Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 67 - Kemunafikan


__ADS_3

Hari terus berlalu, tidak ada kejadian istimewa yang ingin aku ceritakan. Kini aku semakin bahagia. Menjadi ibu dan istri di rumahku sungguh membuatku selalu bahagia. Meski kadang rasa bosan dan ingin main selalu menghampiriku, namun itu semua tertutup sikap suamiku yang selalu menyempatkan waktu di rumahnya bersama kami.


Bi Darsih sedang izin dua hari ini untuk pergi ke rumah Arum. Aku tentu mengizinkannya karena Bi Darsih merindukan anaknya. Sebelum pergi, Bi Darsih sudah membersihkan semuanya. Padahal, aku sudah katakan kalau aku bisa membersihkannya.


Kini aku sedang berada di ruang tamu, sedang menonton TV bersama Haidar. Belakang Haidar suka menonton iklan di TV, jadi setiap acara mulai aku mengganti channel untuk membuatnya senang. Tapi tidak setiap hari, hanya sebentar-sebentar saja.


Ponselku tiba-tiba berdering. Menampilkan nama Kak Ulfa di sana. Akupun mengangkatnya. Sepertinya Kak Ulfa ingin menceritakan keseruan bulan madunya bersama Kak Dimas.


“Dik?” kali ini Kak Ulfa mengawali percakapan tanpa salam.


“Iya, Kak?” tanyaku.


“Kamu di rumah?” tanya Kak Ulfa.


“Iya, Kak. Aku di rumah.” kataku.


“Ada siapa saja di rumah?” tanya Kak Ulfa.


“Hanya ada Mang Jarwo, Kak. Karena Bi Darsih sedang pergi ke rumah Arum.” kataku.


“Bisa kamu datang ke rumah sakit?” tanya Kak Ulfa.


“Lho, siapa yang sakit, Kak?” kataku balik bertanya.


“Papa.” Kata Kak Ulfa.


“Ya Allah, Papa sakit apa, Kak?” tanyaku.


“Serangan jantung. Cepatlah kemari, aku telah meminta Mas Dimas menjemputmu. Dia sudah berada di dekat rumahmu. Kamu keluar saja sekarang!” kata Kak Ulfa.


“Baik, Kak.” kataku.


Mendengar Papa yang masuk rumah sakit, akupun langsung menghubungi suamiku. Mas Faiz tidak menjawab. Akupun memilih mengirimkan pesan.


Assalamualaikum, Mas. Mas, tadi Kak Ulfa telepon katanya Papa masuk rumah sakit. Aku izin ke rumah sakit ya, Mas.


Send.


Akupun mengirim pesan itu lalu kuraih Haidar kucarikan jaket untuknya. Lalu akupun keluar rumah.


“Mang saya mau menemui Papa saya di rumah sakit. Jaga rumah ya, Pak.” kataku.


“Baik, Bu. Hati-hati.” kata Mang Jarwo.


Tepat ketika aku keluar gerbang, sebuah mobil berhenti di depanku. Aku membuka pintu belakang namun pintu terkunci, kaca jendela terbuka.


“Duduk di depan saja.” seru Kak Dimas.

__ADS_1


Akupun mengangguk lalu masuk ke dalam dan duduk di samping Kak Dimas. Kalau hari-hari biasa pasti aku sangat canggung. Pasalnya aku tidak pernah jalan bersama laki-laki lain selain Mas Faiz. Untuk saat ini kecemasanku mendominasi.


Akupun masuk ke dalam mobil itu lalu kamipun melesat.


“Bagaimana keadaan Papa?” tanyaku pada Kak Dimas.


“Buruk.” kata Kak Dimas.


Akupun semakin cemas. Kak Dimas melirikku dan tersenyum. Aku benar-benar tidak mengerti arah senyumannya. Namun, mengabaikannya. Kini aku semakin cemas. Aku benar-benar takut bila terjadi apa-apa pada Papa karena Papa tidak memiliki riwayat penyakit jantung, sepertinya ini serangan mendadak.


“Mamama..” Haidar meracau.


“Kenapa, Sayang?” tanyaku pada Haidar.


Haidar tiba-tiba menangis. Haidar sudah kenyang tadi. Jadi, aku yakin ia menangis bukan karena lapar. Dia seperti merasakan kegundahanku. Aku mencoba menenangkannya.


“Kenapa menangis, Sayang. Haidar kangen sama Kakek ya? Kita doakan semoga kakek baik-baik saja ya.” kataku.


Haidar masih menangis.


“Sepertinya dia lapar.” kata Dimas.


“Tidak, Kak. Haidar sudah menyusu tadi di rumah.” Kataku.


Haidar masih menangis. Aku semakin bingung. “Sabar ya, Nak. Jangan menangis, kalau Haidar menangis Mama jadi ikut sedih.” kataku sambil mengusap kepalanya.


Kini Haidar diam. Aku mencium puncak kepalanya. Dia adalah anak yang baik.


“Akulah yang beruntung memilikinya.” kataku.


“Mana yang lebih baik, aku atau Faiz?” tanya Kak Dimas.


Aku menengok ke arah Kak Dimas. “Tentu saja suamiku.” kataku refleks.


