Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 21 - Rencana Tanpa Persiapan


__ADS_3

“Anak pintar.” kata Umi sambil membetulkan rambut Nindy yang berantakan.


“Faiz?” tanya Nindy.


Nindy bertanya apakah Faiz juga anak pintar.


“Panggil Mas ya, Sayang. Mas Faiz.” kata Umi.


Nindy menatap Umi. “Mas Fa-iz.” kata Nindy. Dia mengikuti kata-kata Umi.


Umi tersenyum.


Faiz yang tidak mau kalah ingin menghibur Nindy pun langsung bertepuk tangan. “Horeee!” serunya.


Nindy pun tertawa, “Mas Fa-iz!” katanya mengulangi kata- katanya lagi.


Faiz bertepuk tangan lagi, “Horeee!” serunya.


Nindy tertawa lagi, “Mas Fa-iz!” katanya mengulangi kata- katanya lagi.


Faiz bertepuk tangan lagi, “Horeee!” serunya.


Umi yang melihat tingkah Nindy dan anak laki-lakinya tertawa. Tingkah Nindy dan Faiz terlihat sangat menggemaskan.


“Sini, Nak.” kata Umi.


Faiz mendekat. Umi memeluknya dengan penuh kasih sayang.


Faizpun balas memeluk ibunya.


“Nindy main sama Mas Faiz dulu ya, Umi mau ke dalam dulu.” kata Umi.


Umi sangat percaya kalau anaknya bukanlah anak yang nakal jadi dia percaya kalau Nindy dan Faiz bermain bersama pasti akan anteng dan Faiz tidak akan meminta pulang seperti sebelumnya.


Nindy mengangguk lalu turun dari pangkuan Umi. Faizpun melepaskan pelukan pada Ibunya. Umi mengusap kepala Nindy dan Faiz lalu mencari Rina. Dia sangat merindukan sahabatnya itu.


Nindy berjalan menuju masak-masakan yang ditinggalkan Ulfa. Dia memang biasa bermain masak-masakan dengan Ulfa dengan bahan baku rumput, tanah, dan air yang berasal dari keran air yang tak jauh dari tempatnya berada. Keran itu biasa digunakan untuk menyiram tanaman yang sebetulnya tidak terlalu banyak oleh Rina.


“Bu beli bu, gitu yaa?” kata Nindy. Nindy bersikap seperti anak yang sudah besar mengajari Faiz.


“Aku pembeli?” tanya Faiz.


“Saya.” kata Nindy.


Faiz tidak mengerti apa yang dimaksud Nindy.


“Saya bukan aku.” kata Nindy.


“Bukannya sama saja?” tanya Faiz, bingung.


Nindy menggeleng. “Saya, bagus.” katanya.


“Oke, saya.”


Faiz mengangguk. Dia tentu tak mau membuat Nindy menagis lagi. Kalau tadi ada Ulfa yang bisa disalahkan, kali ini tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua.


“Bu, saya beli, Bu.” kata Faiz.


“Duduk ulu.” kata Nindy.

__ADS_1


Nindy bersikap seperti penjual profesional. Diapun berniat mengambil air di keran air. Namun, tubuh kecilnya tidak sampai untuk memutar keran. Faiz pun menghampiri Nindy, berjinjit dan mulai membuka keran tersebut. Namun tidak disangka, air keluar dengan derasnya dan membasahi tubuh Nindy dan Faiz.


“Wahhh!” seru Nindy sambil sengaja berdiri semakin dekat dengan air.


Faiz yang panik langsung berusaha untuk menutup keran air.


“Faizzz..” seru Umi yang tiba-tiba datang. “Kenapa main air, Nak?” tanya Umi.


Faiz langsung terdiam ketakutan. Nindy yang tahu Faiz ketakutan langsung menempel ke tubuh samping Faiz, Faiz bergeser, Nindy mendekat lagi, Faiz menggeser lagi, dan Nindy mendekat lagi.


***


“Apa kamu ingat, An?” tanya Mas Faiz.


Aku tersenyum. Meski sayup-sayup namun aku ingat dulu pernah ada sahabat Mama yang datang beserta nama laki-lakinya, aku benar-benar tidak menyangka. Tapi untuk detil seperti yang diceritakan Mas Faiz aku benar-benar tidak bisa mengingatnya.


“Sedikit, Mas.” kataku, sambil nyengir kuda.


Mas Faiz terkekeh.


“Sepertinya kita memang sudah ditakdirkan bersama, An.” kata Mas Faiz. “Untunglah saya bisa menepati janjiku menikahimu saat dewasa.” lanjutnya.


“Mas, apa aku benar-benar mengatakannya?” tanyaku.


“Iya, saya maksudku Mas ingat sekali.” katanya.


