Penjara Suci

Penjara Suci
PS 31 - Isi Surat


__ADS_3

Setibanya di kompleks pondok kami, Arum berpisah karena berbeda kamar denganku dan Farha.


“As-salamu’alaikum." salamku dengan Farha pada waktu yang bersamaan.


“Wa 'laikumus-salam wa rahmatullahi wa barakatuh." jawab anak kamar namun suaranya terdengar lemas. Ternyata mereka semua sudah ada di dalam kamar.


"Ada apa?" tanyaku pada Farha.


"Aku ndak tau, Mbak." Jawab Farha.


Aku menatap mereka bingung. Aku mulai mengamati semua orang. Bahkan Farha tiba-tiba berlari ke lemarinya, sepertinya dia mulai menyadari sesuatu. Mereka semua mengeluarkan seluruh isi lemari mereka masing-masing. Hampir semua wajah mereka murung, dan kesal bahkan ada yang menangis.


“Ada apa sih?” tanyaku. Penasaran.


“Mbak Nindy, surat aku diambil.” teriak Nadia, salah satu teman kamar. Sambil langsung menerjangku dengan pelukan sendu. Aku memandang Nadia dengan tatapan kaget.


Setelah mengecek lemarinya, Farha menghampiri anak kamar yang sedang sakit, lalu bertanya padanya. Aku tau alasan Farha menghampirinya karena anak itu saksi mata semua kejadian selama kami mengaji. Nadia melepaskan pelukannya padaku lalu kembali nangis di karpet miliknya yang biasa digunakan alas tidur.


“Tadi ada pemeriksaan kamar, Mbak. Abah masuk ke sini sama pengurus-pengurus inti. Lalu Abah nyuruh pengurus ngontrol lemari kami satu persatu satu, Mbak." kata Farha.


“Semacam razia gitu?” tanyaku padanya.


“Razia? Ah? Iya Mbak semacam itu." kata Farha lagi.


“Terus itu dia kenapa nangis?” tanyaku.


“Ketahuan surat-suratan ama santri putra, Mbak, suratnya diambil katanya dia baru aja datang dari kantor.” kata Farha lagi.


Untungnya aku sudah diberi tahu Farha sebelumnya kalau kami tidak boleh saling berkirim surat dengan santri putra. Untungnya lagi tidak ada yang memeriksa kitabku ini, karena masih ada di tanganku. Hanya karena ketahuan mengirim surat mereka bisa menangis seperti itu. Sepertinya hukumannya sangat berat. Aku kembali teringat hukumanku bersama Gus Faiz. Lalu bergidik, ngeri.


Alasan mereka berkirim surat pastilah karena di sini kami tidak boleh membawa ponsel. Dan karena jiwa muda yang meronta-ronta, maka terbitlah surat-surat itu.

__ADS_1


Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, ada tiga santriwati lagi yang menangis.


“Itu mereka bertiga juga sama?” tanyaku.


“Iya, Mbak, kasusnya pasti salah satunya itu. Tapi aku juga gak tau si, Mbak, hehehe.” kataku.


Berbanding dengan teman sekamarku, aku tidak mengecek lemariku. Karena aku anggap sebagai perbuatan yang sia-sia. Lemariku hanya ada pakaian dan kalaupun pakaian itu hilang, aku masih bisa membeli lagi, berlipat-lipat.


Farha menghampiriku, tampangnya kusut. Aku taksir dia mengalami hal serupa dengan santriwati lain. Namun, apakah benar Farha bisa mengirim surat pada santri putra? Sepertinya ini pertanyaan yang menggelikan. Karena Farha mustahil melakukannya.


“Surat el-kamu diambil juga?” tanyaku.


Farha mengangguk. Dan aku tidak percaya. Ternyata dia tau cara mengirim surat untuk laki-laki.


“Itu surat dari mamaku, Mbak. Tapi diambil juga,” kata Farha.


“Dih kok gitu si?” tanyaku. Geram juga. Aku mulai bete melihat tingkah pengurus. “Semena-mena aja,” lanjutku.


“Sebetulnya bukan salah pengurus juga si, Mbak, soalnya santri banyak yang surat-suratan dengan nama samaran ibu/bapak biar kalo ketauan pengurus, mereka bisa bilang kalau surat itu dari orangtua mereka. Tapi ya begini korbannya yang benaran dari orang tua justru tidak dipercaya.” kata Farha. Sambil memaksakan senyum, tapi yang tampak adalah senyum miris.


Ada 4 anak yang bermasalah besar di kamar ini, mereka baru saja disidang di kantor pengurus. Respon mereka sangat berbeda dengan yang lain.


