Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 39 - Keberanian yang Ntah datang dari Mana


__ADS_3

Keesokkan harinya aku sudah beraktivitas seperti biasa. Aku menemui Farha, dia sedang di dapur. Berkutat dengan makanan yang sedang dimasaknya.


“Farha?” panggilku.


“Eh, Mbak. Sudah tidak sakit?” tanyanya polos.


Aku terkekeh lalu mengangguk. “Kamu bisa masak?” tanyaku. Aku menghampirinya.


“Bukankah tiap ada acara di pondok aku selalu jadi juru masak, Mbak?” tanya Farha sambil terkikik.


Akupun terkekeh mendengar kata-katanya. Dia memang pandai masak di pondok, itulah mengapa Umi sangat suka menunjuknya sebagai juru masak tiap pondok mengadakan acara. Aku tidak pernah bisa masak, jadi tugas yang kuemban tidak jauh-jauh dari bagian acara.


“Kamu benar juga.” kataku.


Aku terdiam. Aku tidak tahu apakah ini waktu yang tepat atau tidak untuk membicarakan Aaron. Namun sepertinya tidak tepat, karena kami berada di dapur aku tidak mau merusak konsentrasi Farha memasak. Bukankah memasak perlu konsentrasi?


“Ada yang bisa aku bantu?” tanyaku.


“Tidak perlu, Mbak. Mbak di sini bersamaku saja aku sudah sangat senang.” kata Farha.


“Apa kau betah di sini?” tanyaku.


“Betah, Mbak. Mamanya Mbak baik sekali padaku. Aku merasa memiliki ibu lagi.” katanya.


“Alhamdulillah kalau kamu betah. Ikut yuk, ke rumah aku?” tanyaku.


“Wah, mau, Mbak.” kata Farha.


Tiba-tiba perutku merasa mual.


“Jangan, Far. Aaron akan leluasa datang kalau kamu ikut dengannya.” suara Kak Ulfa.


Pantas saja perutku mual. “Oekk!” aku buru-buru pergi ke westafel untuk mengeluarkan isi perutku.


“Mengapa memangnya kalau Aaron datang? Aaron adalah suaminya.” kataku.


“Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya hidup dengan seseorang yang telah membunuh seorang ayah.” kata Kak Ulfa.


“Bagaimana dengan kamu, Kak? Kita sama-sama tidak tahu bagaimana rasanya.” kataku. Mataku nyalang menatap matanya. Ntah keberanianku datang dari mana, namun aku tidak merasa ingin diam seperti biasanya.


“Tentu saja berbeda. Kau kawan Aaron. Kau pasti bersekongkol dengan Aaron. Apa jangan-jangan kau yang merencanakan ini?” tanya Kak Ulfa.


“Merencanakan apa?” tanyaku.


“Tabrakan Aaron dan Bapaknya Farha.” kata Ulfa.


Aku tersenyum sinis, “Ck, tuduhan murahan. Jelas-jelas aku di pondok. Dua puluh empat jam bersama Farha, bagaimana mungkin aku bisa kakak mengatakan kalau aku bersekongkol dengan Aaron. Lagian yang menyabotase mobil Aaron adalah Dimas. Temanmu, Kak. Teman akrab kan? Oh, jangan-jangan kakak yang bersekongkol dengan dia?” kataku. Mulutku tidak mau direm sungguh.

__ADS_1


Perutku kembali mual. Kak Ulfa melayangkan tangannya. Akupun memuntahkan ke baju Kak Ulfa. Kali ini dengan sengaja dan dengan kesadaran penuh.


“Argh! Mamaaa!” seru Kak Ulfa.


“Lho, Nak, kenapa kamu di sini?” tanya Mama.


Papa dan Mas Faiz pun datang juga menghampiri. Mereka tentu penasaran dengan apa yang terjadi.


“Lihat, Ma. Nindy benar-benar sengaja muntah di bajuku!” seru Kak Ulfa.


“Kamu kan sudah Mama larang untuk mendekati adikmu untuk saat ini. Coba jelaskan pada mama kenapa kamu ada di sini?” tanya Mama.


“Aku hanya ingin meminta maaf padanya sesuai dengan apa yang mama katakan.” kata Kak Ulfa.


“Meminta maaf? Apakah kamu dengar kalau Kak Ulfa ingin meminta maaf kepadaku, Farha?” kataku.


“Aku kan mengatakan ingin. Argh! Kamu menyebalkan sekali!” seru Kak Ulfa pergi ke kamarnya.


“Kamu tidak apa-apa, An? Kita pulang saja ya?” kata Mas Faiz.


“Lho, kan baru satu malam, Nak.” kata Mama.


“Maaf Ma, Pa. Tapi saya benar-benar tidak tega melihat istriku terus-terusan seperti ini.” kata Mas Faiz.


