
Aku menatap Linda, mencari kebenaran dari matanya. Namun, aku tahu, Linda sangatlah jujur. Aku tidak menemukan celah kebohongan dari matanya.
“Jangan terlibat apapun dengan dia, Mbak.” kata Linda.
“Suamiku kemarin berniat untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan tenun miliknya..” kataku.
“Kalau boleh kusarankan, jangan, Mbak. Dalang yang membuat Mas Aaron bisa tidak sengaja menabrak Ayah Farha adalah dia. Dia yang menyabotase mobil Mas Aaron karena kerja sama perusahaan tidak berujung baik, perusahaan Mas Aaron menolak bekerja sama lagi dengannya.” kata Linda.
“Menyabotase? Ya Allah, jahat sekali dia. Aku benar-benar tidak menyangka ada orang sejahat itu.” Kataku.
“Akupun berpikir demikian, Mbak. Ntahlah. Kami sudah tidak mau lagi berhubungan dengan dia.” kata Linda.
Setelah puas bercarita, Aku dan Lindapun turun dan bergabung dengan Aaron dan Mas Faiz. Aku menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Tante Yeni dan Om Adi.
“Siapa yang kau cari, An?” tanya Mas Faiz.
“Di mana Tante Yeni dan Om Adi?” tanyaku.
“Oh, mereka keluar, katanya ada urusan.” Kata Mas Faiz.
Aku mengangguk. Pantas saja tadi Tante Yeni dan Om Adi sudah memakai pakaian bagus, pakaian seperti orang mau pergi.
“Apa kalian sudah benar-benar menikah, Nin?” tanya Aaron.
Aku mengangguk.
“Tentu saja. Apa kau meragukan pernikahanku?” tanya Mas Faiz.
Dia terlihat seperti tidak mau melihat Aaron mengobrol denganku.
“Aku tanya dia, bukan kau.” kata Aaron.
“Saya hanya mewakilinya saja.” jawab Mas Faiz enteng.
“Ck, padahal dulu kau bilang kau tidak tertarik padanya, lihatlah kini kau bahkan menikahinya.” kata Aaron sambil mencibir.
“Siapa yang bilang tidak tertarik?” tanya Mas Faiz tidak mau kalah.
“Saksi ini buktinya. Kalau sofa bisa bicara, habis kau.” kata Aaron sambil menepuk sofa yg sedang di dudukinya.
Aku dan Linda terkekeh mendengar perdebatan antara Mas Faiz dan Aaron. Meski kata-kata Aaron terdengar sinis namun kami tahu, dia hanya sedang bercanda.
“Kau ini benar-benar menyebalkan.” kata Mas Faiz.
“Lebih menyebalkan mana dengan orang yang tidak pernah bertemu namun terlihat begitu overprotektif? Bukan suami, bukan pacar, bahkan bukan teman, tapi mendengar aku ingin mendekati gadis itu justru kau larang.. bahkan kau katakan kalau gadis itu milikmu, padahal melihat wajahnya pun kau tidak pernah..” kata Aaron.
Mas Faiz buru-buru membekap mulut Aaron yang sedang menceritakan masa-masa lalu mereka. Aku tidak tahu persisinya di mana atau bagaimana cerita tentang itu sepenuhnya. Namun yang pasti gadis yang dimaksud Aaron adalah diriku.
“Ppfttt..” Aaron tidak bisa melanjutkan ceritanya.
“Jangan dengarkan dia, An. Hehe.” kata Mas Faiz. Dia tersenyum untuk menutupi rasa malunya.
Aku hanya bisa tertawa. Begitu juga dengan Linda. Aaron kini bisa melepaskan diri dari Mas Faiz.
“Jadi, begini, Nin..” kata Aaron kembali memancing kemarahan Mas Faiz.
__ADS_1
“Aaron! Jangan ceritakan apapun pada istri saya!” serunya.
Bibir Aaron tertarik. Menandakan dia sedang menahan senyum melihat Mas Faiz yang terlihat frustasi.
“Kau ini benar-benar..” kata-kata Mas Faiz kini kembali dipotong oleh Aaron.
“Nindy..” panggil Aaron.
“Tidak, kamu tidak boleh memandangi istri saya!” seru Mas Faiz menghalangi penglihatan Aaron agar Aaron tidak melihatku.
“Kau lihat kan. Suamimu bukan hanya balok es, tapi batu pecemburu.” kata Aaron sambil terkekeh.
...***...
Pukul 20.00 WIB.
Kami pulang dari rumah Linda. Sesampainya di rumah aku mandi dan berganti pakaian, begitu pula dengan Mas Faiz. Selesai berpakaian, Mas Faiz mendekatiku. Aku sudah salat Isya di rumah Linda, dan Mas Faiz pun sudah salat di Masjid dekat rumah Linda.
“Mas, apa Farha akan baik-baik saja?” tanyaku.
“Mengapa dia tidak akan baik-baik saja?” Mas Faiz menjawab pertanyaanku dengan pertanyan.
“Aku takut dia mendapat pengaruh yang buruk dari Kak Ulfa.” kataku.
“Kita doakan saja agar hal-hal itu tidak terjadi.” kata Mas Faiz.
