Penjara Suci

Penjara Suci
PS 34 - Sosok Misterius


__ADS_3

Setelah ditinggal Gus Faiz akupun memutuskan untuk ke kamar. Sekarang aku tak ragu lagi. Ntah bumbu apa yang digunakan Gus Faiz pada kata-katanya hingga aku menurut begitu saja.


“Mbak Nindy, anu, Mbak, nanti tukaran mukena ya, Mbak.” kata Tika. Kini temanku membludak. Mereka melupakan kebencian padaku karena pernah membuat Gus Faiz kena hukuman.


Mereka semua ternyata sangat welcome padaku. Aku hanya bisa tersenyum miris saat memikirkan kenapa tidak sejak awal aku seperti ini. Apa aku benar-benar akan berubah?


Kami semua saling berbagi. Saat satu diantara kami maksudku selain aku tentunya ada yang dijenguk oleh sanak keluarganya (di sini mereka menyebutnya bustelan) pasti sanak keluarganya itu membawa makanan. Dan kami di kamar ini pasti mendapatkan jatahnya.


Contohnya, semalam, semalam ibu dari Nafiz datang membawa es kelapa muda dalam plastik besar. Ketua kamarku langsung meminjam baskom untuk menuang air es kelapa itu lalu kami ber-27 (karena Nafiz punya sendiri) saling beradu sendok agar dapat menikmati es kelapa itu dengan jumlah banyak.


Rasanya aneh. Aku bahkan tidak jijik saat terus ikut berkumpul dengan mereka yang sudah seperti zombie kelaparan. Awalnya tentu ragu, dan punya perasaan jijik. Namun, anak-anak kamar berhasil membujukku, hingga aku mencoba es kelapa ini dan mulai menghilangkan kejijikan itu. Sejak di sini aku merasa perutku selalu ingin dimanjakan. Apapun makanan yang diberikan padaku ntah mengapa selalu terasa enak. Aku merasa mataku mulai hijau melihat makanan, persis seperti orang kelaparan dan lebih tepat lagi seperti orang yang baru pertama kali liat makanan. Menyedihkan memang tapi itulah yang terjadi.


“Yaudah ambil aja, itu ada di atas lemari.” kataku.


“Mbak Nindy, anterin aku yuk, Mbak, mau kasih renda untuk mukenaku.” kata Farha.


“Sekarang?” tanyaku. Farha mengangguk.


Kami pun keluar pondok. Dan mulai berjalan menuju tempat ibu-ibu penjahit yang waktu itu tempat aku beli baju. Setelah memesan warna apa yang ingin dipakai untuk renda, Farha menyerahkan mukenanya yang baru saja kering dari cucian. Rendanya rusak, jadi dia ingin mengganti renda tersebut. Setelah itu kami berdua pamit.


“Mbak, di Jakarta itu ada Monas ya, Mbak? Aku waktu itu lewat lho, Mbak.” kata Farha. Dia mulai penasaran lagi dengan suasana ibukota.


“Iya, ada Monas. Terus kamu masuk ke monasnya?” tanyaku.


“Sayangnya ndak, Mbak. Menurut buku yang pernah aku baca kita bisa naik ke atas Monas ya, Mbak? Katanya jika kita naik ke atas, kita bisa lihat seluruh Jakarta ya, Mbak?” tanya Farha. Matanya berbinar-binar. Terlihat sekali kalau dia sangat ingin mengunjungi monas.


“Iya makanya main ke Jakarta." kataku.


“Nanti kalo aku ke Jakarta aku nginep di rumah Mbak ya, Mbak hehehe" kata Farha.


Aku tersenyum kecut. ‘Di rumah mbak’ kenapa terasa menohok sekali frasa ini. Farha yang mulai menyadari ekspresiku terlihat salah tingkah. Tunggu. Kenapa dia harus salah tingkah?


“Maaf, Mbak.” kata Farha.


“Minta maaf buat apa?” tanyaku.

__ADS_1


Tiba-tiba aku ingin buang air kecil.


"Far, aku ke toilet dulu ya." akupun berlari berniat menuju kompleks pondok terdekat.


BRUUUGG!


Aku tak sengaja menabrak seseorang.


“Sorry-sorry-sorry.” kataku. Aku benar-benar tak sengaja menabrak seseorang.


Awalnya aku kira Gus Faiz karena aku dulu pernah tak sengaja menabraknya. Menyedihkan memang disaat seperti ini aku malah memikirkan Gus Faiz.


Aku menabrak seorang santri dengan mukena beranda kuning. Dia buru-buru pergi sebelum aku sempat melihat wajahnya. Santri aneh. Memangnya aku hantu? Hei, mana ada hantu secantik diriku?


