Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 12 - Rahasia Kak Ulfa


__ADS_3

“Mama, perut aku sakit” kataku.


Aku bingung, meski sudah makan namun perutku masih saja sakit. Aku tidak mau memberitahu Mas Faiz karena aku merasa bisa mengatasi ini. Lagi pula aku tidak terbiasa ke dokter. Biasanya hanya meminum obat mag yang biasa keluargaku beli, bisa langsung sembuh.


“Kamu telat makan lagi ya?” tanya Mama.


Aku pun mengangguk.


“Mama kemarin beli obat nag yang biasa kamu minum, ada di kakakmu. Mama mintakan dulu ya.” kata Mama.


“Eh, jangan, Ma. Biar aku saja yang mencari Kak Ulfa.” kataku.


“Perutmu bagaimana?” tanya Mama.


“Tidak apa-apa, Ma. Aku ke Kak Ulfa dulu ya.” kataku.


“Baiklah, biasanya Ulfa ada dapur.” kata Mama.


Akupun pergi ke dapur mencari Kak Ulfa. Dan benar saja, sayup-sayup aku mendengar suara Kak Ulfa. Sepertinya Kak Ulfa sedang asyik mengobrol dengan seseorang. Akupun masuk ke dapur, ternyata Kak Ulfa sedang menelepon seseorang.


“Aku juga tidak tahu, Ha. Aku baru tahu kalau wanita yang ingin dilamarnya adalah adikku ketika keluarganya datang. Padahal kamu tahu kan, orang yang sering chattingan sama dia itu aku bukan adikku..”


DEG!


Aku bergeming di tempat. Aku menutup mulutku tak percaya dengan apa yang aku dengar. Mataku seketika panas. Jantungku berdegup dengan kencang. Aku menggeleng. Aku tidak bisa menemui Kak Ulfa. Aku menatap punggung Kak Ulfa dengan tatapan nanar.


Akupun langsung berlari ke dalam kamar. Tidak ada teriakan dari belakangku, tandanya Kak Ulfa tidak menyadari kalau aku mendengar ucapannya. Pikiranku kini terus tertuju pada kalimat Kak Ulfa yang ditujukan pada temannya di telepon. Hatiku sakit sekali.


Aku benar-benar bingung saat ini, Kak Ulfa adalah kakakku, aku tidak mungkin langsung menegurnya begitu saja, aku tidak mau hubungan kami kembali retak. Aku menyayanginya.


Aku menjatuhkan tubuhku di sisi tempat tidur. Aku membekap mulutku sendiri agar tidak ada suara isakan yang keluar dari mulutku. Aku mulai memeluk lututku. Aku benar-benar bingung dan dadaku sakit.


Kak Ulfa tidak salah, sungguh. Memiliki perasaan pada Mas Faiz bukanlah sebuah kesalahan. Namun, fakta Kak Ulfa yang tetap menyukai suamiku setelah kami menikah menurutku adalah kesalahan. Aku benar-benar bingung. Namun, bila mengingat sebelum aku menikah Kak Ulfa sudah menyukai Mas Faiz membuatku merasa bersalah. Bila demikian, akukah yang jahat telah merebut Mas Faiz dari Kak Ulfa?


“An?” tiba-tiba Mas Faiz berjongkok di depanku.


Aku hanya bisa menggeleng. Air mataku menderas. Aku terus menutup mulutku agar isakanku tidak terdengar oleh siapapun di luar kamar. Kamarku tidak kedap suara, aku tidak mau membuat semua orang khawatir. Terlebih, aku tidak mau Kak Ulfa mengetahui apa yang aku ketahui.


Mas Faiz memelukku. “Ada apa?” tanyanya sambil mengusap kepalaku khawatir.


“B-ba-wa aku dari sini, Mas. Aku mohon.” kataku.


“Bukankah kita akan pindah besok? Ada apa?” tanya Mas Faiz.


Mas Faiz melepaskan pelukanku dan menatapku khawatir, dia mengusap air mata di pipiku. Melihat wajah Mas Faiz membuatku semakin tak mau kehilangan dia. Aku memang egois tidak memikirkan perasaan Kak Ulfa. Tapi aku tidak mau kehilangan Mas Faiz.


Aku menggeleng, tak kuasa menjawab pertanyaan Mas Faiz.

__ADS_1


“Istighfar, An.” kata Mas Faiz.


“Astgahfirullah al-azim.” kataku dengan suara yang nyaris tidak keluar.


Mas Faiz tidak berkata-kata lagi. Dia hanya memelukku sambil mengusap-usapku. Hingga aku merasa mengantuk dan tidak bisa mengingat apapun lagi.


***


Aku membuka mataku.


“Kamu sudah bangun, An?” tanya Mas Faiz.


Aku buru-buru duduk, mengangguk. “Jam berapa sekarang, Mas?” tanyaku.


“Jam 18.20.” jawabnya.


“Aku salat dulu.” kataku.


