
Farha memandangku dengan tatapan entahlah aku sendiri tidak bisa mengartikan tatapan itu. Seperti ada curiga dan cemas di sana. Aku harap dia tidak tahu apa yang sedang aku rencanakan. Jika dia tahu, putuslah semua harapanku. Walaupun aku baru mengenalnya beberapa hari. Aku tau dia salah satu ancaman kegagalan rencana kaburku dari pondok ini.
"Memang, Mbak mau ke mana? Biar aku antar." katanya.
"Gak ke mana-mana, gue mau ke pondok aja deh." kataku, langsung kabur meninggalkan Farha.
"Mbak, tunggu!" kata Farha sedikit berteriak.
Aku hanya bisa tersenyum sinis. Akhirnya dia teriak juga.
***
Di balik jeruji besi ini, aku mulai meratapi lagi nasibku yang terdampar di sebuah tempat yang sangat aku benci. Pesantren. Pesantren ini mungkin adalah tempat suci bagi Farha dan kawan-kawannya. Tapi tidak untukku. Kasusku berbeda dengan mereka yang dengan senang hati menerima bahwa mereka di masukkan ke dalam sebuah penjara suci ini. Penjara suci yang seharusnya tidak di kotori oleh manusia-manusia sepertiku.
Sebetulnya, kehadiranku ini, tak bisa disalahkan. Sebab, kehadiranku ini bukanlah keinginanku dan tak pernah mungkin menjadi keinginanku. Kadang aku masih sering membayangkan keadaan Kak Ulfa di rumah. Tidak! Aku tidak merindukan kakakku itu! Kalau saja aku punya ilmu untuk menghilangkan dia dari daftar memoriku. Kupastikan orang yang pertama kali kuhapus adalah Kak Ulfa, Si Bedebah Revan, dan selingkuhannya yang menjijikan itu.
Di Jakarta pergaulanku memang bebas. Tapi untuk melakukan hal-hal menjijikan seperti itu otakku masih waras untuk menolaknya. Aku masih ingat betul nasihat Si Pemberi Gelang ini, dia sahabatku. Walau kelakuan kami sebelas dua belas, namun dia lebih dewasa juga cenderung menarikku ke dalam kebaikan. Aku boleh saja nakal, namun tak boleh melampaui batas itu. Dulu ia juga pernah mengatakan bahwa biasanya seorang perempuan akan dilihat adalah masa lalunya, sedangkan seorang pria yang dilihat adalah masa depannya. Jadi, menyerahkan kehormatan kepada pria yang belum menikahi kita hanya akan merugikan kami, kaum perempuan.
Sahabatku. Dia adalah sahabat terbaikku. Kepalaku mulai memutar kembali kejadian hari itu. Di hari yang benar-benar aku sesali seumur hidupku. Hari dimana kepapaanku menjadikan kita tak pernah bertemu selamanya. Saat itu, aku menerima sebuah telepon mengejutkan dari adik sahabatku. Beliau mengatakan kalau sahabatku mengalami kecelakaan. Lukanya parah dan kritis. Dia mengatakan bahwa dokter telah memprediksikan bahwa ia tak bisa menjamin keselamatan sahabatku itu.
Mendengar informasi itu membuat aku terpukul, kakiku gemetaran, dan air mataku berlinangan. Aku buru-buru keluar kamar untuk pergi ke rumah sakit. Namun, orang tuaku melarangku untuk pergi walaupun aku sudah menjelaskan semuanya tanpa dikurangi atau ditambahkan sedikitpun. Mereka malah langsung menyeretku ke kamar dan mengunciku di sana. Dan yang lebih parah adalah ponselku disita. Aku hanya bisa menangis meraung-raung di kamar. Tak ada yang peduli kepadaku.
Keesokkan harinya aku ke rumah sakit, namun tak kutemukan 'dia' di sana. Saat ku tanyakan seorang suster, mereka bilang sahabatku itu sudah tiada. Sontak aku langsung pergi ke rumahnya. Namun, lagi-lagi sepertinya dunia sedang tak berpihak kepadaku. Tidak ada siapa-siapa di rumah itu, bahkan tetangganya tak ada yang tahu kemana keluarga sahabatku itu pergi. Yang jelas sepertinya jenazah sahabatku dibawa ke salah satu kampung orang tuanya.
__ADS_1
Sehari dua hari hingga berbulan-bulan selanjutnya aku selalu berkunjung ke rumah itu. Namun tak ada perubahan, rumah itu tetap kosong. Dan tak secuilpun informasi kudapat dari tetangga yang kujumpai.
Mulai saat itu. Aku membenci keluargaku. Aku semakin nakal. Hingga, di sinilah aku. Di balik jeruji penjara suci yang diagung-agungkan masyarakat. Sebetulnya jeruji besi yang aku maksudkan adalah pagar yang di buat khusus di rooftop agar jemuran para santri tidak jatuh ataupun terbang karena angin.
