Penjara Suci

Penjara Suci
PS 30 - Si Santri Menyebalkan


__ADS_3

Tak lama kemudian Abah datang. Semua santri langsung kembali ke tempat dan diam. Aku melihat Linda menarik nafas lega. Aku hanya bisa tersenyum sinis. Masjid seketika senyap, hanya terdengar langkah kaki Abah yang terdengar seantereo Masjid. Kata Farha semua santri tidak ada yang berani tidur di waktu ini karena sejak awal Abah sudah mengharamkan santrinya tidur dari waktu salat subuh sampai jam 11 siang nanti. Ini adalah ujian terberat kami. Melawan kantuk.


"Duh, Far. Ngantuk." kataku.


"Sabar, Mbak." kata Farha.


Materi yang disampaikan oleh Abah bagus sekali. Karena meski dominan berbahasa Jawa namun Abah tetap menyelingi dengan bahasa Indonesia. Jadi, sedikit-sedikit aku mengerti pembahasan apa yang beliau sampaikan. Dibanding Ustaz yang lain aku lebih menyukai Abah, mungkin karena kepiawaiannya berbicara, sesekali melucu, jadi tidak membosankan.


Setelah selesai memimpin pengajian, Abahpun meninggalkan Masjid. Sepeninggal Abah, kami semua langsung tiduran bersandar ke sana kemari.


"Biasanya lama gak datang Ustaz-nya?" tanyaku pada Farha.


"Sebentar Mbak, biasanya ya sekitar 10menitan." katanya.


Kami haus akan tidur, ngantuk sekali. Namun itu tidak bertahan lama, pengurus buru-buru membangunkan kami, santri-santri yang lain langsung duduk tegap kembali karena mereka tahu pengurus siap mencatat nama-nama kita yang tidak mau diatur dan ditimbun menjadi hukuman berat saat jumlah poin kesalahan santri sudah mencapai batasnya.


"Bangun, Mbak. Bangun." kali ini Arum yang membangunkanku, sambil menyeringai jail.


"Gayaaa." kataku.


Dia tertawa.


Sepuluh menit kemudian pemateri kedua mulai memasuki Masjid. Kali ini pemateri lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Bukan berarti tidak menggunakan bahasa Jawa sama sekali. Beliau menggunakan 3 bahasa dalam penyampaian materinya. Yang pertama bahasa Arab yang berasal dari kitab yang kami bawa, lalu bahasa Jawa untuk kegiatan ngafsahin, dan bahasa Indonesia untuk menjelaskan.


“Farha emang di pondok pesantren gak ada pelajaran bahasa Indonesia ya?” tanyaku, pertanyaan ini sudah lama ingin aku tanyakan hanya saja baru sekarang teringat.


“Enggak ada Mbak, kalo sekolah bannat ama mu’alimin pelajaran umumnya cuman PKN sama Bahasa Inggris, Mbak." kata Farha sambil berbisik-bisik. Takut dicatat oleh pengurus.


“Oh, pantasan.” kataku. Ber-oh ria. Farha kembali berkutat dengan kitabnya yang sudah hampir penuh dengan tulisan Arab miringnya.


“Eh, berarti kalian bisa ngomong bahasa Inggris dong?” tanyaku lagi.


“Enggak bisa, Mbak hehehehe cuman yang bisa anak Ma’had Ali (tingkatan kuliah) paling, itu juga jarang banget yang bisa hehehehe” kata Farha, malu-malu. Aku mengangguk-angguk.


"Kenapa gak bisa? Kan mudah." kataku.


"Kalau aku lebih suka hafal kitab soalnya ketimbang belajar hehehe." katanya.


"Kalo boleh saran, kalau mau hebat mending pelajari semua. Lagi pula kalo kata aku ni ya, kalo kamu bisa bahasa Inggris dan ilmu-ilmu yang lain, kamu akan bisa lebih terbuka dan lebih maju. Soalnya sayang kalo cuma hafal kitab doang tapi ilmu lain gak dipelajari." kataku. Sok bijak.

__ADS_1


Farha menatapku dengan tatapan yang malas kuartikan.


“Sttt!” ternyata Linda mengamatiku. Aku hanya bisa mencibir. Dasar pengganggu. Ingin rasanya aku menjadian Linda rujak bebek agar dia tidak bisa lagi menggangguku.


Sirik aja ni Si Jin Botol. -batinku.


