Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 37 - Rahasia Umum


__ADS_3

Aku buru-buru lari ke kamar mandi. Dan memuntahkan segala isi perutku lagi di kamar mandi. Farha mengikutiku ke kamar mandi. Dia memijit leherku bagian balakang.


“Maafkan aku ya, Farha. Kamu malah melihat aku seperti ini.” kataku.


“Tidak apa-apa, Mbak.” kata Farha.


Lamat-lamat aku mendengar suara dari luar kamar mandi.


“Apa yang kamu sudah lakukan pada Nindy, Nak? Mengapa saat dia hamil dia justru muntah tiap kali berada di dekatmu?” suara Mama.


“Mama, Nindy muntah bukan karena Ulfa. Hanya karena dia sedang mual saja.” suara Papa.


“Papa lihat sendiri kan tadi? Selain dokter mengatakan hal demikian, saat Nindy tidak melihat Ulfa masukpun dia bisa langsung mual.” suara Mama lagi.


Aku menelan ludah. Aku tidak bisa keluar saat ini. Bila aku keluar dan mual lagi, aku akan semakin tidak enak pada Kak Ulfa. Farha hanya diam. Seakan mengerti perasaanku.


Tidak ada sahutan dari Papa. Sepertinya Papa membenarkan kata-kata Mama.


“Apa yang telah kamu lakukan, Nak?” tanya Mama.


“Mama menuduhku melakukan hal-hal jahat pada Nindy? Apa jangan-jangan Nindy yang mengadukan ini semua pada Mama?” suara Kak Ulfa. Nada bicaranya terdengar sangat kesal.


Aku menatap Farha di depanku. Lalu menundukkan pandanganku lagi. Kami saling diam.


“Tidak, Nak. Nindy tidak menceritakan apapun pada Mama. Tapi coba kamu ingta-ingat siapa tahu kamu melakukan kesalahan. Kalau kamu melakukan kesalahan minta maaflah pada Nindy Nak siapa tahu dia tidak lagi mual melihatmu.” suara Mama.


Tiba-tiba terbesit di otakku hal-hal yang pernah Kak Ulfa lakukan padaku dan suamiku. Aku mulai bertanya-tanya inikah penyebab dari mualku selama ini. Dan apakah jangan-jangan dalam hatiku aku masih menaruh rasa dendam? Tidak, sepertinya aku tidak pernah menaruh rasa dendam apapun pada Kak Ulfa.


“Iya, Nak. Coba kamu ingat-ingat.” suara Papa.


“Mama dan Papa mengapa jadi seperti ini?” suara Kak Ulfa.


“Saat kamu ikut berbulan madu mungkin. Apa kau mengacau di sana?” suara Mama.


“Baik, Ma. Aku akan jujur. Kemarin saat mereka bulan madu aku datang bersama Dimas, dan mengacaukan bulan madu mereka. Tapi aku sudah ingin meminta maaf.” suara Kak Ulfa.


“Ulfa! Kau benar-benar tidak sopan!” seru Papa. “Apa jangan-jangan tujuanmu ikut memang untuk mengacaukan bulan madu mereka?” lanjut Papa.


“Benar, Nak. Kami tahu kalau kamu masih mencintai Nak Faiz, tapi kamu tidak boleh seperti itu.” kata Mama.


Deg!

__ADS_1


Hatiku sedikit tercubit. Ternyata Mama dan Papa tahu kalau Kak Ulfa masih mencintai Mas Faiz. Aku benar-benar tak menyangka. Aku menoleh ka arah Farha. Farha memalingkan wajahnya dari wajahku. Aku mulai berpikir yang tidak-tidak.


“Apa kau tahu kakakku mencintai suamiku?” tanyaku pada Farha.


Farha mengangguk. Diam. Aku benar-benar diam. “Kau kenal siapa Dimas?” tanyaku.


Farha menggeleng. “Aku tidak mengenalnya, Mbak.”


Aku kembali diam. Aku kembali merasakan dejavu. Tiba-tiba aku teringat Farha yang dulu pernah berbohong padaku soal Kak Ulfa di pondok. Aku mengerti. Dia tipikal orang yang sangat mudah dipengaruhi dan dimintai tolong. Jadi, aku tidak bisa menyalahkannya.


“Mengapa kalian jahat sekali padaku? Aku sudah melepaskan Nindy saat lamaran itu. Mama dan Papa yang membujukku agar setuju dan menerima segalanya. Aku sudah merimanya. Mengapa sekarang aku pun di tuduh berbuat jahat pada Nindy? Aku memang salah kemarin saat berbulan madu mengajak temanku, namun aku sudah ingin meminta maaf. Tapi saat aku mau minta maaf pada Nindy, dia malah memuntahiku. Dan kini secara tidak langsung Mama dan Papa mengatakan kalau penyebab mualnya Nindy adalah aku. Kalian benar-benar tidak adil padaku.” suara Kak Ulfa.


