Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 25 - Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 19.30 WITA. Mas Faiz sudah rapi dengan pakaian formalnya yang menambah kadar ketampanannya meningkat drastis. Meski biasanya kadar ketampanan Mas Faiz sudah tinggi, namun kali ini jauh lebih tinggi lagi. Suamiku, terlihat seperti model.


“Apa ada yang salah dengan pakaianku, An?” tanya Mas Faiz.


“Eh, tidak, Mas. Tidak ada yang salah.” jawabku.


“Kamu sudah siap?” tanya Mas Faiz.


“Apa tidak apa-apa mengajakku?” tanyaku.


“Tentu saja tidak apa-apa. Mas tidak mau membiarkan kamu sendiri di sini.” kata Mas Faiz.


Aku mengamati sebuah gaun panjang yang ku kenakan. Aku memakai gaun putih. Aku tidak tahu apakah pakaianku ini tergolong baik untuk menghadiri pertemuan itu.


“Apa aku terlihat memalukan, Mas?” tanyaku.


Mas Faiz menghampiriku, lalu mengecup dahiku singkat. “Kamu sangat cantik, An. Sampai rasanya Mas tidak ingin orang lain melihat kecantikanmu.”


Aku tersipu malu mendengar ucapan suamiku.


“Kamu sudah siap?” tanya Mas Faiz.


“Sudah.” kataku.


Mas Faiz pun mengisyaratkan aku untuk bergandengan tangannya. Akupun melakukan hal tersebut dengan malu-malu. Lalu kamipun keluar. Kami bertemu di restaurant hotel tempat kami menginap.


Saat aku dan Mas Faiz keluar, aku melihat Kak Ulfa dan Revan yang juga keluar kamar. Revan memang ikut bersama kami, namun aku tidak tahu ke mana Kak Ulfa akan pergi.


“Hai, Iz, Dik, dan Van.” sapa Kak Ulfa ramah.


“Hai, Kak.” kataku balas tesenyum ramah.


Revan tersenyum, sedangkan suamiku hanya mengangguk tanpa ekspresi. Benar-benar seorang Mas Faiz sejati. Aku merasakan Revan menatapku, dan Kak Ulfa melirik tanganku yang setengah memeluk lengan Mas Faiz.


“Kakak mau ke mana?” tanyaku, melihat Kak Ulfa memakai gaun juga.


“Kaka, mau cari makan.” kata Kak Ulfa.


Akupun mengangguk. Kamipun naik ke lantai atas bersama. Restaurant hotel ini berada di atas gedung.


Di dalam restaurant Kak Ulfa pamit untuk berpisah. Jujur aku sangat tidak enak membiarkan Kak Ulfa sendiri. Namun, saat aku menawarkan diri untuk menemaninya, Kak Ulfa tidak mau. Sesaat aku berpikir kalau Kak Ulfa ingin menemui seseorang, jadi aku tidak memaksakan diri.


Revan memandu aku dan Mas Faiz ke sebuah meja yang telah ia pesan. Di sana kami menunggu pengusaha kain tenun datang. Tidak lama kemudian, Revan bangkit.


“Pak Faiz, Bapak Anggara sudah datang.” katanya.


Mas Faiz dan akupun berdiri mendengar kata-kata Revan.

__ADS_1


“Selamat datang, Bapak Anggara.” kata Revan. “Pak Faiz ini adalah Bapak Anggara.” Lanjutnya.


Mas Faiz menoleh. Aku melihat keterkejutan di mata Mas Faiz saat melihat wajah Pak Anggara. Tidak kusangka, Pak Anggara datang sendiri.


“Lama tidak bertemu, Is..” kata Pak Anggara sambil terkekeh. Pak Anggara mengulurkan tangan.


“Dimas..” kata Mas Faiz, sambil menerima jabatan tangannya.


“Lho, Pak Faiz dan Pak Anggara ternyata sudah saling mengenal?” tanya Revan.


“Tentu saja, kami adalah teman satu pondok dulu.” jelas Dimas.


Aku mengamati wajah suamiku yang terlihat sangat dingin.


“Dan, nona cantik ini?” tanya Pak Anggara sambil melirikku.


“Oh, kenalkan, ini istri saya, Dim.” kata Mas Faiz.


“Perkenalkan, saya Dimas Anggara.” kata Pak Anggara tersenyum sambil mengulurkan tangannya padaku.


Aku balas tersenyum dan menyatukan tanganku di depan dada. “Saya Nindy.” kataku.


Pak Dimas terdiam saat melihatku tersenyum, tatapannya terlihat sangat jauh berbeda saat dia menatap Mas Faiz dan Revan. Dia terlihat seperti terpesona, mungkin? Aku juga tidak tahu hanya saja dia terus menerus menatapku hingga membuatku tidak nyaman.


