
Sekembalinya aku dan Gus Faiz. Ah, sepertinya aku harus mulai mengganti panggilan untuknya dalam ceritaku ini. Baik, aku akan mulai memanggilnya dengan sebutan Mas Faiz, bukan lagi Gus Faiz. Mas Faiz. Memikirkan namanya saja mampu membuat jantungku kelojotan.
Ah, apa pula arti kelojotan ini. Aku sepertinya terkena virus cinta suamiku. Mas Faiz. Mas Faiz. Mas Faiz. Diam-diam aku tersenyum.
“Ada apa, An?” tanya Mas Faiz.
Meski dalam keadaan mengemudi sepertinya dia masih tetap mengawasiku. “Tidak apa-apa, Mas. Hehehe.” kataku.
“Jangan tersenyum seperti itu pada pria lain.” kata Mas Faiz.
“Memang kenapa, Mas?” tanyaku.
“Aku tidak mau punya saingan.” kata Mas Faiz.
Aku terkekeh. “Kamu berubah sekali, Mas. Aku lebih menyukaimu yang seperti ini.” kataku.
“Berati dulu kamu tidak menyukai saya, An?” tanya Mas Faiz.
“Tentu saja aku sudah mencintaimu sejak empat tahun lalu, Mas.” kataku, buru-buru menjawab pertanyaan Gus Faiz.
“Oh, jadi sudah mencintai saya sejak empat tahun lalu?” kata Mas Faiz.
“Maaaassss..” rengekku.
Mas Faiz terkekeh. Sesekali dia melirikku. Aku tak bisa menyembunyikan senyumanku, lagi-lagi aku menggigit bibirku. Mobil kami mulai masuk ke dalam kompleks rumah keluargaku.
“An..” kata Mas Faiz. Dia menunjuk-nunjuk bibirnya.
Apa maksudnya? – tanyaku dalam hati.
Hanya ada satu kemungkinan. Mas Faiz memintaku menciumnya, di bagian bibir. Aku semakin menggigit bibirku.
“An, bibir..” kata Mas Faiz lagi. Dia masih menunjuk-nunjuk bibirnya.
Demi apapun karena apapun, jantungku benar-benar berdegup dengan kencang. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau mengecewakan suamiku, namun aku tak mengerti bagaimana caranya. Aku semakin menggigit bibir hingga rasanya bibirku perih.
“Annn..” nada Mas Faiz terdengar menakutkan.
Aku buru-buru mendekatinya.
CUP!
Bibirku mendarat singkat di bibirnya.
CITTT!
Mas Faiz mengerem mobil secara mendadak. Tubuhku hampir saja menabrak dashboard mobil bila Mas Faiz tidak cekatan menahan tubuhku dengan tangannya.
Gawat, melihat keterkejutan Mas Faiz aku buru-buru sadar. Kalau aku salah sangka. Gawat, dia pasti menyuruhku tidak menggigiti bibirku. Bodoh sekali aku tidak memikirkan itu. Ini pasti karena aku yang melamun tadi.
Mas Faiz menoleh ke arahku. Tatapannya sangat berbeda, ntahlah aku tidak bisa mengartikan tatapan itu. Dia mendekat, mendekat, dan mendekat. Aku memejamkan mata..
***
Sesampainya di rumah, Azan Asar berkumandang, Mas Faiz pamit ke Masjid, sedangkan aku salat di rumah.
__ADS_1
Selesai salat, membaca zikir dan wirid. Aku mengawalinya dengan membaca istigfar sebanyak 3x, membaca sifat Allah dan bertaubat, membaca doa keselamatan, membaca doa warid, membaca tasbih sebanyak 33x, membaca tahmid sebanyak 33x, membaca takbir 33x. beristigfar lagi 3x, lalu membaca doa sesudah salat.
Setelah selesai, aku melipat mukenaku dan meletakkannya di atas meja. Akupun mengambil kerudung langsungan dan memakainya. Lalu, keluar kamar. Aku bergabung dengan Mama dan Papa yang sedang menonton TV.
“Mama, Papa.” panggilku. Aku segera duduk di samping Mama.
“Bagaimana tadi jalan-jalannya?” tanya Papa.
“Pasti serulah, Pa. Lihat saja wajah anak kita terlihat sangat berseri-seri.” Mama menjawab.
“Ah, mama..” kataku, merengek pada Mama.
“Mama benar bukan?” tanya Mama sambil terkekeh.
Aku hanya bisa mengangguk malu-malu. Aku tidak bisa berbohong dan tidak mau juga untuk berbohong.
“Assalamualaikum..” salam Mas Faiz.
“Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.” Mama, Papa, dan aku membalas salam berbarengan.
“Sini, Nak Faiz!” kata Papa.
Mas Faizpun mendekat dan duduk di samping Papa. Aku berpamitan untuk membuatkan teh untuk Mas Faiz, Papa, dan Mama. Setelah membuatkan teh, aku kembali lagi.
“Terima kasih, Sayang.” kata Papa.
“Dengan senang hati, Pa.” kataku.
“Terima kasih, Sayang.” kata Mama.
