
Hari kelulusanpun tiba. Semua orang bersuka cita. Dengan baju seragam kami duduk mengikuti semua rangkaian acara. Arum dan Linda menghampiriku. Kami tertawa bersama. Kami berharap bisa bertemu dengan Farha suatu saat nanti. Pada acara ini orang tua kami semua hadir menyaksikan. Sayangnya kami tidak bisa menemui orang tua kami sebelum acara selesai.
Sejak awal acara. Aku sudah sangat merindukan keluargaku hingga rasanya rinduku pada Mama dan Papa beserta Kak Ulfa tidak tertahankan lagi.
Setelah rangkaian acara selesai aku buru-buru mencari keluargaku. Begitu juga dengan Linda dan Arum. Karena rasa rindu itu seketika kami langsung berpencar mencari keluarga masing-masing.
Sebelum aku mencari orang tuaku. Aku melihat Aaron, dia menghampiriku. Karena dia adalah adik Ilham. Melihat dia datang menghampiriku, rasanya seperti melihat Ilham datang. Dia sudah lulus sejak 2tahun lalu. Ternyata meski Aaron sering berulah, dia masih masuk kategori santri teladan. Hal ini terbukti dengan kelulusannya yang tepat waktu.
"Hai." sapanya padaku.
Aku menundukkan kepalaku. Meski Aaron adalah temanku kali ini rasanya dia tetaplah santri putra di mataku.
"Selamat ya, Nin." kata Aaron.
Aku mengangguk, sambil tersenyum.
"Makasih ya, Ron, atas semuanya." kataku pada Aaron. "Maaf, saya nggak bisa balas semuanya kebaikan kamu." kataku.
Aku tak mengerti bagaimana raut wajah Aaron karena aku tidak menatap matanya. Namun, kurasakan dia terkejut ntah karena apa.
"Liat lo sekarang aja gue udah seneng, Nin." kata Aaron. "Linda mana?" tanya Aaron.
Aku menoleh ke belakang mencari keberadaan Linda. Dan ternyata Linda masih ada di belakang. Aaron mengikuti pandanganku. "Okay, gue ke Linda ya." kata Aaron.
Aku mengangguk. Diapun pergi menemui adiknya. Akupun kembali melanjutkan perjalananku mencari keluargaku.
Aku memandangi punggungnya. Aaron terlihat sangat berbeda dari 4tahun lalu. Aaron terlihat lebih dewasa. Sepertinya kalau Arum melihat Aaron yang sekarang dia akan kembali menyukai Aaron.
"Nindy!" Aku sangat mengenali suara itu. Itu adalah suara Kak Ulfa.
Aku mencari sumber suara.
Aku setengah berlari ke arah mereka dan pada saat itu juga Papalah yang pertama kali memelukku. Memeluk anak bungsu yang selalu merepotkannya. Memeluk anak bungsu yang paling disayanginya. Karena begitu merindukan Papa aku menangis dalam pelukan Papa.
__ADS_1
"Anak Papa.." hanya kata itu. Namun begitu indah di telingaku.
Aku masih memengang piagam penghargaan juara dua di tangan kananku. Walau hanya juara dua tapi aku sangatlah bangga. Andai saja Farha ada di sini. Dia pasti sudah membawa piagam pernghargaan juara satu di atas panggung tadi. Namun sayang piala itu hanya bisa diwakilkan. Tapi aku tetap bangga kepadanya. Ternyata usahanya membahagiakan ayahnya berhasil. Setidaknya walau ayah Farha sudah tidak bisa melihat anaknya lagi namun Farha sudah berhasil melakukan yang terbaik.
Setelah puas memeluk Papa. Papa melepaskan pelukanku. "Ini untuk Papa." aku memberikan piagam itu pada Papa. Papapun mengambilnya.
Melihat kami, Mama tersenyum. Beliau memelukku. Aku juga menangis dipelukannya.
"Mama bangga sama kamu." kata-kata Mama juga begitu indah. Air mata Mama mengalir. Dan aku tak bisa menutupi rasa bahagiaku hingga tangisanlah yang menjelaskan segalanya.
Setelah memeluk Papa dan Mama, aku baru menghampiri Kak Ulfa. Dia tertawa sambil menangis. Air matanya mengalir di pipinya.