Tiba-tiba aku mendengar pintu ditutup secara kasar.


“Astaghfirullah mengapa Ulfa menjadi seperti ini ya, Ma?” suara Papa


“Dia sedang di masa patah hati, Pa. Kita harus memberikan waktu untuknya.” kata Mama.


Akupun keluar dari kamar mandi. Mama dan Papa yang melihat aku mendekat langsung menghentikan percakapan. Mama tersenyum padaku. Aku duduk di tempat tidurku.


“Papa keluar dulu ya, Nak. Kamu istirahatlah dulu.” kata Papa.


“Kamu temani Kak Ulfa saja, Far. Sepertinya dia membutuhkan kamu.” kataku pada Farha.


“Baik, Mbak, aku ke Mbak Ulfa dulu.” kata Farha. Farha langsung mengangguk sopan padaku dan Mama.


Selepas Farha keluar. Mama menatapku. Sungguh ada banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan pada Mama.


“Ada yang mengganggu pikiranmu, Nak?” tanya Mama.


“Ma, apa benar Mama dan Papa tahu kalau Kak Ulfa mencintai Mas Faiz?” tanyaku.


Mama terkejut.


“Bagaimana kau tahu? Apa kamu mendengar percakapan Mama dan Papa tadi?” tanya kak Ulfa.


Aku mengangguk.


“Maafkan aku, Ma. Jujur sebetulnya aku sudah tahu bagaimana perasaan Kak Ulfa pada Mas Faiz.” kataku sedih.


“Kamu tahu sejak kapan, Nak?” tanya Mama serius.

__ADS_1


“Aku mengetahui semuanya setelah menikah, Ma.” kataku sedih.


Mama menghembuskan nafas lega.


“Lalu apa yang dilakukannya pada saat kamu dan Nak Faiz berbulan madu?” tanya Mama.


“Kak Ulfa mencoba merusak hubungan kami, Ma.” kataku.


Akupun menangis. Tak kuasa menceritakan kejadiannya. Akupun tak kuasa menceritakan keburukan Kak Ulfa pada Mama. Aku takut Mama kecewa.


“Ya Allah, apa mama tidak salah dengar?” tanya Mama.


Aku mengangguk.


“Aku bingung, Ma. Di satu sisi aku maklum kalau Kak Ulfa belum bisa melupakan Mas Faiz namun di satu sisi lain aku tidak mau Kak Ulfa merusak pernikahanku.” kataku.


“Sabar, Nak. Beri dia waktu. Mama akan menasihatinya nanti. Dan kita lihat 6 bulan ke depan. Kalau dia tidak melakukan hal macam-macam pada pernikahanmu, kamu harus melupakan kejadian ini ya, Nak. Bagaimana juga dia adalah kakakmu, Mama tidak mau hanya karena seorang laki-laki, kamu dan Kakakmu akan kembali bermusuhan.” kata Mama.


Aku tersenyum pada Mama lalu mengangguk. Aku jelas mengerti arti ‘kembali’ yang dikatakan Mama.


“Mama ke kamar kakakmu dulu ya.” kata Mama.


Aku mengangguk. “Terima kasih, Ma.” Kataku.


“Iya, sama-sama, sayang.” kata Mama.


Mama pun beranjak. Akupun memilih merebahkan tubuhku. Aku mulai menarik selimut, dan berniat untuk tidur.


“Astgahfirullah aku belum salat asar.” kataku.


Akupun bangkit, hendak mengambil air wudu. Namun, aku melihat di bawah tempat tidurku ada bekas muntahanku. Akupun mengambil lap, lalu berniat membersihkannya.


“Biar Mas yang bersihkan.” kata Mas Faiz yang tiba-tiba ada di sampingku.


“Tapi, Mas. Ini menjijikan. Aku tidak mau kamu membersihkannya.” kataku.


“Tidak apa-apa, An.” kata Mas Faiz.


Lagi-lagi Mas Faiz tidak mau aku bantah. Akupun menurut. Aku mengganti baju yang sebelumnya sudah aku bawa ke kamar mandi, lalu mengambil air wudu dan salat Asar. Ntah mengapa aku malas sekali mandi.


Setelah salat asar aku mendapati Mas Faiz datang membawa makanan. Aku tersenyum pada suamiku. Aku benar-benar sangat beruntung memiliki suami yang begitu perhatian padaku. Aku melipat mukena dan sajadah yang kugunakan. Setelah meletakkan makanan akupun memeluk suamiku.

__ADS_1


__ADS_2