Aku menghembuskan nafas. Rasanya begitu sesak meski kuakui udara di sini cukup segar. Aku memejamkan mataku sejenak lalu membuka kembali. Dari sini aku bisa melihat sekeliling pondok adalah rumah penduduk dan selebihnya hutan. Hutan yang masih sangat lebat. Hutan itu seperti tembok yang mesti kurobohkan agar bisa keluar, sungguh menyusahkan untuk kabur jika aku tidak tahu jalan keluarnya. Terlihat lebih rumit dari labirin.
Saat aku mengedarkan pandanganku ke sebelah kanan. Tak sengaja mataku menemukan segerombolan santri yang sedang mengintip sesuatu dari balik bangunan sebelah sana. Arah mereka mengintip adalah ke arah jalanan tempat jalan menuju Masjid dan Ndalem Abah yang saling berdekatan.
Aku penasaran.
Wahhh! Ada mangsa nih! - otak licikku menemukan jalan untuk sedikit mengurangi rasa sedih.
"Mbak, mau ke mana?" tanya Farha yang tiba-tiba datang.
"Hai, pada lagi ngapain sih?" tanyaku penasaran, sebenarnya sih ini trik. Aku bisa saja menyerobot ke depan dan melihat apa yang mereka intip.
Tanganku dengan terampil mengikat mukena-mukena mereka yang masih asyik mengintip. Sejujurnya aku penasaran apa yang membuat mereka tak sadar kalau mukena mereka aku ikat antara satu dengan yang lain. Tapi masa bodolah dengan apa yang mereka lihat. Justru ini menguntungkanku. Aku bisa terus mengikat mukena-mukena mereka.
"Ngintipin orang mandi ya lo?" Tanyaku pada salah satu santri itu tapi tidak ada jawaban. Mereka masih fokus.
Aku menyeringai saat semuanya sudah kuikat tanpa sepengetahuan salah satu dari mereka. Kini aku menerobos mereka hingga sampai di barisan paling depan dan melihat apa yang terjadi. Dan tak ada apapun di sana. Dasar santri-santri aneh.
Saat aku hendak menoleh tak sengaja kutemukan sosok Gus Faiz di bawah sana. Seketika aku mengerti dan paham apa yang sedang mereka lihat di sana.
__ADS_1
"Hahahaha, lo semua ngintipin Gus Faiz?" tanyaku. Sambil kusengajakan tinggi agar Gus Faiz mendengar. "Faiz! Eh, maksud gue Gus Faiz!" teriakku. Dan gotcha! Dia menoleh kearahku. Aku mengisyaratkannya untuk menunggu, dan diapun hanya memperhatikanku, menurut.
Saat aku menoleh ke arah para santri, mereka ternyata sedang berjongkok, menutupi muka mereka. Lalu akupun menarik salah satunya. “Mereka pengen kenalan ama lo nih! Pakai ngingip-ngintip!" teriakku. Sengaja kutarik lebih kencang.
Otomatis mereka semua yang tak mau aku permalukan di depan Gus Faiz berinisiatif kabur.
Dan …
Bruggg!
Mereka semua jatuh bertumpukan. Ternyata usahaku mengaitkan satu mukena ke mukena yang lain sangat menguntungkan dan sangat menyenangkan. Melihat mereka terjatuh membuatku tertawa terbahak-bahak. Aku menoleh ke Gus Faiz sekilas, sepertinya dia tersenyum, ntahlah.
"Aduhhh.. Awww.. Ishhh.." mereka saling merintih.
“Hahahahah! Rasain, emang enak gue kerjain! Hahahaha.” belum juga aku menyelesaikan tawaku tiba-tiba kupingku dijewer seseorang. Aku menoleh dan mendapati Linda di sana, dia benar-benar pengurus yang paling menyebalkan. Tak terima, aku pun balas menjewernya. Biarlah langit senja memandang aneh kepadaku.
"Astaghfirullah, Mbak! Istighfar, apa yang Mbak lakukan sampai mereka jatuh seperti itu?!” katanya.
"Dih, kok gue? Niat gue baik kok, pengen nyampein perasaan mereka ke Gus Faiz, biar gak usah ngintip-ngintip kayak gitu." kataku. Membela diri.
Linda melepaskan tangannya dan begitu juga aku.
Matanya langsung beralih ke santri-santri yang kini menunduk lemas takut dimarahin atau bahkan ditakzir oleh pengurus.
__ADS_1
Selagi Linda memarahi anak buahnya dengan bahasa yang membuat kupingku sakit. Aku langsung melesat pergi. Meninggalkan hiburan terakhirku di sini.