Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 36 - Kabar Gembira


__ADS_3

Tiba-tiba perutku kembali merasakan mual yang dahsyat dan lagi-lagi aku kembali memuntahkan makananku pada Kak Ulfa.


“Ah!” teriak Kak Ulfa, dia tidak siap dengan seranganku yang mendadak.


Kak Ulfa buru-buru berlari ke kamar mandiku. Untuk membersihkan bekas lendir muntahanku. Aku benar-benar merasa bersalah padanya. Untuk kedua kalinya Kak Ulfa datang dan 2 kali pula aku memuntahan isi perutku pada dirinya.


“Astgahfirullah, Mbak.” pekik Farha.


Farha mengusap punggungku khawatir. Dia buru-buru mengoleskan minyak kayu putih di leherku bagian belakang. Dia terlihat sangat khawatir padaku.


“Ya Allah, Nin. Kamu tidak apa-apa, Nak?” tanya Mama mendekatiku.


Aku menggeleng. Perutku kini sudah merasa lebih baik.


“Aku tidak apa-apa, Ma.” kataku.


Tak lama kemudian Kak Ulfa keluar dari kamar mandi. Dia berjalan mendekat. Aku kembali merasakan mual yang sangat dahsyat.


“Tidak-tidak, aku tidak mau terkena muntahanmu lagi, Nin!” seru Kak Ulfa. Kak Ulfapun berlari keluar kamarku.


Aku tidak jadi memuntahkan isi perutku. Aku benar-benar bingung. Kini, aku tidak lagi mual. Ada apa dengan tubuhku sebetulnya? Aku memandangi tubuhku dan mulai berpikir kalau aku terus mual jika Kak Ulfa berada di dekatku.


“Kamu tadi siang makan apa, Nak? Mengapa bisa sampai seperti ini? Apa, jangan-jangan..” belum selesai Mama melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Aku membetulkan jilbabku.


“Masuk saja tidak dikunci.” kataku.


Knop pintupun diputar dan muncullah suamiku di sana, dan di belakangnya disusul seseorang wanita paruh baya membawa sebuah tas. Dia tersenyum padaku. Akupun tersenyum membalas.


“Ma, An, Ini adalah Dokter Maria.” kata Mas Faiz.


“Saya Maria.” kata Dokter Maria sambil mengulurkan tangan pada Mama. Dokter Maria tersenyum pada Mama.


“Rina. Tolong periksa anak saya dokter..” kata Mama membalas sambil tersenyum.


Lalu Dokter Maria pun beralih padaku.


“Jadi, kau Nindy? Istri Faiz?” tanya Dokter Maria.


Aku mengangguk. “Betul, Dok.”


“Pantas saja dia tidak mau kujodohkan dengan putriku. Kau cantik sekali.” kata Dokter Maria sambil terkekeh.


Aku tersenyum sambil melirik Mas Faiz. Mas Faiz salah tingkah.


“Terima kasih, Dok.” kataku.


“Wah, kamu sangat beruntung berarti, Nak.” kata Mama sambil terkekeh.

__ADS_1


“Saya yang beruntung memiliki istri seperti Anin, Ma.” kata Mas Faiz.


Dokter Maria dan Mama tertawa. Aku hanya bisa tersenyum. Sedangkan Farha hanya diam. Dia seperti memikirkan sesuatu. Namun aku tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya.


Tak lama kemudian, Dokter Maria langsung memeriksa. Beliau mengecek sana sini dengan peralatan dokter yang di bawanya. Tiba-tiba Dokter Maria tersenyum.


Kami semua menatap Dokter Maria menunggu jawaban, Hanya Mama yang rautnya terlihat sangat gembira, beliau seakan tahu apa yang akan disampaikan Dokter Maria.


“Istri saya sakit apa, Dok?” tanya Mas Faiz.


“Selamat, Faiz. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah.” kata Dokter Maria.


Mas Faiz terdiam di tempat. Akupun sama. Aku mulai meragukan pendengaranku.


“Istri saya hamil, Dok?” tanya Mas Faiz.


Dokter Maria tersenyum dan mengangguk.


“Alhamdulillahirabbil alamin..” kata Mas Faiz.


“Masss..” kataku.


Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Mas Faiz buru-buru menerjangku. Dia memelukku dengan sangat erat. Kami tak saling mengungkapkan sesuatu. Karena benar-benar merasa bahagia. Sangat bahagia hingga kami tidak mampu berkata-kata. Mas Faiz melepaskan pelukanku lalu mencium dahi, pipi kanan, pipi kiriku dan bibirku singkat. Aku terperangah.


Mata Mas Faiz memerah. Satu air mata mengalir dari mata kanannya. Aku buru-buru mengusapnya lembut. Lalu dia memelukku lagi singkat. Kami benar-benar lupa pada keberadaan semua orang.


“Nindy!” seru Papa.


“Kamu sakit apa, Nak?” tanya Papa.


