
***
“Ilham, kamu mau kemana?” tanyaku.
Aku mengikuti langkah Ilham yang semakin menjauh. Sejak kapan aku menggunakan aku-kamu kepada Ilham? Aku tidak peduli. Yang ada dipikiranku saat ini hanyalah Ilham yang semakin menjauh di sana.
“Ilham, tunggu!” teriakku.
Aku buru-buru berlari. Menahan tangannya. Aku buru-buru berdiri di hadapannya. Menatap wajah yang selalu aku rindukan. Sahabatku. Dia adalah sahabatku. Yang sering merangkap jabatan sebagai ibuku, ayahku, dan kakak laki-lakiku. Perasaannya padaku tulus sama sepertiku padanya.
“Kemana saja kamu? Tega sekali kamu meninggalkan sahabatmu sendirian. Aku ingin terus bersamamu, kamu tau? Setelah kamu pergi rasanya aku ingin mengakhiri hidupku saja." kataku lirih.
Aku rasa ada yang aneh dengan gaya bicaraku. Kuabaikan semuanya. Yang kunanti adalah jawaban dari bibir Ilham.
“Kamu tidak sendirian.” kata Ilham, sambil tersenyum dan mengusap puncak kepalaku yang tertutup mukena berenda pink milikku. “Allah masih bersamamu.” lanjutnya.
Lidahku kelu. Tak bisa berkata-kata. Allah masih bersamaku, kata-kata yang sangat familiar di telingaku.
Aku berencana menjawab kata-kata Ilham namun ntah dari mana seseorang datang.
“Nindy, maafkan aku, sungguh aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu.” aku menoleh. Gus Faiz ada di sana.
Aku tersenyum sinis. Bahkan saat bersama Ilham, dia tetap muncul ntah dari mana. Setelah pengkhianatan itu aku sangat membencinya. Sungguh. Tak ada yang lebih kubenci dari dirinya.
“Tapi buktinya kamu tetap saja menyakitiku. Kamu pembohong. Ilham tolong. Aku tak mau lagi bertemu dengannya. Dia manusia jahat Ilham. Dia manusia jahaaat.” kataku. Air mataku menderas lagi. Aku tidak mau bertemu dengannya. Aku memukul-mukul dada Ilham.
“Dia jahat, Ilham.” kataku terisak lagi.
“Maafkanlah dia.” kata Ilham sambil menghapus air mataku.
“Untuk apa aku memaafkannya?” kataku.
“Dia tidak jahat Nindy, percayalah dia bermaksud baik. Maafkanlah dia. Bukankah Allah itu Maha Pengampun? Kenapa kita hambanya tidak bisa memaafkan kesalahan sesama?” kata Ilham. Tangisanku terhenti.
“Kau mau aku memaafkannya?” tanyaku. Ilham mengangguk. “Tunjukkan siapa orang kamu maksud menyayangiku jauh dari kamu menyayangiku.” kataku.
“Mendekatlah padanya dan maafkan dia.” kata Ilham. Ada nada memaksa dengan halus di dalamnya.
“Tapi kamu belum menjawab..” kata-kataku dipotong Ilham lewat sorot matanya. Sampai detik ini aku tak bisa membantah kata-kata Ilham. “Baiklah.” kataku mulai mendekati Gus Faiz. Aku memejamkan mata.
"Tapi aku mau kau janji." kata Ilham.
__ADS_1
"Apa?" tanya Ilham.
"Kamu nggak boleh ke mana-mana. Selama aku bersamanya." kataku.
"Aku selalu ada di dekatmu." katanya sambil menunjuk gelang perak pemberiannya.
Aku mengangguk dan mulai mendekati Gus Faiz.
Tak kusangka Gus Faiz memelukku begitu saja. Rasa nyaman itu datang lagi. Rasa aneh itu menguasai jiwaku. Seketika aku lupa cara membenci. Tapi disatu sisi Ilham mulai menjauh.
“Ilham! Kau mau kemana? Jangan tinggalkan aku Ilham!” kataku sambil melepaskan pelukanku pada Gus Faiz.
Ilham terus berjalan sambil tersenyum penuh arti kepadaku dan juga Gus Faiz. Aku hendak mengejar Ilham di sana namun tanganku dicekal oleh Gus Faiz. Jadi aku hanya bisa menangis pasrah.
“Ilham, jangan pergiii!” teriakku.
Gus Faiz kembali membawaku kepelukannya.
***
"Ilham. Jangan pergi. Aku mohon Ilham. Ilham!" teriakku.
Aku merasakan pipiku basah. Tidak. Aku harus bertemu Ilham. Mimpiku pasti berarti aku harus bertemu dengannya. Dia tidak pergi kemana-mana.
“Mbak, Mbak jangan nangis lagi, Mbak.” suara Farha dan Arum. Farha menyeka air mataku di pipi. Kini aku benar-benar membuka mata. Hal pertama yang kulihat adalah langit-langit kamar. Saat aku mengedarkan pandanganku aku melihat santri-santri kamar yang duduk mengelilingiku. Mereka terlihat sangat khawatir padaku.
