Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 2 – Ponsel


__ADS_3

“Tunggu sebentar.” kataku. Aku beranjak dari ranjang. Menuju salah lemari pakaianku, lalu mengambil ponsel lama yang sangat ingin kukembalikan pada Gus Faiz.


“Ada apa?” tanya Gus Faiz.


Dulu, aku pernah menabrak seseorang, hingga ponsel kami berjatuhan dan rusak. Saat itu aku yang buru-buru hanya memungut ponselku dan meminta maaf kepada laki-laki yang aku tabrak. Laki-laki itu baik sekali, dia tidak marah padaku, dia hanya menyuruhku pergi, aku yang senang langsung memegang pipinya dan pergi meninggalkannya. Saat aku berlari aku merasa laki-laki itu mengawasiku, akupun berbalik, dan memberikan tanda hati menggunakan tanganku.


Aku yakin saat itu penampilanku acak-acakan karena memang aku tengah berlari hingga rambutku yang lurus dan belah tengah sukses ke depan semua. Aku benar-benar seperti hantu.


Meski aku akhirnya pergi, aku telah berjanji akan mengganti ponsel itu. Aku pun menghafal ponsel lama milik seseorang yang aku tabrak. Tidak terlalu sulit karena mereknya cukup terkenal meski ponsel lama. Aku cukup menghafal bentuknya.


Yang aku ingat, dahulu aku sedang buru-buru hendak menemui Ilham. Aku ingin meminjam laptopnya untuk mengirim tugas via Edmodo yang hampir habis tenggat waktunya. Guruku itu sangat killer jadi aku tidak mau merasa dijemur di siang hari karena tidak mengumpulkan tugas beliau. Saat itu, aku sedang jalan-jalan bersama Mia. Karena rumah Ilham lebih dekat dari tempat kami bermain, tanpa pikir panjang akupun lari ke rumah Ilham.


Sebetulnya aku bisa saja mengirim file lewat ponselku. Namun, karena sedang panik aku tidak sengaja menghapus file itu. Mia tak bisa membantuku, jadi aku lari ke rumah Ilham. Ilham jago IT. Dia pasti bisa mengembalikan folder yang pernah aku hapus. Padahal ada Google. Tapi aku tidak berpikir sampai sana saking paniknya.


Aku memberikan sebuah ponsel lama persis seperti ponselnya yang rusak pada Gus Faiz.


“Aku tidak bohong. Aku menggantinya.” kataku, malu-malu.


Gus Faiz mengambil ponsel itu.


“Saya tahu, An. Saat itu saya melihatmu di gerai ponsel, tempat langganan Ilham.” kata Gus Faiz.


“Lho, kenapa kamu tidak memanggilku, Gus?” tanyaku.


Gus Faiz memandangku. Dari pandangannya, dia mengoreksi kalimatku. Betul saja aku baru saja memanggil dia dengan Gus. Sepertinya dia ingin aku berlatih memanggilnya dengan panggilan lain. Tunggu, panggilan lain.


“Maksudku, Mas?” kataku.


Aku benar-benar malu memanggilnya dengan sebutan sayang walaupun dalam hati sangat ingin. Bukankan itu juga panggilan yang lumrah bagi pasangan? Apalagi kami sudah halal. Tapi mengapa malu betul aku mengucapkannya? Apa setiap orang yang baru menikah merasakan hal serupa?


“S-sayang?” kataku akhirnya.


Gus Faiz tersenyum. “Boleh saya mendengar panggilan itu lagi?” tanya Gus Faiz.


Aku merasa pipiku kembali merah. “S-sayang.”


“Lagi.” senyum Gus Faiz mengembang terlihat sangat bahagia.


“Sayang..” kataku mantap.


Gus Faiz tersenyum. Matanya teduh sekali seperti mata Umi. Setelah puas mendengar panggilan itu, Gus Faiz bersiap melanjutkan penjelasannya.


“Saat itu kamu lari, saya mengejarmu tapi tiba-tiba kamu hilang.” kata Gus Faiz.


“Aku memang lari saat itu.” kataku.


“Kamu pasti punya kebiasaan lari.” kata Gus Faiz.