“Aku memang suka mengatakan ‘saya’ untuk menyebutkan aku sebelum sekolah. Tapi aku benar-benar tidak ingat memintamu melakukan hal serupa.” kataku.


“Tentu saja, kamu masih sangat kecil waktu itu, An.” kata Mas Faiz.


“Lalu, kapan Mas tahu ini semua?” tanyaku.


“Apa aku boleh percaya diri sekarang, Mas?” tanyaku.


“Percaya diri?” tanya Mas Faiz tak mengerti.


“Melihat kamu tetap menggunakan kata saya sampai dewasa, aku merasa kamu telah menyukaiku sejak saat itu.” kataku, sambil terkekeh.


Mas Faiz tertawa. “Ntahlah, Si Kecil Ndi, Si Gadis Tirai, Sahabat Ilham, dan seorang Anindya Athaya Zahran yang aku kenal saat di pondok. Benar-benar menyita perhatian Mas. Untunglah mereka satu orang.” katanya.


“Kalau mereka berbeda orang?” tanyaku.


“Harus satu orang pokoknya.” kata Mas Faiz.


“Ih, Mas maksa..” kataku tertawa.


Sorot mata Mas Faiz berubah, akupun salah tingkah. Dia tersenyum. Jantungku benar-benark kembali berdetak.


“Lama-lama rasanya Mas tidak tahan, An.” katanya.


“Tidak tahan untuk?” tanyaku.


“Kamu lapar, An?” tanya Mas Faiz. Sepertinya Mas Faiz sedang mengalihkan pembicaraan.


Aku teringat, kami belum makan.


“Mas, aku buatkan makanan dulu ya?” tanyaku.


Mas Faiz mengangguk.

__ADS_1


“Aku bantu, An..” kata Mas Faiz.


Belum sempat Mas Faiz berdiri ponselnya berdering. “Sekretarisku.” Mas Faiz menatapku.


“Angkat saja, Mas. Siapa tahu penting.” kataku.


Mas Faiz mengangguk.


***


“An, kamu mau bulan madu?” tanya Mas Faiz.


Mendengar kata bulan madu. Pikiranku berkelana kemana-mana. Pipiku pun terasa panas.


“Kenapa pipi kamu bersemu merah, An?” tanya Mas Faiz.


“Ah, tidak apa-apa, Mas. Ini.. e, panas. Iya panas.” kataku.


Mas Faiz buru-buru mengambil remot AC. Aku buru-buru menahan tangannya. AC di kamar ini sudah cukup dingin. Bisa menggigil kedinginan aku besok.


“Memang mau ke mana, Mas?” tanyaku.


“Kamu mau ke mana?” tanya Mas Faiz.


“Kemanapun asal bersamamu aku mau, Mas.” kataku.


Mas Faiz mendekatkan tangannya ke pipiku seperti ingin mencubit. Akupun memejamkan mata bersiap menahan rasa sakit akan cubitannya. Tak di sangka dia justru mengusap pipiku lembut. Aku buru-buru membuka mata.


“Aku kira kamu mau mencubitku, Mas.” kataku.


Mas Faiz menggeleng. Kini rautnya sedih. Namun, dia buru-buru menujukkan senyumannya lagi padaku. Aku mulai bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang terjadi padanya.


“Ada apa, Mas?” tanyaku.


“Ada satu kerja sama yang tidak bisa dilancarkan tanpa Mas turun tangan sendiri, An.” kata Mas Faiz.


“Kalau Mas mau ke kantor tidak apa-apa, Mas. Aku sungguh tidak apa-apa sendirian di rumah.” kataku.


“Pertemuan itu tidak di kantor.” kata Mas Faiz.


“Lalu, di mana?” tanyaku.


“Di Lombok.” kata Mas Faiz.


“Ah? L-lombok?” tanyaku.


Mas Faiz mengangguk.


Pantas saja Mas Faiz sedih. Lombok, meski masih kawasan Indonesia namun tergolong jauh. Mengingat kami yang belum genap sebulan menikah akan terpisah jauh membuat aku dan Mas Faiz sedih. Namun, aku tidak boleh egois.


“Tidak apa-apa, Mas.” Kataku, mencoba menenangkan Mas Faiz.


“Bagaimana kalau kamu juga ikut, An. Sekalian saja kita di sana bulan madu.” kata Mas Faiz.


Aku tersenyum cerah, “Mau, Mas.” kataku sambil mengangguk. “Tapi..” kataku.


“Tapi?” tanya Mas Faiz memintaku melanjutkan.


“Apa saja yang akan kita lakukan pada bulan madu kita?” tanyaku.

__ADS_1


Mas Faiz mengusap tengkuknya. “Mas juga tidak tahu, yang jelas kita bisa terus bersama di sana.” katanya sambil tersenyum.


__ADS_2