
"As-salamu'alaikum." salam Gus Faiz saat masuk rumah.
"Wa 'alaikumus-salam wa rahmatullahi wa barakatuh." kataku lirih. "Permisi." kataku, lalu lekas pergi lewat samping kanan Gus Faiz.
"Kejadian kemarin bukan salah kamu kalau kamu menghindariku karena itu." kata Gus Faiz.
"Maaf." kataku. Lalu melesat pergi. Sampai lupa mengucapkan salam.
Sesampainya di kamar, aku mendapati Farha yang sedang dikerubungi banyak santriwati. Aku menyusup sampai akhirnya sampai di hadapan Farha. Dia sedang asyik berkutat dengan buku, tulisan, dan beberapa rupiah uang di pangkuannya.
"Itu bayar apa, Far?" tanyaku beringsut mendekatinya.
"Uang kitab Mbak, Rp50.000." kata Farha. Aku hanya ber-oh ria lalu beranjak ke lemari dan mengambil uang lima puluh ribuan dari sana.
Saat hendak kembali menghampiri Farha, aku kembali melihat sosok familiar yang kulihat saat menjalani hukuman kemarin. Kalau saja aku masih seperti yang dulu mungkin akan kutemui sosok itu. Saat ini aku benar-benar tidak berniat untuk mendekati, mencurigai, atau memarahi siapapun. Aku tak mengindahkan sosok itu dan bergegas menghampiri Farha. Karena tubuhku cukup slim jadi aku tak kesulitan untuk sampai di depan Farha lagi.
Setelah sampai, aku menyodorkan uangku kepada Farha.
"Mbak, ndak usah bayar." kata Farha. Dia menolak uangku.
"Kok gitu? Kan dapat kitabnya juga." tanyaku heran. Bagaimana mungkin aku tak perlu membayar kitab seperti yang lain? Lagi pula aku bukan anak Kyai atau santri spesial.
"Udah dibayarin tadi." celetuk Linda yang ternyata ada di samping Farha. Sungguh, kalau dia tidak bersuara aku takkan tau kalau dia ada di sana. Mungkin karena dia terlalu gaib di mataku jadi sering tak tertangkap dengan mata telanjang.
"Sama siapa?" tanyaku, bingung. Linda hanya mengangkat bahu. Benar-benar menyebalkan. Dia memang benar-benar pandai membuat orang kesal. Padahal dia yang yang memberitahu namun ketika ditanya lebih lanjut hanya mengangkat bahu. Benar-benar ajaib, menyebalkan.
__ADS_1
Dalam hati aku mendengus kesal. Namun tak kuperlihatkan. Dari pada mengurusi Linda di makhluk gaib lebih baik aku mengajak Farha berbicara. "Ini aku bayar aja. Uang itu kasih lagi aja ke orangnya. Aku pergi dulu." kataku sambil meletakkan uang lima puluh ribu ke tangannya, langsung pergi.
Jujur aku penasaran dengan sosok sok misterius yang membayariku kitab. Di pondok pesantren ini uang lima puluh ribu merupakan jumlah besar. Aku tau mereka akan berpikir berulang kali untuk membayariku, kecuali mungkin kalau aku anak miskin dan baik, mereka pasti akan patungan dengan teman membantuku. Tapi aku tidak miskin, dia pasti bukan santriwati biasa. Atau kalau dia tau kalau aku tidak miskin tapi tetap memberiku uang maka dia pasti sedang mengolokku dengan membayariku kitab. Fakta ini membuatku kesal.
Aku pergi menuju tempat jemuran. Aku butuh udara segar. Sebelum pergi ke tempat jemuran tak lupa aku memakai kerudung segi empat yang tidak kupeniti, hanya untuk menutupi rambutku. Seberapa kesal pun diriku merasa diperolok dengan dibayari uang kitab, aku harus menahan amarah. Aku kini sedikit-sedikit menaati peraturan, menggunakan kerudung di luar kamar sudah mulai aku lakukan, sudah aku katakan bukan kalau aku tidak mau mencari gara-gara lagi? Aku tak mau pengurus mengejarku dan menyuruhku menutup kepala lagi, katanya aurat. Aurat adalah bagian badan yang tidak boleh kelihatan (menurut hukum Islam).
***
Aku menumpukan badanku ke tembok pembatas. Tembok ini mengelilingi lantai jemuran ini, tingginya sebatas dada. Dengan menumpukan tubuhku di sana aku bisa melihat keadaan sekitar, hamparan sawah yang mulai menguning, burung yang beterbangan, dan derai air dari aliran sungai buatan. Sungai buatan ini terletak tepat di belakang pondok hanya di jaraki oleh jalan setapak kecil.
Saat sedang enak-enaknya merasakan angin tiba-tiba angin menjadi sedikit lebih kencang, lalu tak sengaja menerbangkan kerudungku.