Aku mengangguk dan tersenyum.


“Ponselku ini akan aku pakai hanya untuk meneleponmu.” kata Gus Faiz.


Lagi-lagi ada desiran-desiran halus dalam hatiku mendengar kata-katanya. “Terima kasih.” kataku.


“O iya, saya ingin meminta maaf, An. Saya tidak tahu apakah ini akan membuatmu marah atau tidak.” kata Gus Faiz.


“Minta maaf soal apa, Mas?” tanyaku.

__ADS_1


“Minta maaf soal ponsel, aku memang sengaja memberikanmu ponsel milikku.” kata Gus Faiz.


Aku merasakan pipiku merah. Jujur aku sempat bertanya-tanya sejak insiden di bandara itu, aku terus bertanya pada diri sendiri apakah itu hanyalah ketidaksengajaan atau justru sengaja. Ternyata di sengaja Gus Faiz. Aku tak marah sama sekali, aku justru tak menyangka.


“Tapi mengapa pola kunci milikmu sama dengan ponselku?” tanyaku.


“Ilham yang membuatkannya.” kata Gus Faiz.


“Apa kamu mengenalku sebelumnya? Apa kita pernah bertemu? Maksudku, selain insiden tabrakan dan di gerai ponsel itu?” tanyaku tak bisa menyembunyikan rasa penasaran. Jujur, banyak sekali yang ingin aku tanyakan padanya.


Eh, tunggu. Apakah aku terlihat bawel dan menyebalkan? Tidak-tidak, aku tidak mau Gus Faiz sampai mengecapku demikian.


Gus Faiz tersenyum padaku.


“Maaf.” kataku.


“Untuk apa meminta maaf? Sudah Saya katakan bukan, kamu bisa bisa menanyakan apapun, saya akan menjawabnya semampu saya.” kata Gus Faiz.


Aku mengangguk.


"Lagi pula saya senang mendengar suaramu. Berbicaralah sebanyak yang kamu mau, saya akan setia mendengarkan." kata Gus Faiz.


Mau tak mau senyumku mengembang lagi. Aku mengedarkan pandanganku ke arah lain.


“Jujur saya tidak pernah tahu siapa sahabat Ilham saya hanya tahu namanya Nindy, aku juga tidak tahu Gadis Tirai yang behasil mencuri perhatian saya adalah kamu. Ilham memang sering menyuruh saya untuk bertemu denganmu. Namun, saya selalu menolaknya, bahkan melihat fotomu saja aku tidak mau.” kata Gus Faiz.


“Kamu tidak mau melihat wajahnya namun memberikan gelang begitu saja padanya.” kataku, sedih.


Mendengar penjelasan Gus Faiz sedikit membuatku kesal, ntah karena apa. Padahal suamiku ini hanya menjelaskan apa yang terjadi. Lagi pula Gus Faiz memang antipasti pada perempuan, mengapa aku tetap marah? Ah, sebetulnya aku membayangkan bagaimana kalau yang diberikan gelang itu bukanlah aku. Akankah dia juga menikahi perempuan itu?


“Kamu cemburu? Pada dirimu sendiri?” tanya Gus Faiz.


Gus Faiz meraih tanganku. Aku refleks menepisnya. Sungguh aku belum terbiasa berkontak fisik dengan laki-laki. Aku merutuki diriku dalam hati.


“M-maaf, aku hanya benar-benar belum terbiasa.” kataku.


Aku melihat Gus Faiz diam saja. Gawat. sepertinya Gus Faiz marah. Jika dipikir ulang dia memang layak marah. Karena memang tubuhku menepisnya terus refleks setiap dia menyentuhku.


“Apa aku menyakiti perasaanmu?” kataku.


Aku mendekati Gus Faiz. Aku mencoba menyakinkan diriku kalau laki-laki ini adalah suamiku. Aku sudah boleh menyentuhnya. Akupun mengulurkan tanganku dengan gemetar, lalu menggenggam tangannya. Dia mengusap pinggung tanganku dengan jempolnya. Dia seperti sedang berpikir.


“Apa kamu mencintai saya, An?” tanya Gus Faiz tiba-tiba.


Aku mengangguk.