Mas Faiz yang seperti menyadari keadaan ini langsung maju ke depanku, seakan menutupi wajahku dari Pak Anggara atau Pak Dimas. “Silakan duduk, Dim!” seru Mas Faiz.


“Jadi, ini bukan sebuah kebetulan?” tanya Mas Faiz.


Pak Anggara, ah aku sebut Dimas saja, agar lebih mudah. Dimas terkekeh mendengar ucapan Mas Faiz. Dalam hati akupun memikirkan hal serupa dengan suamiku.


“Betul, Is. Karena saya tahu perusahaan itu milikmu, saya sengaja tidak mau menandatangai surat kerja sama perusahaan kita hanya melalui sekretarismu saja. Saya benar-benar menantikan pertemuan kita.” kata Dimas.


Revan mengisyaratkan seorang pelayan untuk datang. Saat pelayan itu datang, dia berbisik pada pelayan itu. Setelah selesai berbisik, pelayan itupun pergi meninggalkan Revan.


“Pantas saja. Bagaimana kabarmu?” tanya Mas Faiz.


“Seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Kau tentu jauh lebih baik dari saya, bukan?” tanya Dimas terkekeh sambil melirikku.


Suamiku tersenyum singkat. Aku hanya tersenyum menanggapi.


“Baiklah, berikan saya surat kerjasama itu, sesuai janji saya akan menandatanganinya.” kata Dimas pada Revan.


“Apa tidak sebaiknya kita makan terlebih dahulu, Dim?” tanya Mas Faiz.


“Tidak, Faiz. Ini adalah waktu pertemuan kita setelah sekian lama, saya tidak mau diganggu pekerjaan setelah ini.” kata Dimas.


“Baiklah kalau seperti itu.” kata Mas Faiz. Mas Faiz mengangguk pada Revan. Revan buru-buru mengeluarkan berkas yang perlu di tandatangani oleh Dimas.

__ADS_1


Dimas langsung menandatangani surat kerjasama itu.


“Tidak dibaca terlebih dahulu, Pak?” tanya Revan.


“Tidak perlu, saya percaya Faiz tidak akan merugikan saya.” kata Dimas.


“Tentu saja, Pak. Saya sangat bisa menjamin kalau Pak Faiz tidak akan merugikan atau membohongi perusahaan, Bapak.” Revan mengangguk meyakinkan.


Dimas mengangguk. Tak lama kemudian, pelayan datang mengantarkan banyak makanan. Aku merasa seseorang terus memperhatikanku, akupun melirik Dimas dan Revan. Melihat tatapan kedua mata mereka aku jadi tidak nyaman, aku melirik suamiku.


“Mari makan!” seru Mas Faiz, memecah lamunan Dimas dan Revan.


Dimas mengedarkan pandangannya ke arah lain. “Ulfa!” panggil Dimas tiba-tiba.


Aku refleks mengikuti pandangan mata Dimas. Dan aku melihat kakakku berjalan ke arah kami saat Dimas memanggilnya. Aku mulai bertanya-tanya apakah Dimas mengenal kakakku.


“Hai, Dim!” sapa Kak Ulfa sambil tersenyum manis.


“Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?” tanya Dimas sambil mengulurkan tangannya pada Kak Ulfa.


“Kabarku, baik. Bagaimana denganmu?” tanya Kak Ulfa. Dia menjabat tangan Dimas mantap, masih dengan senyumannya yang sama.


“Melihatmu, membuatku semakin lebih baik.” kata Dimas sambil terkekeh.


Kak Ulfapun melakukan hal serupa. Aku menoleh ke arah suamiku.


“Kau masih saja suka menggombal.” kata Ulfa.


Dimas terkikik. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Dimas.


“Perusahaanku mengirimku untuk belajar memasak masakan Lombok dari Chef Arya di restaurant ini, jadi aku datang kemari.” kata Kak Ulfa.


“Kebetulan sekali, Chef Arya adalah temanku. Eh, ngomong-ngomong, apa kau sudah makan?” tanya Dimas.


Kak Ulfa menggeleng sambil tersenyum, “Belum.” katanya.


“Bergabunglah dengan kami.” kata Dimas. Dimas melirik kami, “Boleh kan?” tanyanya.


“Tentu saja.” jawab Mas Faiz.


“Lho, Gus Faiz, Nindy, Revan, kebetulan sekali.” kata Kak Ulfa.


“Kalian saling mengenal?” tanya Dimas.


“Nindy adalah adikku.” kata Kak Ulfa.


“Wah, ini adalah suatu kebetulan yang hebat.” kata Dimas. “Duduklah..” lanjutnya.

__ADS_1


Dimas menarik bangku kosong, mempersilakan Kak Ulfa. Kak Ulfa tertawa, lalu mengangguk. “Terima kasih.” katanya dengan sangat anggun.


__ADS_2