"Di mana Ilham?" tanyaku.
"Ilham?" tanya Arum. Wajahnya berpikir.
“Anu, Mbak, Minum dulu, Mbak.” kata Arum, sambil memberikan air putih hangat di gelas. Aku menggeleng lemah.
"Ilham." kataku.
“Mbak, pucet banget, minum obat dulu ya, Mbak” kata Nafiz. Aku hanya menggeleng.
"Ilham." kataku lagi.
“Mbak makan nasi dulu, batalin aja puasanya” kata Farha. Matanya masih merah, mungkin dia habis menangis. Kalau keadaanku tak seperti ini, pasti aku sangat senang untuk membatalkan puasa. Kali ini nafsu makanku hilang.
"Ilham." kataku.
__ADS_1
"Mbak, mau ketemu sama Mas Ilham?" celetuk Arum.
Aku menatap Arum dan mengangguk mantap.
"Tapi Mbak makan dulu ya?" kata Arum.
Aku menggeleng. Aku yakin dia hanya bohong. "Bohong." katanya.
"Sebentar ya, Mbak." kata Arum.
"Mbak-Mbak, sini!" kata Arum.
Mereka semua mengelilingi Arum. Hanya Nafiz yang dibiarkan ada di sampingku. Ntah percakapan apa yang mereka bicarakan, aku tidak tahu karena mereka menggunakan bahasa Jawa.
"Makane aja sampe kedeleleng ding pengurus."
Aku diam saja. Pemandangan langit-langit masih begitu menyenangkan ketimbang mendengarkan kata-kata yang tak kumengerti artinya.
"Mbak, minum ya?" kata Nafiz.
Aku menggeleng lemah. Aku teringat mimpi tadi. Mengapa Ilham tak benar-benar datang di dunia nyataku? Akupun memikirkan apa maksud ucapan-ucapannya yang menyuruhku memaafkan Gus Faiz. Mimpi yang aneh. Aku menatap lemah gelang kesayanganku.
Santri kamar sudah kembali mengelilingiku lagi. Santri-santri mulai memecahkan lamunanku. Mereka sengaja mengajakku ngobrol. Mereka menyuruhku membatalkan puasaku. Menyuruhku makan nasi ala kadarnya dan meminum obat dengan air putih hangat yang semuanya telah lengkap disiapkan ntah oleh siapa yang pasti orang yang telah menyiapkan semuanya adalah teman-teman sekamarku.
Namun, aku tetap menggeleng.
Tak lama kemudian suara pengumumanpun terdengar. Mereka semua berpamitan padaku untuk berangkat ngaji. Dan meminta maaf padaku karena mereka tidak bisa menjagaku. Kini tinggal Farha yang ada di sampingku. Farha sudah diizinkan oleh pengurus untuk menemaniku.
Aku merasa sangat dingin. Farha menambahkan jumlah selimut yang kini membungkus tubuhku. Lalu duduk lagi di sampingku.
“Mbak Nindy, butuh sesuatu?” tanya Farha.
Aku menggeleng. Lalu mulai bergelut lagi dengan pikiran-pikiranku. Mimpiku aneh. Benar-benar aneh. Kenapa kau baru muncul ke mimpiku Ilham? Kenapa juga harus ada Gus Faiz di sana? Aku memejamkan mataku berharap aku bisa tertidur.
Farha membuka kitab yang biasa dihafalnya. Dia kembali menghafal. Ntah sudah baris ke berapa hafalannya sekarang. Dulu tiap aku bertanya apa dia tidak bosan berasa ditempat ini? Jawabannya selalu konsisten, tidak. Karena orangtuanya sangat mengharapkan Farha bisa menjadi seorang ustazah. Harapan yang dia lihat di mata kedua orangtuanyalah yang membuatnya bertahan hingga saat ini.
Aku masih tak percaya kalau dia membohongiku. Aku ingat betul saat-saat kita bersama. Dia begitu sabar, meski berulang kali aku menanyakan hal-hal sepele. Contohnya aku pernah bertanya apa dia juga dulu merasakan tidak bisa makan karena leher terasa tercekik saat memakai jilbab? Apalagi dengan jarum pentul yang salah sedikit bisa membuat kulit leher tertusuk. Dia hanya tersenyum lalu mengangguk, katanya itu hanya bertahan sebentar, kalau sudah lama-lama pasti terbiasa.
Banyak hal-hal yang diceritakan Farha padaku walaupun aku tidak pernah balas menceritakan kehidupanku untuknya.
“Mbak, masih dingin?” tanya Farha. dia menghentikan acara menghafalnya. Lalu dia mengambil 1 helai selimut anak kamar yang sudah tersusun rapih dipojokkan kamar dan menyelimutiku. Aku masih diam. Rasanya suaraku sudah dimakan oleh kelabunya hatiku.
__ADS_1