Penjara Suci

Penjara Suci
PS 60 - Kebenaran


__ADS_3

Aku tak mengucapkan terima kasih meski dia sudah memakaikan aku gelang perak itu. Dia memandangi gelang itu. Dadaku berdesir. Jantungku berdegup dengan cepat.


"An, saya tidak tau apakah ini waktu yang tepat. Tapi ada yang benar-benar ingin saya sampaikan." kata Gus Faiz.


Jantungku berdegup semakin cepat. Aku mulai memikirkan kemungkinan. Jangan-jangan Gus Faiz ingin kembali menyatakan perasaannya padaku.


"Tentang apa?" tanyaku.


"Keluargamu." kata Gus Faiz.


Aku mendesis. Ntah untuk berapa kali aku harus menghadapi kenyataan bahwa ekspektasiku terlalu tinggi. Lagi pula mana mungkin seorang Gus Faiz menyatakan perasaan padaku?


Demi Allah saya tidak bohong. Saya benar-benar mencintaimu dengan sepenuh hati saya. Saya tidak ingin kamu pergi jauh dari saya. Saya mohon, An. Kembalilah pada saya. Hanya kamu gadis yang saya cintai selain Umi. Saya mohon! Kembalilah pada saya! Saya mohon! - suara Gus Faiz di pikiranku.


Aku menggeleng pelan. Pernyataan cinta itu sepertinya hanya sekadar upaya mencegahku pergi. Buktinya dia tak pernah menyinggung soal pernyataan cintanya itu.


“Egois.” hanya kata itu yang keluar begitu saja dari bibir Gus Faiz. Aku sontak mendongak.


Sepertinya Gus Faiz salah paham dengan gelenganku. Padahal aku menggeleng untuk menghilangkan suara pernyataan cintanya dari kepalaku. Namun, aku tidak bisa mengatakan hal sejujurnya pada Gus Faiz. Aku tak mau mempermalukan diriku sendiri.


“Yang egois itu elo, Papa, Mama, dan Kak Ulfa.” kataku.


“Yang paling egois itu kamu.” kata Gus Faiz.


“Gue nggak egois!” teriakku. Aku tak terima di katakan egois.


Kepalaku berdenyut, sakit. Aku tak boleh menyerah. Apapun yang terjadi aku tak boleh lemah atau menyerah pada kepalaku yang sakit.


"Kalau egois bukan kata yang tepat, coba katakan disebut apa orang yang selalu merasa dirinya paling menderita. Tanpa mau melihat penderitaan orang lain yang sebetulnya jauh menderita dari dirinya?" tanya Gus Faiz.


“Oh, lo belain mereka? Belain Papa sama Mama yang ngebuang gue gitu aja? Setuju sama sikap Papa yang nampar gue berkali-kali?” kataku. Tersulut api amarah.


“Papamu memang salah. Tapi untuk masalah mereka yang membuangmu, kamu keliru. Mereka hanya ingin kamu berubah.” kata Gus Faiz.


“Pengen gue berubah? Apa harus ke pesantren yang ketika semua orang ngomong aja gue nggak ngerti artinya? Pesantren yang jauh banget dari mereka?” tanyaku.


“Kamu tau kan orang tua kita bersahabat? Karena bersahabat, jadi Mama kamu minta kepada Papamu untuk memasukkan kamu ke pesantren Abah, agar beliau bisa terus mengawasi kamu lewat Umi. Kalau kamu mau tau, kedua orang tua kamu benar-benar mengawasi kamu setiap hari lewat telepon Abah dan Umi. Karena takut kamu sendirian, Mama kamu bahkan minta Umi untuk mencarikan teman yang baik dan penyabar untuk menghadapi kamu. Hingga akhirnya Umi memilih Farha." kata Gus Faiz.


“Jadi? Farha benar-bener suruhan?” suaraku tercekat di tenggorokan. Aku kira dia selama ini tulus. Dan kali ini benar-benar berfikir tak ada yang tulus kepadaku.


“Awalnya Farha memang hanya suruhan tapi lihatlah bagaimana dia begitu mempercayaimu saat insiden uang Supri hilang, dia benar-benar tulus, An." kata Gus Faiz.

__ADS_1


Aku mencoba mengingat-ingat semua yang pernah dilakukan Farha untukku. Dia yang selalu ada, dia yang selalu mengkhawatirkan aku, dia yang tak pernah mau membiarkanku sendiri, dia yang percaya padaku, dan dia yang mengajariku banyak hal. Tiba-tiba mataku terasa panas. Aku buru-buru melihat ke atas, takut air mataku turun.


"Gimana sama Arum?" tanyaku. Karena belakangan aku dekat dengan Arum, akupun menanyakan hal ini pada Gus Faiz.


"Arum?" tanyanya. Di luar dugaan Gus Faiz tampak berpikir. "Siapa Arum?" tanyanya. Sepertinya Gus Faiz tidak mengenal Arum.


"Lo, gak kenal?" tanyaku.


"Seingat saya kamu tidak pernah menceritakan Arum." kata Gus Faiz.


Ternyata Arum tulus padaku. Pantas saja dia seperti tidak mengerti apapun saat Farha ketakutan melihatku bertemu dengan Kak Ulfa.


“Gimana sama Kak Ulfa? Kenapa dia nggak pernah belain gue?” tanyaku.