“Terima kasih. Sayang.” kata Mas Faiz.
“Dengan senang hati, Mas.” kataku.
Tunggu. Aku buru-buru mendongak. Mama dan Papa tertawa melihatku. Aku tersenyum malu-malu, begitu pula Mas Faiz. Sepertinya Mas Faiz reflesk mengucapkan panggilan sayang seperti Papa dan Mama.
“Lho, bibirmu kenapa, Nak?” tanya Mama.
Aku memegangi bibirku. “Oh, ini. Digigitmah.” kataku.
“Digigit?” tanya Mama.
“Iya, Ma. Aku tidak bohong, ini karena digigit, iya kan, Mas?” tanyaku pada Mas Faiz.
“Uhuk!” Mas Faiz tersedak.
Mama menatap Mas Faiz. Seperti meminta penjelasan. Aku buru-buru tersadar. Mama pasti salah paham.
“Eh, aku gigit sendiri, Ma.” kataku.
“Hahahaha.” Mama dan Papa tertawa.
Aku mengusap tengkukku yang tidak gatal. Aku tidak berani melihat Mas Faiz.
“Kenapa kamu gigit, Sayang?” tanya Mama. “Kan jadi bengkak.” lanjut beliau.
__ADS_1
“Iya, Ma. Aku tidak sengaja.” kataku.
“Mama punya salap, ikut Mama yuk, Sayang.” kata Mama.
“Baik, Ma. Pa, Mas, aku ke dalam dulu.” kataku.
“Iya, Sayang.” kata Papa.
Mas Faiz hanya mengangguk. Akupun mulai mengekori Mama dari belakang. Bibirku memang perih. Namun, aku tidak sadar kalau bibirku menjadi bengkak.
Belakangan aku suka sekali menggigit bibir, karena menahan senyum ataupun tertawa di depan Mas Faiz. Ntah mengapa, aku merasa sangat bahagia tiap berada di dekatnya. Namun, karena aku malu menunjukkan kebahagiaan itu, jadi secara refleks aku pun menggigit bibir.
Sesampainya di Kamar Mama, aku pun duduk di atas kasur, menunggu Mama yang sedang mencari salap untuk bibirku. Mama tipikal orang yang suka menyetok obat, jadi aku tidak heran bila Mama punya salap untuk bibirku.
Setelah menemukan salap berwarna kuning, beliau menghampiri lalu mulai mengobatiku.
“Benar ini kamu sendiri yang mengigitnya?” tanya Mama.
“Benar, Ma. Aku tidak mungkin bohong sama Mama.” kataku.
“Boleh Mama tahu mengapa kamu bisa sampai menggigit bibirku hingga bengkak?” tanya Mama.
“Aku terlalu bahagia, Ma.” kataku sambil menyengir kuda.
“Jangan bilang, karena Nak Faiz terus membuatmu bahagia membuatmu malu untuk tersenyum padanya.” kata Mama.
“B-bagaimana Mama bisa tahu?” tanyaku pada Mama.
“Kamu persis seperti Mama dulu, Nak. Mama pun pernah merasakan apa yang kamu rasakan.” kata Mama. Mata mama kini sangat meneduhkan.
“Dulu, bagaimana Mama mengatasinya, Ma? Aku benar-benar belum bisa mengendalikan tubuhku sendiri.” kataku.
“Dulu, Mama selalu mencoba meyakinkan diri sendiri kalau kebahagiaan atau senyuman itu bukan sesuatu yang memalukan. Apa lagi, dia adalah suami kita. Alih-alih menyembunyikan, jutru lebih baik kita tampilkan apa adanya.” kata Mama.
Kata-kata Mama sangatlah benar. Aku tidak boleh seperti ini.
“Berhentilah menggigiti bibirmu, karena selain kamu melukai diri kamu sendiri, kamu juga membuat suamimu merasa sedih.” kata Mama.
Aku menunduk. Mama telah selesai mengoleskan salap di bibirku. Bibirku terasa perih, namun tidak sampai membuatku berteriak. Rasanya, meski menyakitkan namun tidak terlalu sakit.
“Baik, Ma. Insyaallah aku tidak akan menggigiti bibirku lagi.” kataku.
"Lagi pula kamu tidak mau kan melihat orang salah paham?" tanya Mama.
Aku mengangguk.
Mama pun tersenyum lalu mengusap kepalaku yang tertutup kerudung dengan sayang. Aku merasakan begitu nyaman. Aku benar-benar beruntung memiliki Ibu sebaik Mama.
“Mengapa kamu menatap Mama seperti itu, Sayang?” tanya Mama.
Aku menggeleng. “Aku benar-benar anak yang sangat beruntung memiliki mama sebaik Mama. Aku benar-benar ingin menjadi sepertimu, Ma.” kataku pada Mama.
“Jangan pernah berkeinginan menjadi seperti Mama, Nak. Cukup contoh apa-apa yang kamu anggap baik dari Mama saja. Karena kamu berhak menjadi jauh lebih hebat di banding Mama.” kata Mama.
Akupun memeluk Mama. “Terima kasih, Ma. Terima kasih.” kataku.
__ADS_1