Sorot mata Papa terdengar sangat mengkhawatirkan aku. Aku benar-benar beruntung bisa memiliki orang tua yang sangat menyayangiku dan perhatian padaku.


“Nindy tidak apa-apa, Pa.” kataku.


“Pa, sebentar lagi kita akan menjadi Kakek dan Nenek.” kata Mama. Menghampiri kami.


“Apa Papa tidak salah dengar?” tanya Papa.


“Tidak, Pa. Apa yang dikatakan Mama memang benar.” kata Mas Faiz.


Mata Mas Faiz terlihat sangat berbinar-binar saat mengatakannya. Papa menatapku, beliau tidak bisa berkata-kata lagi. Lalu beliau memelukku dan Mama bersamaan.


“Terima kasih, ya Allah. Terima kasih.” kata Papa.


Aku merasakan mual tiba-tiba.


“Ada apa sih?” tanya Kak Ulfa. Yang tiba-tiba datang.

__ADS_1


Kak Ulfa kini bergabung dengan Aku, Papa dan Mama. Tidak-tidak aku tidak boleh memikirkan kalau aku akan lebih mual, tidaaakkk..


“Oek!” aku menutup mulutku lagi. Aku benar-benar merasakan mual.


“Kak Ulfa, lebih baik kakak di luar dulu. Bukan maksud saya tidak sopan. Hanya saja sepertinya Kakak belum bisa menemui istriku saat ini.” kata Faiz.


“Oek!” kataku mual lagi. Kini keluar lagi, namun hanya cairan bening karena isi peutku sudah terkuras untuk muntahan pertama di ruang tamu dan muntahan di kamar barusan.


“Argh!” seru Kak Ulfa.


Kak Ulfapun keluar kamar, matanya memancarkan kemarahan padaku. Aku benar-benar merasa tidak enak. Namun aku sendiripun jujur sangat bingung. Mengapa tiap kali Kak Ulfa mendekat aku selalu mual dan muntah.


“Istri saya mengapa mual-mual seperti itu, Dok?” tanya Mas Faiz.


“Sebelum saya jawab, bolehkah saya ajukan beberapa pertanyaan?” tanya Dokter.


Mas Faiz mengangguk mantap.


“Siapa gadis cantik tadi?” tanya Dokter.


“Kakak Ipar saya.” Jawab Mas Faiz.


“Apa setiap dia bertemu dengannya istrimu, istrimu selalu merasakan mual dan muntah seperti tadi?” tanya Dokter.


“Saya tidak yakin, namun sejak kedatangan kami tadi, bila saya perhatikan memang seperti itu, Dok.” kata Mas Faiz. “Sebetulnya istri saya kenapa, Dok?” tanya Mas Faiz.


Dokter Maria tersenyum melihat Faiz.


“Ini hal lumrah yang dialami calon ibu, Nak. Cukup jauhkan saya istrimu dari Kakak Iparmu untuk sementara. Tapi jujur saya baru melihat ibu hamil mual karena seseorang. Biasanya ibu-ibu hamil mual karena makanan. Tapi ada juga si kasus-kasus yang lain, salah satunya istri kamu. Suruh istirahat saja, nanti saya berikan resep untuk meredakan mualnya, kau bisa menebusnya di apotek.” kata Dokter.


“Baik, terima kasih. Dok.” kata Mas Faiz.


“Baik, saya permisi dulu ya, semuanya.” kata Dokter Maria sambil mengangguk sopan.


“Saya antar, Dok.” kata Mas Faiz.


Mas Faizpun keluar mengantarkan Dokter Maria. Mataku terus mengikuti punggung suamiku hingga dia tidak terlihat lagi di ruangan ini.


“Mengapa kau mual tiap berada di dekat kakakmu, Nak?” tanya Mama.


“Aku tidak tahu, Ma.” kataku. Sedih. “Aku tidak enak dengan Kak Ulfa.” kataku.


“Ini mungkin perasaan saja. Nindy pasti bukan mual karena Ulfa tapi memang bawaan bayi.” kata Papa.


Aku mengangguk setuju. Akupun merasa aneh dengan pernyataan kalau aku mual karena Kak Ulfa. Kak Ulfa orang yang bersih tidak bau atau kotor. Biasanya aku mual hanya karena sesuatu yang baunya menyengat dan kotor. Ini pasti hanya sebuah kebetulan.


Tiba-tiba perutku sedikit mual. Aku menutup mulutku dangen tanganku. Aku refleks menoleh di belakangku. Semua orangpun sama. Dan benar saja, di sana ada Kak Ulfa yang sedang berjalan ke arahku.

__ADS_1


“Kamu sakit apa sebetulnya?” tanya Kak Ulfa.


Aku buru-buru lari ke kamar mandi. Dan memuntahkan segala isi perutku lagi di kamar mandi. Farha mengikutiku ke kamar mandi. Dia memijit leherku bagian balakang.


__ADS_2