"Ehhh, kerudung!" kataku. sambil menggapai-gapai kerudungku yang terbawa angin.
Namun naas, kerudungku di bawa angin semakin jauh hingga jatuh tepat di jalan setapak yang tadi ku ceritakan. Hampir saja, hampir saja kerudungku masuk ke kali dan hanyut di sana. Aku memandangi kerudungku.
Arum adalah pengurus yang pernah aku siram di kamar mandi. Sepertinya dia anak baik. Ntah baik ntah bodoh aku tidak tahu. Karena meski sudah ku perlakukan dengan semena-mena, dia tak menaruh dendam kepadaku. Aku sadar pada insiden itu akulah yang salah, sedangkan dia hanya menjalankan kewajibannya sebagai pengurus sesuai dengan hukum yang berlaku. Dia mendekatiku.
"Kerudungnya jatoh, bisa diambil gak ya?" Kataku.
Arum melongok ke bawah mencari keberadaan kerudungku. Lalu dengan ceria menjawab, "Bisa, Mbak. Ayo aku antar."
Sebetulnya aku tidak enak hati jika merepotkan dia, namun mau bagaimana lagi. Meski aku bisa membeli kerudung yang baru namun aku tetap harus berhemat. Lagi pula itu kerudung baru jadi sayang bila harus di buang begitu saja. Bukankah kata Farha orang mubazir itu temannya setan? Sepertinya kalau tidak salah ia pernah mengatakan, "Inna al-mubazirina kanu ikhwana asy-syayatin." kalau salah mohon koreksi. Wah, aku pasti sudah tertular oleh Farha.
"Aku tunggu di tangga lantai satu ya, Mbak." kata Arum dengan semangat empat lima langsung pergi meninggalkanku. Aku mengekornya dari belakang.
__ADS_1
Kami berdua mengambil atasan mukena, di kamar masing-masing. Kamarku dan kamarnya berbeda. Di kamar tidak ada Farha, sepertinya dia sedang sibuk menagih uang kitab. Setelah mengambil atasan mukena, akupun turun. Arum benar-benar menungguku di tangga lantai 1 (dekat kamar mandi). Padahal aku sudah cepat-cepat tapi ternyata dia lebih cepat dariku.
"Ayo, Mbak. Hehe." kata Arum, mengapit lenganku tanpa kuminta. Saat dia tidak melihatku aku memutar bola mata. Aneh.
Arum mengajakku memasuki gang kecil di samping pondok ini. Namun, setelah sampai di ujung gang, Arum mengajakku berhenti.
"Kenapa?" Tanyaku bingung.
"Sttt, ada suara putra, Mbak. Aduh gusti gimana ini, Mbak?" tanyanya, panik.
Aku cepat mengerti situasi, untungnya aku sudah tidak kaget lagi dengan keanehan santriwati yang sangat malu bertemu dengan santri putra. Tapi sekarang masalah yang paling penting adalah kerudungku. Kalau kami terus di sini, kerudung itu bisa saja terbang ke sungai dan hanyut.
"Sini aku yang di depan." kataku.
Arum terkejut, ntah karena apa. Sekarang alih-alih pindah ke belakangku, dia malah tersenyum. Aku rasa benar-benar ada yang salah dengan otaknya.
Melihat Arum tak bergeming di tempatnya, aku berinisiatif mendahuluinya, dan diapun mengekor di belakangku. Aku menengok ke kanan dan ke kiri mencari kerudung itu. Akhirnya aku menemukannya, kerudung itu kini berada di tangan santri putra. Pasti suara putra yang dimaksud Arum berasal darinya. Maksudku dari mereka karena mereka berjumlah dua orang. Salah satu yang tertampan dari mereka memegang kerudung itu.
Mengetahui aku dan Arum mendekat mereka menoleh. Tatapan mereka sangatlah ketara, terpana melihat kecantikanku. Sementara Arum tetap di belakangku, menjadikanmu tameng agar tak terlihat oleh kedua santri putra itu. Padahal, perbuatan Arum ini sebenarnya sia-sia saja karena badanku tidak sebesar pesumo.
"Sorry, itu punya gue, eh, maksudnya punya saya." kataku.
"Kita ketemu lagi." kata Si Pemegang Kerudungku dengan penuh percaya diri. Dia menatapku, dia terlihat putik, dan tak ada aksen medok dalam suaranya, sepertinya dia berasal dari Jakarta, sama sepertiku. Ah, masa bodoh.
Aku mengulur tangan menunggu dia memberikan kerudung. Namun, dia tak kunjung memberikannya, dia hanya tersenyum. Senyuman menyebalkan. Aku yang mulai kesal lantas langsung merebut kerudung itu.
__ADS_1
"Obat lo abis?" kataku ketus. Lalu menarik Arum pergi dari sana.