“Tapi kalian hanya berdua di sana.” kata Papa.


“Kami akan mencari asisten rumah tangga dan satpam.” kata Mas Faiz.


“Bagaimana jika Farha ikut denganku, Ma?” tanyaku. “Kamu mau kan, Farha? Setidaknya aku ada teman kalau Mas Faiz sedang pergi.” aku menatapnya.


Farha mengangguk. “Mau, Mbak.” katanya.


“Boleh kan, Mas?” tanyaku pada Mas Faiz.


Mas Faiz tersenyum, “Boleh.” katanya.


Pagi ini aku tidak bisa ikut sarapan di ruang makan karena ada Kak Ulfa dan aku tidak mau menyajikan tontonan menjijikan di awal atau tengah acara sarapan. Saat aku selesai makan bersama dengan Mas Faiz, akupun pergi ke taman belakang rumah. Mas Faiz di kamar berkutat dengan beberapa telepon dari kantornya.


Aku duduk di bangku belakang. Aku biarkan matahari pagi menyengat kulitku. Aku benar-benar menikmati panas pagi.


Tiba-tiba aku merasakan mual. Aku menutupi mulutku agar makanan yang baru saja masuk perutku tidak keluar lagi. Aku buru-buru menoleh.


“Ck, ternyata kamu benar-benar mual berada di dekatku.” kata Kak Ulfa sinis.


“Kamu sudah tahu, Kak. Kenapa masih mendekatiku?” tanyaku menyelidik.


“Untuk apa lagi.” kata Kak Ulfa. Dia duduk di sampingku. Aku benar-benar merasa mual. Akupun memuntahkan makananku ke arah lain.

__ADS_1


“Pergilah, Kak.” kataku.


“Mengapa harus aku yang pergi?” tanyanya.


Akupun mengalah. Aku berdiri hendak pergi. Kak Ulfa sepertinya memang sengaja mendekatiku agar aku terus merasakan mual. Aku benar-benar tidak suka pikiran ini namun jika kuamati dari bagaimana dia bertingkah, namun seperti itulah. Menyebalkan sekali.


Tiba-tiba dia mencekal tanganku sambil tersenyum. Aku buru-buru melesapkannya, namun Kak Ulfa tidak melepaskan justru mencengkeram lebih erat. Aku tidak mungkin berteriak, nanti Kak Ulfa akan berdalih lagi. Akupun memanfaatkan perut mualku.


Aku menarik paksa tangan Kak Ulfa dengan kuat. Lalu kumuntahkan di atas telapak tangannya. “Oek!” Aku buru-buru lari ke dalam rumah.


“Nindy!” seru Kak Ulfa.


Aku tersenyum berlari menjauhi Kak Ulfa. Karena berlari-lari, tidak sengaja aku tersandung kakiku sendiri. Hampir saja aku terjatuh bila tidak ada lengan kekar yang menangkapku agar tidak jatuh.


Aku mendongak. Ternyata Mas Faiz. Kami pun dalam posisi seperti yang ada di novel-novel atau FTV-FTV. Aku terkikik geli dalam hati.


Mas Faiz membantuku menegakkan tubuhku. “An, kamu tidak boleh seperti itu.” kata Mas Faiz.


“Mas melihatnya?” tanyaku.


“Iya, Mas melihatnya.” jawab Mas Faiz.


“Mas melihatnya tapi tetap menyalahkanku.” kataku sambil mencibir.


“Bukan begitu, Sayang. Maksud Mas..” belum sempat Mas menjelaskan. Aku buru-buru memotongnya.


“Apa aku harus diam saja? Saat kakakku sengaja membuatku mual?” tanyaku sedih.


“Tidak, An..” kata Mas Faiz.


“Aku sedih, aku mau ke kamar saja.” kataku. Aku berjalan.


“An..” panggil Mas Faiz.


Aku diam saja. Masih terus berjalan menaiki tangga.


“Sayang..” panggil Mas Faiz.


Aku berhenti sebentar. Lalu berjalan lagi.


“Anindya Sayangkuuu!” seru Mas Faiz.


Aku berhenti dan berbalik.


“Nak Faiz, apakah itu panggilanmu pada anakku? Lucu sekali.” seru Papa sambil terkekeh melihat Mas Faiz.


“Kamu manis sekali, Nak.” timpal Mama.

__ADS_1


Mau tak mau aku menahan senyumku. Aku memperhatikan telinga Mas Faiz yang kian memerah menandakan kalau dia sedang merasakan malu. Tentu saja, Mas Faiz pasti lupa kalau penghuni rumah ini bukan hanya kita berdua. Akupun tertawa.


Mas Faiz mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Seketika dia mengalihkan pandangannya padaku. Aku buru-buru memasang wajah cemberut, lalu masuk kamar.


__ADS_2