tidak tahu.