Penjara Suci

Penjara Suci
PS 18 - Syarat Mustahil


__ADS_3

Aku menyeringai. Aku yakin dia tak akan pernah bisa memenuhi semua syarat yang kuajukan.


“Setuju!” katanya mantap.


Deg! Aku tak percaya dengan apa yang dia katakan. Apakah dia bodoh? Apa sebetulnya rencananya hingga dia benar-benar menyetujui persyaratanlu tanpa berpikir kembali. Aku buru-buru memutar otak.


Aku harus menang! Aku tak akan membiarkan Gus Faiz menghalangi rencanaku lagi. Sungguh, aku benar-benar sudah lelah atas semua ini.


“Pertama lo harus bilang ke keluarga gue kalo gue kabur dari pesantren atau udah mati ditelan harimau pas lagi kabur atau apalah terserah lo. Yang penting jangan biarin orang tua gue tau kalo gue masih ada di pesantren. Suruh mereka pergi.” kataku.


Gue Faiz langsung mengangguk. “Baik, tapi di pesantren nanti kamu harus berubah. Jadi santri yang membanggakan.” katanya setelah terdiam beberapa detik.


“Oke. Gue janji akan jadi lebih alim dari pada Farha.” kataku asal-asalan. Ingin lekas membuatnya berhenti mengacaukan rencanaku.


“Saya pegang janji kamu. Yang kedua?” tanya Gus Faiz. Aku menggigil kedinginan. Udara malam yang dingin semakin dingin setelah mendengar Gus Faiz yang malah menantangku balik.


Dalam hati aku panik. Kenapa dia dengan mudah mengatakan iya? Padahal aku menyuruhnya untuk berbohong. Kini aku bergantung pada syarat ke 2 yang sudah bisa kupastikan tidak akan disetujuinya.


“Syarat gue yang terakhir adalah peluk gue.” kataku.


Secara releks Gus Faiz melepaskan cekalan tangannya. Tubuhnya menegang. Raut wajahnya gusar. Aku tersenyum dalam hati sambil melihatnya yang lagi-lagi mengusap wajahnya frustasi. Aku tau ini akan berhasil.


“Gue akan ceritain semua masalah gue pada saat kita pelukan. Jadi, syarat kedua adalah peluk gue sampai gue selesai cerita.” kataku. Sambil tersenyum penuh kemenangan.


Gus Faiz terdiam.


Aku hanya tersenyum sinis lalu membalik badan. Menuju jurang itu lagi. Sudah ku katakan bukan kalau dia pasti tidak akan memenuhi persyaratanku yang kedua.


“Anindya Athaya Zahran!” teriak Gus Faiz. Aku menghentikan langkahku. Rasanya ada yang aneh saat Gus Faiz memanggil nama lengkapku. Tunggu? Darimana dia tahu nama lengkapku?

__ADS_1


“Oke deal!” langsung berlari ke arahku.


JLEB!


“W-w-waktunya habis.” kataku langsung berlari.


Matilah aku! Bencana! Ini bencana! Dua kata darinya itu membuat indra pendengaranku pecah. Aku harus gimana? Jantungku berdegup dengan kencang saat melihat Gus Faiz berlari ke arahku. Derap langkahnya itu mampu membuatku menangis sendu. Air mataku tak henti-hentinya mengalir seiring langkahnya yang semakin menipiskan jarak.


“Maaf.” lirihnya, lalu memelukku.


1 Menit


2 Menit


3 Menit


4 Menit


Tak ada percakapan yang terjadi di antara kami. Kami sama-sama tenggelam dalam fikiran kami masing-masing. Degup jantungku tak bisa dijelaskan lagi. Tapi tunggu aku merasakan detak jantung Gus Faiz yang menggebu-gebu. Mimpikah aku?


Aku tidak membalas pelukan Gus Faiz. Hingga Gus Faiz mengeratkan pelukanku hingga membuat tangisku pacah begitu saja. Aku tidak kuat lagi. Aku balas memeluknya bahkan lebih erat.


“Ceritalah!” suara Gus Faiz, kali ini nada suaranya kembali dingin seperti biasa.


Akupun menceritakan semuanya kepada Gus Faiz. Dari awal hingga akhir. Kecuali gelang ini. Karena kuanggap gelang ini tak akan berpengaruh apapun. Gus Faiz hanya diam. Mendengarkan semua ceritaku. Sesekali aku mengeratkan pelukanku mengingat udara juga semakin dingin.


