Penjara Suci

Penjara Suci
PS 11 - Pingsan Lagi


__ADS_3

Aku mengejapkan mataku. Aku mulai melihat lagit-langit yang tampak tak lagi asing. Kini aku ingat, ternyata aku kembali lagi ke kamar tadi, kamar yang aku tempati sebelum pergi ke toko baju. Aku menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Farha. Lagi-lagi saat aku bangun dia tak ada di sisiku. Ah, yasudahlah. Aku mencoba bangun, namun aku kembali jatuh terlentang karena perutku luar biasa sakit.


“Arghhh!” erangku pelan.


“Istirahat saja.” suara itu lagi. Suara orang yang kalau tak salah ingat disebut sebagai ‘Gus Faiz’ oleh Farha.


Kalau dipikir-pikir namanya cukup aneh. Baru kali ini aku mendengar nama Gus Faiz. Faiz memang banyak tapi untuk ‘Gus’ sepertinya tidak ada satupun. Apa ‘Gus’ adalah singkatan? Dari agus? Oh iya, pasti namanya Agus Faiz. Karena terlalu panjang jadi disingkat jadi Gus Faiz. Rasanya aku ingin tertawa. Namun, sayangnya sekadar untuk berbicara saja sedikit saja aku kesulitan.


“Eh, gue Nindy” kataku. Sambil mengulurkan tanganku. Dengan seramah mungkin. Biasanya tiap aku pasang raut ramah seperti ini semua orang pasti akan lebih ramah kepadaku. Dengan begini, semoga saja si Gus Faiz ini mau dekat denganku dan bersedia mengeluarkan aku dari penjara ini.


Gus Faiz memandang tanganku yang masih menggantung di udara dengan lemah. Karena tak kunjung mendapat balasan tanganku terjatuh.


“Faiz, Mbak." jawabnya dengan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Tanpa mau menatapku sama sekali.


GUBRAKKK!


Aku melupakan satu hal. Tentang mahram-mahram itu. Bukankah tadi kami telah berkenalan? Seharusnya kami sudah mahram. Mengapa dia tetap tak tersentuh seperti itu? Ternyata sampai kapan pun, kita tak akan pernah sama. Lihatlah, kenalan saja hanya seperti ini. Bagaimana dengan nanti ketika ingin merundingkan sesuatu? Sepertinya kami harus pakai toa Masjid agar saling berjauhan namun suaranya tetap terdengar. Berada di dekatnya benar-benar membuatku frustasi. Apa semua santri laki-laki di sini bersikap demikian? Jangan-jangan hanya dia yang menganggapku virus. Awas saja.


“Nama gue Nindy, jangan panggil gue ‘Mbak’ kayak orang-orang. Lagian, lo juga pasti lebih tua dari gue.” kataku. Dia mengangguk. Lalu menyodorkanku makanan baru dan lengkap bersama obat dan air putih.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia pergi. Rasanya ingin sekali menimpuknya menggunakan penampan ini. Belum sampai keluar kamar (Mengapa aku merasa seperti suami istri? Ah, otaku pasti sudah tak waras), umi masuk


“Tunggu, Faiz. Umi mau kenalkan sama Nindy.” kata Umi.

__ADS_1


Umi tak memanggil Faiz dengan nama ‘Gus’ Faiz. Aku jadi penasaran mengapa demikian. Apa mungkin ‘Gus’ adalah nama kesayangan? Tapi umi tidak memanggilnya demikian, tak mungkin kan kalau Umi tidak sayang pada anaknya. Tunggu! Anak? Jangan-jangan Gus Faiz adalah anak Umi.


“Nindy, ini anak Umi namanya Faiz.” kata Umi.


Aku meringis dalam hati. Kesempatan itu benar-benar hilang. Aku yakin tidak ada anak Kyai yang mau membantu orang untuk bunuh diri. Sial, sial, sial. Betul-betul sial.


“Lho, dia anak Umi?” tanyaku. Dia berada di rumah Umi, tentulah dia anaknya. Kenapa aku baru menyadari ini?


Umi tersenyum, “Iya ini anak Umi namanya Faiz.” kata beliau.


“Kok gak ada agusnya, Umi?” tanyaku.


“Maksudnya?” tanya Umi.


