
“Nak, keluarlah sebentar.” kata seseorang.
Aku menoleh. Aku mengenali suara itu. Itu adalah suara Mama.
“Mama?” tanyaku.
Laki-laki yang mengaku suamiku sudah tidak ada. Kini aku melihat Mama berjalan ke arahku. Aku buru-buru berlari ke arah Mama dan bersujud menciumi kaki mama.
“Mama. Maafkan aku. Aku telah ternoda. Aku telah ternoda.” kataku sambil meraung memeluk kaki Mama.
“Maafkan aku. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga diriku sendiri.” kataku.
Aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi. Aku hanya mengingat kejadian itu. Kejadian seseorang menyentuhku dengan tidak senonoh.
“Bangun, Nak. Bangun..” kata Mama beliau menangis. Aku tidak mau bangun.
Aku benar-benar tidak mau bangun, aku merasa sudah tidak pantas lagi menjadi anak Mama. Aku sungguh tidak pernah mau menjadi aib keluarga Mama.
“Aku telah berdosa.” kataku kembali menangis.
“Tidak, Nak. Tidak.” kata Mama.
Mama memelukku. Aku balas memeluknya dengan erat.
Tak lama kemudian seorang dokter wanita masuk ke ruangan.
“Bu, tolong tinggalkan kami dulu sebentar ya.” kata Dokter itu.
“Baik, Dok.” kata Dokter.
“Tidak, Dokter. Biarkan Mama bersama saya. Saya takut laki-laki itu datang!” seruku panik.
Aku takut. Benar-benar takut. Aku takut bila laki-laki itu datang dan melakukan hal mengerikan seperti sebelumnya.
Aku mulai meraung-raung hingga tiga orang suster datang dan menyuntikku dengan sesuatu dan aku kembali tidur dan tidak mengingat apapun lagi.
***
Aku membuka mataku. Aku tidak mendapati siapapun yang ada di ruangan ini. Namun, sayup-sayup aku mendengar percakapan seseorang.
“Tolong, Nak Faiz. Tolong bebaskan Ulfa.” suara Mama.
“Maaf, Ma. Saya tidak akan membebaskannya. Lihatlah, apa yang telah dilakukannya. Saya tidak akan melepaskannya.” sahut seseorang.
“Siapa Ulfa dan siapa Faiz?” tanyaku pada diri sendiri. Dialah laki-laki itu?
Aku memaksakan duduk dan menyandar dipinggiran tempat tidur. Aku masih di rumah sakit. Aku sangat kecewa. Aku ingin pulang ke rumah.
Aku menengok ke kanan dan ke kiri, mulai merasakan ketakutan lagi. Aku kembali merasakan takut. Aku kembali menengelamkan diriku dalam selimut. Tidak benar-benar menenggelamkan, aku hanya menariknya sampai dada.
Seseorang membuka pintu ruanganku. Aku buru-buru memejamkan mata, pura-pura tidur. Aku tidak tahu siapa yang datang.
__ADS_1
Tiba-tiba ku rasakan seseorang meraih tanganku dan menciumnya lama. Punggung tanganku basah. Sepertinya seseorang itu menangis. Aku membuka mataku, lalu kudapati seorang laki-laki tengah memegangi tanganku.
Refleks aku melepaskan tanganku darinya. Dan meringkuk ketakutan. “Pergi!” seruku menyuruhnya pergi.
“Ini aku, An..” katanya.
Aku menutup telingaku. Aku merasakan kepalaku begitu sakit. Akupun mulai tak sadarkan diri.
***
Nanti sore aku sudah di perbolehkan untuk pulang. Toh, di rumah sakit aku hanya didatangi dokter yang terus menanyakan ini dan itu. Beliau seorang psikolog. Itulah yang dituturkannya. Sepertinya sejak kejadian pelecehan itu aku mengalami sedikit gangguan kesehatan mental.
Rasa takutku sudah banyak berkurang setelah sering melakukan konsultasi dan terapi yang diberikan oleh dokter itu. Aku tidak sewas-was biasanya. Laki-laki yang bisa menghampiri dan kuusir itu tidak pernah datang lagi. Ntah bagaimana aku merasa dia bukanlah orang jahat. Aku mulai bertanya-tanya sepertinya dia sudah menyerah untuk mendekatiku. Biarlah. Sepertinya dia sakit hati padaku.
Seseorang mengetuk pintu. Dan pintu terbuka. Seorang pasangan suami istri masuk ke dalam ruanganku. Wajah mereka sangatlah tidak asing namun aku tidak bisa mengingat mereka dengan jelas.
“Assalamualaikum.” salam mereka.
“Waalaikumsalam.” kataku.
Mereka tersenyum. Aku balas tersenyum.
“Ini Umi dan Abah. Apa kamu mengingat kami, Nak?” tanya Umi.
Aku menggeleng. “Tidak..” kataku.
