
Mengetahui fakta bahwa Revan adalah bawahan suamiku membuat aku merasa canggung. Meski kami tidak lagi menjalin hubungan, dan bahkan aku tidak pernah bertemu dengannya. Bahkan saat pernikahanku diadakan, dia tidak datang, hanya ada Mia dan Marsya. Aku tetap merasa aneh. Tapi aku tidak boleh seperti ini, aku harus menghormati suamiku.
Akupun membawakan minum. Lalu meletakkannya di atas meja.
“Terima kasih, Nin..” setelah melihat Mas Faiz, Revan meralat ucapannya. “Maksud saya, terima kasih, Bu.”
Aku hanya mengangguk. Aku menghampiri suamiku. “Aku ke atas dulu ya, Mas.” pamitku.
Suamiku mengangguk. Aku mengangguk sebentar pada Revan lalu berbalik.
“Ada yang salah dengan istri saya?” sayup-sayup aku mendengar suara Mas Faiz.
“Oh, maaf tidak, Pak.” jawab Revan.
Aku terus berjalan hingga sampai di kamar. Tiba-tiba ponselku berdering menampilkan nama Kak Ulfa di layar. Sepertinya Kak Ulfa sudah sampai. Akupun buru-buru mengangkatnya.
“Nin, kakak di depan rumah, Nih. Bukain gerbangnya ya.” kata Kak Ulfa di seberang sana.
“Baik, Kak.” kataku.
Kak Ulfa menutup sambungan telepon, aku buru-buru turun lagi membukakan pintu gerbang. Di sana aku melihat Kak Ulfa. Aku mencium tangan Kak Ulfa.
“Masuk, Kak.” kataku.
Kak Ulfa mengangguk. “Besar sekali rumahmu.” katanya.
Aku hanya tersenyum.
“Assalamualaikum.” salam Kak Ulfa.
“Waalaikumsalam.” jawabku, Mas Faiz, dan Revan.
“Lho, kamu Revan kan?” tanya Kak Ulfa.
“Oh, Kak Ulfa?” tanya Revan.
Tanpa kusuruh Kak Ulfa langsung duduk, dan bergabung dengan Mas Faiz dan Revan. Tadinya aku ingin mengajaknya masuk ke ruang makan, aku tidak mau kehadiran kami mengganggu Mas Faiz dan Revan.
“Apa kabar kamu?” tanya Kak Ulfa.
“Alhamdulillah, saya baik, Kak.” jawab Revan.
“Kok kamu ke sini? Mau ketemu sama Nindy ya?” tanya Kak Ulfa.
Revan melirik Mas Faiz. Aku mulai merasakan aura yang tidak enak di wajah Mas Faiz meski dia diam saja.
“Oh, bukan, Kak. Bukan. Saya ke sini untuk membicarakan masalah pekerjaan dengan Pak Faiz.” kata Revan.
“Oh, begitu. Aku kira mau ketemu, Nindy.” kata Kak Ulfa.
Aku hanya bisa mematung di samping suamiku. Aku mengusap bahunya pelan.
“Gus Faiz, Revan ini dulu mantan pacar Nindy. Lucu ya, benar kata orang dunia itu sempit.” kata Kak Ulfa sambil terkekeh.
Revan tersenyum tidak enak. Aku apa lagi. Aku tahu Kak Ulfa hanya bercanda. Mungkin aku saja yang perasa.
__ADS_1
“Betulkan, Nindy?” tanya Kak Ulfa.
Aku hanya mengangguk.
“Oh, Pak Faiz, karena tidak ada lagi dokumen yang harus ditandatangani, saya izin pamit, Pak” kata Revan.
“Baik.” balas Mas Faiz.
Revan berdiri, Mas Faiz pun ikut berdiri. “Mohon maaf mengganggu waktunya, Pak.” kata Revan mengulurkan tangannya. Mas Faizpun menerima uluran tangan itu.
“Iya. Tidak apa-apa, salam untuk keluargamu.” kata Mas Faiz.
“Baik, nanti saya sampaikan, Pak.” kata Revan.
Revan pun mengangguk padaku dan Kak Ulfa. “Assalamualaikum.” katanya.
“Waalaikumsalam.” Jawabku, Kak Ulfa dan Mas Faiz.
Mas Faiz mengantarkan Revan ke depan. Kini tinggal aku dan Kak Ulfa yang ada di ruang tamu.
“Ini, Dek.” katanya sambil mengulurkan keranjang makanan yang dibawanya.
“Wah, Kaka seharusnya tidak perlu repot-repot.” kataku.
“Tidak apa-apa.” katanya.
“Aku bawa ke meja makan ya, Kak.” kataku.
“Tentu saja. Silakan.” kata Kak Ulfa.