"Kakak, apa kabar?" tanyaku. Dan Kak Ulfa hanya bisa menggeleng sambil menjitak kepalaku. Kakak macam apa dia?
Aku meminta tolong pada seorang adik kelas yang memang sengaja datang menghampiri aku untuk memotret kami. Di sana aku tersenyum lebar. Dan mulailah para santri yang merupakan adik kelasku yang lai berdatangan memberikan kado demi kado untukku.
"Ini untuk, Mbak. Terima kasih karena sudah ajarkan aku menulis, Mbak." kata Safa sambil memberikan kado kepadaku.
"Terima kasih." kataku, sambil tersenyum.
"Ini dari aku." kata Arum, memberikan sesuatu berbungkus kertas koran.
"Ini dari aku." kata Linda juga memberikan sesuatu yang berbungkus kertas koran.
"Tapi aku nggak punya apa-apa untuk kalian." kataku sedih. Aku benar-benar tidak terpikir akan bertukar kado seperti ini. Aku menerima kado pemberian mereka.
"Nggakpapa, Mbak, kita Foto aja yuk!" kata Arum. Dan kami meminta tolong kepada santri untuk memotret kami bertiga, karena tangan Kak Ulfa penuh dengan kado.
Setelah selesai. Tiba-tiba mataku menangkap sebuah sosok yang telah lama aku nantikan dalam hati. Bila aku tidak salah, aku melihat dia tersenyum ke arahku. Untuk memastikannya aku mengedipkan mataku. Namun dia tetap di sana, benar-benat berada di sana. Di samping Papa.
Apa dia melihatku mengedipkan mata? Tidak, aku tidak berniat menggodanya, sungguh. Aku hanya memastikan kalau aku benar-benar melihat dia di sana.
Kakiku gemetar seketika. Aku segera mengalihkan pandanganku. Rasanya aku ingin teriak. Hingga aku hanya bisa menggigit bibir untuk menghilangkan rasa gugupku.
__ADS_1
"Selamat ya, Arum, Linda." kata Kak Ulfa, sambil memeluk mereka berdua. Kadoku dia letakkan di atas meja yang ntah sejak kapan ada di belakangnya.
"Dik, ayo ke sana!" ajak Kak Ulfa.
"Eh? Kenapa, Kak?" aku tak menangkap maksud Kak Ulfa.
"Dipanggil Papa." kata Kak Ulfa.
Aku melirik ke arah Papa, ternyata di sana sudah ada Umi dan Abah. Aku tak bisa berkilah.
"Aku ke sana dulu ya." kataku pada Arum dan Linda. Setelah aku pergi mereka kembali diserbu santriwati untuk diberikan ucapan selamat.
Rasanya kakiku sangat berat untuk melangkah ke sana. Jantungku berdebar. Sesampainya di sana aku mencium tangan Umi dan Abah. Tanpa menoleh sedikitpun pada putra semata wayang mereka. Aku tidak mau melakukan hal yang sama seperti dulu.
"Selamat, Sayang." kata Umi. Beliau memelukku. Aku balas memeluk beliau.
"Terima kasih, Umi. Nindy banyak belajar dari, Umi." kataku.
Aku mengatakan hal sejujurnya pada Umi.
"Umi bangga sekali sama kamu, Nak." kata Umi.
Aku tersenyum malu-malu. Aku hanya bisa tersenyum karena bingung harus mengatakan apa.
Aku tak berani menatap Gus Faiz. Padahal jujur aku ingin sekali melihat dia. Namun, aku harus sadar aku tidak boleh melakukannya.
"Hebat anakmu, Lukman." kata Abah kepada Papa.
"Anak siapa dulu." kata Papa dangan suara bangga.
Semua orang tertawa sedangkan aku hanya bisa tersenyum menanggapi.
"Oiya, Nak. Kita langsung pulang ya. Nanti Mama sama Kak Ulfa temani kamu untuk mengambil barang-barang." kata Mama.
__ADS_1
"Umi juga ikut." kata Umi.
Aku tersenyum. Memang seharusnya beginilah yang terjadi. Kembali ke Jakarta. Sejujurnya, mendengar permintaan Mama, aku merasa ada yang salah dengan hatiku. Meski aku sudah menyiapkan sedikit tempat untuk kecewa namun aku tetap merasakan kesedihan.