“Tidak apa-apa, Sayang. Boleh Umi memelukmu?” tanya Umi.
“Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Abah.
“Aku sehat, Abah. Nanti sore aku sudah boleh pulang.” kataku.
“Syukurlah. Kamu sehat, Nak.” kata Abah.
“Iya, Abah. Nindy sehat, hehe.” kataku nyengir kuda.
“Abah ke luar dulu ya.” kata Abah.
Aku dan Umi mengangguk. Kini tinggal Umi dan aku. Umi menatapku dalam.
“Apa ada yang ingin Umi sampaikan padaku?” tanyaku.
“Kemana Mama dan Papamu, Nak?” tanya Umi.
“Oh, Mama dan Papa berkata kalau mereka sedang ada urusan. Jadi, untuk sementara aku sendiri di sini. Nanti sore mereka akan datang lagi.” kataku.
Umi mengangguk.
“Kamu mau berjalan-jalan dengan Umi, Nak?” tanya Umi.
“Benarkah?” tanyaku.
__ADS_1
Umi mengangguk. “Ayo, keluar kamar, kita berjalan-jalan sebentar.” kata Umi.
“Ayo, Umi.” kataku bersemangat.
Siapapun Umi di hidupku. Aku percaya kalau Umi adalah orang baik. Umi membantuku turun dari tempat tidur meski aku bisa sendiri. Kamipun berjalan. Menuju taman rumah sakit.
Kami berdua duduk di taman tersebut.
“Aku benar-benar merindukan matahari pagi, Umi.” kataku tersenyum senang.
“Umi sangat senang melihat kamu bisa sebahagia ini.” kata Umi. “Maafkan Umi, Nak. Karena baru datang setelah kejadian itu.” Kata Umi.
Mendengar kata kejadian itu aku kembali sedih. Aku kembali teringat bagaimana kejadian menyesakkan itu menimpamu. “Aku telah ternoda, Umi.” kataku. Aku menutup wajahku dengan telapak tanganku.
“Aku adalah pendosa. Apakah Allah SWT mau memaafkan aku yang telah dijamah laki-laki jahat itu?” tanyaku.
“Tentu saja, Nak. Lagi pula kamu bukan pendosa, penjahat itulah yang berbuat itu kepadamu. Penjahat itulah pendosa yang sebenarnya.” kata Umi.
Aku menangis. Umi memelukku. “Kamu anak baik, Nak.” Kata Umi.
Akupun melepaskan pelukan Umi dan kembali mengatur nafas dan emosiku. Kata Dokter Maria yang tengah merawatku, aku harus lebih bisa mngontrol emosiku. Aku bisa menghembuskan nafas dan membuangnya saat kesedihanku kembali lagi. Sebuah cara sederhana untuk menetralkan emosiku.
Tiba-tiba aku menemukan sesosok pria yang dulu sering datang ke ruanganku. Dia bersama dengan seorang anak laki-laki di sampingnya, anak laki-laki itu tengah menangis. Dia mencoba mendiamkan anak kecil di sampingnya. Sepertinya dia tidak tahu cara mendiamkan anak kecil itu.
Dia tengah duduk membelakangiku. Meski dari belakang ntah mengapa aku begitu mengenalinya.
“Sebentar Umi.” kataku.
Akupun bangkit. Menghampirinya. Aku ingin meminta maaf kepadanya.
Laki-laki itu masih fokus mendiamkan anak kecil itu.
“Jagoan Papa jangan nangis lagi ya..” kata laki-laki itu. Ternyata anak kecil di sampingnya adalah anaknya.
“Hai..” kataku berdiri di hadapannya.
Dia terkejut.
“Mamama..” anak kecil itu merentangkan tangannya meminta aku menggendongnya.
Akupun langsung meraih anak kecil itu dan kuciumi pipi kanan dan kirinya. Ntah mengapa aku merasakan sayang pada anak ini. Setelah menciumnya anak ini langsung diam.
“Lain kali, kalau anakmu menangis coba digendong saja, nanti dia diam.” kataku sambil tersenyum.
Dia tertegun melihatku. Aku melihat satu butir air mata meluncur dari ujung matanya. Dia buru-buru menyekanya lalu mengangguk.
“Apa luka ini karena aku?” tanyaku.
Aku menyentuh dahinya yang masih meinggalkan bekas luka di sana. Dia diam saja. Air matanya keluar lagi, lagi-lagi dia menyeka wajahnya.
Tepat ketika aku menyentuh dahinya tiba-tiba memori lamaku berputar-putar di kepalaku. Kepalaku kini dihinggapi serpihan-serpihan memori yang tidak aku tahu dari mana asalnya.
__ADS_1
Akupun jatuh. Laki-laki itu menahan aku dan anaknya dengan cekatan. Aku lihat Umi mengambil anak yang masih dalam gendonganku, lalu laki-laki itu meraih tubuhku dan menggendongku hingga aku kembali pingsan.