Mas Faiz mengangguk. Akupun mengambil air wudu dan aku mendapati sajadah yang sudah digelar, lengkap dengan mukena di atasnya. Hatiku menghangat memikirkan Mas Faiz yang menyiapkannya. Aku tersenyum pada Mas Faiz lalu salat.


Selesai salat, aku pun menghampiri Mas Faiz.


“Bagaimana perasaanmu?” tanya Mas Faiz.


“Aku sudah lebih tenang, Mas.” kataku.


“Aku sangat mengkhawatirkanmu.” kata Mas Faiz.


“Kamu tidak perlu meminta maaf.” kata Gus Faiz.


Aku dan Mas Faiz, kini diam. Tenggelam pada pikiran kami masing-masing. Aku kembali menimbang-nimbang, apakah aku harus mengatakan hal yang sejujurnya pada Mas Faiz atau tidak. Mas Faizpun tidak menanyakannya, sepertinya dia tidak mau kembali sedih bila aku harus menceritakan apa yang terjadi.


“Kamu tidak penasaran dengan apa yang terjadi, Mas?” tanyaku.


“Aku tidak mau membuatmu sedih.” katanya.


Aku menatap wajah suamiku. Dia begitu baik dan perhatian.


“Mas, boleh kita pindah malam ini juga?” tanyaku.


“Boleh saya tahu alasannya?” tanya Mas Faiz.


“Aku janji akan mengatakan segalanya setelah kita pindah rumah, Mas.” kataku. “Aku benar-benar tidak bisa menceritakan semuanya di sini.” lanjutku.


“Baik, saya temui Papa dulu, ya.” kata Mas Faiz.


Aku mengangguk. Mas Faiz pun berdiri aku buru-buru mencekal tangannya. Dia pun berhenti. Sorot matanya terlihat seperti menanyakan ada apa.

__ADS_1


“Terima kasih.” kataku.


Mas Faiz tersenyum, dia menepuk-nepuk tanganku.


Aku melepaskan tanganku, lalu membiarkannya pergi. Setelah Mas Faiz pergi, akupun berjalan menuju lemari, dan mulai memasukkan pakaianku dan pakaian suamiku ke dalam dua koper besar. Selain pakaian, aku memasukkan peralatan rias ke dalam kotak. Dan beberapa barang yang aku anggap pentingpun aku masukkan ke dalam tas.


Peralatan kami tidak banyak. Jadi, saat Azan Isya berkumandang, aku sudah selesai mengepaki barang-barang. Akupun salat. Sepertinya Mas Faiz langsung ke Masjid bersama Papa.


Setelah salat, mamapun mengetuk pintu dan masuk.


“Ada apa, Nak?” tanya Mama.


“Tidak ada apa-apa, Ma. Aku hanya ingin cepat melihat rumah baru.” kataku sambil terkekeh.


Aku tidak mungkin menceritakan apa yang sedang terjadi pada Mama. Aku benar-benar tidka mau membuat beliau khawatir dan berpikir yang tidak-tidak pada Kak Ulfa.


“Ada-ada aja kamu.” kata Mama.


“Ma, maaf ya, Ma. Kalau aku tiba-tiba meminta pindah sekarang juga.” kataku.


“Tidak apa-apa, Nak. Nanti kalau kamu sudah di rumah, jangan lupa bares-beres ya. Kamu yang rajin. Jangan sampai rumah berantakan.” kata Mama.


Aku mengangguk.


“Belajar masak ya, Nak.” kata Mama.


Aku mengangguk lagi.


“Jangan lupa sering-sering telepon, Mama.” kata Mama. Mata mama berkaca-kaca. Beliau mengusap air matanya sendiri.


Aku memeluk beliau.


Tak lama kemudian, Kak Ulfa masuk ke dalam kamar. Aku memaksakan tersenyum dan memaksakan diri agar terlihat tidak ada apa-apa.


“Kamu mau pindah sekarang, Dek?” tanya Kak Ulfa.


Aku mengangguk. “Iya, Kak.”


“Kenapa cepat sekali?” tanya Kak Ulfa.


“Tidak apa-apa, Kak. Aku hanya ingin berhenti merepotkan Mama, Papa saja.” kataku.


“Memang kamu sudah dapat kontrakan?” tanya Kak Ulfa.


“Alhamdulillah, Mas Faiz sudah punya rumah di Daerah Menteng, Kak.” Kataku.


Sorot mata Kak Ulfa langsung lain. Aku mengusir jauh-jauh pikiran kalau Kak Ulfa tidak suka padaku. Aku tidak boleh mengatakan sorot itu seperti sorot iri.

__ADS_1


“Beruntung sekali kamu, Dek.” kata Kak Ulfa. Nadanya terdengar seperti sedih.


Sepertinya pilihan aku pergi memang pilihan yang terbaik. Semoga dengan ketiadaan aku dan Mas Faiz di rumah, Kak Ulfa bisa melupakan Mas Faiz lebih cepat.


__ADS_2