“Apa kamu sungguh mencintai saya?” tanya Gus Faiz.


Aku mengangguk lagi.


“Saya ingin mendengarnya.” kata Gus Faiz.


“Aku mencintaimu, Mas. Sangat mencintaimu.” kataku.


Gus Faiz mendekat dan mencium keningku. Kali ini aku tidak menghindar lagi. Aku harus bisa mengendalikan tubuhku. Mungkin karena tak pernah melakukan kontak langsung dengan laki-laki membuat tubuhku terus mencoba melindungi diri. Seperti yang sudah ku jelaskan berulang-ulang, tubuhku terus menerus refleks menepis sentuhan itu.


Jantungku benar-benar seperti ingin meledak. Lagi, lagi, dan lagi rasanya aku takut masuk rumah sakit bila terus-terusan begini.

__ADS_1


“Apa kamu juga mencintaiku?” kataku.


“Bukankah saya pernah kelepasan mengatakannya saat di stasiun itu, An?” tanya Gus Faiz.


“Tapi itu empat tahun lalu.” kataku.


Gus Faiz tersenyum. “Saya anggap kamu menyuruh saya untuk menyatakan perasaan saya lagi padamu sekarang juga.” katanya sambil terkekeh.


“Eh?” kataku salah tingkah.


Gus Faiz menatapku, ragu-ragu aku balas menatapnya. Menunggunya mengucapkan kalimat ntah apa.


“Baiklah, Anindya Athaya Zahran, Saya mencintaimu. Saya sangat mencintaimu. Bahkan sepertinya cinta saya jauh lebih besar dari cintamu kepada saya.” kata Gus Faiz.


“Bagaimana kamu tahu? Apa ada cara untuk mengukurnya?” tanyaku.


Gus Faiz terkekeh. “Ada.” kata Gus Faiz.


“Bagaimana caranya?” tanyaku.


“Sungguh kamu ingin tau?” tanya Gus Faiz.


Aku mengangguk mantap. Aku belum pernah mendengar ada alat ukur untuk mengukur cinta. Sepertinya ilmuku masih sangat dangkal.


“Ini.” Gus Faiz mencium pipiku.


“Eh?” kataku tak siap.


Gus Faiz terkekeh.


“Curang.” kataku. Lalu ikut tersenyum.


“Saya mandi dulu.” kata Gus Faiz.


Aku mengangguk.


Diapun beranjak, dan langsung masuk ke kamar mandi. Aku memegangi dadaku. Rasanya aku ingin berteriak. Akupun langsung menjatuhkan tubuhku ke kasur, lalu menelungkupkan tubuhku di sana. Aku benar-benar tak mengerti cara mengungkapkan perasaan. Akupun tertawa sambil menepuk-nepuk kasur gemas dan pelan, takut Gus Faiz mendengar.


“An, saya lupa, handuk..” kalimat Gus Faiz menggantungkan kalimatnya.


Gawat. Apa yang harus aku lakukan? -batinku.


“Hahaha, apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Gus Faiz sambil tertawa.


Duh.. – rutukku dalam hati.


Aku benar-benar malu saat ini. Pipiku benar-benar panas menahan malu. Namun, aku harus mengambil handuk untuk suamiku. Aku berani bertaruh wajahku sangatlah merah. Sungguh aku tidak tahu wajahku harus aku letakkan di mana.


Akupun mengambil bantal untuk menutupi sisi kiri wajahku agar Gus Faiz tidak bisa melihat wajahku. Aku-buru mengambil handuk baru dan langsung memberikan pada Gus Faiz.


“Hahaha, kamu lucu sekali, An.” kata Gus Faiz.


“Masuklah, aku mohon.” kataku sambil mendorong Gus Faiz ke kamar mandi. “A-aku akan siapkan pakaian untuk kamu.” lanjutku.


“Baiklah-baiklah.” kata Gus Faiz. "Bolehkah saya melihat wajahmu sebelum aku masuk?" tanyanya.


"Tidak, tidak boleh." kataku

__ADS_1


"Hahaha, baiklah." kata Gus Faiz menyerah dan masuk ke kamar mandi.


__ADS_2