“Apa kamu sudah tahu fakta bahwa Revan adalah mantan pacar Nindy, Gus?” tanya Kak Ulfa.
“Saya baru tahu hari ini, Kak.” jawab Mas Faiz.
“Oh, pantas saja. Eh, Nindy, sini, Nin.” kata Kak Ulfa.
Aku mendekatinya. Dan duduk di sebelahnya.
“Bagaimana perasaanmu setelah bertemu Revan, Dek. Makin tampan kan dia?” tanya Kak Ulfa.
“Saya sudah tidak berhubungan lagi dengannya, Kak.” kataku.
Aku melirik Mas Faiz. Mas Faiz hanya mendengarkan. Aku benar-benar tidak enak pada Mas Faiz. Aku memberikan tatapan memohon pada Kak Ulfa agar tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Namun sepertinya Kak Ulfa tidak menangkap sinyal itu.
“Karena lama berhubungan dulu, pasti masih ada sedikit rasa kan? Meski hanya sedikit.” kata Kak Ulfa.
“Kak, ayolah, ada suamiku. Aku tidak mau suamiku salah paham.” kataku.
“Lho, kan aku hanya menjelaskan kebenaran. Kamu dan Revan pernah berhubungan, itu fakta kan?” tanya Kak Ulfa.
Aku mengangguk lemah.
“Kalau boleh saya tahu, ada maksud apa ya, Kak Ulfa ke sini?” tanya Mas Faiz.
“Oiya, Gus. Hampir saja aku lupa. Untung kamu mengingatkan.” kata Kak Ulfa sambil terkekeh.
__ADS_1
Aku berterima kasih kepada Gus Faiz dalam hati karena telah menghentikan pembicaraan seputar Revan.
“Aku dapat amanat dari Mama untuk mengajarimu memasak, Nin.” kata Kak Ulfa.
“Mama mengatakan seperti itu, Kak?” tanyaku. Wajahku kini berbinar.
Mama sangat perhatian padaku. Aku memang bingung sekali, aku tidak bisa masak. Hanya pelan-pelan bisa masak makanan instan saja. Meski Mas Faiz tidak pernah protes dengan makanan yang aku sajikan, namun aku yakin dia merasa bosan.
“Iya, betul. Untuk apa kakak bohong.” kata Kak Ulfa sambil tersenyum.
“Aku mau, Kak.” Kataku.
Kak Ulfa mengangguk. Aku menoleh pada suamiku sambil tersenyum, Mas Faiz balas senyumanku. Melihat senyum itu lagi-lagi jantungku berdegup dengan kencang.
“Mau ku ajari sekarang?” tanya Kak Ulfa. Memutus lamunanku.
“Tapi kita tidak punya bahan-bahan, Kak.” kataku.
“Mau saya antarkan ke supermarket, An?” tanya Mas Faiz.
“Mau, Mas.” kataku.
“Saya ganti baju dulu.” kata Mas Faiz.
Mas Faizpun naik ke atas meninggalkan aku dan Kak Ulfa berdua.
“Kamu tidak punya bahan makanan?” tanya Kak Ulfa.
“Iya, Kak.” kataku.
“Lalu suamimu kamu masakkan apa?” tanya Kak Ulfa.
“E.. nasi dan goreng-gorengan saja, Kak.” Kataku jujur.
“Ayam goreng?” tanyaku.
“Nugget, sosis..” aku tak sanggup melanjutkan. Aku brnar-brnar merasa malu.
“Ya ampun, Dek. Suami kamu cuma kamu masakkan itu?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Aku hanya bisa memasak itu, Kak.” Kataku.
“Anak bayi juga bisa kalau itu.” kata Kak Ulfa.
Aku menunduk sedih.
“Apa tidak menyesal suamimu memilih istri yang tidak bisa memasak seperti kamu?” tanya Kak Ulfa.
Aku tidak mampu menjawab pertanyaan, Kak Ulfa.
“Saya tidak menyesal sedikitpun. Karena saya mencari seorang istri bukan koki.” suara Mas Faiz.
Aku menoleh ke arah Mas Faiz. Mendengarnya, aku benar-benar terharu. Dia mendekatiku lalu mengusap rambutku.
“Ayo, nanti supermarketnya tutup.” kata Kak Ulfa.
__ADS_1
Kak Ulfa berjalan keluar rumah. Meski baru sampai rumah beberapa waktu yang lalu, sepertinya Kak Ulfa tidak merasakan lelah sama sekali. Aku dan Mas Faiz pun mengekorinya dari belakang. Mas Faiz menyiapkan mobil, lalu kamipun masuk ke dalam mobil. Mas Faiz pengemudi, di sampingnya ada aku, dan Kak Ulfa di belakang.