“Dia punya cara sendiri untuk bela kamu, An. Sebetulnya kakakmulah yang menemukan kartu ATM itu. Hanya saja dia takut kamu salah sangka padanya, jadi dia memberikan kartu ATM itu pada Farha. Ini hanya satu contoh. Masih banyak hal lain. Percayalah dia selalu membelamu, An, di belakangmu." kata Gus Faiz.


Aku kembali mengingat bagaimana Kak Ulfa yang selalu ingin mengatakan sesuatu padaku namun aku tak pernah mendengarkannya. Mungkinkah selama ini semua pembelaanku hanyalah karena dibutakan rasa cemburu karena aku terus dibanding-bandingkan dengannya?


Sebutir air mataku jatuh begitu saja. Semua perkataan Gus Faiz jika ku pikirkan ulang semuanya masuk akal. Aku mencoba menggali kebenaran lebih banyak dari Gus Faiz.


"Mama?" tanyaku Gus Faiz.


"Sepertinya kamu lebih mengerti perasaan Mamamu yang sesungguhnya. Kamu ingat jelas kemarin saat kamu hilang ingatan kan?" tanya Gus Faiz.


"Sejak kapan lo tau ingatan gue kembali?" tanyaku.


"Setelah membawamu dari depan Musala." katanya.


Sepertinya saat memoriku kembali, meski tak kujelaskan pada semua orang. Dengan melihat sikapku, semua orang tahu kalau memoriku kembali.


“Gimana sama Papa?” tanyaku. Ada rasa sakit saat aku menanyakan Papa.


“Papa kamu memang salah karena sudah menampar kamu. Tapi sejak kemarin kamu kecelakaan, beliau menyesali perbuatannya. Hatinya juga sakit, bahkan sampai sekarang Papamu masih terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri.” tanyanya.


Aku mulai memikirkan apakah kali ini Gus Faiz mengatakan hal yang sebenarnya. Aku menatap matanya. Jika benar Papa menyalahkan diri sendiri bukankah seharusnya Papa datang dan menjelaskannya secara langsung?


"Kamu tahu kenapa Papamu sampai saat ini belum menemui kamu?" tanya Gus Faiz.


Aku menggeleng. "Mungkin Papa udah gak mau nganggep gue anak." kataku.


"Tidak, An. Papamu ada di sini. Beliau tak berani bertemu denganmu. Beliau terus-terusan menyalahkan diri sendiri dan tidak mau makan. Aku bisa mengantarkanmu pada beliau kalau kamu tidak percaya." kata Gus Faiz.

__ADS_1


Air mataku kini benar-benar mengalir deras. Kepalaku kembali berdenyut. Aku menelungkupkan wajahku di antara lututku. Mulai memukul-mukul kepalaku bagian belakang menyalahkan diri sendiri. Kenapa aku begitu buta akan kebenaran?


Aku tak bisa menyangkal kata-kata Gus Faiz lagi. Semua yang dijelaskan Gue Faiz benar-benar telak.


Ya Allah. Maafkan aku. Maafkan aku. Akulah yang mengotori ramadanku, bahkan lebaran keluargaku. Maafkan aku, ya Allah. -seruku dalam hati.


"Sttt, sudah, An." kata Gus Faiz. Dia memegangi tanganku agar aku tak bisa menyakiti diriku sendiri lagi.


“A-aku bodoh, Gus.” kataku. “Kenapa aku nggak bisa ngeliat itu semua?” lanjutku lagi. Isakan-isakanku terus menggema seantereo kamar.


“Kamu masih punya waktu untuk memperbaiki semuanya, An." kata Gus Faiz sambil tersenyum manis.


Refleks aku memeluknya begitu erat. “Maafin aku, Gus.” kataku. Aku menangis dalam pelukannya. Aku kembali merasakan dejavu. Sementara lelaki yang berada di dalam pelukanku menegang. Dia hanya menepuk bahuku.


“Mohon ampunlah pada Allah, An. Lalu minta maaf kedua orangtuamu dan kakakmu.” kata Gus Faiz.


Gus Faiz meloloskan diri dari pelukanku. Aku salah tingkah. “Maaf.” kataku tak enak hati.


"Ayo, perbaiki semuanya dari sekarang, An.” kata Gus Faiz.


Aku mengangguk.


“Sebentar ya, saya panggil mereka dulu.” kata Gus Faiz. Lalu berdiri hendak beranjak.


“Tunggu!” kataku.


Dia menaikkan alis, “Ada apa?”


“Aku jelek banget ya kalo nangis?” kataku sambil menyeka air mataku dengan telapak tangan.


“Gimanapun keadaan kamu, kamu tetep cantik di mata saya.” kata Gus Faiz. Lalu mulai beranjak.


Apa aku tidak salah dengar? Wajahku mulai panas. Senyumku tak tertahankan. Kenapa sesuatu yang dia lakukan selalu berhasil membuatku tersenyum?


"Tunggu!" kataku, menahannya lagi.


Dia membalikkan tubuh lagi


"Kenapa harus kamu yang jelasin ini semua, Gus?" tanyaku.


"Bukankah hanya saya yang bisa meluluhkan hati kamu?" tanyanya.

__ADS_1


Aku tak bisa berkata-kata lagi. Pipiku panas, benar-benar panas. Menyebalkan.


__ADS_2