“... dan ...” kepalaku semakin berat. Tak sengaja aku mencengkram baju kokonya agar aku bisa berdiri.


“Kamu kenapa?” tanya Gus Faiz, khawatir.

__ADS_1


“Cukup. Lepasin gue!” kataku. Gus Faizpun melepaskanku.


“Ayo, penuhi semua janji kamu, An.” kata Gus Faiz.


Baiklah, mulai saat ini. Aku akan penuhi semua janji sialan itu. Karena janji itu hutang. Aku tidak mau dikejar hutang saat aku mati suatu saat nanti. Aku masih memegangi kepalaku yang semakin menjadi-jadi. Tapi aku tidak mau terlihat lemah lagi dihadapan Gus Faiz.


Aku kuat! Aku percaya pada pepatah yang mengatakan ‘Kekuatan kita adalah seberapa kita memandang diri kita kuat’ jadi aku yakin. Aku akan kuat.


Tidak apalah tak jadi meninggal, terpenting yang keluargaku tahu aku telah tiada. Mulai saat ini, aku bertekad akan mencoba mencari hidupku yang baru. Hidup tanpa bayang-bayang mereka yang menyakitiku pasti akan jauh lebih seru. Tentang kebutuhan hidup, aku tak perlu memutar otak, sebab uangku cukup banyak di ATM, ditambah biaya hidup di sini sangatlah murah, aku yakin akan mencukupi kebutuhanku hingga aku lulus dan pergi dari sini.


Ternyata tidak sia-sia aku mengumpulkan uang dari mulai kelas 5 SD. Dari awal pertama kali aku mengirimkan sebuah puisi, gambar, dan cerpen ke beberapa majalah terkenal di Jakarta. Ikut syuting beberapa kali sampai pulang larut malam. Menjadi vokalis band setiap malam minggu di sebuah kafe di daerah kemang. Dan 5x menerbitkan novel teenfiction di gramedia. Kenapa uang itu masih utuh? Jawabannya karena selama di Jakarta aku jajan, nongkrong, dan sebagainya dari uang saku yang diberikan oleh Papa. Jadi uang yang kukumpulkan belum pernah ku sentuh sama sekali, kecuali membeli baju saat bersama Farha.


Aku terus mengikuti Gus Faiz dari belakang dalam diam. Sambil sesekali memijat keningku saat tiba-tiba berdenyut nyeri. Malam ini akan menjadi saksi atas perubahan di hidupku. Nindy yang bukan lagi anggota keluarga Papa-Mama dan Nindy yang tidak punya kakak seperti Kak Ulfa. Semoga ini adalah awal yang baik untuk kehidupan baruku.


Aku memijat kepalaku lagi.


DUGGG!


Aku menabrak punggung Gus Faiz yang berhenti mendadak di hadapanku. “Apaan si lo, kalo mau ngerem bilang dong!” kataku kesal.


“Gue janji akan jadi lebih alim dari pada Farha.” kata Gus Faiz mengulang ucapanku saat di hutan tadi. Sial.


“Oke, mau lo, eh maksudnya mau kamu apa? Kenapa berhenti mendadak?” tanyaku. Aku merasa aneh mengucapkan kata aku-kamu. Rasanya bukan Nindy. Apa lagi ngomong aku-kamu kepada laki-laki yang bukan pacar kita. Tanpa kujelaskan, pahamkan?


“Sampai.” kata Gus Faiz, sambil menahan senyum.


Aku hanya menggeram kesal. Keadaan di sini sangat sepi mungkin karena ini sudah masuk larut malam. Aku menghampiri gerbang pondokku. Ternyata terkunci dari dalam. Aku hanya mendecak sebal sebab tak bisa membukanya.


Aku menjatuhkan tubuhku di depan pintu. Sambil memijat kepalaku yang masih sangat pening. Tak lama kemudian Gus Faiz ada di hadapanku lalu tanpa menunggu persetujuan dariku dia langsung mencoba menarik sapu pengunci dari dalam. Dan terbukalah pintu pondokku ini. Setelah pintu terbuka tanpa melirik Gus Faiz sama sekali aku langsung masuk lalu mengunci pintu dari dalam.

__ADS_1


“An, maaf atas semuanya.” kata Gus Faiz.


Hatiku menghangat. Sungguh.


__ADS_2