“Tunggu!” teriakku.


Santri itu tak bergeming. Dia terus berjalan bahkan menambah kecapatan melangkahnya. Dia terlihat sangat ketakutan. Tapi sepertinya aku pernah melihatnya, gesturnya, tak asing.


Ah, iya dia juga santri yang waktu itu aku dihukum sama Gus Faiz. Tapi siapa dia? -tanyaku dalam hati.


“Far, kamu tadi liat santri barusan kan? Dia siapa?” tanyaku.


Kami kembali melanjutkan perjalanan dalam diam. Aku tidak mau mengungkit hal sepele seperti tadi. Tak ada gunanya dan tak membuatku amat penasaran juga.


Seketika langkah kita berhenti.


Dari arah berlawanan datang segerombolan santri putra lengkap dengan sarung, baju koko, peci, sapu, dan Al-Qur’an di masing-masing tangan kanan mereka.


“Ya Allah, Mbak, kita gimana ini?” tanya Farha mulai panik.


Posisi kami sudah sampai di depan Ndalem Abah.


“Kok mereka bisa masuk kawasan putri?” tanyaku.


“Kayaknya si mau ziarah, Mbak. Eh, apa bersihin makan, ya?” kata Farha. Bertanya dengan diri sendiri.

__ADS_1


“Mbak, aku takut.” kata Farha. Farha mulai ketakutan karena santri kian mendekat. Tempat ziarah yang dimaksud Farha berada di samping Masjid jadi mau tidak mau mereka pasti akan melewati kami. Aku menengok ke sebelah kanan. Dan satu ide terlintas di kepalaku.


“Ayok ikut gue!” aku langsung menarik Farha untuk masuk ke Ndalem Abah.


“As-salamu’alaikum.” salamku. Begitu juga dengan Farha.


Dan pemandangan pertama yang aku lihat adalah Umi yang sedang duduk berdua dengan santri berenda kuning. Itu dia! Aku pun menghampiri mereka masih dengan tangan Farha yang tiba-tiba berubah suhu menjadi dingin di genggamanku. Mungkin efek ketemu sama santri putra tadi. Sangat hiperbola menurutku namun itulah sifat Farha dan santri putri lain saat dihadapkan dengan seorang putra.


Aku mencium tangan Umi. Setelah itu menengok ke arah santri bermukena renda kuning. Senyumku yang sedari tadi terbit langsung menghilang bak ditelan bumi.


KAK ULFA! - teriakku dalam hati.


Dia begitu terkejut. Sama seperti Umi dan Farha yang terlihat begitu tegang.


“Kak Ulfa?” kataku. Suaraku tiba-tiba tercekat ditenggorokan.


Aku yang cepat mengetahui situasi, langsung memilih pergi.


“Nindy, Nindy dengerin kaka dulu, Nindy!" kata Kak Ulfa. Penuh dengan kepanikan.


Otakku mulai memutar adegan dimana aku sering melihat sosok santri putri misterius yang selalu ketakutan saat bertemu denganku ini. Dan hari ini, detik ini, di rumah ini, semuanya telah jelas, dia Kak Ulfa. Kalau Kak Ulfa ada di sini selama itu, berarti Kak Ulfa tahu kalau aku tidak benar-benar pergi dari pon-pes ini.


Kalau Kak Ulfa ada di sini, artinya Mama dan Papa pasti mengetahui semuanya. Dan bodohnya aku tidak sadar juga kalau Umi yang notabene adalah sahabat Mama pasti menceritakan semuanya kepada Mama. Dan mengapa Farha terlihat tegang? Oh, aku tidak mau berpikir lagi. Dan jika benar begitu. Gus Faiz telah berbohong padaku.


Selamat, Gus! -batinku.


Kak Ulfa terus mengejarku hingga keluar. Aku menoleh.


“Apa Mama dan Papa tau?” tanyaku, dengan dingin. Hartiku sakit. Sangat sakit.


Siapa yang tidak sakit ketika kita sudah mempercayakan semua orang tapi orang yang kita percayakan malah berkhianat?


Air mata Kak Ulfa membanjir di pipinya. Aku tidak mau lagi melihatnya. Dia mengangguk.


"Jangan ikutin gue." kataku.

__ADS_1


Aku tak bisa berkata-kata lagi. Dan langsung saja aku berlari ke pondok. Aku tidak peduli dengan santri putra yang masih memadati jalanan di depan Ndalem Abah. Dunia ini egois! Tak pernah kiranya dunia ini memihakku.


Sekotor apa tubuh ini hingga aku harus menangung kesakitan-kesakitan ini? Penghianat! -rutukku dalam hati.


__ADS_2