Seketika Kak Dimas menggeram. Aku jadi sedikit takut.


“Maksudku, aku telah menikah dengan suamiku, otomatis dialah yang menurutku lebih baik.” kataku mencoba menjelaskan.


“Apa bila aku datang sebelum Faiz datang, apa kau akan jatuh cinta padaku?” tanya Kak Dimas.


Pertanyaan Kak Dimas semakin aneh. Aku jadi berpikir yang tidak-tidak. Namun, aku memfokuskan diri pada Papa lagi. Aku memilih diam. Aku berdoa agar kami cepat sampai di rumah sakit.


Aku memandangi jendela. Aku benar-benar tidak tahu kemana kami akan pergi. “Di mana rumah sakit Papa?” tanyaku.


“Sebentar lagi kita sampai. Jawab pertanyaanku!” seru Kak Dimas.


“Pertanyaan yang mana?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


Kak Dimas melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Aku langsung melindungi Haidar. Kak Dimas benar-benar nekad.


“Kalau kau masih pura-pura tidak tahu, biarlah kita berakhir di jurang.” kata Kak Dimas.


Aku benar-benar merasa cemas. Pasalnya kami berada jauh dari rumahku, dan kini sebelah kananku adalah jurang. Aku benar-benar tidak tahu di daerah Jakarta masih ada tempat seperti ini. sepertinya kita sudah mulai keluar Jakarta. Aku benar-benar cemas.


“Baiklah, baiklah. Aku tidak tahu.” Jawabku.


“Katakan iya!” seru Kak Dimas sambil menambah kecepatan mobilnya.


“Baik, iya. Iya. Mungkin kalau Kak Dimas masuk ke hidupku sebelum Mas Faiz, aku bisa mencintaimu.” kataku berbohong.


Tentu saja bahkan bila di dunia ini hanya tinggal Kak Dimas seorang aku tetap tidak ingin mencintainya, dia terlalu jahat.


Aku merasakan mobil ini melaju terlalu jauh. Jalanan mulai sepi. Akupun berinisiatif untuk mengirim pesan pada Mas Faiz.


Mas, tolong aku..


Send.


Ponselku langsung di ambil Kak Dimas. Aku mencoba menggapai-gapai ponselku. Haidar kini menangis lagi. Ternyata tangisannya tadi bukanlah karena lapar. Sepertinya Haidar tahu kalau kami sedang berada dalam bahaya.


“Kembalikan ponselku, Kak!” seruku, sambil masih menggapai-gapai. Namun, Kak Dimas tidak mau memberikan ponselku.


Aku tidak tahu apa yang diketik oleh Kak Dimas. Setelah mengetik dia mematikan ponselku dan menginjaknya. Ponselkupun rusak.


Kini aku sudah benar-benar tahu situasi apa yang kini sedang aku hadapi. Papa tidaklah sakit dan kami tidaklah sedang menuju rumah sakit. Hatiku benar-benar sakit. Bagaimana kakakku bisa melakukan ini kepadaku. Sebenci itukah dia hingga setega ini dia padaku?


“Apa ini hanya akal-akalan Kak Dimas dan Kak Ulfa?” tanyaku. Satu air mataku turun.


“Sepertinya tak perlu lagi aku jawab.” kata Kak Dimas.


Haidar masih menangis.


“Jangan menangis, Nak. Allah bersama kita.” kataku mengecup Haidar. Haidarpun diam, seakan paham apa yang aku katakana, dia memelukku begitu erat.


Kini, pikiranku benar-benar ingin keluar dari mobil ini. Jika kali ini aku sendirian, aku berani melompat ke luar mobil, namun aku bersama Haidar. Aku tidak mau anakku terluka. Aku benar-benar tidak mau.


Aku benar-benar tak habis pikir apa salahku pada Kak Ulfa dan Kak Dimas hingga mereka melakukan ini semua kepadaku. Aku merasa tidak pernah menjahati mereka. Jangankan berbuat jahat, berpikiran untuk berbuat jahatpun aku tidak mampu.


Aku kira, kebaikan mereka padaku sangatlah tulus. Aku benar-benar tidak pernah berpikir kalau ternyata mereka tetaplah jahat.


Air mataku jatuh. Aku merasa bersalah pada Mas Faiz. Padahal aku tahu kalau seorang istri ingin keluar rumah harus izin kepada suami. Aku memang memberitahu Mas Faiz via chat namun Mas Faiz belum membalas pesanku, izinku belum dikatakan sah.


Aku benar-benar menyesal. Sepertinya ini balasan untukku yang tidak izin kepada suamiku. Bila saja tadi aku menunggu suamiku membalas atau mengangkat telepon, dan meminta izin baik-baik, hal ini tidak akan terjadi. Mas Faiz tentu akan menemaniku.


Maafkan aku, Mas.. Maafkan aku, aku benar-benar meminta maaf.. –batinku.

__ADS_1


“Menikahlah denganku.” kata Kak Dimas.


Allah.. –batinku. Sebutir air mataku jatuh lagi. Aku buru-buru mengusap air mataku sendiri.


__ADS_2