Pukul 10 lewat Pak Ustaz menggucapkan salam dan turun dari mimbar. Setelah ustaz pergi santri langsung menyanyikan lagu dengan bahasa Arab. Aku tidak tahu persis apakah itu nyanyian atau selawatan. Selama bersenandung aku hanya diam tidak ikut menyanyi karena tidak tahu liriknya dan maknanya.


"Kalo itu, Pak Ustaz-nya namanya siapa?" tanyaku.


"Ustaz Farihin." jawab Farha.


Aku hanya mengangguk. Mencoba mencatat nama beliau di memori.


Setelah Ustaz Farihin sudah keluar dan meninggalkan area Masjid. Kami para santri putra maupun putri berlarian keluar. Ada beberapa santri laki-laki yang centil, aku hanya menatapnya dengan tatapan angkuh seperti biasa kulakukan pada Gus Faiz sebelum kejadian memalukan itu. Kalu sekarang aku sadar dia tak seburuk yang aku kira.


Tanganku terus mencekal Farha agar tidak kabur. Aku malas berebut mencari sendal di sana. Farha berjalan merunduk. Tiba-tiba ada yang memegang tanganku, menggenggamkan sepucuk kertas di tanganku. Aku langsung mencari si pemilik surat itu di keramaian.


"Kenapa, Mbak?" tanya Farha.


"Ah? Nggakpapa." jawabku.


Jangan bilang... -batinku.


Saat aku menajamkan mataku padanya, seperti bisa membaca pikiranku dia menggerakkan mulutnya. "Ba-ca su-rat da-ri gue." Aku menangkap itu dengan jelas.


Ternyata benar, surat ini darinya. Tangan yang barusan menyentuhku adalah tangannya. Sepertinya aku harus mandi kembang tujuh rupa untuk menghilangkan bekas tangannya.


Aku meremas surat ini dengan dramatis. Lalu hendak membuangnya. Namun aku melihat dia menyimpangkan tangannya, memberi isyarat kalau kertas ini penting, dan tangannya mengisyaratkan aku untuk menutup mulut atas apa yang ada di dalamnya.


Aku jadi penasaran.


"Ada apa tho, Mbak?" tanya Farha.


"Enggak papa. Yuk, balik ke pondok." kataku.


Untungnya meski merasakan keanehan dalam sikapku, Farha tidak menyadari kejadian ini. Dia tidak tahu kalau aku mendapatkan surat dari santri pria menyebalkan itu. Ini adalah sebuah keuntungan untukku.


Aku menyelipkan surat itu dalam kitab yang kubawa. Rumor pengurus yang selalu ikut campur dalam hal surat-menyurat antara santri putri dengan santri putra sudah diceritakan Farha. Jadi, aku tidak mau ketahuan oleh siapapun termasuk pengurus.

__ADS_1


"Mbak, Nindy. Sendalku hilang." tiba-tiba Arum menghampiri.


"Ya, ngapain bilang ke Aku? Emang mukaku kayak tukang maling sendal?" tanyaku.


Arum cengengesan.


"Bantuin aku cari." katanya.


"Sama Farha aja sana, aku mau ke pondok." kataku.


"Bertiga." kata Arum lagi.


"Hih!"


Arum melirik kitabku. Sepertinya dia melihat percakapan antara aku dan santri putra tadi. Aku tak mau membuatnya cemburu.


"Kamu liat tadi?" tanyaku pada Arum.


"Heheh liat, Mbak." katanya.


"Mau laporin aku?" kataku.


Dia menggeleng lemah.


"Tenang. Dia itu gak suka sama gue." kataku.


Mata Arum berbinar. "Betul, Mbak?" tanyanya polos.


"Oh, jadi bener yang kamu suka yang itu?" tanyaku.


Arum diam saja, hanya raut wajahnya yang menjawab pertanyaanku. Matanya berbinar-binar, dan matanya pipinya terus merona. Benar-benar khas seseorang yang jatuh cinta.


"Ada dia tuh, Rum." teriakku, bohong.


"Eh?" Arum lekas bersembunyi ke belakangku.


Alih-alih mencari keberadaan, dia malah bersembunyi. Benar-benar reaksi yang aneh.


Farha yang tak mengerti arah pembicaraan aku dan Arum lebih memilih diam. Ntah apa yang dipikirannya saat ini. Mungkin dia sedang fokus menghafal agar bisa setoran hafalan, aku tak begitu memperhatikannya.

__ADS_1


__ADS_2