Di tempatnya aku melihat Gus Faiz tersenyum ke arah lain. Bukan, itu bukan senyum namun keadaan seseorang yang sedang menahan tawanya. Apa yang salah sebetulnya dari kata-kataku? Aku melirik Umi, beliaupun tertawa anggun sambil menutup mulut.


“Hahaha, kamu lucu sekali, Nindy. Gus itu bukan singkatan dari Agus. Gus itu semacam sebutan untuk anak seorang Kyai, karena teman-temanmu tahu kalau Gus Faiz anak Abah, jadi mereka memanggilnya seperti itu.” kata Umi.


Aku mengangguk-anggukkan kepala. Merutuki kebodohan yang telah aku perbuat. Coba saja tadi aku tanya Farha, pasti citraku tak akan buruk seperti ini. Duh, aku tak mau mendapat predikat orang 'oon'.


“Umi, Faiz keluar dulu.” kata Gus Faiz. Setelah ditanggapi oleh Umi, Gus Faiz pun keluar. Dari semua orang yang aku kenal di pesantren ini. Hanya dia yang tidak ada aksen medok seperti orang-orang.


“Sini, biar Umi suapi.” kata Umi.

__ADS_1


“Eh, gak usah Umi, Nindy bisa sendiri kok.” kataku.


Kali ini Umi sedikit memaksa. Aku kembali membandingkan keadaanku saat ini dengan keadaanku di rumah. Dulu, di rumah aku tak pernah disuapi oleh ibuku. Saat sakit, jangankan disuapi, dibelikan obatpun tidak, justru aku sering dibilang pura-pura sakit.


“Nindy, kenapa? Kok diam saja?” tanya Umi. Wajah beliau menunjukkan ke khawatiran. Aku tersenyum getir dalam hati. Mengapa harus orang lain yang justru peduli dan khawatir padaku. Bukan keluargaku, bukan mama.


“Gakpapa, Umi.” kataku. Andai Umi adalah ibuku. aku pasti akan menjadi anak yang paling bahagia sedunia.


“O iya, tadi mama kamu telepon Umi, katanya kamu ndak mau ngomong sama mama kamu, betul itu, Nak?” tanya Umi, setelah menyuapiku beberapa suap.


Mendengar nama mama disebut, aku kembali sadar harapan yang kupikirkan hanyalah harapan kosong tanpa bisa terwujud, bagaimanpun caranya. Harapan itu hanya bisa kusebut angan-angan belaka karena selalu menemui jalan buntu.


Hilang sudah selera makanku. Aku mengangguk merespon kata-kata Umi. Hatiku berkata aku tidak boleh berbohong pada Beliau. Semoga anggukanku cukup menjelaskan bahwa aku tak mau berbicara dengan mama. Kalau bisa, bisa juga menjelaskan bahwa aku tak mau berhubungan lagi dengan keluargaku. Siapapun itu. Katakanlah aku egois. tapi aku benar-benar tidak peduli.


Umi hendak menyuapiku lagi tapi aku menolaknya dengan sopan. “Nindy kenyang, Umi.” kataku.


Lagi-lagi mama. Tidak puaskah sebetulnya keluargaku memenjarakanku di sini? Tak cukupkah hanya dengan memasukkanku ke sini dan tak lagi mencampuri segala urusanku? Tak bisakah aku dibiarkan hidup tenang sesuai dengan keinginanku.


Kalau orang menyebut itu adalah bentuk kasih sayang. Aku tak setuju. Tak ada satupun kasih sayang yang membuang orang yang disayang. tak ada satupun kasih sayang yang selalu menekan, memojokkan dan menyalahkan orang yang disayang. Jika bentuk kasih sayang adalah dibandingkan, diasingkan, dibuang, dibenci, dimarahi, dan disakiti.. sungguh kalaupun betul semua yang kukatakan masuk kategori kasih sayang, aku tak mau menerima kasih sayang itu. Aku tak butuh. Bahkan aku akan dengan senang hati bila ada yang merenggut kasih sayang itu dari tubuhku.


Mengapa sulit sekali rasanya berdamai dengan rasa sakit, Tuhan? - teriakku dalam hati


Kalimat itu terus kuulang hingga aku merasa aku benar-benar merasakan sesak yang tak tertahankan. Sungguh sakit betul hingga rasanya air mata tak bisa lagi menerjemahkan apa itu perih, apa itu sakit, dan apa itu kecewa.

__ADS_1


__ADS_2