Aku memeluk suamiku manja. Namun tiba-tiba perutku berbunyi. Menandakan kalau perutku minta diisi.
“Kau lapar?” tanya Mas Faiz sambil terkekeh.
“Ah, Mas. Aku malu.” kataku sambil menutup kedua mataku.
“Eh, biar aku saja.” kataku.
“Tidak apa-apa, biar Mas saja.” kata Mas Faiz. Dia sudah beranjak dan berjalan menuju pintu.
“Kalau begitu aku ikut.” Kataku sambil memeluknya dari balakang. Mas Faiz terkekeh.
Mas Faiz menggorengkan dua telur dadar untukku dan dirinya. Untuk nasi, kami masih memiliki persediaan nasi jadi tidak perlu memasak lagi.
“Enak sekali, Mas.” kataku. Menuju masakan suamiku.
“Tidak seenak masakanmu.” kata Mas Faiz sambil tersenyum.
Aku tersipu malu. “Aku bahkan tidak bisa memasak.” kataku sambil mengerucutkan bibir.
“Kamu bisa, An. Selama ini kamu memasak untukku.” kata Mas Faiz.
“Tapi hanya telur, naget dan sosis setiap hari.” kataku.
“Mas tidak keberatan makan apapun asal masakan istriku. Bahkan bila seumur hidup Mas harus makan telur goreng setiap hari, rasanya aku rela, An.” kata Mas Faiz.
“Masss..” kataku. Kata-kata suamiku manis sekali. Aku bertekad akan belajar masak banyak hal besok-besok.
Mas Faiz terkekeh.
__ADS_1
“An, mulai besok Mas sudah harus aktif pergi ke kantor, Mas carikan asisten rumah tangga dan satpam ya?” tanya Mas Faiz.
“Mas, aku masih ingin berduaan denganmu.” kataku.
Jujur aku habis menonton berita tentang pembunuhan yang dilakukan oleh asisten rumah tangga pada majikannya sendiri. Aku masih takut karena itu.
Mas Faiz tersenyum. Dan menjawab pertanyaanku sambil mengusap pipiku.
“Mas, bolehkah aku tanya bagaimana kerja sama perusahaan dengan Dimas?” tanyaku.
“Memang kenapa?” tanya Mas Faiz.
“Aku hanya ingin tahu, Mas.” kataku.
“Kau mendengar tentang sabotase itu dari Linda?” tanya Mas Faiz.
Akupun mengangguk. “Aku benar-benar khawatir, Mas.” kataku.
“Kamu tidak perlu khawatir ya. InsyaAllah tidak aka terjadi apa-apa. Kerja sama itu, Mas batalkan.” kata Mas Faiz.
“Maafkan aku ya, Mas.” kataku.
“Jangan meminta maaf, An. Kamu tidak salah. Jadi jangan minta maaf. Aku juga tidak suka mendengarnya.” kata Mas Faiz.
Akupun mengangguk.
...***...
Keesokkan harinya, Mas Faiz harus pergi ke kantor. Mengingat Mas Faiz yang sudah cukup lama tidak ke kantor membuatku merasa aku harus merelakan suamiku ke kantor. Lagi pula ini adalah pekerjaannya, aku tidak mau menghalangi suamiku. Meski jujur aku lebih suka Mas Faiz di rumah bersamaku.
Aku menyiapkan pakaian suamiku. Setelah suamiku memakai setelan kemeja dan jas aku emnatap suamiku, dia benar-benar tampan. Meski ini bukan kali pertama aku melihat suamiku memakai baju formal seperti itu namun jantungku masih saja berdegup dengan kencang dan mengakui ketampanannya. Suamiku sangatlah tampan.
“Bolehkah aku memasangkan dasimu, Mas?” tanyaku.
Mas Faiz mengangguk. Dia mendekatiku. Akupun berdiri.
Aku mulai mengatur panjang pendek bagian kanan dan dasi itu, lalu mulai menyimpul dan sedikit merapikannya. Ini adalah kali pertama aku memakaikan dasi pada seorang laki-laki, terlebih suamiku. Aku benar-benar merasa bahagia. Mungkin inilah yang di rasakan wanita yang telah menikah.
Setelah selesai, aku mendongak. Jarak wajahku dan Mas Faiz kini sangat dekat. Aku buru-buru mundur. Aku memegangi dadaku sendiri. Aku seperti hampir tidak bisa bernafas.
“Ada apa?” tanya Mas Faiz bingung.
“Ah? Tidak ada apa-apa, Mas.” kataku sambil nyengir kuda.
Aku dan Mas Faizpun turun ke bawah. Di depan rumah, Mas Faiz membuka gerbang rumah. “Mas berangkat dulu ya.” kata Mas Faiz.
Akupun meraih tangan suamiku dan mencium punggung tangannya.
“Hati-hati di jalan, Mas.” Kataku.
“Jaga dirimu baik-baik. Kalau ada apa-apa telepon Mas, oke?” tanyanya.
Aku mengangguk. Tiba-tiba Mas Faiz mendekat. Kali ini aku tidak mundur. Mas Faiz pun mencium dahiku mesra.
Pipiku merona seketika.
__ADS_1
“Aku pergi, Assalmualaikum.” salam suamiku.
“Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh.” akupun menjawab salam.