Yang pertama adalah Nadia. Dia masih menangis meraung-raung di atas karpetnya sambil bilang “Mama pen balik, mama pen balik.” katanya.


Yang kedua hanya tiduran seperti tidak ada gairah, matanya sudah basah namun tidak sedramatis yang pertama. Benar-benar seperti tak ada gairah untuh hidup.


Yang ketiga terus marah-marah menyumpahi pengurus dengan bahasa Jawa, aku ingin tertawa melihatnya yang begitu lebay dalam mengeluarkan uneg-uneg yang kira-kira begini kalau diterjemahkan, “Emang gue gak tau kalo Mbak Atin surat-suratan ama putra juga. Dimah lebih parah. Mentang-mentang dia pengurus dia enak banget ngambil surat gue. Gue gak terima. Demo yuk Mbak-Mbak!” katanya dengan bibir monyongnya lebih dari 10cm tanpa dia sadari. Suaranya yang besar membuat telinga kami tak henti-hentinya menyuruh kami tertawa.


Dan yang terakhir dia juga sama seperti yang ketiga dengan bahasanya yang aneh pake 'Jeh' setiap mengucapkan beberapa frasa. Kata Farha dia orang Cirebon. Dia hanya mengutuk sesekali namun tidak lebay seperti orang ketiga. Tapi dia setuju usulan si santri ketiga untuk demo melaporkan pengurus yang juga surat-suratan dengan cowok.


"Yah, tongsis aku dijukot." teriak salah satu penghuni yang lain.

__ADS_1


"Nesih anyar, Mel?" kata temannya yang lain.


"Iya, Mbak. Wong nembe tuku wingi-wingi." kata si Mel. Ntah namanya siapa, mungkin Amel.


Mendengar percakapan tingkiwingki itu, kepalaku berdentum, karena harus mikir keras tanpa ujung. namun aku tau, sepertinya dia bawa tongsis lalu tongsis itupun diambil. Sepertinya dia anak orang kaya. Sebab, yang lain, jangankan tongsis, ponsel aja banyak yang tidak punya.


Selain mereka, banyak anak kamar yang terkena takzir juga karena mereka menggantung baju/kerudung/sarung mereka di depan lemari. Hal-hal yang membuat kamar berantakan juga dimintai pertanggung jawaban. Abah sangat menjunjung tinggi kebersihan dan kerapihan, jadi sesuatu yang merusak mata seperti ini langsung masuk dalam kategori takzir, satu kalimat horror yang sangat ditakuti para santri.


Setelah bosan melihat mereka yang terus merenungi nasib. Akupun ke lantai jemuran membawa surat yang diberikan santri tadi.


Hallo, Cantik Si Ratu Clubbing!


Gimana rasanya di siram air comberan dihadapan semua orang? Haha pasti malu ya. Oke. Langsung aja ya gue yakin lo pasti gak betah di pesantren ini. Kalo lo mau kabur dari pesantren ini jangan sungkan bilang ke gue. Gue bakal bantuin lo. Dengan satu syarat tentunya.


Ps: Gue mau liat seberapa lama gue harus nunggu seorang ratu clubbing minta bantuan ke gue.


Aaron


Aku terkejut. Ratu Clubbing? Bagaimana dia tau? Farha tiba-tiba datang dan aku langsung merobek surat itu. Membelahnya menjadi kecil-kecil lalu membuangnya ke bawah kejalanan tempatku menjatuhkan kerudung kemarin.


“Lho, itu kertas apa, Mbak?” tanya Farha.


“Nggak penting, cuma coret-coretan gak jelas.” kataku. Berbohong. Farha hanya mengangguk. Walau raut wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, dia tetap diam karena dia tahu paham ada batas-batas yang tidak boleh dimasuki seseorang karena termasuk zona privasi.


“Mbak, aku senang deh akhirnya Mbak berubah,” kata Farha.


Aku hanya tersenyum. Apa istimewanya sampai membuatnya segembira itu? Aku tetaplah Nindy yang masih dalam proses menghapus sifat labil yang masih sering keluar. Lagi pula aku belum benar-benar berubah.


“Pasti Mama sama Papa Mbak senang deh liat Mbak seperti ini.” katanya lagi.


Mendengar kata Mama dan Papa senyumanku langsung sirna. Farha yang mulai menyadari raut wajahku langsung menutup mulutnya. “Maaf, Mbak.” katanya.

__ADS_1


Seakan tahy hubunganku dengan kedua orang tuaku. Tapi tunggu! Bukankah selama ini yang Farha tahu kami keluarga bahagia? Aku tidak pernah menceritakan apapun padanya. Semoga aku rasa ini hanya perasaanku saja.


“Gakpapa, aku turun dulu." kataku.


__ADS_2